YoonHae Fanfics Library



[Chapter] Just Stay By My Side (Part 3)

Author : Riana

Genre : [chapter 3] , Romantic Comedy

Cast : Yoona x Donghae x Hyoyeon x Eunhyuk

Rating : PG-15

Title : Just Stay By My Side

Just Stay by My Side – Part 3

Beberapa lembar Gaun keluar dari persembunyian, mereka berserakan di sekitar kamar. Meskipun hanya beberapa gaun yang tersisa dalam lemari, tapi tak ada satu pun yang menarik hati YoonA.

Ia kembali mengambil gaun berwarna ungu gelap dan berdiri di depan cermin. “Warnanya gelap sekali, tidak sesuai dengan suasana hatiku saat ini.” Gumamnya sambil mengerutkan dahi.

SesekaliIamenatap jam dinding di kamarnya, “Sudah Jam 11, aku harus segera tidur. Nanti aku terlambat, Dong Hae pasti marah padaku.” Ia bergegas merapikan gaun-gaun itu dengan kembali menggantungnya ke lemari.

Tiba-tiba Gaun berwarna kuning menarik hatinya, Ia lupa mengeluarkan salah satu Gaun favoritnya itu. “Kenapa aku sampai lupa, aku masih punya Gaun keberuntungan ini.” Seketika senyumnya melebar. Ia tampak lega dan lekas meletakkan gaun itu ke atas kursi.

Ia pun melemparkan dirinya ke atas tempat tidur yang empuk dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. “Akhirnya aku bisa tidur dengan pulas. Aku tidak sabar lagi menunggu hari esok. Aku dan Dong Hae.” Ia pun menutup matanya sambil tersenyum manis.

Perlahan mimpi indah menyapa tidurnya, rembulan pun tak segan memberikan sedikit sinar yang membias masuk melalui celah kecil jendela.

Kamar itu masih terlihat bersih, tempat tidurnya ditata dengan rapi. Lampu neon putih masih menyala di langit-langitnya meskipun cahaya matahari pagi masuk dengan bebas melalui  kaca jendela dimana tirainya terbuka lebar di sisi ruangan.

Dong Hae memasang dasi merah dengan motif lingkaran kecil berwarna putih. Ia merapikan posisi rambutnya di depan cermin dan menyemprotkan sedikit parfum ke seluruh tubuhnya.

Ia lekas meletakkan botol parfum dengan merk terkenal itu ke atas meja lalu beranjak dari kamar dan tak lupa untuk mematikan lampu. Ia duduk sejenak di sopa ruang tamu untuk memasang sepatu. “Jam berapa sekarang?”Pikirnya,Iapun melirik ke arah jam di tangannya. “Sudah hampir jam 8, YoonA sudah siap atau belum?” Tanyanya dalam hati.

Dong Hae berdiri tepat di depan pintu apartment, tanpa segan Ia memencet bel untuk memberitahukan YoonA kedatangannya.

Tampak YoonA yang tergesa-gesa, Ia keluar dari kamar seraya memegangi sweater dan tas selempang. Ia bergegas memasang sepatu high heels yang memang sengaja disiapkannya.

“Tunggu!” Teriak YoonA seraya membenarkan posisi telapak kakinya. Ia lekas membukakan pintu untuk Dong Hae. “Hi!” Sapanya dengan hangat dan masih sibuk mengikatkan tali ke  pergelangan kakinya.

“Apa kau perlu bantuanku?” Tawar Dong Hae.

“Tidak perlu.” YoonA segera menolak dan berdiri. “Sudah selesai.” Ia pun melemparkan senyuman untuk seseorang yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya.

“Kau sudah siap? Coba kau ingat lagi, nanti ada sesuatu yang kau lupa.” Dong Hae memberi waktu.

“Kurasa semuanya sudah beres.” YoonA terdengar meragukan.

“Kau rasa?”

“Maksudku semuanya sudah beres.” YoonA mantap.

“Baiklah.” Dong Hae melangkahkan kakinya terlebih dulu, diikuti YoonA dari belakang.

Sejenak mereka berdiri dalam ruangan sempit, lift apartment. Hanya Dong Hae dan YoonA di pagi yang cerah itu.

“Ehem …” YoonA berdeham.

“Adaapa?” Sambut Dong Hae.

“Apa kita perlu membeli kado sebelum pergi?”

“Tidak perlu. Aku sudah mempersiapkannya di dalam mobil.”

“Oh benarkah?” YoonA pun lekas mengunci bibirnya rapat-rapat agar tetap diam.

Pintu lift perlahan terbuka, mempersilahkan mereka keluar. YoonA kembali membiarkan Dong Hae melangkah lebih dulu, Ia segera mengikuti dengan berjalan di sampingnya.

Sekejap mereka berada di dalam mobil, Dong Hae segera menyalakan AC untuk menyejukkan mobil yang mulai terasa pengap. Ia menyalakan mesin mobil kemudian melaju menjauh dari area parkir apartment.

Terlihat YoonA yang duduk disampingnya tengah sibuk memasang sabuk pengaman.

“Apa kau pernah pergi ke Namwon sebelumnya?” Tanya Dong Hae.

“Tentu saja. Hampir semuakotadiKoreasudah pernah kukunjungi.” YoonA dengan bangga memberikan jawaban.

“Benarkah?”

“Appa seorang Pegawai Negeri. Dia sering kali dipindah tugaskan, jadi kami sekeluarga biasanya mengikuti kemana pun ayah dipindahkan.” Jelas YoonA.

“Sepertinya kau sangat dekat dengan Appa.”

“Tentu saja. Kami sekeluarga sangat dekat satu sama lain. Appa, meskipun pemarah tapi sebenarnya itu semua demi kebaikan kami. Umma yang sangat lembut dan perhatian. Aku sangat sayang pada keluargaku.” Ungkap YoonA dengan merautkan wajahnya yang tak henti tersenyum gembira.

“Kau beruntung sekali.”

“Bagaimana denganmu?” Tukas YoonA.

“Sejak Appa meninggal, Umma memutuskan untuk tinggal diMokpo. Jadi aku tinggal sendiri diSeouluntuk meneruskan perusahaan.”

“Maafkan aku! Tidak seharusnya aku bertanya.” YoonA lekas merendahkan nada bicaranya.

“Tidak apa-apa.” Dong Hae tersenyum lembut. “Apa kau baik-baik saja, kita akan menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam setengah menuju Namwon.”

“Tentu saja. Aku adalah gadis yang kuat dan aku sudah terbiasa dengan perjalanan jauh.” YoonA tersenyum kaku. “Sebenarnya inilah kelemahanku. Kalau saja aku tidak mabuk darat, aku bisa saja pulang pergi keSeoulsendiri tanpa harus tinggal di apartment dan meminta Yong Jun untuk  mengantar jemputku.” Ia diam-diam menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan keluhannya. “Untuk satu jam pertama mungkin aku akan baik-baik saja, tapi bagaimana dengan jam-jam berikutnya.” Benaknya mulai dihantui rasa ketakutan. “Aku harus bertahan, Dong Hae berada disampingku. Aku tidak boleh terlihat lemah.” Ia kembali bersemangat sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Im YoonA.” Panggil Dong Hae tapi YoonA tak menggubrisnya. “Im YoonA!” panggilnya lagi. “Apa sesuatu telah terjadi?”

“Apa!” YoonA lekas mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Dong Hae yang menepuk pundaknya.

“Kau tidak apa-apa?” Dong Hae lekas menjauhkan tangannya dan kembali pada setiran mobil.

“Aku hanya sedikit mual.”

“Mual? Apa kau sudah makan sebelum pergi tadi?” Dong Hae tampak khawatir.

“Tadi aku hanya memakan sedikit roti dan minum susu.”

“Sebaiknya kita sarapan dulu. Lagipula pestanya dimulai nanti siang. Masih banyak waktu sebelum kita melanjutkan perjalanan.” Dong Hae segera mencari salah satu rumah makan yang tak jauh dari tempat mereka berada.

Terdengar suara riuh anak-anak kecil yang berlari di ruang tengah. Beberapa diantara mereka bermain petak umpet, ada juga gadis-gadis kecil yang bertingkah seperti orang dewasa, menambah ramai suasana.

Disanaada banyak Balon dengan berbagai macam warna bergantungan di tiap sudut ruangan. Hyuk Jae kembali menggantung tiga balon yang terikat bersama. Ia menggantung balon-balon itu dekat jendela.

“Aku benar-benar tidak mengerti, sebenarnya Pesta ini untuk Seorang nenek atau anak kecil. Begitu banyak balon juga berbagai macam hiasan lain. Nenek Hyo Yeon memang berbeda dengan Para Nenek pada umumnya.” Gumam Hyuk Jae dengan suara pelan dari atas tangga yang digunakannya.

“Oppa! Cepat turun. Waktunya sarapan.” Teriak Hyo Yeon dari bawah tangga.

“Tunggu! Sebentar lagi aku selesai.” Hyuk Jae yang tak mau kalah menyahut dengan suara tinggi.

“Cepat, aku tidak mau kekasihku kelaparan.” Paksa Hyo Yeon sambil menggoyang-goyangkan tangga membuat Hyuk Jae tak konsentrasi.

“Hyo Yeonni!!” Hyuk Jae memanggil nama kesayangannya untuk Hyo Yeon. “Apa kau ingin aku terjatuh?” Ia terdengar kesal.

“Kalau kau terjatuh, aku akan siap untuk menangkapmu dari bawah.” Hyo Yeon coba menggoda.

“Cepatlah! Nanti dilanjutkan lagi.” Hyo Yeon kembali menggoyangkan tangga.

“Iya. Aku segera turun.” Hyuk Jae lekas turun sambil merautkan wajah masamnya.

“Akhirnya Oppa turun juga.” Hyo Yeon tersenyum penuh kemenangan. “Ayo kita makan!” Ia sambil menggandeng Hyuk Jae menuju ruang makan.

“Dasar kau!” Hyuk Jae mendengus kesal. Sekejap kekesalannya hilang melihat Hyo Yeon yang begitu perhatian padanya. Ia pun membuang jauh-jauh wajah masamnya dan mengikuti tiap langkah Hyo Yeon menuju ruang makan.

Tak banyak pengunjung yang datang untuk memadati rumah makan itu. Hanya beberapa orang yang mampir dan menyempatkan waktu untuk sarapan disana.

Duduk disalah satu meja yang terletak dekat kaca jendela, tak jauh dari pintu utama. YoonA dan Dong Hae sejenak menikmati makanan yang baru tersaji. Masih tampak asap yang mengeluarkan aroma sedap mengepul mengelilingi makanan itu.

“Uhuk .. uhuk …” YoonA terdengar batuk.

“Kau makanlah dengan pelan!” Pinta Dong Hae.

“Iya.” YoonA mengangguk dan melanjutkan suapan berikutnya.

“Sepertinya udara di luar memang tidak baik untuk melanjutkan perjalanan.” Gumam Dong Hae.

“Kurasa udaranya cukup cerah. Kita harus tetap melanjutkan perjalanan. Lagipula kau harus datang ke pesta itu, bukan?” Sela YoonA.

“Sebenarnya ulang tahun itu tidak begitu penting. Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku saja.” Jelas Dong Hae. “ Lagipula aku tidak begitu dekat dengan dengan keluarga mereka.” Tambahnya lagi.

YoonA sejenak tercengang. “Lalu?”

“Lalu? Bagaimana lagi? Bukankah kau meminta untuk melanjutkan perjalanan.” Dong Hae lekas menyuap sup miliknya.

“Ku pikir kau memang ingin pergi ke pesta itu.”

“Aku tidak begitu menyukai pesta, apalagi pesta ulang tahun. Itu sebabnya setiap kali ada orang yang membicarakan tentang pesta, aku lebih memilih untuk menghindar.” Ungkap Dong Hae.

“Aku sangat suka pesta. Karena ada sangat banyak kemeriahan yang akan terjadi, juga kejutatan yang mungkin tidak akan terlupakan.” YoonA mengeluarkan pendapatnya.

“Sepertinya kita tidak punya persamaan sama sekali Nona Im YoonA.” Dong Hae tertawa kecil.

“Tentu saja kita punya persamaan.” Bantah YoonA segera “Bukankah kau tidak suka makan sendiri, aku juga tidak suka. Jadi kapan pun kau butuh teman makan, kau panggil saja aku.” Jelasnya.

“Aku akan lebih senang makan bersama dengan teman baikku.” Dong Hae menolak mentah-mentah.

“Apa!” YoonA merautkan wajah cemberutnya.

“Aku bercanda.” Dong Hae tertawa kecil untuk menggodanya. “Mungkin suatu saat aku akan memintamu untuk berada di sisiku dan terus menemaniku.” Ia lekas membelai kepala YoonA.

YoonA hanya tertunduk menyembunyikan pipinya yang merona kemerahan.

Tiba-tiba percakapan mereka terhenti, mereka dikejutkan oleh suara Handphone yang terdengar semakin keras. YoonA bergegas mencari keberadaan Whiteberry yang bersembunyi di balik tumpukan peralatan make up dalam tasnya.

“Halo!” Sahut YoonA segera.

“Bisa bicara dengan Nona Im YoonA?”

“Saya sendiri,Adayang bisa saya bantu?” YoonA dengan bahasa formal pada seorang wanita yang jauh disana.

“Kami panitia penerimaan mahasiswa baru Universitas Seoul. Kami baru saja menemukan ada beberapa data di formulir Anda yang masih belum diisi lengkap. Semua berkas harus segera dikirim sebelum jam 12 nanti. Jadi, apa bisa Anda segera ke sini?” Jelas Wanita yang sudah terdengar serak itu.

“Apa?” YoonA berteriak tak percaya, suaranya melengking menggema di tiap sudut rumah makan. “Apa tidak bisa besok saja?” Ia lekas mengecilkan suaranya.

“Maafkan kami Nona, kalau tidak hari ini juga maka formulirnya akan dikembalikan. Sama saja Nona masih belum mendaftar untuk mengikuti ujian penerimaan mahasiswa baru.”

“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Waktu mendaftar aku memeriksa semuanya, tak ada satupun yang terlewatkan.” YoonA mulai kesal.

Dong Hae menghentikan makannya sejenak untuk memusatkan perhatiannya pada YoonA yang tampak gelisah.

“Baiklah aku akan segera kesana.” YoonA pun menutup handphonenya. Ia merautkan wajah cemberut dan terlihat pilu.

“Apa yang terjadi?” Dong Hae penasaran.

“Aku harus kembali keSeoulsegera. Maafkan aku Dong Hae, aku tidak bisa menemanimu ke Pesta. Kirimkan salamku pada teman-temanmu itu.” Jelas YoonA yang tertunduk lesu.

Dong Hae tertawa kecil sambil menepuk pundak YoonA. “Tidak apa-apa. Kalau begitu aku akan mengantarmu kembali keSeoul.”

“Apa ini saatnya untuk tertawa.” Gumam YoonA dalam hatinya. “Padahal kusudah berharap lebih untuk perjalanan hari ini. Tertawa bersama, bernyanyi bersama, bergembira sepanjang waktu.” Ia lekas membuang jauh-jauh harapannya itu. “Antarkan aku ke Halte bis saja. Biar adikku yang nanti datang menjemput.” Pupus sudah keinginannya untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang yang disukainya itu.

YoonA berdiri di bangku panjang halte bis, Ia menunggu Yong Jun yang masih dalam perjalanan. Ia mendengus kesal seraya menatap langit cerah yang sekejap berubah gelap baginya.

Perlahan mobil yang dikendarai Dong Hae menjauh, Ia membiarkan YoonA sendirian disana. Matanya masih tetap menatap YoonA melalui kaca spion mobil terus melajukan mobilnya di jalan raya.

“Padahal ku berharap gadis itu bisa ikut bersamaku.” Gumamnya seraya focus ke arah jalan di depannya.

Mobil merah itu melaju mendahului mobil di depannya, berebut tempat parkir yang kosong. Tampak didalamnya Yong Jun dan YoonA tergesa-gesa. YoonA bergegas keluar mobil tanpa mempedulikan Yong Jun yang memintanya untuk menunggu.

“Noona!” Teriak Yong Jun yang baru menjejakkan kakinya di halaman parkir.

YoonA tak menggubris, Ia berlari menaiki tangga depan Universitas. Matanya terpaku pada ruang panitia pendaftaran.

“Aku Im YoonA. Sebenarnya apa yang salah dengan formulir pendaftaranku waktu itu?” Tukasnya pada salah seorang wanita yang tampak lebih tua beberapa tahun diatasnya. Terlihat jelas YoonA yang terengah-engah, keringat membasahi leher dan dahinya.

“Anda lupa untuk menandatangani persetujuan bahwa Anda tidak akan mengikuti ujian di Universitas lain sebelum mengikuti ujian di Universitas ini.” Jelas wanita itu sambil mengeluarkan formulir pendaftaran milik YoonA.

“Bagaimana mungkin bisa? Kupikir semuanya sudah beres.” YoonA tak percaya.

“Maafkan kami, kesalahan ada pada kami karena tidak memeriksa formulir pendaftaran terlebih dulu saat Anda menyerahkannya. Sungguh maafkan kami.” Wanita itu merautkan wajah bersalahnya.

“Tidak apa-apa. Beruntung aku tidak tinggal jauh dariSeoul. Jadi aku bisa secepatnya datang ke sini.” YoonA tersenyum lirih. “Lalu dimana aku harus tandatangan?”

“Disini!” Wanita itu memberikan arahan menggunakan pulpen di tangan kanannya.

“Apa ada lagi?” Tanya YoonA untuk memastikan setelah selesai menandatangani.

“Tidak ada. Sekali lagi maafkan kami.”

“Tidak apa-apa.” YoonA melemparkan senyum kemurahan hatinya. “Hanya karena satu tanda tangan semua khayalanku tadi malam lenyap seketika.” Batinnya. “Kalau begitu aku permisi dulu.” Ia pun pergi seraya membungkukkan punggungnya.

Terlihat Yong Jun yang baru menampakkan batang hidungnya dari balik pintu. “Apa sudah selesai?” Tanyanya segera.

“Sudah.” Jawab YoonA singkat sambil melangkah keluar diiringi Yong Jun disampingnya.

Mereka berjalan menuruni tangga depan. Mereka tak menghiraukan orang-orang yang berpapasan dengan mereka.

YoonA menghela napasnya, “Antarkan aku pulang!”

“Noona sekarang sudah hampir jam makan siang. Kita makan siang dulu saja!” Ajak Yong Jun.

“Aku sedang tidak berselera makan.” Jawab YoonA ketus.

“Adaapa denganmu? Sebenarnya tadi Noona ingin pergi kemana. Noona menggunakan gaun dengan riasan make up yang cukup tebal seperti tante genin.” Ejek Yong Jun yang coba menggoda.

“Apa katamu!” YoonA naik darah. Rautan mukanya terlihat begitu marah.

“Ayolah kita makan siang dulu!” Yong Jun tak berputus asa.

“Kita makan siang di rumah saja. Aku akan memasak untukmu.” YoonA segera melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

“Noona kau pasti bercanda. Masakanmu itu sangat tidak enak. Apa kau mau aku masuk rumah sakit karena memakan masakanmu itu.” Tolak Yong Jun dan tak berhentinya melemparkan ejekan pada YoonA yang masih kesal.

“Terserah kau saja. Kalau kau masuk rumah sakit, itu lebih baik. Setidaknya aku tidak akan mendengar suaramu yang cerewet itu.” YoonA melangkah lebih cepat lalu masuk mobil.

“Noona!” Teriak Yong Jun dengan nada tinggi dan terdengar merengek.

Yong Jun merautkan wajahnya yang cemberut sambil mengeluarkan mobil dari tempat parkiran. Duduk disampingnya YoonA yang tak kalah cemberut sambil melipat kedua tangannya.

Suasana meriah pesta ulang tahun terlihat jelas dari luar rumah. Meskipun langit masih terang, tapi mereka tetap saja menyalakan lampu kelap kelip yang terpasang di balkon.

Terdengar alunan musik yang indah dari piano yang dimainkan. Mereka mulai menyanyikan lirik lagu yang sudah tak asing lagi di telinga.

Dong Hae segera memarkirkan mobilnya, Ia mengunci otomatis mobil yang diletakkan tepat di depan pagar rumah. Ia mengambil sebuah kado yang disimpannya di bagasi mobil. Tanpa ragu Ia melangkah masuk ke halaman depan.

Beberapa orang berdiri disana menyambut para tamu yang datang. Dong Hae lekas membungkukkan punggungnya pada orang-orang yang terlihat tetua di rumah itu. Matanya pun mulai sibuk mencari keberadaan sahabatnya di sekitar pekarangan yang di penuhi dengan berbagai macam tanaman.

“Hyuk Jae kau dimana?” Pikirnya. Ia segera mengambil handphone di saku celananya.

“Dong Hae.” Teriak seseorang dari belakang punggungnya.

Ia segera menoleh lalu berbalik, ditemukannya Hyuk Jae yang berlari kecil ke arahnya.

“Kau sudah datang. Ayo masuk dulu!” Hyuk Jae lekas menarik lengan Dong Hae dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Orang-orang yang terdapat di dalamnya tampak begitu ramah. Mereka tak segan melemparkan senyuman pada Dong Hae. Salah satu pelayan segera menawarkan minuman untuknya. Terlihat anak-anak kecil yang berlarian dan bermain disana, Dong Hae sangat menikmati pesta itu.

“Dong Hae!” Hyo Yeon segera menyapa dan tak lupa melemparkan senyuman manisnya.

“Hyo Yeon.” Jawab Dong Hae setelah meneguk segelas Es jeruk untuk menyegarkan tenggorokan.

“Kapan kau datang?” Hyo Yeon menyambut gembira sambil berjalan mendekati Hyuk Jae lalu menggandeng kekasihnya itu.

“Baru saja.” Jawab Dong Hae lagi dengan singkat. Ia mulai terganggu dengan Hyo Yeon yang memperlihatkan kemesraannya bersama Hyuk Jae.

“Ehem …” Dong Hae berdeham.

“Apa kau ingin makan sesuatu? Bagaimana kalau Steak Sapi?” Tawar Hyuk Jae.

“Nanti saja.” Tolak Dong Hae dengan lembut.

“Benar sebaiknya kau makan sesuatu dulu untuk mengisi perutmu. Kau pasti lapar setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.” Hyo Yeon coba merayu Dong Hae.

“Ayolah!” Tambah Hyuk Jae.

“Baiklah.” Dong Hae lekas mengangguk mengikuti perintah Hyuk Jae.

Mereka duduk di salah satu meja tamu yang kosong, meja itu terletak di pekarangan belakang. Langit sore yang senja sekejap berubah gelap. Bintang-bintang pun keluar dari persembunyian dan mulai menampakkan diri mereka sambil mengeluarkan cahayanya untuk memperindah pemandangan di langit malam.

Dong Hae mulai memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut, Ia duduk berhadapan dengan Hyuk Jae yang bersebelahan dengan Hyo Yeon. Sesekali ia melirik mereka yang terlihat begitu mesra. Ia tampak risih dan berusaha menyembunyikan perasaan cemburunya.

Ia segera meneguk segelas air putih di depannya, “Ehem …” Ia berdeham lagi, menyadarkan mereka akan keberadaannya.

“Sepertinya kau sangat kehausan.” Hyuk Jae coba menggoda.

Dong Hae hanya membalas dengan senyuman Perih.

Hyo Yeon lekas meletakkan sendoknya, “Pelayan bisa minta air putihnya.” Teriaknya pada salah satu pelayan yang berkeliaran disana.

“Hyo Yeon!” Panggil Dong Hae.

“Kenapa?” Jawab Hyo Yeon menyambut hangat.

“Apa aku bisa meminjamkan buku-buku milik Ibumu?”

“Buku-buku?” Sela Hyuk Jae bingung.

“Semua buku-buku milik ibuku adalah mengenai belajar mengajar di taman kanak-kanak. Apa karena kau begitu menyukai anak-anak sekarang kau ingin menjadi guru TK?”  Jelas Hyo Yeon seraya menggodanya.

“Benar. Kenapa tiba-tiba ingin meminjam buku-buku itu?” Tanya Hyuk Jae.

“Sebenarnya bukan aku yang ingin meminjamnya. Lebih tepatnya lagi temanku. Dia akan mengikuti ujian masuk universitas fakultas keguruan.” Jelas Dong Hae.

“Benarkah? Apa dia seorang perempuan.” Hyo Yeon tersentak.

Dong Hae mengangguk pelan. “Dia tinggal di apartment sebelah.”

“Jadi sekarang apartment itu sudah ada penghuninya.” Hyuk Jae ikut bicara.

“Apa dia gadis yang cantik?” Hyo Yeon mulai bersemangat.

“Dia gadis yang cantik dan juga manis.” Dong Hae tersipu malu.

“Benarkah? Apa kau menyukai gadis itu?” Hyuk Jae dengan nada tak percaya.

“Kami baru berteman. Tidak mungkin aku langsung menyukainya.” Bantah Dong Hae yang memang sengaja menceritakan YoonA.

“Kau harus mengenalkannya pada kami.” Pinta Hyo Yeon.

“Aku hanya merasa aneh saja. Selama beberapa tahun terakhir ini, kau tidak pernah berteman dengan gadis manapun.” Hyuk Jae tampak shock dan terkejut.

“Bukankah ini suatu kemajuan. Akhirnya Dong Hae menemukan seseorang yang cocok dengannya. Jangan katakan kalau kau cemburu.” Tegas Hyo Yeon dengan nada bercanda pada Hyuk Jae kekasihnya.

“Nanti aku akan meminjamkan semua buku-buku itu. Tapi, kau harus memperkenalkan pada kami gadis itu. Kau janji?” Hyo Yeon tak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang gembira.

“Aku pasti akan mengenalkannya pada kalian.” Dong Hae kembali tersipu malu seraya tersenyum penuh kemenangan mendapati Hyuk Jae yang masih tampak shock dan hanya terdiam.

“Baiklah sekarang saatnya ucapan selamat ulang tahun yang akan disampaikan oleh cucu tertua kita Hyo Yeon.” Seorang presenter ulang tahun yang berdiri di atas penggung kecil mempersilahkan Hyo Yeon untuk bangkit dari duduknya dan lekas berdiri untuk mengucapkan beberapa patah kata.

Hyo Yeon melangkah pelan di antara banyaknya tamu undangan yang duduk di meja mereka masing-masing. Ia segera berdiri di panggung itu sambil memegangi microphone agar suaranya terdengar lebih jelas.Paratamu pun lekas bertepuk tangan untuk keberaniannya. Di salah satu meja duduk neneknya tecinta. Hyuk Jae dan Dong Hae pun memusatkan perhatian mereka pada sosok Hyo Yeon yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Aku hanya ingin mengatakan selamat ulang tahun yang ke 60 untuk nenekku tersayang. Meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, tapi nenek masih sangat sehat bugar dan kuat. Bahkan nenek terlihat lebih lincah dibandingkan aku.” Hyo Yeon dengan nada bercandanya. “Nenek bahkan masih bisa menghabiskan lebih dari 10 botol soju. Maksudku 10 botol dalam waktu satu bulan.” Orang-orang pun tertawa mendengarnya. “Nenek, aku mencintamu. Kami semua mencintaimu.” Akhir Hyo Yeon.

Nenek yang duduk bersama dengan anak-anaknya tak dapat menyembunyikan air mata bahagianya.

“Sebenarnya masih ada pengumuman yang sangat penting.” Ucap laki-laki yang juga merupakan sepupu Hyo Yeon yang menjadi presenter acara ulang tahun itu.

“Apa itu?” Tanya Hyo Yeon yang sejenak menghentikan langkahnya.

“Cucu tertua kita ini akan segera menikah dengan kekasihnya. Tepatnya lagi Dua bulan dari sekarang. Jadi mari kita doakan bersama agar acaranya dapat berlangsung dengan lancar dan Hyo Yeon bahagia selamanya.”

Hyo Yeon lekas tersipu malu, Ia tersenyum penuh kebahagiaan. Ia lekas turun dari panggung dan menghampiri Hyuk Jae lalu menarik tangan kekasihnya itu agar mengikutinya naik ke atas panggung dan menyapa semua para tamu.

Terlihat jelas Dong Hae yang sekarang shock, Ia tak percaya kedua sahabat terdekatnya itu akan segera menikah. Ia lekas bertepuk tangan mengikuti tamu undangan yang juga bertepuk tangan dan ikut berbahagia meskipun sebenarnya hatinya sangat sakit.

“Hmmm …” YoonA kembali menghela napasnya. “Uwah ….” Ia terlihat begitu mengantuk tapi tetap memaksakan matanya agar tetap terjaga. Ia sudah mengenakan piyama lekas keluar dari apartmentnya, Ia melangkah pelan dan berdiri di depan pintu untuk sejenak mencari tahu keberadaan Dong Hae.

Tampak suasana apartment Dong Hae yang sepi, lampu dalam ruangan itu pun tak menyala. Kegelapan menyelimuti tiap sudut ruangan yang tertutup rapat.

“Sudah hampir jam 11, apa dia masih belum pulang?” Pikir YoonA sambil menghangatkan kedua tangan ke dalam saku piyamanya.

Ia kembali menengok ke arah pintu lift yang tiba-tiba terbuka dan mengejutkannya.

“Omona!” Ia bergegas berlari menuju pintu apartmentnya dan berpura-pura memasukkan kata sandi.

Terlihat Dong Hae yang baru datang dengan wajahnya yang kusut. Raut wajahnya tampak muram dan tak bersemangat. Pikirannya melayang dan tatapan matanya kosong.

YoonA memberanikan diri berbalik untuk melihat keadaannya. “Kau sudah pulang?” Tanyanya segera. “Maafkan aku karena tadi tak bisa menemanimu.” Ia lekas melangkah mendekati Dong Hae yang coba memasukkan kata sandi untuk membuka pintu apartmentnya.

“Kau masih berhutang janji padaku. Kau ingatkan?” Sambut Dong Hae dingin.

“Janji?” YoonA dengan rautan wajahnya yang bingung.

“Kau akan mentraktirku makan dan kau akan selalu ada di sisiku.” Dong Hae coba mengingatkan.

“Ah itu.” YoonA mengangguk.

Dong Hae lekas menarik tangan YoonA menuju pintu lift. Ia menekan tombol turun dan segera masuk sesaat pintu lift terbuka.

“Kita mau kemana?” Tanya YoonA penuh tanya.

“Kau ikuti saja.” Jawab Dong Hae singkat dan nada suara masih terdengar dingin.

Separuh pintu mini market sudah tertutup rapat, tak ada lagi pelanggan lain yang berkunjung. Tampak penjaga kasir yang menatap tajam ke arah mereka, sesekali menarik napasnya dalam-dalam. Lingkaran matanya mulai hitam tapi tak henti-hentinya memandangi keberadaan YoonA dan Dong Hae yang mengganggu jam kerjanya.

“Kalau kau memang lapar, sebaiknya kita pergi ke rumah makan saja.” Bisik YoonA pada Dong Hae. Ia mulai risih pada kasir perempuan yang merengutkan wajah pada mereka.

“Tidak mau. Sekarang aku ingin makan cemilan sebanyak-banyaknya.” Tolak Dong Hae dengan tegas seraya mengambil beberapa bungkus cemilan dari rak snack.

“Kalau begitu cepat! Apa kau tidak tahu kasir itu merengutkan wajahnya pada kita. Kau juga sangat aneh, belanja tengah malah seperti ini.” Gumam YoonA dengan nada rendah.

“Suasana hatiku sekarang sedang tidak baik. Apa tidak bisa kau menghiburku sedikit saja.” Sambut Dong Hae ketus.

“Apa?” YoonA tampak kaget.

“Aku tidak ingin membahasnya disini.” Akhir Dong Hae lalu menjauh dari rak snack. Ia lekas berjalan menuju lemari pendingin minuman, YoonA pun mengiringinya di belakang.

Dong Hae mengambil beberapa botol softdrink yang bebas alcohol.

“Banyak sekali. Sebenarnya ada apa dengannya?” Pikir YoonA.

“Berapa semuanya?” Tanya Dong Hae segera seraya menyerahkan belanjaannya ke kasir.

“15000 Won.” Kasir itu dengan cepat menghitung semua belanjaan.

Dong Hae segera mengangkat kantong plastik putih yang penuh dengan minuman kaleng dan snack itu, lalu menjauh dari meja kasir. “Kau yang bayar!” Bisiknya pada YoonA.

“Apa?” YoonA masih sangat kebingungan.

“Bukankah kau ingin mentraktirku.” Jawab Dong Hae kembali mengingatkan, kemudian melangkah keluar dari mini market.

YoonA mendengus, “Aku semakin tidak mengerti dengannya.” Ucapnya sambil menggelengkan kepala. “Berapa semuanya?” Tanya YoonA lagi.

“15000 Won.” Jawab kasir itu singkat.

“Apa! 15000 Won untuk semuanya cemilan itu.” YoonA tersentak kaget.

“Benar Nona, semuanya 15000 Won.”

“ Kau pasti bercanda.” YoonA segera melihat mesin penghitung. “Apa saja yang dibelinya sampai sebanyak itu.” Pikirnya. “Sepertinya aku harus minta uang saku tambahan pada Ayah.” Batinnya, lalu mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayar dengan berat  hati.

Ia segera keluar dari mini market dan berlari mengejar Dong Hae yang melangkah dengan  gontai di tepian jalan raya.

“Hei! Tunggu aku!”Teriak YoonA,Iaberlari dengan cepat untuk mencapai keberadaan Dong Hae. Ia segera menepuk pundak Dong Hae, “Kenapa denganmu?” YoonA terengah-engah.

“Tidak apa-apa.” Jawab Dong Hae dingin dan masih merautkan wajah cemberutnya. Ia lekas menyerahkan kantong belanjaan pada YoonA setelah mengambil satu kaleng soft drink dan membukanya.

“Kenapa harus aku yang membawanya?” Protes YoonA.

Dong Hae tak menggubris YoonA yang mulai mengeluh, Ia tetap pada langkahnya maju ke depan menuju lapangan yang terletak tak jauh dari apartment.

Sekejap mereka berada di lapangan yang sepi, angin malam yang berhembus sepoi-sepoi begitu dingin dan menusuk. YoonA yang lupa mengenakan sweaternya tampak menggigil, Ia duduk di atas bebatuan kecil sambil mengelus kedua lengannya agar tubuhnya terasa hangat.

Dong Hae mengambil bola yang sengaja di sembunyikan di balik bebatuan dekat pohon. Ia segera memainkan bola itu di tengah lapangan yang ditutupi dengan rumput segar. YoonA hanya duduk saja sambil memandangi Dong Hae yang asyik menendang bola.

“Hei! Apa tidak sebaiknya kita masuk saja. Disini dingin sekali.” Gumam YoonA dengan nada tinggi meneriaki Dong Hae.

“Aku lebih senang disini. Kalau kau merasa kedinginan, kau masuk saja. Biar tinggalkan aku sendirian.” Sahut Dong Hae dan tetap focus menggiring bola yang tak terarah.  “Coba saja kau ikut main. Pasti tidak akan terasa dingin.” Ajaknya.

“Sepertinya kau senang sekali saat bermain bola.”

“Tentu saja. Aku bahkan berharap agar di kehidupan selanjutnya aku menjadi pemain bola saja.”

YoonA hanya mengangguk. “Ah … aku punya ide.” Ia segera mengeluarkan Handphone dari saku piyamanya. “Posenya saat bermain bola pasti terlihat sangat keren.” Pikirnya seraya tertawa kecil.

Tanpa ragu Ia mengambil beberapa gambar Dong Hae, ia tak segan untuk memotret laki-laki yang tengah sibuk sendiri dengan permainan bolanya itu.

“Apa kau memotretku?” Dong Hae yang mulai sadar sekejap berhenti dan mengagetkan YoonA.

“Tentu saja tidak.” Bantah YoonA lalu berpura-pura memencet tiap keypad huruf. “Aku sedang membalas sms.” Teriaknya. “Huhf ..” YoonA bernapas lega mendapati Dong Hae yang tak menaruh curiga padanya.

Dong Hae berlari ke arahnya, Ia mulai lelah dan keringat sudah hampir membasahi seluruh tubuhnya. Ia duduk disamping YoonA yang masih sibuk berpura-pura padahal saat itu Ia tengah mengabadikan photo-photo yang berhasil didapatnya.

Dong Hae meraih sekaleng soft drink lagi dari tumpukan snack dalam kantong plastic putih. Ia segera meminum setengah dari soft drink itu untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.

“Ehem …” YoonA berdeham.

“Kau mau?” Dong Hae menawarkan soft drink yang baru diminumnya.

“Terima kasih.” Sambut YoonA lalu meminumnya. “Bukankah ini berarti aku baru saja melakukan ciuman secara tidak langsung dengan Dong Hae.” Hatinya bersorak gembira lalu menghabiskan softdrink itu.

“Adaapa denganmu?” Dong Hae merautkan tatapan anehnya pada YoonA yang tertawa kecil tanpa alasan.

“Apa kau perlu tahu?” YoonA lekas menyembunyikan tawanya.

Sejenak mereka terdiam di bawah luasnya langit gelap. Beberapa awan kelabu berkeliling mengikuti putaran bumi. Rembulan yang terlihat malu menampakkan dirinya bersembunyi di balik awan.

“Kau tahu seperti apa rasanya terbuang dan tak dianggap. Rasanya benar-benar sangat sakit. Bahkan lebih sakit dibandingkan saat tanganmu terluka dan berdarah. Saat itu kau masih bisa membalut luka itu dengan perban, tapi saat hatimu terluka tak ada satupun yang bisa menyembuhkannya. Luka itu bisa saja semakin dalam dan tak dapet terobati lagi.” Dong Hae menatap kosong rerumputan di depannya.

YoonA tercengang, sejenak ia terdiam mendengar suara Dong Hae yang sedih. “Tentu saja kau masih bisa menyembuhkannya dan itu adalah dirimu sendiri. Kalau kau terus berdiam diri dan membiarkan luka itu mungkin akan semakin parah. Tapi pernahkah kau mencoba menyembuhkannya dengan kekuatanmu sendiri. Bukan orang lain, melainkan dirimu sendiri.” Sahutnya kemudian.

“Aku tidak pernah memiliki kekuatan itu. Aku benar-benar membutuhkan keajaiban untuk bisa memiliki kekuatan seperti yang kau katakan. Karena perasaan sakit ini selalu saja datang menyapaku dan hidup dalam diriku. Mereka tak pernah tahu hal ini.”

YoonA memandangi lembut Dong Hae, “Mereka?”

“Mereka adalah sahabatku. Sebenarnya sejak orang itu muncul dan berada di antara kami, saat itulah aku mulai merasa terbuang.” Ungkap Dong Hae membuat YoonA terhenyak. “Aku sendiri juga tidak tahu perasaan seperti apa ini. Kadang aku marah dan benci, kadang aku juga memaksakan diri untuk bersikap tenang lalu tersenyum ke arah mereka.” Ceritanya.

“Sepertinya kau menyukai sahabatmu itu.” Terka YoonA.

“Menyukainya?”

“Dia gadis yang beruntung. Dia pasti punya alasan sendiri kenapa lebih memilih orang lain.” YoonA seraya menganggukkan kepalanya.

“Gadis itu?”

“Benar. Bukankah dia seorang gadis yang beruntung. Mungkin dia masih belum menyadari keistimewaan dirimu.” Tegas YoonA.

Dong Hae hanya mengangguk untuk mengiyakan.

“Seharusnya aku sadar, setidaknya sudah ada orang lain yang mengisi hatinya.” YoonA masih memandangi lembut wajah Dong Hae.

Dong Hae sekilas berbalik ke arah YoonA. Gadis itu lekas mengalihkan pandangannya ke depan untuk menghindar. Sejenak mereka duduk disana, di bawah langit malam yang semakin gelap. Mereka tak memperdulikan keadaan di sekitar mereka yang mulai sunyi dari keramaian. Membiarkan angin yang terkadang berhembus kencang menyapa mereka.

Matahari pagi yang tiap harinya selalu bertugas untuk membangunkan tidur nyenyak yang panjang. Laki-laki itu lekas bangkit dari kasurnya yang empuk dan keluar dari selimut tebal. Ia membuka lebar tirai jendela, matanya menyipit terkena sinar sang surya yang menyilaukan.

Dong Hae lekas mengeliat untuk mengencangkan otot-ototnya yang kaku. “Uwah …”

Ia bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhnya. “Minggu pagi yang cukup menyenangkan. Seharusnya tadi aku bangun lebih awal agar bisa jogging.” Gumamnya.

SekejapIakeluar dari kamar mandi mengenakan baju handuk untuk menutupi tubuhnya. Terdengar getaran Handphone dari balik bantal. Ia segera meraih handphone itu, tampak nama Hyo Yeon yang sedang memanggil muncul di layar.

“Hyo Yeon!” Jawab Dong Hae.

“Aku sudah membawakan buku-buku yang ingin dipinjam temanmu itu. Sekarang aku di apartment Hyuk Jae, apa bisa kau segera kesini?” Suara Hyo Yeon terdengar lembut.

“Benarkah?”

“Baiklah aku segera kesana.”

“Jangan lupa untuk mengajak gadis itu.”

“Kau tunggu saja disana.” Dong Hae pun menutup Whiteberry yang selalu setia menemaninya.

Tampak Hyuk Jae yang menatap aneh pada Hyo Yeon yang kegirangan seperti anak kecil. “Apa perlu kau segembira itu?”

“Kenapa? Aku hanya senang, akhirnya Dong Hae menemukan seorang gadis yang cocok untuknya.” Ungkap Hyo Yeon. “Apa kau tidak senang melihat sahabatmu itu akhirnya memiliki pasangan hidup.”

“Bukankah kau dengar sendiri, dia dan gadis itu hanya berteman.” Jelas Hyuk Jae. “Aku hanya tidak ingin dia disakiti lagi oleh gadis manapun.” Ia terdengar khawatir.

“Oppa! Dong Hae sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya.” Tegas Hyo Yeon.

Hyuk Jae menghela napasnya, Hyo Yeon melangkah pelan lalu merangkulnya dari belakang. “Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Dong Hae, kumohon mengertilah.” Gadis itu dengan nada lembut berbisik di telinganya.

Hyuk Jae hanya diam dan tak membalas sepatah kata pun, Ia tetap duduk di kursi meja makan dan membiarkan Hyo Yeon mendekap hangat punggungnya.

Secara otomatis pintu apartment yang tertutup rapat terkunci, YoonA tak segan meninggalkan apartmentnya begitu saja. Sambil merapikan rambutnya yang basah lalu menjepitkan pin rambut di poninya, Ia berdiri di depan pintu lift. Ia juga membenarkan posisi tas selempangnya, matanya masih sangat mengantuk. Raut wajahnya yang kusut tampak begitu jelas.

Tiba-tiba seseorang dari belakang merangkulnya masuk ke dalam lift yang baru terbuka.

“Dong Hae!” Serunya terkejut.

“Ayo kita pergi!” Ajak Dong Hae yang sudah terlihat rapi dengan casual t-shirt dan celana jeans yang biasa dikenakannya.

“Kemana?”

“Bukankah seharusnya kau pergi bekerja.”

“Nona Im YoonA, hari ini hari libur. Apa kau sudah lupa? Aku juga butuh waktu istirahat.” Dong Hae lekas mendorong kepala YoonA dengan lembut lalu tertawa membelai kepala gadis itu.

“Benarkah?” YoonA tersenyum perih sambil menundukkan wajahnya. “Mungkin Tuhan memang sengaja mengirimku kesini untuk bertemu dengan Dong Hae. Aku tahu meskipun saat ini dia menyukai orang lain, tapi aku tidak akan putus asa untuk membuatnya melupakan orang itu. Meskipun jika di akhir cerita dia tidak bersamaku, setidaknya Dong Hae harus bahagia.” Batin YoonA kembali bersemangat sambil merapikan lagi rambutnya yang berantakan. Ia pun memandangi lembut Dong Hae yang beridiri tegap di sampingnya.

Dong Hae menatap dengan seksama mesin lift yang menunjukkan keberadaan lift di lantai berapa saat itu. YoonA hanya tersenyum tipis dan membiarkan dirinya berada di dekat orang yang disukainya.

~Just Stay By My Side~


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. Wowowo ..
    Semakin penasaran ..
    Ada apa dengan Hae oppa??

    Ya ampun,,aku ngakak loh pas Hyukie masangin balo2 utk pesta ultah ne2k nya Hyo ..
    Kayak gk ikhlas bgt ..
    Hee ..

    Eonni ..
    Aku ngabur ke part 4 dlu yagh ..
    Udh penasaran level atas ..
    Hee ..

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  2. * lili says:

    waaaaaaaaaaaahhhh seru seru seru
    laaanjoout

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  3. * ayomi says:

    kerrrrrrreennnnn

    | Reply Posted 4 years, 7 months ago
  4. * *Polaris says:

    wah, seru..
    Kereen..

    | Reply Posted 4 years, 5 months ago
  5. * ChaEkha says:

    penasaran..jgn2x donghae oppa?????
    Arghhh…jgn sampe deh….
    Penasaran bnget ni…
    Lanjut dulu..🙂

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: