YoonHae Fanfics Library



[Chapter] Just Stay By My Side (Part 6)

Author : Riana

Genre : [chapter 6] , Romantic Comedy

Cast : Yoona x Donghae x Hyoyeon x Eunhyuk

Rating : PG-15

Title : Just Stay By My Side

Just Stay By My Side – Part 6

Dong Hae menatap tajam mata Hyuk Jae yang berdiri tepat di hadapannya. “Selamat atas pertunangan kalian.” Ia tak mau berbasa-basi dan segera menjabatkan tangan dengan sahabatnya itu.

“Sepertinya kalian berdua sudah berbaikan.” Hyo Yeon yang masih dengan erat menggandeng tangan calon tunangannya ikut ambil bicara.

“Tentu, kami tidak pernah bertengkar sekalipun selama ini. Kecuali ada orang lain yang menjadi penyebab pertengkaran kami.” Sahut Dong Hae dengan nada dingin tanpa menoleh ke arah Hyo Yeon.

“Terimakasih karena sudah mau datang.” Sambut Hyuk Jae lalu melepaskan jabatan erat Dong Hae.

“Senang bisa melihat kalian datang, aku sudah menunggu kalian sejak tadi.” Hyo Yeon tampak berbasa-basi. Ia pun lekas mengalihkan pandangannya pada YoonA yang masih tetap setia menemani Dong Hae dan selalu berdiri di samping orang yang sedikitpun tidak memberi komentar pada penampilannya di malam itu. “ Im YoonA, sungguh terimakasih karena sudah berhasil mengajak Dong Hae datang ke sini.”  Ucapnya segera.

“Tentu saja. Bagaimana pun Dong Hae harus hadir di pesta pertunangan sahabatnya.” Sahut YoonA seraya menyenggol untuk menggoda Dong Hae yang memasang wajah masamnya.

Dong Hae pun lekas tersenyum kaku pada mereka berdua, diikuti YoonA yang menyeringai untuk beberapa saat.

Terlihat dari mimbar di atas panggung yang terletak tak jauh di depansana, seorang laki-laki yang begitu rapi bersiap memulai acara dengan microphone di tangannya. Laki-laki itu tak asing lagi bagi tamu undangan, dia tak lain dan tak bukan adalah Lee Teuk. Lee Teuk adalah teman seperjuangan Dong Hae dan Hyuk Jae saat kuliah, meskipun sudah di wisuda tapi mereka masih sering berkumpul dan bertanding futsal.

“Kita mulai saja acara ini, mari kita persilahkan Lee Hyuk Jae dan Kim Hyo Yeon kita yang tercinta untuk segera naik ke atas panggung.” Ucap pemuda dengan suara yang terdengar lembut dan enak didengar itu.

Paratamu lekas mengalihkan perhatian mereka pada Hyo Yeon dan Hyuk Jae yang masih berdiri di tengah aula menyambut kedatangan tamu istimewa mereka, YoonA dan Dong Hae.

“Kalian nikmatilah pestanya!” Akhir Hyo Yeon.

“Pasti. Pasti kami akan menikmati pestanya.” Dong Hae mengangguk. Ia pun membiarkan Hyuk Jae dan Hyo Yeon berlalu di hadapannya menuju panggung kecil yang ditata begitu indah, dilengkapi dengan karangan bunga juga tulisan nama mereka berdua.

Dong Hae pun lekas menarik tangan YoonA menuju meja minuman. Saat itu Hyuk Jae masih sempat menggerlingkan matanya ke arah mereka sambil terus melangkah digandeng oleh Hyo Yeon mendekati panggung.

“Aku baru sadar bahwa sebenarnya Hyuk Jae dan Hyo Yeon itu sama sekali tidak cocok. Mereka terlihat tidak begitu serasi.” Ungkap Dong Hae lalu meneguk segelas penuh Syrup Strawberry dari gelas kaca yang baru diambilnya.

“Sepertinya kau sangat kehausan. Apa udara disini sangat panas sampai kau menghabiskan segelas penuh Syrup dalam sekali teguk.” YoonA yang tak menggubris ucapan DongHae,Iasibuk memperhatikan Dong Hae yang merengutkan wajahnya.

“Aku sedang curhat padamu. Apa kau tidak mengerti?” Dong Hae mulai kesal.

“Aku hanya bercanda.” Sahut YoonA singkat, Ia pun lekas meraih salah satu gelas yang masih berisi penuh syirup dengan rasa melon. Lalu sedikit demi sedikit meminumnya.

“Aku masih tidak mengerti mengapa Hyo Yeon mau menerima apa adanya Hyuk Jae. Kau tahu Hyuk Jae itu terlalu apa adanya, tak ada satu pun hal yang istimewa darinya.”  Dong Hae kembali mengambil gelas syirup lain dan meminumnya lagi.

“Seperti itulah cinta. Kita tak tahu kapan datangnya, kita juga tak dapat mencegahnya. Cinta itu adalah sebuah rahasia Tuhan, Dia yang mengatur semuanya dan memilihkan jodoh untuk kita. Sekuat apapun kita berusaha, Tuhan juga yang menentukannya. Kita hanya bisa berencana.” YoonA mulai serius dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya.

“Apa maksudmu?”

“Hyo Yeon dan Hyuk Jae bertunangan sekarang adalah kehendak Tuhan. Mereka berdua berjodoh dan Tuhan pun mempersatukan mereka.” Jelas YoonA.

Dong Hae mendengus, “Jadi kau senang melihat pertunangan mereka.”

“Sudah pasti. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, meskipun kau bilang mereka tidak serasi. Tak ada satu orang pun yang mau peduli, karena yang akan menjalani kehidupan berumah tangga kelak adalah mereka berdua.” YoonA tanpa ragu sambil tersenyum lebar dan meminum habis syrupnya.

“Im YoonA, kenapa kau seperti orang berbeda malam ini?” Dong Hae merengek seperti anak kecil.

“Bukankah seharusnya kau juga bisa ikut berbahagia.” YoonA kembali menyenggolkan bahunya ke bahu Dong Hae.

“Ternyata kau jauh lebih menyebalkan. Sejak kapan kau bisa merangkai kata-kata bagus seperti itu.” Dong Hae merautkan wajah masamnya.

“Aku membacanya dari buku yang kupinjam di perpustakaan waktu itu. Tips dan Cara mengatasi orang yang tengah patah hati.” Batin YoonA penuh kemenangan mendapati Dong Hae yang terdiam. Ia pun perlahan tertawa kecil sambil menatap ke dalam mata Dong Hae.

Tiba-tiba Dong Hae membungkam mulut YoonA dengan potongan kue ukuran besar.

“Dong Hae!” YoonA lekas memuntahkan kue yang dimasukkan secara paksa ke mulutnya.

“ Itu hadiah untuk mulut besarmu.”

“Hi! Lee Dong Hae, aku hanya bercanda. Lagipula aku hanya ingin menyadarkanmu dan mengajarimu agar bisa merelakan kehilangan sesuatu itu dengan ikhlas.” Marah YoonA lalu membersihkan bibirnya.

“Ini!” Dong Hae mengambilkan tissue untuknya. Tampak Dong Hae yang tertawa kecil melihat wajah cemberut YoonA sambil membersihkan mulut dari sisa kue.

“Kau sangat keterlaluan!” Gumam YoonA.

“Cepat bersihkan. Kau seperti anak TK saja.” Ejek Dong Hae. “Kau tahu? kalau kau menjadi guru TK, orang tua murid akan bingung melihatmu karena mereka pikir kau jauh lebih baik menjadi teman bermain anak-anak mereka. Bukannya menjadi guru mereka.” Ia tertawa lepas.

YoonA melototkan matanya pada Dong Hae sambil berkacak pinggang, “Kau?”

“Disitu masih ada sisa kue.” Dong Hae menunjuk di sekitar bibir YoonA.

“Dimana?” Tanya YoonA yang merasa sudah membersihkan semua sisa kue yang menempel di pinggiran bibirnya.

“Ini!” Dong Hae lekas membantu membersihkannya, Ia mengambilkan sisa kue yang menempel di sudut kiri bibir YoonA. “Bibir gadis ini lembut sekali. Kecil dan juga mungil.” Pikirnya sejenak. Ia pun lekas menggelengkan kepalanya. “Ehem …” Ia berdeham.

“Apa sudah bersih?” Tanya YoonA untuk memastikan.

Dong Hae mengangguk cepat.

“Lee Dong Hae!!!” Tampak sekelompok laki-laki yang sudah tak asing lagi bagi Dong Hae meneriakkan namanya lalu datang menghampirinya.

“Siapa mereka?” Pikir YoonA.

“EunHyuk’s spouse … Aku benar-benar tidak menyangka Hyuk Jae menikah dengan seorang gadis.” HeeChul dengan guyonan yang biasa dilontarkannya sambil menepuk pundak Dong Hae.

“Aku sendiri juga berpikir bahwa Dong Hae akan menikah dengan Hyuk Jae karena saat di perkuliahan mereka berdua selalu bersama dan tak terpisahkan.” Tambah Sung Min yang ikut dalam obrolan ringan selama pesta.

Dong Hae tertawa kecil, “Tentu saja Hyuk Jae pada akhirnya akan menikah dengan seorang gadis. Kami berdua tidak mungkin bisa bersama.” Sahutnya segera sambil memaksakan tawanya.

YoonA yang berada diantara mereka hanya menganggukkan kepala. “Jadi Hyuk Jae dan Dong Hae begitu dekat. Aku jadi bingung dengan cerita Dong Hae waktu itu. Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman disini.” Pikirnya.

“Ngomong-ngomong siapa gadis cantik yang menemanimu ke pesta hari ini?” Siwon tersenyum lembut sambil mengarahkan matanya pada YoonA.

“Dia Im YoonA.” Jawab Dong Hae.

YoonA lekas membungkuk sedikit, untuk menyapa mereka. “Apa kabar? Aku Im YoonA. Senang bisa bertemu kalian.” Ucapnya hangat.

“Aku lebih tidak menyangka lagi kau akan datang ke pesta bersama seorang gadis cantik seperti nona Im YoonA. Karena selama ini kau tidak pernah dekat dengan gadis manapun, apalagi sampai mengajaknya ke pesta.” HeeChul kembali dengan nada bercandanya.

Dong Hae tersenyum kaku, “Kebetulan dia tinggal di sebelah apartmentku.”

YoonA pun tampak tak nyaman, Ia hanya bisa tersenyum kecil ke arah teman lama Dong Hae. Sekejap Dong Hae menatap ke arahnya, Ia bisa melihat dengan jelas YoonA yang tampak risih. “Teman-teman, lain kali kita mengobrol lagi.Adaseseorang yang harus aku temui disana.” Ia berpura-pura sambil menunjuk ke sembarang tempat.

“Tentu saja. Kuharap kita bisa lebih dekat seperti waktu kuliah dulu.” Ucap Siwon.

“Benar. Kau sungguh sangat hebat, sekarang kau menjadi seorang General Manager yang menangani perusahaan besar. Aku sangat salut padamu.” HeeChul mengungkapkan kekagumannya.

Dong Hae memaksakan senyumnya, Ia lekas menggenggam erat tangan YoonA untuk menjauh dari kumpulan orang-orang cerewet dan terlalu banyak tanya itu. Ia menarik YoonA yang tampak kesulitan berjalan di atas sepatu high heelsnya yang cukup tinggi.

“Dong Hae, pelan-pelan sedikit!” Pinta YoonA berbisik.

“Kau tahu? Setiap bertemu mereka pikiranku selalu tidak tenang. Aku tidak begitu suka berkumpul bersama mereka.” Gumam Dong Hae seraya terus melangkah mencari tempat yang agak sepi.

Tanpa sengaja YoonA menginjak gaun seorang wanita yang tengah berdiri diantara kerumunan tamu undangan. Wanita itu tak sadar, gaunnya yang panjang terbentang menyentuh lantai aula menjadi kotor karena bekas injakan high heels yang digunakannya. “Aish …” Ia melihat ke arah gaun mahal itu, tapi tetap saja melangkah dengan cepat mengikuti Dong Hae yang terus menariknya.

“Huh …” Dong Hae bernapas lega dan menyeringai ke arah YoonA.

YoonA membalasnya dengan senyuman kaku, “Lee Dong Hae, aku tidak mengerti sebenarnya apa yang ada dalam benakmu. Kau begitu mudah berubah pikiran dan berubah mood. Kau seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda.” Batinnya yang penuh tanya bersembunyi dalam benaknya.

Terlihat dari kejauhan di depansana, Hyo Yeon dan Hyuk Jae yang saling melempar senyum. Mereka tampak begitu bahagia dengan pesta yang berjalan dengan lancar. Hyo Yeon memegangi dengan erat kedua tangan Hyuk Jae, sesekali mata Hyuk Jae menatap dengan dingin ke arah Dong Hae dan YoonA yang memperhatikan mereka.

“Aku sangat berterimakasih untuk kedatangan semua teman-temanku. Kehadiran kalian sungguh membuatku terharu. Terimakasih karena sudah mau meluangkan waktu kalian untuk datang ke pesta pertunanganku.” Ucap Hyo Yeon coba merendahkan diri.

Lee Teuk yang memegangi microphone itu menganggukkan kepalanya, mendengar Hyo Yeon yang tak berpanjang lebar pada pembukaan acara. “Apa hanya itu saja yang ingin kau sampaikan?” Tanyanya.

“Kurasa itu saja.” Jawab Hyo Yeon singkat.

“Bagaimana denganmu Hyuk Jae?” Lee Teuk memberikan microphone padanya.

“Tidak ada hal yang ingin kusampaikan. Aku merasa sangat bahagia hari ini, malam ini bersama kalian dan bersama orang yang sangat kucintai.” Hyuk Jae sambil menatap lembut mata Hyo Yeon yang berkaca-kaca. “Dua minggu dari sekarang kami akan segera melangsungkan pernikahan. Aku tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba.” Ucapnya dengan polos dan mengundang tawa kecil para tamu undangan.

“Baiklah. Kita langsung saja pada pertukaran cincin yang akan mengikat mereka sampai pesta pernikahan nanti.” Lee Teuk segera mengambil sepasang cincin yang sudah dipersiapkan.

“Bukankah mereka sangat bahagia. Coba kau lihat raut wajah Hyuk Jae dan Hyo Yeon!” YoonA meminta Dong Hae yang berdiri disampingnya untuk memandangi dengan seksama pasangan yang siap bertukar cincin itu.

“Mereka tidak tahu betapa sakitnya hatiku saat ini, rasanya sangat sakit.” Ucapan Dong Hae membuat YoonA tercengang.

YoonA segera menggenggam erat tangan Dong Hae, “Bukankah aku sudah pernah katakan. Aku akan selalu ada di sisimu. Seperti hari kemarin, hari ini, esok dan seterusnya.” Ia dengan lembut menatap mata Dong Hae yang tampak sayu.

Dong Hae pun lekas memaksakan tersenyum meskipun hatinya tengah terluka.

Hyuk Jae segera memasangkan cincin ke jari manis di tangan kiri Hyo Yeon. Mereka kembali saling menatap begitu dalam, sejenak mereka terdiam dan melempar senyum tipis. Tiba-tiba Hyo Yeon mendekatkan wajahnya padaHyuk Jae,Iamemegangi pipi laki-laki yang sudah resmi menjadi tunangannya itu. Ia tanpa berbasa-basi dan tanpa segan sedikitpun di hadapan tamu undangan yang bersiap siaga untuk acara selanjutnya, mencium lembut bibir Hyuk Jae yang basah. Sejenak mereka menutup kedua mata mereka dan saling beradu kasih melalui ciuman hangat yang membuat seluruh orang yang berada disana sangat iri.

“Wow!” YoonA yang membalalakkan matanya tak berhenti menyaksikan adegan romantis itu. Ia menggigit bibirnya sendiri sambil melirikkan matanya ke arah  Dong Hae yang merupakan satu-satunya orang yang mengalihkan perhatian. “Apa mungkin suatu saat nanti Dong Hae juga menciumku seperti itu?” Pikirnya, pipinya mulai merona merah. “Membayangkannya saja aku tidak sanggup. Pastinya itu akan menjadi catatan bersejarah sepanjang hidupku.” Gadis itu tampak tertawa kecil karena daya imajinasinya yang tinggi.

“Ayo kita pulang! Aku tidak sanggup kalau harus berlama-lama disini.” Dong Hae tanpa pamit langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ia melangkah dengan sangat cepat diikuti YoonA dari belakang.

“Lee Dong Hae!” Panggil YoonA, tapi Dong Hae tak menggubrisnya. Mereka pun berlalu diantara kerumunan orang yang mulai bertepuk tangan. “Pestanya masih belum selesai.” Protesnya.

Dong Hae hanya terdiam, sangat tampak rengutan diwajahnya yang kusut.

Dari atas panggung Hyuk Jae dan Hyo Yeon masih sempat memperhatikan mereka berdua yang meninggalkan pesta tanpa sepatah katapun. Muncul tanya dalam benak mereka yang merusak suasana bahagia. Terlebih lagi Hyuk Jae yang bisa merasakan aura lain dari kepergian sahabatnya, Dong Hae.

“Maafkan aku Dong Hae!!” Batinnya.

“Kenapa mereka pergi?” Pikir Hyo Yeon.

Mobil mereka terparkir di tepian jalan yang sangat sepi, hanya beberapa mobil yang melintas dengan sangat cepat. Seperti biasa saat langit mulai gelap para serangga kecil yang bersembunyi di antara rerumputan tinggi, mengeluarkan suara mereka untuk meramaikan suasana malam yang sunyi dan senyap.

Di depan mereka terbentang danau yang tidak begitu luas.Adaperahu yang cukup untuk memuat dua orang, menepi di pinggiran danau. Dong Hae segera melonggarkan dasinya, Ia pun segera meminum sekaleng soft drink dan menghabiskan setengah dari isinya.

“Ehem …” Ia berdeham dan perlahan menghela napasnya, tampak sekali wajahnya yang muram.

“Seharusnya tadi kita pamit dulu, Hyo Yeon eonni juga Hyuk Jae pasti kecewa melihat kita yang pulang lebih dulu sebelum pesta selesai.” YoonA membuka pembicaraan sambil membenarkan posisi duduknya.

“Aku sedang tidak ingin membahas mereka berdua.” Sahut Dong Hae segera.

YoonA pun terdiam. “Baiklah.” Ucapnya mengiyakan. Ia segera menghabiskan softdrink miliknya lalu berdiri. “Hi! Bagaimana kalau kita main bola saja.” Ajaknya yang sudah mempersiapkan bekas kaleng sebagai pengganti bola.

“Aku juga tidak ingin main bola, apalagi menggunakan kaleng.” Dong Hae tak menggubris, matanya tetap memandangi danau yang airnya sangat jernih.

YoonA mengepalkan tangannya kesal, “Argh …” Geramnya. “Bagaimana kalau kau menang aku akan mentraktirmu lagi? Tapi kali ini jangan beli cemilan sebanyak waktu itu lagi. Aku tidak mau kau hanya makan makanan ringan yang tidak menyehatkan itu.” Tawarnya.

Dong Hae tak menyahut, Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Kalau aku menang, kau yang harus mentraktirku. Tapi sepertinya kau sudah mengaku kalah, berarti kelak kau yang membayar semua makanan yang aku beli.”

“Apa maksudmu?” Tiba-tiba Dong Hae bangkit dari duduknya dan mengagetkan YoonA. Ia berdiri begitu dekat berhadapan dengan gadis itu.

“Karena kau tidak mau bertanding, berarti kau sudah mengakui kekalahanmu.”

Dong Hae mendengus, “Kau pasti bercanda, aku adalah salah satu penyerang andalan dalam tim. Mengalahkanmu adalah hal yang mudah bagiku, aku sangat tidak yakin kau bisa menang dariku.”

YoonA mengerutkan bibirnya.

“Tunggu disini, aku akan mengambil bolanya dulu.” Pinta Dong Hae.

“Dimana?” Teriak YoonA pada Dong Hae yang berlari cepat menuju mobilnya.

Sekejap laki-laki itu kembali bersama bola di kakinya. “Aku selalu membawa bola di belakang bagasi mobil.” Jelas Dong Hae pada YoonA yang memandangi dengan tatapan aneh.

“Baiklah. Ayo kita bertanding!” YoonA melepaskan sepatu high heelsnya.

Dong Hae juga melepaskan sepatu yang melindungi kakinya tak lupa ia juga menyingkirkan sejenak jas yang melapisi kemejanya.

Mereka mulai bermain bola di atas rerumputan basah dengan bertelanjang kaki. Mereka saling berebut bola melawan angin dingin yang berhembus kencang dan beberapa daun dari pohon besar pun berjatuhan menimpa mereka.

Dong Hae dengan cepat mendahului YoonA berlari dan berhasil menggiring bola masuk ke gawang yang mereka buat dari batu besar.

“LimaKosong!”  Dong Hae tersenyum penuh kemenangan menggunakan kelima jari tangannya untuk memberitahukan YoonA total gol yang sudah dicetaknya.

“Kau lari sangat cepat, bahkan aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk menggiring bola.” Protes YoonA.

“Bagaimana pun juga aku menang dan kau kalah. Sebagai taruhannya, aku ingin kau memasak untukku saja.” Akhir Dong Hae.

“Memasak?” YoonA tersentak kaget.

“Benar. Aku sangat suka seafood. Nanti aku akan memintamu datang ke apartment dan memasak untukku. Aku ingin melihat sendiri kemampuanmu dalam memasak.” Jelas Dong Hae.

YoonA yang terengah-engah, menarik napasnya dalam-dalam. Ia memerlukan udara segar untuk bernapas. “Bagaimana ini? Aku sangat tidak pandai dalam memasak. Apa yang harus aku lakukan?” Ia tampak menyembunyikan wajah cemasnya. Ia pun segera memasang sepatu high heelsnya setelah membersihkan kakinya di pinggiran danau. Ia tampak gemetar dan menggigil kedinginan setelah selesai bermain. Ia pun coba menghangat tubuh dengan mengusapkan kedua tangannya.

Tiba-tiba Dong Hae meletakkan jasnya ke bahu YoonA. “Gunakanlah ini! Kau kedinginan, bukan?”

YoonA lekas membalasnya dengan senyuman manis. “Terimakasih.” Sambutnya tanpa segan, lalu memasang jas itu untuk menghangatkan tubuhnya.

Mereka pun serentak melangkahkan kaki menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Dong Hae segera menyalakan mesin mobil dan melaju. Seketika suasana hatinya yang buruk lenyap, Ia tersenyum lebar dan lupa pada apa yang baru saja terjadi di pesta.

“Apa sebaiknya aku mencari resep di internet dan mencoba memasak sendiri di apartmentku?” Pikir YoonA selama perjalanannya menuju apartment. “Aku tidak mau Dong Hae tahu kalau aku tidak bisa memasak. Dia pasti akan mengejekku lagi seperti waktu itu.” Batinnya. Ia pun perlahan menatap sekilas Dong Hae yang tampak begitu bersemangat meskipun wajahnya tampak begitu lelah dengan mata mengantuk.

Telepon yang berdering sangat mengganggu telingaYoonA,Iayang masih terlelap enggan untuk bangun dan menjawab seseorang yang jauh disana tengah menunggunya jawaban dari panggilan itu.

Bunyi telepon itu semakin nyaring dan semakin jelas terdengar. Gadis itu masih saja malas bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman. Ia berbolak-balik di tepian kasur dan tanpa sadar terjatuh ke lantai bersama dengan selimut tebal. Kepalanya pun sakit karena terbentur di lantai kamar.

“Aw …” Rintihnya sambil memegangi kepalanya sementara telepon yang terletak tepat di atas laci samping tempat tidurnya kembali berdering, merusak minggu paginya. Ia lekas meraih gagang telepon, “Siapa?” Tanyanya dengan nada tinggi.

“Anakku, bagaimana mungkin kau berteriak keras pada Umma.” Suara lembut di seberangsanamenegur ketidaksopanan YoonA.

“Umma!” YoonA mengecilkan nada bicaranya. “Maafkan aku Umma! Hhee.” Ia tertawa kecil untuk meredakan emosi ibunya. “Tadi aku masih tertidur jadi tidak mendengar telepon berbunyi.”

“YoonA, kau masih tidur di jam seperti ini.” Nyona Im terkejut.

“Ah … seharusnya tadi aku tidak perlu berterus terang. Umma paling tidak suka kalau aku bangun kesiangan.” YoonA menepuk kepalanya. “Baru kali ini aku bangun kesiangan Umma.” Ucap gadis itu untuk melakukan pembelaan.

“Kenapa akhir-akhir ini handphonemu sangat sulit untuk dihubungi. Setiap kali meneleponmu ke apartment, kau juga tidak menjawab sama sekali.Adaapa sebenarnya ini?” Nyonya Im meskipun terdengar marah tapi tetap begitu perhatian, ucapannya masih dengan nada lembut dan hangat.

“Aku lupa memberitahukan Umma, whiteberry kesayanganku rusak. Tapi, aku sudah meminta temanku untuk memperbaikinya. Mungkin dalam beberapa hari ini aku sudah bisa memegang whiteberry kembali.” Jelas YoonA lalu duduk di atas tempat tidurnya sambil terus mendengarkan ibunya bicara melalui telepon.

“Hari ini rencananya Umma dan Yong Jun akan keSeoul. Mungkin nanti siang kami baru akan tiba disana.”

“Apa perlu aku menjemput kalian di halte bis?” Tawar YoonA.

“Tidak perlu, kau tunggu saja disana.” Tolak Nyonya Im yang tidak mau merepotkan anaknya.

“Benarkah? Baiklah aku akan menunggu kalian. Aku sudah tidak sabar lagi bertemu kalian. Aku sangat merindukanmu Umma, Aku sangat ingin melihatmu.” YoonA dengan nada manjanya.

“Umma juga merindukanmu. Sekarang kau cepat mandi dan sarapan pagi. Umma mencintaimu.” Nyonya Im sangat peduli pada anak gadis yang tinggal jauh darinya itu.

“Aku juga mencintaimu Umma.” Akhir YoonA lalu meletakkan kembali gagang teleponnya. Ia pun segera merapikan tempat tidur dan mengencangkan otot-ototnya yang kaku. “Kebetulan sekali Umma datang keSeoul. Aku bisa bertanya padanya beberapa resep masakan laut.” Ia melompat kegirangan lalu bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.

Peluh membasahi seluruh tubuhnya, Ia masih tampak begitu lelah dan napasnya terengah-engah. Ia melangkah gontai di ruang tamu menuju dapur sambil mengelap keringat di wajah dengan handuk kecil.

Ia segera meraih sebotol besar air mineral dari dalam kulkas dan meminumnya tanpa ragu untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya. “Huh … Hari minggu yang membosankan. Setelah selesai jogging, tak ada lagi yang harus kulakukan. Apa sebaiknya aku menemui YoonA?” Pikir Dong Hae sejenak lalu meletakkan kembali botol yang hanya tersisa setengah itu. “Gadis itu meskipun terkadang menyebalkan tapi dia seseorang yang selalu ada untukku. Dia juga gadis yang sangat manis dengan senyumnya yang berciri khas.” Tanpa sadar Ia tersenyum sambil memikirkan wajah YoonA yang selalu memberikan semangat untuknya.  Tiba-tiba lamunannya itu rusak dan menghilang dalam waktu sekejap. Bel pintu depan berbunyi dan mengejutkannya.

Ia lekas berlari mencari tahu siapa yang tengah berada di luarsana. Ia membuka pintu dan menemukan Ibu serta Kakak laki-lakinya yang tengah mengangkat peti kayu berisi ikan segar.

“Umma, Hyung!” Sambut Dong Hae dengan wajah terkejut. “Kapan kalian tiba diSeoul?” Ia segera mempersilahkan keluarga tercintanya itu untuk masuk.

“Baru saja.” Dong Hwa, kakak tertua Dong Hae sambil menyerahkan beban berat yang tadi dibawanya pada adiknya itu.

“Kenapa kalian tidak memberi kabar terlebih dahulu?” Tanya Dong Hae heran lalu membawa peti berisi penuh berbagai macam jenis ikan itu ke dapur.

“Kami ingin memberimu kejutan. Bukankah sudah lama kami tidak mengunjungimu disini. Apa semuanya baik-baik saja?” Tanya Nyonya Lee sambil duduk bersandar di kursi meja makan, sejenak melepaskan lelahnya.

“Aku baik-baik saja, Umma.” Jawab Dong Hae lembut sambil membuka penutup peti untuk melihat ikan-ikan yang bersembunyi di dalamnya.

“Bagaimana keadaan Perusahaan?” Dong Hwa yang baru saja duduk di kursi meja makan bersama ibunya sambil meminum sekaleng soft drink.

“Sampai saat ini tak ada masalah. Semuanya berjalan dengan lancar dan penjualan juga semakin meningkat.” Jawab Dong Hae. Ia tampak terkejut menemukan banyak ikan yang Ibu dan kakaknya bawa jauh-jauh dariMokpo. “Omona!! Banyak sekali ikannya. Apa kalian berniat untuk berjualan di pasar jadi membawa sebanyak ini?” Ia tak mengejipkan mata sedikit pun lalu menoleh ke arah Ibu dan Kakaknya.

“Itu semua untuk persediaan selama satu bulan.” Ucap Nyonya Lee.

“Satu bulan!” Dong Hae tersentak kaget. “Umma, aku sangat jarang memasak di rumah. Biasanya aku selalu makan di luar bersama teman-temanku.” Ucapnya dengan tegas. “Kalau ikan-ikan ini dibiarkan saja selama satu bulan, mereka semua bisa menimbulkan bau yang tidak sedap di apartmentku, Umma.” Jelasnya lalu menutup kembali peti itu.

“Kalau begitu, kau berikan saja sebagian untuk teman-temanmu.” Nyonya Lee memberikan sarannya.

“Baiklah, nanti aku akan memberikan pada mereka sebagian.” Dong Hae mengiyakan.

Nyonya Lee lekas berdiri dan berjalan mendekati kompor gas, “Malam ini Umma akan memasak enak untukmu juga Dong Hwa. Kau harus mengundang Hyuk Jae kemari.” Wanita itu sambil menyalakan kompor dengan hati-hati.

“Makan malam?” Dong Hae tampak bingung.

“Benar. Sekalian pinta Hyuk Jae untuk mengajak tunangannya. Umma jauh-jauh datang keSeoul, akan sia-sia kalau tidak melakukan apapun untukmu. Bukankah juga sudah lama kau tidak memakan masakan Umma yang enak.” Nyonya Lee sambil mencari bahan-bahan yang diperlukannya di lemari es.

“Hyuk Jae, Hyo Yeon? Aku benar-benar tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk bertemu dengan mereka hari ini.” Dong Hae yang terdiam tengah sibuk dalam pikirannya.

“Ayo cepat hubungi mereka!” Pinta Nyonya Lee segera.

“Baiklah.” Dong Hae mengangguk lalu berlari menuju kamarnya untuk meraih whiteberry yang diletakkannya di atas tempat tidur. “Apa aku harus mengajak YoonA juga? Biasanya kalau ada gadis itu, suasana hatiku pasti bisa lebih tenang.” Ia terhenti mencari nama Hyuk Jae di daftar nama. Ia pun sejenak menarik napas dalam-dalam sebelum menghubung Hyuk Jae yang tak tahu entah berada dimana.

Hyuk Jae yang tengah duduk bersantai di sopa yang dikhususkan untuk tamu lekas menjawa panggilan itu. “Dong Hae!” Jawabnya ragu mengingat beberapa hari terakhir ini hubungan dengan sahabatnya itu kurang baik.

“Kau sekarang dimana?” Tanya Dong Hae yang masih berdiri tegap dekat jendela yang terbuka lebar dan angin menerpa wajahnya.

“Aku di butik bersama Hyo Yeon, ada apa?” Tanya Hyuk Jae heran.

“Malam ini datanglah ke apartment!” Pinta Dong Hae dingin. “Umma mengajakmu dan Hyo Yeon untuk makan malam disini.” Jelasnya segara.

“Jadi, sekarang Bibi ada diSeoul?” Hyuk Jae terdengar kaget.

“Begitulah! Jangan lupa jam tujuh tepat kau harus sudah tiba.” Dong Hae mengingatkan.

“Baiklah.” Akhir Hyuk Jae lalu menutup handphonenya.

Hyo Yeon yang sejak tadi memperhatikan dari meja designnya lekas mengalihkan perhatiannya sejenak, melihat raut wajah Hyuk Jae yang berubah dalam waktu sekejap. “Dari siapa?” tanyanya penasaran.

“Dong Hae.” Jawab Hyuk Jae. “Umma Dong Hae datang keSeoul, beliau mengajak kita untuk makan malam di apartment Dong Hae.”

“Kapan?” Hyo Yeon kembali pada gaun pengantin miliknya yang sudah hampir selesai.

“Nanti malam. Kau bisa datang?”

“Tentu saja, sudah lama aku tidak bertemu Nyonya Lee.” Hyo Yeon pun tersenyum lembut lalu melanjutkan rancangannya.

YoonA segera berlari meraih kunci apartment dan motor scooternya. Ia duduk sejenak di dekat pintu untuk mengikat tali sepatu kets yang akan dikenakannya. Ia pun berdiri sambil membenarkan celana panjang dan mencium kembali aroma tubuhnya yang masih harum dan segar. “Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu Umma dan Yong Jun.” Ucapnya gembira. “Sebaiknya aku segera pergi saja. Umma dan Yong Jun sudah menungguku di lobi apartment.” Ia lekas mengaitkan tas selempang di bahunya dan melangkah dengan penuh semangat.

Ia membiarkan begitu saja pintu apartment yang terkunci secara otomotis. Ia berlari kecil menuju lift dan segera masuk ke dalamnya sesaat setelah terbuka.

Tampak Dong Hae yang baru keluar dari apartment tak dapat mencegah kepergian gadis itu. “Mau kemana YoonA? Dia tampak rapi sekali.” Ia menghentikan langkah sambil mengerutkan dahinya. “Padahal aku ingin mengundangnya untuk makan malam bersama hari ini.” Ucapnya. “Semoga saja dia pulang cepat, dengan begitu aku tidak sendirian di antara orang-orang cerewet dan terus menanyaiku masalah yang sangat mengganggu.”Harapnya,Iapun segera membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam apartment miliknya.

“Umma! Yong Jun!” Teriak YoonA segera setelah keluar dari lift. Ia pun berlari untuk menghampiri Ibu dan adiknya itu.

“Wah . . . Noona, kau wangi sekali!” Sambut Yong Jun segera.

YoonA hanya membalas dengan senyuman manja. Ia pun lekas menggandeng tangan Ibunya, “Umma, sekarang kita mau kemana?”

“Umma, ingin makan siang dulu. Apa kau tahu dimana restoran yang terkenal dengan masakannya yang enak dan lezat?”

Mereka sambil beranjak pergi, menjauh dari lobby dan melangkah keluar dari apartment.

“Aku kurang tahu, Umma. Bagaimana kalau kita jalan saja dulu?” YoonA menggaruk kepalanya.

“Ayo kita jalan saja dulu! Sekalian Umma ingin melihat-lihatSeoul.”

Tampak tawa dan senyum melebar menghiasi wajah mereka. Mereka pun melangkah dengan gontai di tepian, di bawah teduhnya pepohonan besar di sepanjang jalan raya.

Mereka duduk di salah satu meja yang satu-satunya masih tersisa di restoran itu. Mereka bersiap untuk menyantap menu makan siang yang sudah mulai disajikan satu persatu oleh para pelayan.

Yong Jun segera menyobek pembungkus sumpit yang akan digunakannya, dengan lahap Ia menyantap Spicy salad yang dipesannya.

Di hadapannya duduk Nyonya Im yang berdampingan dengan YoonA. Mereka pun mulai mengisi perut mereka yang keroncongan.

Tampak suasana sejuk dan nyaman di restoran berbintang itu. Beberapa tamu yang datang kesana terlihat begitu menikmati hidangan yang disediakan. Terdengar alunan lembut suara musik yang menggema di seluruh sudut ruangan.

“Umma, apa kau tahu beberapa resep makanan laut?” Tanya YoonA membuka obrolan ringan.

“Kenapa tiba-tiba menanyakan resep makanan?” Nyonya Im balas bertanya dengan merautkan wajah herannya.

“Sebagai seorang wanita, tentu saja aku sangat ingin pandai dalam hal memasak. Terlebih lagi Korean SeaFood, Umma.” Ungkap YoonA.

“Sebenarnya Noona ingin memasak untuk tetangganya itu, Umma.” Yong Jun ikut bicara.

“Tetangga?” Nyonya Im semakin bingung.

“Benar, ada seorang laki-laki yang disukai Noona dan tinggal tepat di sebelah apartment. Akhir-akhir ini mereka sangat dekat, aku yakin Noona ingin memasak untuknya.” Terka Yong Jun dengan sangat yakin.

“Hi!” YoonA melototkan mata pada adiknya itu. “Kau tidak tahu apa-apa, jadi cukup diam dan nikmati saja makananmu.”

“Sudahlah kalian jangan betengkar.” Ibu coba melerai dengan nada lembut. “Bukankah ini merupakan berita bagus, Noona mu ingin mulai belajar memasak.” Ucap Nyonya Im dengan sangat bijaksana.

Yong Jun pun lekas terdian melihat Nyonya Im yang lebih membela kakak perempuannya.

“Bagaimana kalau Jjambbong? Itu merupakan perpaduan antara mie dan udang, cumi-cumi, juga remis.” Nyonya Im memberikan sarannya.

“Apa sulit untuk membuatnya Umma?”

“Nanti Ibu akan menuliskan resepnya untukmu. Kalau kau ingin yang lebih mudah, kau bisa memulai dengan Hyedupbap. Kau cukup menyiapkan Tuna dan beberapa sayuran segar.”

“Wah, aku sudah tidak sabar lagi untuk memasak semuanya.” YoonA begitu bersemangat dan kembali menyuap soup di depannya.

“Apa tetangga yang dimaksud Yong Jun adalah laki-laki yang menemanimu ke kantor polisi waktu Yong Jun tertangkap itu?” Tanya Nyonya Im yang mulai penasaran.

“Benar sekali, Umma. Noona sangat menyukainya, bahkan memory card di handphonenya penuh oleh photo-photo laki-laki itu.” Yong Jun segera menyela untuk membenarkan.

“Hi, Yong Jun! Sekali lagi kau bicara aku akan memasukkan sendok ini ke mulut besarmu itu.” YoonA sambil mengarahkan sendok yang digunakannya untuk mengancam Yong Jun.

“Kalian selalu saja bertengkar.”  Nyona Im menggelengkan kepala. “Kelak, kau harus memperkenalkan pada Umma,  laki-laki yang beruntung itu. Anakku!” Pintanya segera.

YoonA pun tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Huh … aku sendiri tidak tahu seperti apa hubunganku dengan Dong Hae. Selama ini kami memang sangat dekat, tapi aku tidak tahu apa dia punya perasaan yang sama sepertiku. Terlebih lagi di hati Dong Hae masih ada seseorang yang sangat disukainya, aku tidak yakin bisa menghilangkan jejak gadis itu dalam ingatannya.” Batinnya, Ia pun tertunduk lesu dan mulai patah semangat sambil menghabiskan soup yang masih tersisa banyak.

Mereka kembali melangkahkan kaki di sekitar pusat pertokoan kota Seoul. Mereka salah satu keluarga kecil yang tengah menikmati hari libur bersama di tengah keramaian orang-orang yang memadati pusat perbelanjaan.

“Kapan ujian masuk kuliah akan dimulai, anakku?” Tanya Nyonya Im penuh perhatian.

“Minggu depan. Do’a kan aku Umma!” YoonA yang terus menggandeng tangan ibunya itu di antara orang banyak.

“Tentu saja. Umma, Appa, dan Tuhan akan selalu memberkatimu dimana pun kau berada.” Nyonya Im membelai lembut rambut anaknya.

Yong Jun yang berjalan mengikuti dari belakang, mulai merautkan wajahnya yang penuh kebosanan melihat kemesraan Ibu dan anak itu.

Mereka pun melintas di salah satu toko yang menjual berbagai jenis handphone dari segala macam merk. Nyonya Im menghentikan langkahnya sejenak, “YoonA, bukankah Handphonemu rusak. Mari kita membeli satu disana sementara handphonemu diperbaiki.”

“Tidak perlu Umma. Kurasa sebentar lagi whiteberry akan selesai diperbaiki. Jadi Umma tidak harus menghambur-hamburkan uang untuk membelikan handphone baru untukku.”

“Apa maksudmu menghambur-hamburkan uang? Ini untuk anakku, Umma tidak pernah takut mengeluarkan uang sedikitpun kalau demi dirimu.” Nyonya Im lekas masuk ke dalam toko itu diikuti kedua anaknya.

Mereka pun sejenak melihat-lihat beberapa model handphone terbaru yang dijual disana.

“Cepat kau pilih satu untukmu!” Pinta Nyonya Im pada YoonA.

“Sungguh terimakasih Umma.” YoonA dengan manja memeluk ibunya.

Tampak Yong Jun memasamkan wajahnya, Ia hanya melihat kakaknya itu terus dimanja oleh Ibunya.

YoonA pun lekas melirikkan matanya dan mengamati tiap handphone yang dipajang di sana. Salah satu karyawan tampak menemani untuk memberikan penjelasan keunggulan dari tiap handphone yang ditunjuknya.

Kembali suara bel dari pintu depan menghentikan sejenak aktivitasnya, Dong Hae yang tengah membantu Ibunya menyiapkan peralatan makan lekas berlari untuk menyambut tamu yang berdiri di luar sana.

Ia pun menghela napas mendapati Hyuk Jae bersama Hyo Yeon tengah berdiri tegap di hadapannya. Dong Hae memaksakan senyum mengembang di wajahnya, “Masuklah!” Ucapnya hangat.

“Apa Nyonya Lee ada di dalam? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.” Hyo Yeon sekedar berbasa-basi. Ia melepaskan gandengan tangannya dari lengan Hyuk Jae lalu berlari kecil menuju dapur.

“Sebaiknya kau juga tunggu saja di dalam!” Dong Hae mempersilahkan Hyuk Jae masuk.

“Apa benar tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?” Hyuk Jae menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu.

Dong Hae menggelengkan kepalanya, “Kurasa tak ada untuk saat ini.”

“Kalau begitu aku masuk dulu.” Hyuk Jae lekas melangkah gontai menuju meja makan di dapur.

Dong Hae yang masih berdiri menghalangi pintu masuk menolehkan kepalanya memperhatikan apartment YoonA yang tampak sepi. “Apa gadis itu masih belum pulang? Biasanya dia selalu ada untuk mengganggu hariku.” Pikirnya. Ia pun menutup pintu dan melangkah menuju dapur. Berkumpul bersama orang-orang yang sudah menunggunya disana.

Berbagai jenis makanan laut terhidang di atas meja, makanan-makanan itu tampak sangat lezat. Tercium aroma yang sangat sedap menambah rasa lapar orang-orang yang tak sabar lagi untuk menyantapnya.

“Wah, rasanya sangat lezat. Memang tak ada seorang pun yang bisa mengalahkan masakan buatan Bibi di dunia ini.” Hyo Yeon tanpa segan melemparkan pujiannya. Ia segera  menyuap nasi bersama ikan yang dibuat dengan bumbu special.

“Kau memang sangat istimewa, wajar saja Hyuk Jae memilihmu sebagai pendamping hidupnya.” Nyonya Lee menyahut sambil tersipu.

Semua yang duduk berkumpul di meja makan pun menikmati semua menu makanan tersedia disana.

“Maafkan Bibi! Saat pesta pertunangan kalian, Bibi tidak bisa hadir disana.” Nyonya Lee membuka pembicaraan.

Hyo Yeon dengan tatapan matanya yang lembut lekas tersenyum simpul, “Tidak apa-apa, bukankan Dong Hae sudah mewakilkannya.”

Dong Hwa, kakak tertua Dong Hae tak ikut mengambil peran. Ia diam saja sambil menghayati masakan lezat yang masuk ke dalam mulutnya.

“Dong Hae, kapan kau akan memperkenalkan pada Umma wanita pilihanmu?” Nyonya Lee membuat Dong Hae tersedak.

“Umma, apa sekarang sudah saatnya membicarakan masalahku?” Protes Dong Hae lalu meminum air mineral untuk melancarkan tenggorokannya.

“Apa Bibi tidak tahu, akhir-akhir ini Dong Hae sedang dekat dengan seorang gadis?” Hyo Yeon menyela. Hyuk Jae lekas melototkan matanya pada Hyo Yeon yang tak juga diam. “Bahkan saat pesta pertunanganku waktu itu, Dong Hae juga mengajaknya.” Ia tak menggubris Hyuk Jae yang tampak kesal padanya.

“Benarkah?” Dong Hwa dan Nyonya Lee serentak. Mereka tampak tak percaya.

“Dong Hae tak pernah mengatakan apapun.” Sahut Nyonya Lee kemudian.

“Sebenarnya kami hanya berteman, kebetulan sahabat terbaikku akhir-akhir sedang menghindar dariku. Dia lebih sibuk dengan urusannya sendiri dan tak pernah meluangkan waktunya lagi untuk bersamaku.” Dong Hae terdengar menyinggung Hyuk Jae yang lekas menghentikan sejenak makannya.

“Itu karena Hyuk Jae dan aku tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan kami.” Sahut Hyo Yeon segera diiringi dengan tawanya yang kaku.

“Benar, kami memang sedang sibuk untuk pesta pernikahan kami.” Hyuk Jae mengiyakan. “Bibi harus hadir di pesta pernikahan kami nanti. Kami pasti akan sangat kecewa bila Bibi tidak datang untuk memberikan restu.” Ia lekas mengingatkan dengan nada bercandanya.

“Kalian ini, tentu saja Bibi akan datang. Kalian sudah Bibi anggap seperti anak sendiri.” Nyonya Lee pun lekas tersenyum.

Dong Hae tampak merengutkan wajahnya, Ia pun tak peduli lagi, Ia membuang muka dan menutup telinganya mendengar obrolan mereka yang membosankan.

Sebuah taxi yang melaju dari kejauhan tampak semakin dekat. Di bawah langit malam yang gelap, ditemani bintang-bintang kecil yang bertaburan. YoonA bersama Ibu dan adiknya, Yong Jun. Mereka berdiri tak jauh dari halaman apartment untuk segera menghentikan taxi itu.

“Padahal aku masih sangat merindukan Umma. Apa tidak bisa kalian menginap disini.” YoonA yang masih bersikap manja tak mau melepaskan kepergian Ibu dan adiknya begitu saja.

“Nanti Umma pasti akan kembali lagi untuk melihat keadaanmu. Umma juga masih ingin berlama-lama disini, tapi keadaan tak mengijinkan. Besok masih banyak hal yang harus diselesaikan.” Nyona Im lekas memeluk erat anak perempuannya itu. “Semoga saja kau lulus ujian masuk Universitas. Umma sudah tak sabar lagi melihatmu menjadi seorang Guru.” Ia sambil memegangi kedua tangan YoonA, menatap lembut mata anaknya itu.

“Aku pasti bisa, Umma. Terimakasih untuk hari ini.” YoonA pun melepaskan kepergian Adik dan Ibunya yang sudah duduk dalam taxi. “Jangan lupa untuk menyampaikan salamku pada Appa!” Teriaknya sambil melambaikan tangannya saat taxi mulai melaju ke jalan raya, matanya tampak berkaca-kaca

Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu melangkah gontai menuju lobi apartment. Ia bergegas  masuk ke dalam lift yang hampir tertutup. Di dalamnya terdapat seorang anak perempuan bersama Ibunya. Sejenak Ia berada di dalam sana dan menunggu dengan sabar lift yang naik perlahan menuju lantai dimana apartmentnya berada.

Dong Hae berdiri di hadapan cermin kamar mandi, lampu terang yang berada di langit-langit terpantul ke dalam cermin. Ia menyikat giginya dan rengutan di wajahnya masih enggan beranjak.

“Kenapa semuanya tampak menyebalkan malam ini?” Batinnya dan terus membersihkan giginya. “Beruntung mereka semua sudah pergi. Aku tidak perlu lagi harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.” Ucapnya dalam hati.

Ia segera berkumur untuk membersihkan sisa pasta dalam mulutnya. Sejenak Ia melihat gigi putihnya dari cermin, lalu melangkah gontai. Tiba-tiba langkahnya terhenti melihat sebuah cincin yang berkilauan di atas wastafel. Ia meraih cincin itu dan mengamatinya dengan seksama, Ia memasangkan cincin itu ke jarinya. “Sepertinya ini milik Hyuk Jae. Dia pasti lupa untuk memasang kembali setelah mencuci tangan tadi. Hyuk Jae, kebiasaanmu tidak pernah hilang. Padalah cincin ini sangat berharga, Hyo Yeon pasti akan sangat marah padamu kalau dia tahu kau meninggalkannya disini.” Ia berbicara sendiri, lalu melepaskan cincin itu dari jari manisnya. “Benar juga, sebaiknya kusimpan saja dulu cincin ini sampai Hyuk Jae sendiri yang menanyakannya. Aku ingin melihat mereka berdua bertengkar lagi karena hal kecil.” Ia tertawa nakal setelah menemukan Ide cemerlang untuk membuat sahabatnya itu bertengkar dengan kekasihnya.

Ia pun kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti dan keluar dari kamar mandi. Ia  meletakkan cincin itu di dalam laci ruang kerjanya, Ia menyembunyikan benda kecil itu disana untuk sementara waktu.

Langkahnya kembali terhenti melihat memory card milik YoonA yang tersimpan dalam kotak kecil transparent di  atas meja kerja. “Aku hampir lupa, gadis itu memintaku untuk menyimpankan data-data di handphonenya ke komputerku. Sebaiknya besok saja kulakukan, aku sudah cukup lelah untuk melanjutkan aktivitas.” Ia mengenakan piyama warna biru favoritnya lekas masuk kamar dan bergegas tidur. Ia tampak begitu lelah dan langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk. Matanya mulai tertutup rapat, sekejap alam mimpi menyapa tidurnya yang pulas.

Lampu di kamarnya masih tetap menyala terang, gadis ini masih tetap terjaga di atas tempat tidur. Ia berbaring sambil tersenyum lebar memandangi Handphone yang baru dibelikan Ibunya.

“Meskipun tidak sebagus Whiteberry kesayanganku, tapi tidak apa-apa. Aku sangat senang karena ini pemberian dari Umma.” Ucapnya. Ia pun lekas melihat-lihat perangkat di dalam handphone mungil itu, Ia lekas menuju galeri untuk melihat photo-photo yang tersimpan disana.

“Mana photo-photo Dong Hae? Hari ini tidak bertemu dengannya, aku sangat merindukannya.” Batin YoonA. Ia baru ingat bahwa Ia meminta Dong Hae untuk menyimpankan data dalam memorinya ke komputer, Ia lekas bangkit dari rebahannya. “Bagaimana mungkin aku bisa lupa?” Ia duduk di atas ranjang sambil menepuk kepalanya beberapa kali. “Gawat! Bagaimana kalau Dong Hae tahu kalau aku banyak menyimpan photo-photonya disana? Dia pasti akan mengejekku lagi dan akan tahu kalau aku menyukainya.” Ia mulai cemas, “Tidak boleh! Aku harus segera mengambilnya.” Ia lekas berdiri sambil membenarkan piyamanya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti melihat jam dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 12 malam tepat. “Sudah jam 12!” Serunya segera. “Dong Hae pasti sudah tertidur, sebaiknya besok saja pagi-pagi aku ke apartmentnya.” Ucapnya, lalu kembali ke tempat tidur.

Ia membenamkan dirinya ke dalam selimut tebal dan memaksakan matanya yang masih belum mengantuk untuk tidur. Beberapa detik berlalu, menit pun silih berganti. Perlahan YoonA mulai tertidur pulas di temani boneka-boneka kecil yang berada di sekitar bantalnya.

Dengan pelan YoonA menginjakkan kakinya di koridor apartment, kakinya yang masih tampak berat untuk melangkah di paksa berjalan. Tubuhnya yang kaku bisa merasakan kehangatan matahari yang membias melalui kaca di sepanjang koridor.

Ia tampak mengendap-endap disana, menanti Dong Hae keluar dari apartment. Ia yang masih terlihat kusut dengan piyama yang dikenakannya, bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya.

“Biasanya Dong Hae berangkat kerja sepagi ini, tapi kenapa dia tidak muncul-muncul juga?” Pikir YoonA.

Tiba-tiba Dong Hae mengejutkannya, laki-laki tampak begitu rapi dan siap berangkat kerja meluangkan waktunya sebentar untuk menghampiri YoonA yang menunggunya.

“Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini di depan apartmentku?” Tukasnya.

“Tidak apa-apa.” Pikiran YoonA sekejap buyar, Ia bingung merangkai kata mendapati Dong Hae yang terlihat begitu menyegarkan di matanya.

“Kemana saja kau kemarin?” Dong Hae menyempatkan diri untuk melakukan obrolan pagi dengan gadis itu.

“Umma dan juga adikku datang mengunjungiku kemarin. Aku pergi bersama mereka jalan-jalan di sekitar kota Seoul.” YoonA seraya melempar senyum manisnya.

“Kemarin Umma dan Hyung juga datang berkunjung. Sebenarnya kemarin malam aku ingin mengajakmu makan malam bersama, kebetulan Umma juga mengundang Hyo Yeon dan Hyuk Jae. Kau tahu semuanya terasa berbeda bila kau tidak ada.” Ungkap Dong Hae tanpa segan.

YoonA terdiam, Ia memendam perasaan senang mendengar Dong Hae yang tampak merindukan dirinya. “Wah, Dong Hae ingin memperkenalkanku pada Umma. Apa ini merupakan awal dari semuanya?” Pikirnya kegirangan, Ia tersenyum lebar, “Sepertinya dia juga merindukanku.”  Hatinya pun bersorak gembira dan tertawa sendiri.

“Ada apa denganmu?” Tanya Dong Hae heran.

“Tidak apa-apa.”

“Baiklah. Kalau begitu aku berangkat dulu.” Dong Hae pamit, “Ah …” Sejenak Ia menghentikan langkahnya lagi. “Kau masih berhutang janji padaku.”

“Janji?” Tanya YoonA dan mengingat kembali janji yang dilontarkannya.

“Kebetulan kemarin Umma membawa banyak ikan segar dari Mokpo. Jadi, nanti malam kau harus memasak untukku.” Dong Hae pun tersenyum dengan matanya yang lembut.

“Benarkah? Nanti malam?” YoonA tampak kelagapan. “Bagaimana ini? Kemarin aku lupa meminta Umma untuk mencatat resep makanan laut yang diberitahukannya. Kalau meminta Umma menjelaskannya melalui telepon, aku pasti tidak akan paham dengan mudah. Apa sebaiknya aku pergi membeli buku resep saja?” Ia tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Hi! Im YoonA, kau mendengarku atau tidak?” Dong Hae yang berdiri di depan pintu lift menatapnya dengan heran.

“Tentu saja. Aku pasti akan memasak untukmu, aku jamin masakan buatanku sangat enak sedunia.” YoonA coba membanggakan dirinya sendiri.

“Syukurlah. Aku sudah tidak sabar lagi untuk memakan masakanmu itu.” Dong Hae pun mengejipkan sebelah matanya pada YoonA lalu masuk ke dalam lift.

Lift itu tertutup, YoonA lekas merautkan wajah cemasnya. “Bagaimana ini? Dong Hae pasti akan mengejekku lagi kalau tahu aku tidak pandai memasak.” Ucapnya sambil memandangi keluar kaca koridor. “Sebaiknya aku membeli buku resep, masih banyak waktu untuk mempelajarinya sebelum nanti malam. Kebetulan aku ingin mengembalikan buku yang kupinjam dari Hyo Yeon eonni.” Ia pun lekas masuk bersama sandal lucu yang selalu dikenakannya saat berada di dalam apartment.

Ia berlari kecil melewati beberapa ruangan dalam apartment menuju kamarnya. Ia lekas mengambil baju handuk yang bergantungan di samping lemari pakaian. Ia bergegas meraih perlengkapan yang biasa digunakannya saat mandi. Ia segera masuk kamar mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya.

Gadis itu melangkah dengan senyum lebar yang melebihi lebarnya jalan raya, Ia berlari seperti anak kecil menuruni tangga depan apartment. Kakinya yang panjangnya membuatnya lebih cepat sampai di area parkir. Ia berdiri sejenak untuk bercermin di kaca spion dan merapikan poninya, Ia lekas menjepitkan pin warna kuning untuk menahan poninya itu. Ia kembali tersenyum kecil melihat dirinya yang tampak sangat cantik.

“Im YoonA, semangat!” Ucap pada dirinya sendiri dengan suara lantang.

Ia meraih handphone di dalam tas punggung kecil di belakangnya, “Eonni, sekarang kau dimana?” YoonA sambil memasang helmnya.

“Aku? Aku berada di butik. Kenapa?” Hyo Yeon yang berada jauh di butik miliknya sambil membuka tirai jendela, menjawab YoonA yang tengah bicara jarak jauh dengannya melalui handphone.

“Aku akan segera kesana.” YoonA menutup handphonenya.

“Ah, ada apa dengan anak ini?” Hyo Yeon merautkan wajah herannya. Ia lekas beralih ke jendela satunya lagi, dimana tirainya masih tertutup.

YoonA masih dengan senyumannya yang semakin menghangatkan cuaca di pagi hari dan memberikan semangat pada tiap orang yang berpapasan dengannya. Ia melaju ke jalan raya mengendari motor scooter yang sudah beberapa minggu ini setia menemaninya, SunShine.

Ia melintasi jalan raya dengan sangat hati-hati, Ia tetap melaju di tepian dan membiarkan mobil-mobil lain mendahului motornya. Ia juga tak peduli pada angin yang berhembus sepoi-sepoi dan menerpa wajahnya.

Sekejap Ia berada di depan sebuah butik yang terletak tepat di pusat pertokoan, Seoul. Ia melajukan motornya dengan pelan menuju tempat parkir yang tak jauh dari butik. Ia melepas helmnya dan tak lupa untuk kembali merapikan rambutnya yang berantakan. Ia berlari kecil kembali ke butik dimana Ia berhenti sejenak tadi.

Ia tanpa segan membuka pintu dan mencari keberadaan Hyo Yeon. Terdengar bunyi lonceng yang bergantungan di atas pintu untuk memberitahukan kedatangan pelanggan. Hyo Yeon yang tengah sibuk mencari bahan  di gudang lekas berhenti sejenak, Ia melangkah dengan cepat sambil membawa beberapa helai kain.

“YoonA!” Sambutnya dengan hangat. Ia segera meletakkan kain-kain yang tadi dibawanya ke atas meja panjang.  “Ada apa kenapa tiba-tiba kemari?”

“Aku ingin mengembalikan buku-buku yang waktu itu kupinjam darimu.” YoonA lalu melepaskan tas punggungnya dan mengeluarkan beberapa buku yang tersimpan di dalamnya.

“Apa kau sudah selesai menggunakannya?” Hyo Yeon meyakinkan.

“Aku sudah meresume beberapa hal penting yang mungkin akan keluar saat ujian.” Jelas YoonA segera.

“Baiklah.” Hyo Yeon sambil menganggukkan kepalanya meraih buku-buku itu.

“Terimakasih eonni!” Ucap YoonA dengan lembut.

“Aku senang bisa membantumu, semoga kau sukses dalam ujian.”

YoonA pun membalasnya dengan senyuman kecil. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Ia lekas mengancing kembali tas punggungnya.

“Apa kau sudah sarapan pagi?” Cegah Hyo Yeon.

YoonA menggelengkan kepalanya pelan.

“Kebetulan sekali. Apa kau mau sarapan pagi bersama, aku tahu tempat paling bagus di sekitar sini.”

YoonA hanya terdiam.

“Aku akan mentraktirmu.” Hyo Yeon segera menariknya keluar dari butik.

Serentak kaki mereka melangkah di tepian jalan melewati toko-toko yang baru saja buka dan siap menyambut para pelanggan.

YoonA dan Hyo Yeon duduk di salah satu meja yang terletak di luar ruangan. Mereka menunggu makanan yang mereka pesan sambil membaca majalah edisi terbaru yang sengaja diletakkan di sana untuk para tamu.

“Waktu itu, kenapa kau pulang lebih awal? Padahal masih ada hal yang ingin kusampaikan padamu.” Hyo Yeon membuka pembicaraan.

YoonA lekas mengarahkan matanya menatap Hyo Yeon yang duduk berhadapan dengannya. Ia tampak bingung menyusun tiap kata untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat alasan, “Saat itu ada sedikit keperluan mendesak yang harus aku selesaikan.”

“Kau tahu, aku benar-benar sangat kecewa padamu dan juga Dong Hae. Meninggalkan pesta tanpa pamit dulu padaku ataupun Hyuk Jae.” Hyo Yeon mengungkapkan kekecewaannya.

“Maafkan aku! Memangnya apa yang ingin eonni sampaikan padaku?” Tanya YoonA penasaran.

“Aku ingin kau menjadi Pengirin Pengantin di pesta pernikahanku nanti.”

YoonA tercengang, “Eonni pasti bercanda.” Ia tertawa kecil.

“Tentu saja tidak. Aku ingin kau menjadi Pengiring saat aku melangkah menuju altar. Apa kau tidak mau?” 

YoonA menggeleng dengan cepat. “Aku mau, tentu saja aku bersedia.” Ucapnya segera. “Aku sangat senang, hanya saja aku tidak percaya Eonni memintaku menjadi Pengiring. Hanya orang-orang beruntung saja yang terpilih.” Jelasnya.

“Hyuk Jae dan Dong Hae adalah sepasang sahabat yang sangat akrab. Bahkan saat di kampus dulu mereka sering kali dipanggil EunHae Couple. Mereka berteman sudah lebih dari 6 tahun lamanya. Lalu aku hadir diantara mereka, aku merasa seperti telah merebut Hyuk Jae dari Dong Hae. Itu sebabnya terkadang Dong Hae bersikap dingin padaku.” Cerita Hyo Yeon.

“Jadi, Hyuk Jae mengenal Dong Hae lebih dulu dibandingkan bertemu denganmu?”

Hyo Yeon tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja. Mereka bersahabat sudah sangat lama. EunHae couple, mereka sering menyebut diri mereka seperti itu. Tapi sejak lulus dari bangku kuliah Hyuk Jae tidak mau lagi dipanggil Eun Hyuk. Jadi, EunHae couple sudah tidak ada lagi. Sekarang yang ada adalah HyoHyuk, yaitu aku juga Hyuk Jae.” Jelas Hyo Yeon.

Tapi YoonA tampak tak begitu tertarik, Ia lebih senang mendengar tentang persahabatan antara Hyuk Jae dan Dong Hae yang terjalin lebih dulu. “Kapan eonni bertemu Hyuk Jae?”

“Baru tiga tahun terakhir, setelah itu kami menjalin hubungan sampai pada akhirnya kami akan bertunangan.” Hyo Yeon memamerkan cincin pertungannya.

Seorang pelayan wanita datang menyajikan sandwich serta cappuccino yang tadi mereka pesan. Nafsu makan YoonA sekejap hilang, Ia lebih memilih untuk mendengar cerita Hyo Yeon.

“Aku pikir kau adalah orang yang lebih dulu berteman dengan Dong Hae, lalu Hyuk Jae hadir dan …” YoonA terputus.

Hyo Yeon kembali tertawa kecil sambil memotong sandwich dengan pisau roti. “Kau benar-benar sangat lucu. Tentu saja tidak.” Bantahnya. “Hyuk Jae yang mengenalkanku pada Dong Hae, aku dan Dong Hae tidak akan sedekat sekarang kalau bukan karena Hyuk Jae.” Ungkapnya. “Saat pertama kali tiba di Seoul, orang yang pertama kali kutemui adalah Hyuk Jae.”

YoonA terdiam, ia pun lekas memakan sepotong sandwich ukuran besar yang lupa dipotongnya. Pikirannya tampak kacau, kata-kata Dong Hae juga cerita Hyo Yeon bercampur baur dalam benaknya.

Hyo Yeon yang tak tahu apa-apa hanya menatap heran padanya. “Apa kau sangat lapar? Kurasa dua atau tiga potong sandwich bisa muat masuk dalam mulut besarmu itu.” Ia sambil tertawa kecil.

YoonA pun lekas membalasnya dengan senyuman kaku.

“Nanti aku akan segera menghubungimu saat gaun untuk pendamping pengantinnya datang. Semoga saja gaun itu pas untukmu.” Sela Hyo Yeon.

YoonA pun lekas mengangguk pelan untuk mengiyakan.

Tak butuh waktu yang lama untuk menghabiskan sandwich yang mereka makan. Hyo Yeon lekas membayar ke kasir bersama YoonA yang menemaninya. Mereka beranjak dari cafeteria untuk melanjutkan aktivitas mereka yang sempat terhenti untuk sarapan, mengisi perut mereka yang kosong kelaparan.

Beberapa buah rak buku yang tersusun rapi dilewatinya, matanya masih kosong menatap benda-benda di sekitarnya. Ia tak begitu memperhatikan orang-orang yang menatap heran pada tingkahnya. YoonA terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Ia berdiri di depan sebuah rak buku. Ia tampak melamun dan termenung untuk waktu yang lama. Para pengunjung lain hanya berlalu di belakangnya berdiri dan tak juga berniat untuk menegur dirinya yang kadang-kadang menggelengkan kepalanya sendiri.

Mereka adalah sahabatku. Sebenarnya sejak orang itu muncul dan berada di antara kami, saat itulah aku mulai merasa terbuang. Aku sendiri juga tidak tahu perasaan seperti apa ini. Kadang aku marah dan benci, kadang aku juga memaksakan diri untuk bersikap tenang lalu tersenyum ke arah mereka.” Gadis itu sambil melipat tangannya, mengingat kembali semua kata-kata yang pernah diucapkan Dong Hae padanya.

“Tidak mungkin, orang yang disukai Dong Hae adalah Hyuk Jae.” YoonA menggelengkan kepalanya lagi sambil memegangi salah satu buku yang membuatnya tersentak kaget. Ia membaca judul buku itu dengan seksama, Ia lekas membelalakkan matanya. “Gay isn’t a mistake.” Ia segera meletakkan kembali buku itu, disampingnya terdapat buku dengan judul ‘Ciri-ciri seorang Gay’. Ia tampak gemetaran dan mempercepat langkahnya untuk menjauh dari buku-buku yang membuatnya semakin dilanda ketakutan.

Ia pun mulai berpikir sejenak, langkahnya terhenti. “Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranku. Aku pasti sedang sakit, atau aku memang sangat terobsesi pada Dong Hae.” Ia sambil menghela napasnya lalu membalikkan tubuhnya dan tanpa ragu mengambil salah satu buku itu. Ia melanjutkan langkahnya kembali sambil membawa buku itu menuju buku khusus resep masakan.

Ia terus termenung, wajahnya tampak suram dan muram. Ia tampak sulit untuk membuat senyum di bibir manisnya. Ia berdiri bersandar dan tak bergerak sedikit pun di dalam lift yang tengah membawanya naik ke lantai atas, dimana apartmentnya berada.

YoonA keluar dari pintu lift, masih dengan rautan wajah yang kehilangan aura. Pikirannya sibuk mengingat tiap perkataan yang diucapkan Dong Hae mengenai orang yang disukainya. Ia bingung menyatukan tiap jalan cerita Hyo Yeon yang sulit untuk dimengertinya. Benaknya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawabnya seorang diri.

Ia tak menghiraukan seseorang yang sudah menunggunya sejak tadi. Ia tak menyadari Dong Hae yang tersenyum simpul untuknya. Kakinya terus melangkah melewati laki-laki yang mulai mempelihatkan wajah herannya.

“Im YoonA!” Panggil Dong Hae.

YoonA tak menggubris, Ia memasukkan kata sandi untuk membuka pintu apartment.

“Im YoonA!” Dong Hae melangkahkan kakinya mendekati YoonA, lalu merangkul gadis itu. “Apa kau baik-baik saja?” Bisiknya.

“Dong Hae! Sejak kapan kau disini?” YoonA tampak terkejut.

Dong Hae lekas meranngkul pundak YoonA, “Ayo kita ke super market!” Ajaknya segera.

“Untuk apa? Kau juga cepat sekali pulang dari kantor. Padahal baru jam 5 sore.” YoonA tak bersemangat.

“Bukankah nanti malam kau akan memasak di apartmentku. Aku masih belum menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Lebih baik kita ke supermarket, jadi kau bisa memilih bahan yang kau butuhkan.” Dong Hae lalu tersenyum tipis.

“Benarkah?” YoonA mengeluarkan tawanya yang terpaksa. “Aku hampir lupa kalau aku berjanji akan memasak untukmu.

“Ayo kita pergi!” Dong Hae tanpa segan menarik tangan YoonA.

“Tunggu!” Cegah YoonA segera.

Dong Hae mengerutkan dahinya.

“Aku ingin mandi dulu. Seharian ini aku berkeliaran di luarsana, . . .” YoonA terputus.

“Baiklah, cepatsanakau mandi dulu! Kasihan orang-orang yang berada di sekitarmu nanti, bisa-bisa mereka pingsan karena mencium bau badanmu yang tidak enak itu.” Dong Hae tanpa lupa untuk mengejeknya.

YoonA menggeram kesal, “Kau!” Ucapnya dengan nada tinggi.

“Cepat!” Perintah Dong Hae.

YoonA pun lekas masuk apartmentnya dengan wajah masam. Ia meninggalkan Dong Hae sendirian di koridor untuk menunggunya. Ia segera meletakkan tas di atas sopa ruang tamu dan berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari dapur.

Mereka berlari kecil masuk ke dalam kawasan pusat perbelanjaan terbesar diSeoul. Mata mereka lekas tertuju pada sebuah super market yang berdiri megah di tengahkota. Mereka memelankan langkah mereka saat memasuki super market, tampak banyak sekali pengunjung yang berkeliaran untuk membeli keperluan sehari-hari.

Dong Hae lekas menarik kereta belanja menuju tempat sayur-mayur, Dong Hae tampak bersemangat, Ia terlihat begitu ceria dengan senyum yang terus dikembangkannya.  YoonA melangkahkan kakinya yang panjang mengikuti dari belakang.

“Kenapa aku terus memikirkan hubungan Dong Hae dan Hyuk Jae? Aku benar-benar sangat bodoh. Mungkin saja masih ada gadis lain yang tidak pernah dikenalkan Dong Hae padaku. Lagipula tidak mungkin orang yang disukai Dong Hae adalah Hyuk Jae.” YoonA pun tertawa kecil sambil memukul pelan kepalanya.

Dong Hae mengernyitkan dahi saat menoleh YoonA yang tertawa sendiri. “Hi! Apa yang sedang kau tertawakan?” Tanyanya heran.

“Tidak ada apa-apa.” YoonA menutup mulutnya rapat-rapat.

“Kau aneh sekali hari ini. Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada.” YoonA meyakinkan.

Dong Hae pun mengangguk pelan. “Jadi, hari ini akan memasak apa untukku?”

“Adaikan apa saja di rumahmu?” Tanya YoonA kemudian kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti.

“Di rumah masih tersisa ikan tuna, kepiting dan juga udang.”

“Baiklah, mari kita lihat dulu.” YoonA mengeluarkan buku resep dari dalam tas punggungnya.

“Kau membawa buku resep?” Dong Hae tampak terkejut. Ia pun mengernyitkan dahinya lagi dan mulai ragu pada keahlian YoonA dalam hal memasak.

“Kenapa? Aku takut lupa bahan-bahan yang diperlukan, jadi aku membawa buku resepnya.” YoonA lekas berlagak seperti seorang professional. Ia pun melihat dengan seksama beberapa resep yang cukup mudah untuk dibuat. “Seharusnya ada menu makanan laut yang tidak butuh waktu lama dan juga tidak sulit untuk dibuat.” Pikirnya.

Sementara Dong Hae masih bersama kereta belanja dan melangkah pelan melewati rak daging.

“Kita akan membuat Saewoo Twigim saja.”  YoonA berlari kecil mengejar Dong Hae yang berada jauh di depansana.

“Bukankan itu sangat mudah dibuat.” Ucap Dong Hae.

“Aku juga akan membuat Maeuntang sebagai soupnya. Kau tenang saja, serahkan semuanya padaku.” YoonA tersenyum lebar lalu berjalan menuju rak dimana bahan-bahan yang diperlukannya berada. Ia tampak begitu bersemangat mengumpulkan semua bahan yang dibutuhkan, Dong Hae yang terus mendorong kereta belanja mengikuti gadis itu dari samping.

Lampu neon putih menerangi seluruh isi ruangan, AC pun dinyalakan untuk menyejukkan ruangan. Terdengar alunan musik melodi yang lembut diputar dari DVD player ruang keluarga.

“Apa kau perlu bantuanku?” Teriak Dong Hae dari ruang tengah pada YoonA yang bergegas menuju dapur.

“Tidak perlu. Kau duduk saja disana, lakukan apapun yang kau suka. Jangan ganggu aku di dapur.” YoonA yang tak kalah nyaring dari suara teriakan Dong Hae.

“Baiklah.” Sahut Dong Hae, Ia menjauh dari ruang tengah dan beranjak darisanamenuju kamarnya untuk berganti pakaian.

YoonA meletakkan semua bahan yang baru dibelinya ke atas meja dapur. Ia menghela napas dan mulai kebingungan melakukan apa selanjutnya.

“Kuharap Dong Hae tidak ke dapur untuk sementara waktu. Aku tidak mau dia melihat cara memasakku.” Harap YoonA dalam hatinya. Ia lekas mengambil udang segar dari dalam lemari es, tidak lupa mengambil dua butir telur.

Ia tampak bingung mencari keberadaan garam dan gula serta penyedap rasa yang terdapat di dalam lemari paling atas. Ia pun mulai beraksi bak seorang koki professional.

“Baiklah mari kita lihat apa yang harus dilakukan terlebih dulu.” YoonA coba bersikap tenang  sambil memasang celemek. Ia mengamati dengan seksama buku resep yang berada tepat di samping bahan-bahan yang sudah disediakannya.

Ia membersihkan udang yang akan digunakannya terlebih dulu. Ia tampak semakin sibuk saat memasukkan minyak ke dalam wajan yang panas. Ia pun mulai meramu bumbu sesuai dengan petunjuk.

Terlihat minyak yang pijar dan siap untuk digunakan, tanpa ragu YoonA menceburkan udang yang dilapisi dengan olesan telur itu ke dalamnya. Ia tampak sedikit berhati-hati dengan cipratan minyak. Ia kembali memotong-motong bawangBombaydengan rapi sambil sesekali menyapu keringat di dahinya.

“Sebentar lagi makan malamnya siap.” Ucapnya dengan hati gembira.

Dong Hae pun hanya duduk bersantai di depan televisi sambil menunggu hasil karya gadis itu. Sesekali ia menengok ke belakang, tapi tak sedikitpun niatnya untuk mengganggu. Ia memilih untuk bersandar di atas sopa yang empuk sambil menikmati setoples kue kering yang dibelinya dari supermarket tadi.

YoonA yang kurang teliti, tanpa sengaja menyayatkan pisau ke jari telunjuknya. Ia lekas berteriak merintih kesakitan, dan sengaja menyenggol sebotol minyak goreng dan tumpah di dekat kompor. Sekejap api menyambar keluar dan semakin besar.

“Ah ….” Teriak YoonA. Ia dengan sigap mengambil air dari kran dan menyiramkannya. Ia tampak gugup melihat api yang tak mau padam.

Dong Hae yang mendengar suara jeritan bergegas berlari menuju dapur. Ia sangat terkejut menemukan api yang menyala di dapur apartmentnya.

Raut wajah ketakutan sangat terlihat jelas di wajahYoonA,Iahanya berdiri menyaksikan Dong Hae yang berhasil memadamkan api kecil itu hanya dengan kain basah.

“Im YoonA, kau tidak apa-apa?” Tanya Dong Hae segera, Ia tampak begitu khawatir mendapati YoonA yang terdiam kaku dan tak bersuara. “Jarimu berdarah, sebenarnya ada apa?” Ia coba menahan darah yang terus keluar dengan ujung bajunya.

YoonA tak memberikan respon apapun, Ia masih shock karena telah gagal memasak makan malam untuk Dong Hae.

“Uwa …” YoonA menangis seperti anak kecil.

Dong Hae pun mengernyitkan dahinya.

Sejenak mereka duduk di kursi meja makan, di atas meja bundar itu terdapat kotak p3k kecil. Dong Hae dengan rautan wajahnya yang serius, tengah memberikan obat merah pada jari telunjuk kiri gadis itu. Ia menutupi luka kecil itu dengan plester bermotif hati yang membuat plester itu tampak lucu.

“Selesai!” Serunya lalu tersenyum kecil pada YoonA. Ia pun lekas menutup kembali kotak p3k itu dan menghela napasnya.

“Maafkan aku!” Ucap YoonA dengan wajah memelas.

Dong Hae tertawa kecil sambil memegangi buku resep yang sengaja disembunyikan YoonA. “Kenapa kau tidak katakan dari awal kalau kau tidak bisa memasak Korean Seafood?”

“Aku tidak mau kau mengejekku lagi seperti waktu itu.” Ungkap YoonA yang duduk berhadapan dengan Dong Hae.

“Bukankah jauh lebih baik mengaku saja dari pada jarimu terluka dan kau hampir saja membakar apartmentku karena ulahmu.” Tegas Dong Hae.

“Sungguh maafkan aku!” YoonA menundukkan kepalanya.

“Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi.”

“Lalu?”

“Aku sendiri sebenarnya tidak begitu bisa memasak, makanya aku memintamu agar memasak untukku. Kebetulan kemarin Umma membawakan banyak sekali ikan sebagai oleh-oleh dariMokpo.” Jelas Dong Hae lalu merautkan wajah cemberutnya. “Baiklah, sekarang ayo kita memasak bersama!” Ajaknya tiba-tiba. “Bukankan kita punya buku resep, kita tinggal mengikuti apa yang tertulis didalamnya saja.”

Dong Hae melemparkan senyumnya yang penuh dengan semangat untuk YoonA. Mereka pun saling membantu untuk membuat makanan laut yang sempat terhenti. Sesekali mereka melihat ke dalam buku resep dan mengikuti tiap langkah cara memasak makanan yang akan mereka buat.

Sekejap beberapa jenis Korean SeaFood yang sederhana tersedia di atas meja makan. Makanan-makanan itu disajikan dengan cara berbeda oleh mereka. YoonA dan Dong Hae tampak tak sabar lagi untuk menyantapnya.

“Mari makan!” Teriak mereka serentak.

Dong Hae menghentikan sejenak tegukan pertamanya, “Rasanya memang sedikit aneh. Tapi masih sangat enak untuk dimakan.” Ucapnya.

YoonA mengangguk dengan cepat untuk mengiyakan. Ia segera memasukkan semangkok nasi ke dalam mangkuk soupnya.

“Aku berharap agar orang yang nanti menikah denganmu akan baik-baik saja setelah memakan masakanmu.” Dong Hae mulai dengan ejekannya.

“Apa katamu?’ YoonA terdengar kesal.

“Kau adalah seorang gadis yang lahir dan hidup diKorea, tapi kenapa kau tidak bisa memasak Korean SeaFood dengan baik?”

“Nanti aku akan mengikuti kursus memasak, akan kubuktikan padamu bahwa masakanku yang paling enak.” Teriak YoonA di sela makannya.

“Aku benar-benar tidak yakin kau bisa.” Dong Hae dengan nada ragu.

“Aku pasti akan tunjukkan padamu, nanti di hadapanmu aku akan memasak dengan cepat. Kau adalah orang pertama yang harus mencobanya.” Tegas YoonA.

“Aku akan tunggu tantanganmu.” Dong Hae pun kembali melanjutkan makanannya.

Diikuti YoonA dengan wajah cemberutnya, Ia tampak sangat lahap menghabiskan tiap makanan yang mereka masak. Sejenak suasana ruang makan hening, yang terdengar hanya alunan musik lembut dari DVD player.

“Tadi aku ke butik milik Hyo Yeon eonni.” YoonA memulai ceritanya.

“Apa yang kau lakukan disana?” Dong Hae yang tak tertarik tapi tetap melontarkan pertanyaan.

“Mengembalikan buku-buku yang waktu itu kupinjam. Dan kau tahu eonni memintaku untuk menjadi Pengiring Pengantin di pesta pernikahannya.”

YoonA membuat Dong Hae tersedak, “Kau pasti bercanda?” Dong Hae tak yakin.

“Aku tidak bercanda. Dia nanti akan menghubungiku lagi untuk mencoba gaun yang akan kukenakan saat pesta pernikahan nanti.” YoonA dengan bangganya.

Dong Hae lekas merautkan wajah jijiknya, “Aku tidak mengerti kenapa Hyo Yeon memintamu untuk menjadi pendampingnya.”

“Dia bilang karena aku adalah orang yang saat ini dekat denganmu” Jelas YoonA.

Dong Hae hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Oh ya, Dong Hae!” Panggil YoonA tiba-tiba mengingat memory card yang dititipkannya pada Dong Hae.

“Kenapa?” Sahut Dong Hae.

“Memory Card yang waktu itu aku berikan padamu . . .” YoonA terputus.

“Maafkan aku! Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Jadi, aku tidak punya waktu untuk menyimpankannya ke dalam komputer milikku.” Dong Hae yang sudah paham lekas memberikan penjelasan.

“Benarkah, syukurlah kalau begitu.” YoonA bernapas lega.

Dong Hae pun menatapnya dengan heran.

“Kebetulan, kemarin Umma membelikan handphone baru untukku. Jadi aku ingin mengambil memory card itu kembali.”

“Jadi kau sudah punya handphone baru? Beritahu aku nomornya agar aku lebih mudah menghubungimu.” Pinta Dong Hae.

YoonA pun tanpa segan meminjamkan handphonenya pada Dong Hae.

Dong Hae lekas menekan nomor handphonenya untuk dihubungi. “Aku meletakkan memory cardnya di ruang kerja. Nanti setelah selesai makan aku akan mengambilkannya untukmu.” Terdengar getar whiteberry miliknya yang terletak di samping mangkok soup. “Sudah!” Ia pun lekas tersenyum tipis lalu mengembalikan handphone itu lagi pada YoonA. “Kau tunggulah disini, aku akan pergi mengambilnya!” Pintanya. Ia segera beranjak keluar dari meja makan dan melangkahkan kakinya pelan menuju ruang kerja.

YoonA yang tak mau tinggal diam untuk menunggu, lekas membersihkan peralatan makan di atas meja. Ia membawa semua piring kotor itu ke tempat cucian piring. Ia mengelap meja yang selesai digunakan itu sambil sesekali tersenyum tipis.

Hyo Yeon lekas menarik tangan kiriHyuk Jae,Iamulai merasakan kejanggalan lalu merautkan wajah marahnya dan menghentikan sejenak makan malamnya. “Oppa, dimana cincin pertunanganmu?” Tanyanya segera.

Hyuk Jae menyimpan kembali tangannya itu dan melanjutkan makannya, “Aku lupa dimana meletakkannya. Sepertinya aku meninggalkannya di apartment Dong Hae.” Ia terdengar ragu.

“Oppa! Bagaimana mungkin kau bisa bersikap tenang di saat seperti ini? Kau harus menemukan cincin itu kembali atau aku akan membatalkan pernikahan kita.” Hyo Yeon tampak sangat marah.

Butiknya yang sudah tutup tampak sepi dari pelanggan. Beberapa orang yang melintas didepannya hanya bisa mendengar amarah Hyo Yeon dari luar. Mereka mempercepat laju langkah mereka untuk menghindari auman gadis pemilik butik.

“Hyo Yeonnie. Tenang saja! Dong Hae pasti akan menyimpankannya untukku.” Hyuk Jae coba menenangkan kekasihnya itu.

Mereka pun kembali focus pada makanan catering yang mereka pesan dan mereka nikmati bersama. Mereka duduk di atas bangku meja design, di bawah terangnya lampu neon.

“Aku takut kalau Dong Hae membuangnya karena dia kesal pada pertunangan kita.” Ungkap Hyo Yeon.

Hyuk Jae tersenyum lembut lalu memegangi tangan Hyo Yeon, “Tak akan terjadi apapun. Dong Hae adalah sahabatku, aku tahu dia tidak mungkin melakukan itu.” Ia coba menenangkan emosi tunangannya itu.

Sekejap setelah mereka selesai menyantap makan malam, Hyuk Jae mencari nama Dong Hae di buku telepon, handphone miliknya.SejenakIamenunggu Dong Hae menjawab panggilan darinya sambil duduk sejenak di atas sopa empuk yang khusus untuk tamu.

Dong Hae meletakkan kembali memory card yang diambilnya ke atas meja kerjanya. Ia lekas mengambil whiteberry yang bersembunyi di saku celananya. Tampak di layar, nama Hyuk Jae. Ia segera menjawab panggilan itu.

“Hyuk Jae!Adaapa?” Ia dengan nada dingin.

“Apa kau melihat cincin pertunanganku tertinggal di rumahmu?” Hyuk Jae tanpa berbasa-basi.

“Oh …” Dong Hae mengangguk.

“Aku akan segera ke apartment untuk mengambilnya.”

“Datanglah kemari!” Perintah Dong Hae.

“Tunggu aku.” Hyuk Jae tergesa-gesa.

Dong Hae menutup handphonenya, Ia tinggalkan whiteberrynya itu di atas meja kerja berdekatan dengan memory card milik YoonA. Ia lekas mengambil cincin yang disimpannya di dalam laci dan bergegas keluar dari apartment, tanpa ragu meninggalkan YoonA yang tengah sibuk membereskan piring kotor di dapur sendirian.

Kegelapan menyelimut sudut ruang tangga darurat itu, tampak cahaya rembulan yang membias masuk. Bayangan tubuh mereka yang tengah berdiri, terpantul ke dinding ruangan.

Dong Hae dan Hyuk Jae berdiri berhadapan, mata mereka yang kosong menatap satu sama lain.

Dong Hae dengan wajah sini ssegera menyerahkan cincin, “Ini.” Singkatnya.

“Beruntung kau menyimpankan cincin ini. Hyo Yeon pikir kau akan membuangnya.” Hyuk Jae meraih cincin itu segera lalu memasukkannya ke jari manis tangan kirinya.

“Tebakan wanitamu itu sangat tepat, aku hampir saja membuangnya ke tong sampah. Kurasa dia orang yang paling mengerti tentang perasaanku, perasaan seseorang yang terlupakan.” Dong Hae tampak dingin.

“Apa maksudmu?” Hyuk Jae heran.

“Gadis itu merebutmu dariku, dia selalu berada disisimu dan pamer kemesraan di hadapanku. Apa kau tidak tahu betapa sakitnya hatiku saat itu. Dia sama sekali tidak pantas untukmu.” Ungkap Dong Hae.

“Dong Hae, kau sama sekali tidak berhak memberikan pendapat apapun tentang Hyo Yeon. Aku jauh lebih mengenalnya dibandingkan dirimu.” Hyuk Jae melakukan pembelaannya untuk sang pujaan hati.

Dong Hae tertawa kecil, “Benarkah? Apa kau juga tahu bahwa gadis itu sebenarnya seorang perebut dan perusak hubungan orang lain.” Tegas Dong Hae.

“Lee Dong Hae, aku benar-benar tidak suka kau menjelek-jelekkan Hyo Yeon.” Sambut Hyuk Jae dengan tatapan tajam dan penuh amarah.

YoonA melepaskan celemek yang menutup bajunya, Ia kembali menggantung celemek itu di samping lemari es.

“Dong Hae pergi kemana? Bukankah tadi dia bilang ingin mengambilkan memory card milikku.” Ia segera beranjak dari dapur dan berjalan menuju ruang kerja yang terletak di ruang tengah.

Ia tanpa segan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang tak tertutup rapat itu. Ia terhenyak, langkahnya terhenti seketika menemukan ratusan photo dengan berbagai macam ukuran terpajang dan menempel mengelilingi tempat itu. Ia melangkahkan kakinya lagi mendekati meja kerja, ditemukannya handphone Dong Hae yang tertinggal dan memory card miliknya.

Ia tercengang menemukan seluruh ruangan dihiasi dengan photo-photo Hyuk Jae dan Dong Hae. Mereka tampak begitu bahagia, dan saling membagi senyum serta tawa. Hanya beberapa diantaranya terdapat photo bersama teman-temannya yang lain.

“Aku tidak menyangka Dong Hae memajang photo sebanyak ini di ruang kerjanya.” Ungkapnya. Sepintas ingatannya kembali kepada masa dimana Dong Hae selalu bercerita padanya tentang orang yang disukainya.

YoonA kembali lupa pada memory card yang ingin diambilnya. Pikirannya penuh akan semua ucapan-ucapan Dong Hae yang menyentuh hati dengan tiap cerita sedihnya. “Tidak mungkin orang itu adalah Hyuk Jae.” Ia tampak shock. Tangan dan kakinya gemetar, Ia jatuh dan terduduk di lantai.

“Aku pasti sedang salah paham. Dong Hae adalah laki-laki normal, orang yang disukainya pasti seorang perempuan.” Ia coba menenangkan dirinya. Sejenak ia menarik napasnya dalam-dalam lalu bangkit berdiri.

Tiba-tiba whiteberry Dong Hae bergetar dan mengagetkannya. Dengan sigap Ia meraih benda itu, dan melihat dengan seksama nama yang tampil di layar. Terlihat disana nama Ibu Dong Hae, Ia tak berani untuk menjawab panggilan itu. Ia semakin bingung dengan apa yang harus dilakukannya, benaknya sibuk mendaur ulang semua kata-kata Dong Hae, orang yang disukainya.

Ia berlari keluar dari ruangan yang hampir membawanya ke dunia lain. Ia berlari dengan cepat sambil memegangi whiteberry yang terus bergetar. Ia berlari keluar apartment, mencari keberadaan Dong Hae.

Terdengar suara Dong Hae yang tengah mengobrol dengan seseorang di tangga darurat. Ia bergegas berjalan mendekati tempat itu. Langkahnya tiba-tiba terhenti untuk bersembunyi, sejenak mendengarkan dua sahabat yang tengah berperang mulut.

“Bukankah itu memang benar Hyo Yeon adalah seorang perusak. Dia tidak lebih dari seorang wanita perebut milik orang lain.” Dong Hae mulai naik darah.

Hyuk Jae yang sudah diselimuti amarah, memukul wajah Dong Hae tanpa segan.

Dong Hae tak tinggal diam dan membalasnya, “Apa yang kau lakukan? Kau memukulku hanya demi wanita seperti dia.” Teriaknya menggema.

YoonA yang bersembunyi di balik dinding hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menahan dirinya untuk tidak berlari menghampiri Dong Hae yang terluka.

“Aku bisa terima sikap dinginmu akhir-akhir ini padaku. Tapi aku tidak akan tinggal diam mendengarmu menjelek-jelekkan tunanganku.” Hyuk Jae yang tak kalah nyaring terus membela kekasihnya.

Sekejap darah keluar dari sudut bibir mereka.

“Tunanganmu.” Dong Hae kembali tertawa kecil. “Apa selama ini kau tidak pernah sadar betapa aku menyukaimu. Semua yang telah kita lalui bersama, apa kau tidak pernah mengingatnya.” Bentaknya.

“Apa katamu?” Hyuk Jae tersentak kaget begitu juga YoonA yang semakin shock.

“Aku menyukaimu, Lee Hyuk Jae.” Tegas Dong Hae sambil mengepalkan tangannya. Ia menguatkan dirinya untuk mengatakan hal itu.

“Kau pasti bercanda, kita tidak lebih dari seorang sahabat bagiku.”

“Aku sendiri berpikir seperti itu, tapi setiap kali melihatmu bersama wanita itu. Aku semakin marah, hatiku semakin panas oleh api cemburu. Dan gadis itu selalu menegaskan bahwa kau adalah miliknya.” Dong Hae terus menghujani Hyuk Jae dengan bentakan dan suaranya terdengar semakin tinggi.

Hyuk Jae pun terdiam, Ia tak percaya.

“Aku selalu berada dekat YoonA dan memintanya untuk menghiburku. Selama ini hanya memanfaatkannya agar aku bisa memilikimu kembali.” Ungkap Dong Hae.

YoonA tak dapat berkata apapun, Ia menampakkan dirinya dari balik dinding dan mulai meneteskan air matanya. Ia begitu terguncang dengan kebenaran yang baru saja didengarnya.

“Jadi orang yang selalu kau ceritakan padaku adalah Hyuk Jae.” Ia mendengus.

Dong Hae dan Hyuk Jae lekas menoleh ke arahnya.

“YoonA, sejak kapan kau disitu?” Dong Hae tampak gugup.

“Lee Dong Hae, kau . . . Aku benci padamu.” Teriak YoonA sambil melempar whiteberry yang tadi dibawanya ke arah Dong Hae. Ia berlari keluar, beranjak dari tangga darurat.

Dong Hae segera mengejarnya dan tak peduli pada whiteberrynya yang terhempas di lantai, rusak dan hancur berkeping-keping. Ia bergegas menaiki anak tangga untuk meraih YoonA.

Gadis itu tak terkejar, Ia masuk ke dalam lift yang membawanya turun ke bawah. Ia tak dapat lagi menahan air matanya yang terus saja membasahi pipi. Isak tangisnya terdengar jelas menggema di ruangan sempit itu. Ia berdiri bersandar sambil terus menghapus air matanya. Isi kepalanya penuh akan kata-kata yang sangat menyakitkan dan begitu membekas dalam ingatannya.

Sementara Dong Hae kembali masuk tangga darurat  dan terus berlari menuruni anak tangga untuk mengejar dan menghentikan YoonA. Ia juga tidak menggubris Hyuk Jae yang coba meminta penjelasan. Ia menggunakan seluruh tenaganya agar dapat mencegah YoonA yang terpuruk di dalam lift.

~Just Stay By My Side~


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * ochalicious says:

    Wah semakin seru aja . .
    kaget ak , , donghae sukanya ama kunyuk . .
    wah kasian yoona . .
    lanjutannya d tunggu y . .a kunyuk . .
    wah kasian yoona . .
    lanjutannya d tunggu y . .

    | Reply Posted 5 years, 4 months ago
  2. * lili says:

    huaaaaa!!!ternyata eh ternyata

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  3. * ayomi says:

    kerrrrrrrrennnn

    | Reply Posted 4 years, 7 months ago
  4. * ChaEkha says:

    hwwaaaaaaa…..ternyata……
    yoona nya gman tuh….😦
    Lanjut ge…

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: