YoonHae Fanfics Library



[Chapter] Be My Partner (Part 2)

Author : Riana

Genre : [chapter 2] , Romantic Comedy

Cast : Yoona x Donghae x Seungri x Taeyeon

Rating : PG-13

Title : Be My Partner 

Part 2

New Students from Jeju Island

Semua siswa yang berkeliaran di sekitar sekolah segera berlarian menuju aula utama sekolah. Mereka berdiri berkumpul disana, menunggu guru membagikan kelas untuk mereka.

Aula megah itu dicat penuh berwarna coklat muda, beberapa lampu yang siap menerangi tergantung di atasnya. Photo pemimpin tertinggi negara pun juga terpajang di dalamnya, serta bendera kebanggaan yang berdiri kokoh disana. Terkadang bendera tertiup angin yang berhembus dari jendela di sampingnya.

Seorang wanita muda, guru yang berada di bagian tata usaha. Berdiri di atas mimbar aula bersama sebuah micropon dan kertas yang siap dibacakannya. ”Baiklah semua murid kelas 3, hari ini kita berkumpul lagi di sini. Di hari pertama tahun ajaran baru. Kuharap kalian semua bisa berusaha sebaik mungkin agar bisa lulus dan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi lagi.” Dengan suara lembut guru itu membuka pembicaraan.

”Baiklah di tangan saya sekarang ada pembagian kelas untuk kelas 3. Seperti biasa akan ada dua kelas unggulan, dan 3 kelas biasa. Baiklah saya akan mengumumkannya dan saya harap bagi yang dipanggil segera ke kelas barunya….” Guru itu bersabar menyebutkan nama mereka satu persatu dari sekian banyak siswa disana.

Suara itu pun mengecil dari balik pintu ruang guru. Yoon A dan Seung Ri, dengan manis mereka duduk disana di hadapan Kepala Tata Usaha. Seorang wanita separuh baya yang tampak masih bugar. Ia membuka map yang memuat data diri mereka dan lampiran nilai yang membuat mereka menjadi wakil pertukaran pelajar antar kota.

”Jadi namamu Jung Ryeon Ah,” Matanya melirik Yoon A. ”dan Kau Song Seung Ri.” Sambungnya sembari melirikSeungRi.

”Iya bu.” Serentak mereka mengiyakan.

”Sebenarnya pihak sekolah bisa saja menempatkan kalian pada satu kelas, tapi setelah dipertimbangkan. Kami memisahkan kalian berdua, ini dimaksudkan dengan tujuan agar kalian bisa lebih bersosialisasi dengan yang lain.” Jelas Guru itu lembut.

”Bagi kami itu bukan masalah. Selama kami masih berada dalam satu sekolah.” SahutSeungRiyang tampak  mematuhi.

”Benar.” Yoon A terdengar lirih. ”Mana mungkin. Ini kali pertamanya aku danSeungRitidak satu kelas. Sejak kecil kami selalu bersama, dan karena dia juga aku bisa seperti ini. Sekarang aku harus bagaimana? Seperti kehilangan pegangan hidup.” Desah Yoon A dalam hatinya.

”Song Seung Ri berada di kelas unggulan kedua. Karena prestasimu dalam bidang olahraga sangat bagus, terutama permainan basketmu. Bukan begitu? Padahal sebenarnya prestasi belajarmu pun juga tak bisa diragukan. Hanya saja sepertinya Yoon A sudah cukup membantu untuk kelas unggulan pertama.” Guru itu kembali memberikan pengarahan. ”Baiklah sekarang juga kalian boleh pergi ke kelas kalian.” Akhir Guru itu.

Yoon A dan Seung Ri lekas bangkit dari duduk mereka, mereka membungkukkan punggung mereka kemudian mohon diri dari ruangan yang dipenuhi dengan aroma mawar itu, serta udara dingin yang berasal dari AC yang terasa menyesakkan.

SeungRimenutup pintunya kembali, Ia terlihat tenang sambil melangkahkan kakinya di koridor sekolah. Yoon A tampak berat melepaskanSeungRiyang melangkah lebih dulu di depannya.

”Aku benar-benar takut. Aku takut tidak bisa berdiri sendiri, karena ini merupakan pertama kalinya tidak satu kelas denganmu. Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakan semuanya dengan baik?” Desah Yoon A pada tiap langkahnya.

”Tidak apa-apa. Kalau ada sesuatu yang tidak kau mengerti, jangan sungkan untuk bertanya padaku.”SeungRimembelai lembut rambut Yoon A.

Yoon A menyambutnya dengan senyuman.

Tiba-tiba seorang laki-laki dari arah belakang memanggil mereka, “Maaf. Apa bisa kalian membantuku?” Suara itu terdengar asing. Mereka lekas membalikkan tubuh mereka dan menemukan seorang guru laki-laki dengan kaca mata dan buku ditangannya.

”Apa bisa salah satu dari kalian naik ke atap untuk memanggil siswa yang bernama Lee Dong Hae, seharusnya dia sudah berada di kelas barunya?” Pinta Guru yang tampak memiliki goresan kecil di pipinya.

”Biar saya saja.” Jawab Yoon A.

”Apa tidak apa-apa?”SeungRitampak khawatir.

”Tidak apa-apa. Kau cepatlah ke kelas barumu.” Sahut Yoon A dan mepersilahkannya pergi.

“Kalau begitu aku duluan.” Seung Ri mohon diri kemudian berlari kecil menaiki tangga dan menghilang.

”Sebelumnya terima kasih.” Guru itu terlihat gembira.

Perlahan Yoon A melangkah di koridor sekolah, ia melangkah gontai ke arah tangga menuju atap sekolah.

Atap sekolah,

Langit pagi masih terasa hangat. Sinarnya yang terik tak menyurutkan hati Dong Hae untuk berbaring di atas bangku panjang yang tidak terpakai dan tergeletak disana. Ia tampak tertidur dengan sebuah komik yang menutupi wajahnya.

Tangannya pun merentang di lantai atap, ia terlihat sangat nyenyak. Entah apa yang sedang dimimpikannya, Ia tertidur dengan tenang. Sekejap mimpinya pun menghilang, seiring dengan suara ribut laki-laki yang menghampirinya.

”Dong Hae, apa kau sudah dengar? Kau tidak satu kelas lagi dengan istrimu Kim Tae Yeon.” Suara itu terdengar mengejek.

Mendadak Dong Hae bangun, komik yang menutupi wajahnya terjatuh ke lantai. Ia tampak kaget mendengar hal itu, ”Benarkah?” Dong Hae tak percaya.

”Dan hebatnya sekarang kau berada di kelas unggulan pertama. Kau hebat Dong Hae dapat mengalahkan istrimu itu.” Ejek kembali anak laki-laki itu sembari menepuk pundaknya.

Dong Hae lekas berdiri dan berlari kecil menuju pintu keluar, tanpa menyadari Yoon A yang hendak membuka pintu. Daun pintu itu pun tanpa sengaja membentur kepalanya dan membuatnya terhenti sejenak sambil memeganginya dahinya yang mulai muncul benjolan kecil. ”Aw…” Yoon A merintih kesakitan. Ia lekas menatap punggung orang yang berlari menuruni tangga di hadapannya itu. ”Hei Kau!” Teriak Yoon A memanggilnya.

”Maafkan aku! Aku sedang buru-buru.” Sahut Dong Hae dingin tanpa menoleh ke belakang.

Yoon A terus saja mengelus dahinya, ”Keterlaluan.” Gumamnya dan melupakannya begitu saja begitu mengingat tujuannya ke atap sekolah.

Ia lekas membuka pintu dan melangkah menuju beberapa siswa yang duduk disana. Angin yang berhembus, mengibarkan rok pendeknya. ”Permisi. Apa diantara kalian ada yang bernama Lee Dong Hae?”

”Dia sudah pergi.” Seseorang menjawabnya.

”Oh, kalau begitu terima kasih.” Yoon A beranjak pergi sambil kembali mengelus dahinya yang mulai merah.

Aula sekolah,

Di salah satu kursi tamu yang berada di sudut ruangan. Tae Yeon duduk dengan santainya, ia tampak tersenyum bahagia. Mendengar namanya yang dipanggil ke kelas unggulan ke dua.

Sejenak pikirannya melayang mengingat kejadian di pagi harinya. Saat sarapan bersama keluarga besarnya, dimana ayah dan ibu yang menunggunya keluar dari kamar.

***

Tae Yeon menuruni tangga dan menghampiri kedua orang tuanya yang duduk lebih dulu di meja makan. Ia mencium kedua pipi ibunya kemudian merangkul hangat ayahnya. Seperti itulah sikapnya setiap hari di pagi yang selalu sibuk dengan menyapa hangat kedua orang yang sangat dicintainya.

Ia duduk di salah satu kursi kemudian mengambil pisau roti dan mengoleskan selai kacang kesukaannya ke atas roti. ”Ayah, apa bisa untuk kali ini saja aku tidak satu kelas dengan Dong Hae? Aku tidak ingin dia selalu tergantung padaku, aku ingin dia belajar sendiri. Ini semua demi kebaikannya juga.” Tae Yeon memulai pembicaraan yang sudah direncanakannya sejak tadi malam.

”Kenapa tiba-tiba saja ingin berpisah darinya?” Ayahnya tampak bingung dan menghentikan suapan berikutnya.

”Sebentar lagi aku dan dia akan melanjutkan ke tingkat Universitas dan setelah itu kami akan menikah. Karena itulah sebelum aku bersama dengannya untuk selamanya aku ingin sekali saja merasakan suasana baru. Cukup satu tahun saja untuk tidak bersamanya.” Ungkap Tae Yeon dan melipat rotinya.

”Benar apa yang dikatakan Tae Yeon suamiku. Selama ini dia selalu saja bersama Dong Hae, sejak kecil mereka bersama. Aku yakin Tae Yeon sudah mulai merasa bosan dengan situasi seperti itu.” Sela Ibunya.

”Jadi maksudmu, kau juga bosan hidup bersamaku selama ini?” Tukas Ayah segera.

”Bukan begitu Ayah, Ibu. Aku hanya ingin belajar hidup tanpa Dong Hae. Agar kelak, saat itu tiba aku sudah terbiasa.” Sela Tae Yeon lembut melihat ayah dan ibunya yang bertengkar kecil.

”Baiklah kalau itu yang kau inginkan, ayah akan segera mengurusnya.” Sambut Ayah dingin.

”Jangan lupa untuk menempatkanku di kelas unggulan kedua saja, karena akhir-akhir ini aku lelah menjadi wakil sekolah dalam tiap kompetisi.” Mohon Tae Yeon yang selalu saja berhasil merayu kedua orang tuanya.

***

Tae Yeon tersenyum penuh kepuasan, ia keluar dari aula. Sekejap ingatan itu pun menjauh dari benaknya. Dengan santai ia melangkah di koridor sekolah, melalui perpustakaan tua, lab komputer, menuju kelas barunya.

Tiba-tiba seseorang dari belakang menarik lengannya dan menghentikan langkahnya.

Tae Yeon menengok orang itu, ia lekas tersenyum lembut. ”Dong Hae. Kau belum masuk kelasmu?” Sambutnya segera.

”Apa maksudnya semua ini? Kenapa kita tidak satu kelas lagi?” Protes Dong Hae.

”Mungkin nilaiku kali ini menurun karena aku terlalu sibuk latihan biola.” Jawab Tae Yeon dengan santai sambil melepaskan tangan Dong Hae yang memegangi lengannya.

Tae Yeon segera tersenyum tipis, melihat rautan wajah Dong Hae yang muram. Ia bisa merasakan Dong Hae yang kehilangan dirinya. ”Bodoh! Kau tidak perlu sedih seperti itu, lagipula kita masih satu sekolah. Mulai sekarang belajarlah untuk melakukan semuanya seorang diri. Dan jangan lupa bahwa aku selalu mengawasimu.” Tae Yeon meraih tangan Dong Hae.

Dong Hae lekas tersenyum lirih. ”Kuharap aku bisa seperti itu, tapi aku masih belum terbiasa tanpamu. Tidak melihatmu di kelas, membuatku tak tenang.” Ungkap Dong Hae.

”Semuanya akan baik-baik saja.” Akhir Tae Yeon dan melepaskan genggaman tangannya. Ia berlalu dari hadapan Dong Hae dan meninggalkannya sendiri, di depan ruang latihan musik.

Terlihat suasana kelas yang mulai ramai, para penghuninya sibuk menata ruangan kelas yang akan mereka tempati. Mereka bersama-sama membersihkan seluruh ruangan itu.

Dong Hae melangkahkan kakinya, memasuki kelas barunya. Tampak aura gelap mengelilinginya, wajahnya muram dan terus saja merengut. Ia melemparkan tasnya ke salah satu meja dan duduk. Kemudian berselungkup di atasnya.

Parasiswa lekas duduk ke bangku mereka masing-masing. Wali kelas mereka datang bersama dengan seorang gadis, murid baru. Itulah Yoon A yang mempelihatkan keramahan dengan senyuman pelebur kejenuhan yang selalu dibuat dengan ikhlas olehnya.

”Baiklah semuanya diharap tenang.” Guru itu menegur semua muridnya yang masih ribut.

Yoon A lekas berdiri di depan dan memberikan senyumnya pada semua orang yang menatap penuh tanya ke arahnya.

”Hari ini kita kedatangan murid baru, pertukaran pelajar antarkota. Dia datang dari Pulau Jeju.” Guru wanita muda itu memperkenalkan Yoon A.

”Apa kabar semuanya? Aku Jung Ryeon Ah. Salam kenal, senang bisa mengenal kalian.” Sapanya dan tanpa hentinya menebar senyum.

”Sekarang kau boleh duduk.” Perintah Guru itu padanya.

Yoon A lekas mencari bangku kosong untuknya, matanya melirik ke salah satu bangku kosong dimana dibelakangnya tampak seorang laki-laki yang terus saja berselungkup di balik tasnya.

Ia melangkahkan kakinya menuju bangku yang bersebelahan dengan jendela yang kacanya langsung menembus pemandangan di lapangan sekolah. Lapangan untuk para siswa melakukan kegiatan olahraga.

Terdengar beberapa orang menyapanya, Yoon A pun lekas membalasnya dengan senyuman. Ia terlihat lega dan duduk disana. ”Akhirnya tiba juga hari pertamaku di sekolah ini. Semoga saja semuanya bisa berjalan lancar.” Yoon A menghela napasnya dengan penuh harap.

”Lee Dong Hae, cepat bangun dari mimpimu.” Guru itu memanggil Dong Hae yang tertidur di belakangnya.

Yoon A lekas tercengang, ia melihat ke belakang dengan lirih. Ia kembali kesal mengingat orang yang membuat dahinya benjol itu.

Dong Hae lekas bangun, ia membersihkan air liur yang menempel di pipinya. ”Adaapa Bu!” Sahutnya sembari mengucek matanya.

”Aku tidak tahu kenapa kau masih bisa berada di kelas unggulan. Selain pemalas, kau juga pembuat gaduh. Kalau bukan karena Tae Yeon, kau tidak mungkin bisa sejauh ini.” Guru itu menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian memulai pelajarannya.

Yoon A tampak kaget menemukan orang yang ditabraknya tadi pagi juga orang yang membuat kepalanya sakit sekarang berada satu kelas dengannya. Ia lekas memalingkan wajahnya, lurus menatap papan tulis.

”Hei Kau!” Panggil Dong Hae pada Yoon A yang duduk di depannya.

Yoon A hanya terdiam dan coba menghindar.

”Apa kau punya pulpen? Pinjamkan aku satu.” Dong Hae dengan nada kasarnya.

Yoon A lekas mengambil salah satu pulpen simpanannya. Tanpa berbalik, ia coba menyerahkan pulpen itu. Celakanya pulpen itu terjatuh ke lantai, tanpa sadar ia lekas membungkuk dan meraihnya. Dong Hae pun melihat wajahnya yang berpura-pura berani itu.

”Kau.” Sambut Dong Hae terkejut. ”Apa yang kau lakukan di kelasku?”

”Aku murid baru di kelasmu.” Yoon A tersenyum lirih kemudian menyerahkan pulpen yang dipinjamkannya.

”Apa?” Dong Hae tersentak kaget dengan suara kerasnya. ”Karena kau sudah disini, kau harus bertanggung jawab pada sakit dipunggungku dan goresan di tanganku.” Tiba-tiba Dong Hae mengingatkan pada kecelakaan yang baru saja meninmpanya.

”Bertanggung jawab? Bukankah aku sudah minta maaf padamu, dan kau bilang di hadapan gadis itu tidak apa-apa. Kupikir semuanya sudah berakhir.” Balas Yoon A yang segera memaling tubuhnya, ia berdiri sembari mengacak pinggangnya.

”Berani sekali kau membentakku. Kau pikir kau siapa?” Sambut Dong Hae dengan suara yang lebih keras, berdiri sambil menepuk mejanya. Membuat semua mata mengarah pada mereka, pelajaran yang baru akan dimulai pun sejenak berhenti.

”Aku Jung Ryeon Ah, lalu kenapa? Dan kau juga seharusnya minta maaf karena membenturkan pintu ke dahiku.” Yoon A mempelihatkan benjolan di dahinya.

Guru itu lekas menepukkan buku ke papan tulis, ”Apa bisa kalian menghormatiku yang berada di depan sini?”

Yoon A lekas mendengus kesal kemudian kembali ke bangkunya, diikuti Dong Hae.

”Dasar bodoh.” Geram Yoon A.

Dong Hae lekas mendorong kursi Yoon A dengan kakinya, membuat Yoon A terkejut dan mengerlingkan matanya ke arah Dong Hae yang mengacuhkannya. “Aku tidak percaya harus bertemu dengan orang sekasar ini. Ini akah menjadi hari-hari terburuk dalam hidupku.” Gumam Yoon A dalam diamnya.

Sekejap suasana kelas kembali hening, bel dari ruang pengawas pun berbunyi sebagai tanda pergantian jam pelajaran.

Lantai dua, kelas samping tangga.

Duduk disanaSeungRibersama buku bacaannya. Ia memasang kaca matanya dan mengikuti pelajaran yang diberikan.

Tampak disamping barisan bangkunya, Tae Yeon yang memperhatikannya. Dengan lembut Tae Yeon menepuk pundaknya, ”Hei.” Sapa Tae Yeon.

SeungRimembalas dengan senyuman.

”Kenalkan aku Kim Tae Yeon.” Tae Yeon mengulurkan tangannya.

SeungRimenjabat tangan itu,

”Salam kenal, aku Song Seung Ri. Senang bisa mengenalmu.”

”Kelak kita harus bisa saling membantu.” Ucap Tae Yeon lembut.

SeungRihanya menganggukkan kepalanya.

Terdengar bel dari arah pengawas berbunyi dengan nyaring, membuat para siswa lekas berhambur keluar kelas mereka. Sekejap ruang kelas berubah sunyi, senyap, koin yang terjatuh pun terdengar jelas suaranya.

Yoon A lekas menunduk, sambil menahan rok bagian belakangnya yang bisa saja terbuka saat ia mencoba meraih uang recehan itu. ”Hampir saja.” Yoon A bernapas lega memegangi uang itu kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku di jasnya kemudian beranjak dari kelasnya.

Sejenak ia memandangi Dong Hae yang bergurau di koridor, ”Dasar orang ini.” Desahnya dan kembali melangkahkan kakinya.

Perlahan Dong Hae menoleh ke arahnya, melihat punggung Yoon A yang menjauh. Ia mulai mengamati Yoon A yang menahan sakit di kakinya, tampak sedikit lecet kecil di lututnya.

”Sejak kapan kau mengenal murid baru itu?’ Tanya salah satu murid di dekatnya.

”Bukan hal penting yang perlu kau ketahui.” Jawab Dong Hae dingin.

”Apa kau tau? Dia merupakan salah satu juara umum di sekolahnya yang dulu. Bisa dibilang dia merupakan murid unggulan. Kurasa kau bisa memanfaatkannya, menjadi pengganti Tae Yeon yang selalu membantumu.” Seseorang terdengar menyindirnya.

”Apa maksudmu?” Dong Hae tak dapat menahan emosinya, ia lekas menarik kerah temannya itu dan menahan kepalan tangan yang hendak di lemparkannya ke arah murid yang ketakutan itu.

”Sabar Dong Hae.” Seseorang diantara mereka coba melerai.

”Kau tahu Tae Yeon tak akan pernah tergantikan.” Sahut Dong Hae dan melepaskan genggamannya kemudian membenarkan jasnya.

”Bukan begitu, hanya saja aku bermaksud untuk menolongmu. Membantumu menemukan orang yang tepat untuk menjadi rekan di kelasmu.” Laki-laki itu segera menjelaskan.

Tanpa berpikir panjang, Dong Hae beranjak pergi menjauh dari teman-temannya. Ia berlari mencari Yoon A diantara para siswa yang berlalu-lalang di koridor.

Yoon A yang baru menyadari luka di lututnya, sejenak berhenti dan bersandar di sisi koridor sembari menahan sakitnya. Ia menunduk dan memperhatikan luka yang mulai mengeluarkan darah itu.

Dong Hae bernapas lega, ia segera menghampirinya dan menarik tangannya.

”Apa yang kau lakukan?” Yoon A coba berontak.

”Diam saja.” Singkat Dong Hae dan menarik Yoon A melangkah menuju UKS.

Dari ruang kelas, Tae Yeon lekas berlari keluar. Melihat Dong Hae yang berlalu begitu saja bersama seorang gadis tanpa menyapanya. ”Apa yang terjadi?” Pikirnya.

UKS, lantai dasar bangunan sekolah. Terletak di sudut koridor samping tangga menuju lantai dua.

Tampak ruangan kecil dengan tanaman hias di sekitarnya itu tertata dengan rapi. Aroma lemon pun tercium segar di dalamnya. AC yang mengeluarkan udara sejuk siap mendinginkan ruangan itu.

Dong Hae dan Yoon A masuk ke dalamnya, tak seorang pun yang mereka temukan disana, termasuk penjaga UKS itu. Dong Hae mendudukkan Yoon A ke atas ranjang kecil yang disiapkan disana. Ia segera mencari obat merah dan kapas di kotak p3k. ”Dimana?” Desah Dong Hae mengacak-acak kotak kecil itu.

”Apa yang kau cari?” Tanya Yoon A.

”Obat merah, juga kapas dan….” Dong Hae terputus.

”Tidak perlu. Aku selalu membawanya dalam tasku. Aku kembali ke kelas saja untuk mengobatinya.” Cegah Yoon A dan mengumpulkan kekuatannya untuk beranjak pergi.

”Tidak perlu. Kau tunggu disini saja. Aku akan mengambilkannya untukmu.” Dong Hae berlari keluar UKS dan meninggalkan Yoon A seorang diri.

Sekejap ia kembali bersama kotak p3k di pelukannya. Ia berlari menghampiri Yoon A, kemudian menempel plester di lutut gadis itu. Sejenak Yoon A termenung, ia kagum pada pancaran pesona Dong Hae yang hangat mengobati lukanya. ”Aneh sekali.Adaapa dengannya? Apa dia sudah salah minum obat?” pikir Yoon A yang lekas mengalihkan perhatiannya saat Dong Hae menatapnya.

”Sekarang sudah selesai.” Dong Hae tersenyum lembut.

”Aneh sekali ada apa denganmu? Baru saja kau membentakku, dan sekarang kau berubah bagai malaikat.” Ejek Yoon A.

”Hei murid baru. Apa salahnya kalau aku berbuat baik padamu? Anggap saja sebagai permohonan maafku atas kejadian tadi pagi.” Sambut Dong Hae yang kembali pada perangai kasarnya.

”Akhirnya dia kembali juga.” Yoon A dibalik diamnya.

”Apa kau selalu membawa kotak p3k di tasmu?” Dong Hae sambil menutup kembali kotak kecil itu.

”Sejak kecil aku ingin sekali menjadi dokter seperti ayahku, makanya sejak dini aku belajar untuk menjadi seperti dia.” Cerita Yoon A.

”Apa penting kau menceritakan hal itu padaku?” Dong Hae terdengar mengejek.

”Bukankah tadi kau bertanya?” Sahut Yoon A dengan nada tinggi.

”Tapi kau tidak perlu menjelaskannya secara detil, cukup katakan bahwa kau ingin menjadi dokter saja. Bisakan?” Balas Dong Hae.

”Keterlaluan, tak ada gunanya bersikap manis pada orang sepertimu.” Akhir Yoon A kemudian merampas kotak p3k dari tangan Dong Hae dan beranjak pergi.

Di belakangnya, Dong Hae tertawa kecil. ”Gadis yang unik.” Desisnya sambil bangkit dari ranjang kecil itu.

Sekejap suasana UKS pun menjadi tenang, warna putih yang mengelilinginya membuat tempat itu tampak bersih.

Bersambung~


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. Huaa .. Aku mencium sesuatu yg gk beres nie ..

    Hae oppa pasti mau manfaatin Yoong eonni ..

    Yoong eonni,,jangan terkecoh .. Hae oppa niat jahat tuh ..

    Ah .. Lanjut part berikut nya ..🙂

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  2. * forest90 says:

    Betul2 ada aura negatif nih😀 *Aura evil Kyuppa muncul kekeke
    Seru….seruuu..karakter yg kayak gini yg aku suka Haeppa sm yoongeonn sama2 keras kepala haha

    perjumpaan ke3 langsung ga nyadar sm Taeeonn😀..dasar si abang ikan ini..

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  3. * ChaEkha says:

    Waaahhhh…smakin menarik…
    Lanjuuut …🙂

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: