YoonHae Fanfics Library



[Chapter] Just Stay By My Side (Part 7)

Author : Riana

Genre : [chapter 7] , Romantic Comedy

Cast : Yoona x Donghae x Hyoyeon x Eunhyuk

Rating : PG-15

Title : Just Stay By My Side

Just Stay by My Side – Part 7

Motor scooter itu terus melaju di jalan raya yang sepi. Yoona tak peduli pada angin yang berhembus kencang dan coba menahannya, Ia tetap saja mengendarai Sunshine meskipun tak tahu arah tujuan.

Air mata pun masih setia menemani. Ia tak dapat menghentikan tangisan itu seketika, meskipun sudah berkali-kali disapunya. Ia lupa pada semua hal dan tidak memperhatikan beberapa mobil yang didahuluinya. Emosi dalam pikiran mengontrol tindak lanjutnya, hatinya semakin sakit bahkan lebih sakit daripada goresan luka di jari telunjuknya. Ingin rasanya ia berteriak untuk melampiaskan semua isi hatinya.

Ia juga tanpa sadar dengan sengaja menabrak lampu lalu lintas yang sedang menyala merah. Sebuah mobil polisi yang tengah patroli dengan sigap mengejar dan menghentikannya.

YoonA tampak panic dan kebingungan, Ia mengerem motornya seketika saat mobil itu mencegatnya. Ia juga baru ingat kalau saat itu tidak menggunakan helm.

“Nona, bisa perlihatkan SIMmu?” Seorang polisi paruh baya meminta untuk mempelihatkan SIM yang sama sekali tak dimilikinya.

“Itu . . . “ YoonA dengan berat hati turun dari motornya.

“Maaf Nona! Tapi Anda sudah menabrak lampu lalu lintas dan juga tidak menggunakan helm. Dengan sangat menyesal kami akan menilang motor Anda.” Ucap Polisi itu lagi sementara polisi satunya bertugas mencatat nomor kendaraan.

“Sungguh maafkan aku!” YoonA menyesali perbuatannya. Ia seketika lupa pada kesedihannya, air mata yang tadi membasahi pipinya pun mengering.

SejenakIatermenung di tepian jalan raya,kotaSeoul. Wajahnya yang cemberut ditekuk sambil sesekali menengok ke belakang, mempehatikan dua orang polisi yang tengah sibuk dengan tugas mereka, menilang pelanggar lalu lintas.

“Bagaimana sekarang?” YoonA yang berdiri putus asa tengah memperhatikan nomor kontak di handphonenya, mencari orang yang bisa membantunya keluar dari situasi yang sulit itu. “Tidak mungkin kalau aku menghubungi Appa atau Umma, mereka pasti akan mengambil Sunshine kembali dan tidak mengijinkanku untuk mengendarainya lagi. Mereka pasti akan sangat marah dan menghakimiku seperti yang terjadi pada Yong Jun.” Ia menggelengkan kepalanya lalu memonyongkan bibirnya.

Muncul sepintas di layar nama Dong Hae, “Dong Hae?” Pikirnya. “Tidak boleh, aku baru saja bertengkar dengannya. Meminta pertolongannya sama saja merendahkan harga diriku. Tapi, aku benar-benar tidak punya pilihan lain.” Ia tertunduk tak berdaya.

Ia kembali menoleh ke belakang, mempehatikan motor scooternya. Ia tampak segan menekan nomor Dong Hae untuk dihubunginya. “Nomor yang Anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Untuk meninggalkan pesan silahkan …” Ia lekas menutup handphonenya. “Aku baru ingat tadi aku melemparkan whiteberry miliknya itu ke lantai tangga darurat. Sudah pasti sekarang handphonenya tidak dapat dihubungi.” Ia sambil menepuk kepalanya. “Pabo, Pabo.” Maki gadis itu pada dirinya sendiri.

Kakinya bergerak sendiri menaiki tiap anak tangga, Ia terus melangkah dan tak merasa lelah melewati beberapa lantai menuju apartmentnya menggunakan tangga darurat.

Dong Hae melamun, pikirannya hanya terpaku pada seorang YoonA yang menangis karena ulahnya. Ia tampak muram dan tak bersemangat, semua terlihat samar dan sedikit gelap. Langkahnya terhenti sejenak, Ia membungkukkan untuk memungut kepingan whiteberry yang terhambur berserakan di lantai tangga itu.

“YoonA, sekarang kau dimana?” Desahnya khawatir.

Ia lekas bangkit dan melanjutkan langkahnya sambil memegangi whiteberry-nya. Ia coba merangkai kembali benda yang sangat berharga itu. Ia sempat memasukkan kata sandi yang salah karena pikirannya melayang tanpa arah tujuan. Langkahnya terasa berat saat menginjakkan kaki masuk ke dalam apartment. Ia masih dapat mencium aroma tubuh YoonA yang tertinggal dan berbekas memenuhi isi ruangan. Ia juga masih ingat suara teriakan gadis itu saat tangannya tersayat pisau di dapur.

“Gadis bodoh.” Ucapnya sembari tertawa kecil.

Terdengar terlepon berdering dari arah ruang keluarga. Ia tak menggubris dan mengacuhkan saja orang yang tengah menunggu jawaban darinya.Lama-kelamaanIasemakin risih dan sangat terganggungu. Ia kesal dan bergegas mengangkat gagang telepon untuk memberikan jawaban.

“Siapa?” Tukasnya dengan nada dingin.

“Ini aku.” Suara seorang gadis yang jauh disana terdengar serak.

“Siapa?’ Dong Hae penasaran.

“Aku, Im YoonA.” Gadis itu dengan ragu.

“Im YoonA, kau dimana?” Dong Hae sangat mencemaskannya.

Di bawah gelapnya langit malam dan indahnya kelap kelip bintang yang bertaburan, Dong Hae berdiri di tepian jalan raya yang semakin sepi dan jauh dari keramaian. Udara yang berhembus, sesekali meniup rambut dan poninya.

Ia lekas menandatanganisuratjaminan untuk YoonA. Ia pun membungkukkan punggungnya pada kedua polisi yang menangani kasus itu. Diikuti YoonA yang berdiri disampingnya.

“Mohon jangan diulangi lagi.” Tegas Polisi itu. “Untuk sementara motornya kami tilang dulu, besok baru bisa diambil kembali.” Jelasnya lagi.

Sekejap kedua polisi itu menghilang di antara kabutnya malam, salah satu dari mereka mengemudikan mobil dan satunya lagi mengendarai motor scooter milik YoonA untuk dibawa ke kantor polisi.

Dong Hae menoleh ke samping, menatap lembut YoonA yang tengah menghela napas melepas kepergian Sunshine.

Mereka segera duduk di dalam mobil mewah yang hangat. YoonA masih saja menekuk wajahnya kusut, Ia membuang muka dan menutup rapat-rapat bibirnya. Dong Hae menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke jalan raya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Dong Hae hangat.

YoonA tak menggubris.

“Sepertinya kau baik-baik saja.” Dong Hae tersenyum simpul dan kembali focus pada jalan raya yang dilaluinya.

Mobil itu lekas berhenti tepat di area parkir apartment, mereka berdua bergegas keluar dari mobil. YoonA mempercepat langkah kakinya mendahului Dong Hae yang mengunci otomatis mobil miliknya itu. Tampak Dong Hae yang memperhatikan punggung YoonA yang menjauh.

Mereka kembali diam seribu bahasa dalam lift yang mengangkat mereka naik menuju apartment. YoonA melipat kedua tangannya, Ia tak peduli pada Dong Hae yang mengajaknya bicara.

Pintu lift terbuka perlahan, mereka berhambur keluar.

“Im YoonA!” Cegah Dong Hae.

YoonA tak sedikitpun menghiraukannya.

“Im YoonA!” Panggil Dong Hae lagi sambil memegangi pergelangan tangan gadis itu dengan erat.

“Kenapa?” YoonA dengan nada tinggi melengking, menggema di koridor.

“Adahal yang harus kujelaskan padamu.” Dong Hae menatap tajam ke dalam mata YoonA.

“Aku sudah cukup mendengar semuanya dari mulutmu itu. Memanfaatkanku untuk merebut kembali orang yang kau sukai, bukankah begitu?” YoonA terdengar menyinggung. “Kau tahu? Aku adalah gadis paling bodoh karena selama ini salah paham pada semua yang kau ceritakan padaku. Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin kau menyukai Hyuk Jae. Kau …” YoonA terputus.

“Sebenarnya semuanya tidak seperti yang kau pikirkan.” Sela Dong Hae.

“Semuanya memang tidak seperti yang aku pikirkan selama ini. Aku pikir kau menyukai Hyo Yeon, aku masih bisa bertahan mendengarmu yang selalu bercerita tentangnya. Aku juga selalu siap dan selalu ada kapapun kau memerlukanku, aku tidak pernah mempermasalahkan sekalipun kau hanya memanfaatkanku. Tapi menyukai Hyuk Jae, aku tidak bisa memaafkan hal itu.” YoonA yang nada suaranya semakin tinggi membungkam mulut Dong Hae.

“Kau harus mengerti, aku punya alasan untuk …” Dong Hae terputus.

YoonA lekas melepaskan tangannya dari genggaman Dong Hae, air mata yang tadinya kering kembali membasahi pipinya. “Kau tahu? Aku lebih senang kau menjadi seorang Playboy, tak masalah bagiku berapa banyak kekasih yang kau miliki dan kemana pun kau pergi disana selalu ada seorang gadis yang akan bersikap manis padamu.  Tapi tidak untuk menjadi seorang . . .” Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya dan tanpa sadar menampar wajah Dong Hae dengan tangan kanannya. “Kau mungkin memang tidak pernah menyadari aku yang menyukaimu. Karena selama ini pikiranmu hanya pada sahabat dan kekasihnya itu saja.” Ungkapnya membuat Dong Hae tersentak kaget.

“Apa kau bilang?” Dong Hae sambil memegangi pipinya yang terasa sakit karena tamparan YoonA.

“Aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu. Aku tidak menyangka, ternyata aku sudah salah menyukai seseorang.” Isak tangis YoonA semakin jelas terdengar dan di koridor apartment yang senyap.

“Benarkah kau sangat menyukaiku.” Dong Hae coba meyakinkan lagi.

YoonA hanya terdiam, Ia pun melangkah dengan cepat meninggalkan Dong Hae sendirian disana. Ia membanting pintu apartment yang secara otomatis terkunci rapat. Kakinya gemetar dan tak sanggup lagi menahan tubuhnya berdiri, Ia pun terduduk di lantai sambil terus menangis. Ia begitu terpukul dan jiwanya terguncang mengetahui kebenaran yang sangat menyakitkan. Sementara Dong Hae di luarsanaterus menatap pintu apartment itu dan tak dapat berbuat apa-apa lagi, benaknya terus mengingat perkataan YoonA yang menyatakan suka padanya. Kalimat singkat yang keluar dari mulut gadis itu menyita seluruh pikirannya.

Suara dari televisi yang berada tepat di depannya, terdengar ribut tapi sangat menghibur. Ia tetap saja tak mau beralih dari acara musik yang menemani menunggu kedatangan tunangannya. Ia kembali melanjutkan mencat kuku dengan berbagai warna untuk memperindah kuku di jari-jarinya yang cantik.

Terdengar suara bel berbunyi dari luar apartment, Hyo Yeon melompat dari sopa dimana ia duduk dan bergegas membukakan pintu untuk orang yang ditunggunya dari tadi.

“Oppa!” Sambut Hyo Yeon segera sambil membukakan pintu. Ia terkejut menemukan wajah Hyuk Jae yang memar dan tampak bekas darah disudut bibirnya. “Adaapa denganmu?”

Hyuk Jae tersenyum tipis, “Tidak apa-apa.” Ia coba menutupi kebenaran setelah pertengkaran kecilnya dengan Dong Hae.

Hyo Yeon lekas memegangi wajah orang yang paling berharga baginya, Ia begitu cemas. “Apa yang terjadi? Apa kau bertengkar dengan Dong Hae?” Terkanya.

“Tadi aku berkelahi melawan sekelompok preman.” Hyuk Jae sambil memegangi pipinya lalu tertawa kecil.

“Benarkah? Wah, seharusnya kau tidak usah berpura-pura berani. Aku tidak mau kau terluka, sebentar lagi pernikahan kita. Apa kata orang nanti melihat mempelai Pria wajahnya memar-memar.” Hyo Yeon sambil memperhatikan dengan seksama wajah calon suaminya itu.

“Jadi, kau lebih mengkhawatirkan tentang pernikahan?” Hyuk Jae tak terima.

Hyo Yeon pun tersenyum manis sambil mengejipkan mata kanannya. “Tentu saja aku juga mengkhawatirkanmu.” Ia dengan nada manja coba menenangkan. “Sini, biar ku oleskan salep agar wajahmu tidak semakin bengkak.” Ia lekas menarik tangan Hyuk Jae menuju ruang tengah.

Hyuk Jae hanya diam dan mengikuti perintah pujaan hatinya.

Mereka duduk di sopa ruang tengah, sambil menonton televisi yang menyiarkan acara musik. Dengan sangat hati-hati Hyo Yeon mengoleskan salep untuk mengurangi bengkak di wajah Hyuk Jae. Sesekali mereka saling melempar tawa kecil, suara dari televisi pun semakin jelas terdengar riuh dan membuat gaduh. Mengurangi suasana tegang di malam itu.

Di depan cermin Dong Hae berdiri sambil melihat luka memar di wajahnya. Ia juga memperhatikan bibirnya yang masih bengkak karena dipukul Hyuk Jae dan Pipinya yang kena tamparan tangan lembut YoonA.

“Kira-kira berapa lama luka ini baru hilang?” Pikir Dong Hae. “Aku tampak seperti seorang preman saja, sebagai seorang General Manager tidak seharusnya aku berpenampilan seperti ini di depan semua pemegang saham. Apa sebaiknya aku mengambil cuti saja?” Ia sibuk dengan pikirannya sendiri sambil melingkarkan dasi di lehernya.

“YoonA pasti sangat marah, sampai-sampai dia menampar pipiku.” Desisnya. Terlintas dalam ingatannya, YoonA yang mengatakan suka padanya. Ia masih ingat dengan jelas gadis itu menangis karena dirinya. “Apa sebaiknya aku bicara dengan YoonA hari ini?” Ia lekas menggelengkan kepalanya, “Gadis itu pasti akan menghindar dariku.” Ucapnya yakin. “Aku juga mengatakan suka pada Hyuk Jae.” Ia menghela napas dari hidungnya. “Bagaimana mungkin aku mengatakan hal menjijikkan seperti itu.” Ia terus menyesali perbuatannya lalu beranjak dari depan cermin dan melangkah gontai keluar dari kamar menuju dapur sambil memasang jas.

Ia segera meraih sekotak susu cair murni dan meminumnya sampai habis. Ia kembali menghela napas dari hidung. Ia tak begitu bersemangat untuk memulai hari yang tampak suram dan menertawakannya. Ia melangkah dengan sangat terpaksa dan berat hati keluar dari apartment yang tidak juga dapat menenangkan perasaannya.

Ia berlari kecil mengejar lift yang hampir terututup, dengan sigap Ia menahan pintu lift dengan kekuatan tangannya. Ia terkejut menemukan YoonA yang sudah lebih dulu berada disana. Ia hanya mengunci rapat bibirnya dan masuk tanpa memperdulikan YoonA yang mengenakan kaca mata minus  dan juga membuang muka setelah melihat laki-laki yang membuatnya menangis semalaman berada di dekatnya.

YoonA mengerlingkan matanya, mencuri pandang melihat keadaan Dong Hae. “Sepertinya wajah Dong Hae juga memar  karena ku tampar tadi malam, ditambah pukulan Hyuk Jae yang mengenai bibirnya.” Ia menggelengkan kepala dan merautkan wajah kasihan, tak tega mendapati Dong Hae yang terluka.

Pintu lift pun terbuka, mereka berhambur keluar dan beranjak dari lobi. Mereka tak bertegur sapa dan terus memasang wajah sinis untuk menghindar. Mereka juga berjalan menuju arah yang berlawanan. YoonA masih dapat mendengar jelas suara sepatu Dong Hae yang menjauh di belakangnya. Ia tak juga berani menengok untuk mengetahui keberadaan orang yang tidak ingin dipedulikannya lagi.

Beberapa karyawan memperhatikan dengan seksama tapi tak mau memberikan komentar. Mereka tetap membungkuk untuk memberi hormat serta menyapa General Manager.

Dong Hae tetap bersikap seperti seorang pemimpin yang ramah dengan membalas sapaan itu. Ia mempercepat laju langkahnya agar segera tiba di ruang kerja dan bersembunyi sejenak disana. Ia tiba-tiba berhenti dan lekas merengutkan wajah, menemukan Hyuk Jae yang berdiri di hadapannya. Ia tak juga menggubris sahabat baiknya itu dan mengacuhkan begitu saja. Ia berlalu dan lekas masuk ke dalam ruang kerjanya yang sejuk.

“Bukankah seharusnya kita bicara, banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Aku tidak mau persahabatan yang selama ini kita jalin hancur.” Batin Hyuk Jae.Terlihat jelas raut wajahnya yang muram dan tak berniat untuk melakukan pekerjaan apapun di hari yang super sibuk itu.

Tanpa berpikir panjang Dong Hae duduk sejenak di kursi kerjanya yang empuk. Ia membenarkan posisi dasinya, lalu mengambil pulpen dari kotak peralatan menulis yang terletak di sudut meja. Ia mulai memeriksa berkas yang harus selesai secepatnya. Sesekali ia menghela napas dari mulut dan melanjutkan penandatanganan berkas yang sempat terhenti.

“Sebaiknya aku memang mengambil cuti saja. Mungkin sekitar satu atau dua minggu sampai keadaan membaik. Kejadian tadi malam membuatku benar-benar sangat terpuruk, aku bahkan menyakiti YoonA dan membuatnya menangis.” Dong Hae yang kembali menghentikan pekerjaannya sejenak.

Biasan matahari merambat masuk dari kaca di ruangan yang tertata rapi dan bersih. Dong Hae termenung di depan meja kerja, dimana berkas-berkas penting menunggu giliran untuk diperiksa olehnya. Ia bersandar melepaskan sedikit beban yang begitu menyiksanya. Ia mendongak ke atas menatap langit-langit ruangan, lalu membalikkan kursinya untuk menatap langit cerah yang tampak mengejeknya.

Pelanggan berdatangan memenuhi tempat bersantai yang paling tepat untuk menghilangkan rasa penat. Mereka duduk di tiap meja bersama beberapa orang yang mungkin tidak mereka kenal.

Di salah satu meja itu tampak YoonA duduk disamping seorang wanita muda yang tengah merapikan riasan di wajahnya. Ia tak peduli pada apapun yang orang-orang itu lakukan disekitarnya. Ia asyik menikmati coklat hangat, menu favorite di kafe yang terletak tak jauh dari apartment. Ia pun menengok ke belakang, melihat ke luar jendela. Tampak mobil melaju dengan cepat melintas di jalanan, serta orang-orang yang berjalan kaki dengan senyum melebar di wajah mereka.

Ia menghela napas dengan memasang wajah yang cemberut.Tiba-tibaIamengambil cermin kecil yang tersimpan di tas selempangnya, Ia melepaskan kaca mata minus yang sengaja dikenakannya agar tidak menarik perhatian orang lain karena matanya yang bengkak.

“Wah, aku seperti seorang pekerja keras yang tidak tidur selama berhari-hari.” YoonA terkejut mendapat keadaan matanya yang bengkak dan tidak juga menghilang. “Semalaman aku menangis karena Dong Hae, aku sangat menyesal karena mengatakan dengan berani bahwa aku menyukainya. Aku juga menampar pipinya dengan tanganku. Membuatku tidak bisa bersikap seperti biasanya lagi padanya.” Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

Ia merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainan. “Aku harus bagaimana sekarang?”  Ucapnya dalam hati. “Tapi, aku lebih sakit hati mendengar pernyataan Dong Hae bahwa dia menyukai Hyuk Jae. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku ingin sekali mendengar penjelasan Dong Hae, tapi aku tidak sanggup kalau harus berhadapan dengannya.” Ia menundukkan wajahnya dan berselungkup di atas meja.

Sekejap Gadis itu menghilang dari padatnya kafe yang dikunjungi para pelanggan setia. Ia berjalan sambil mendorong kereta belanja dengan daftar belanja di tangan kanannya. Ia melangkah gontai sementara matanya mencari keberadaan barang-barang keperluan.

“Pasta gigi, sabun mandi, shampoo.” Ia coba mengingat rak dimana barang-barang tersebut berada. Perlahan langkahnya terhenti di rak obat-obatan, terdapat salep untuk luka kecil diletakkan disana. Terlintas dalam benaknya Dong Hae. Ia lekas menggelengkan kepala dan meneruskan kakinya untuk melangkah. Tapi, hati dan pikirannya berkata lain. Mereka saling berargumentasi dan tak sependapat.

YoonA memutar balik kereta belanja dan mengambil beberapa salep luka yang bisa membantu kesembuhan luka lebam di wajah Dong Hae. “Aku tidak peduli, aku tidak mau Dong Hae terluka.” Batinnya sambil meremas kotak kemasan salep berukuran kecil itu. Ia pun mengangguk pelan dan dengan mantap melanjutkan langkahnya di antara rak-rak yang tersusun rapi agar memudahkan pelanggan menemukan barang kebutuhan mereka.

Seperti hari yang lain, sama seperti hari yang telah terlewati. Suasana koridor apartment selalu tampak sepi seiring dengan para penghuninya yang sibuk bekerja. Tiap suara langkah kaki pun dapat terdengar jelas memantul di ruangan.

Dengan berat hati YoonA keluar dari lift, Ia melangkah ragu  ke arah pintu apartment Dong Hae. Ia mengeluarkan tas kertas kecil yang berisi beberapa obat-obatan serta salep luka yang memang sengaja dibelinya.

Ia pun mengambil selembar kertas dari buku binder dalam tasnya, “ Dong Hae, maafkan aku atas apa yang terjadi tadi malam.” Tulisnya di kertas itu. “Ah, kenapa aku harus minta maaf, dia yang salah karena selama ini memanfaatkanku.” Ia segera mencoret kata-kata itu dan menggumpal kertas yang tadi digunakannya. Ia mengambil lagi selembar kertas yang kosong. “Semoga lukamu cepat sembuh, dan jangan cemberut lagi. Kau terlihat lebih tampan kalau sedang tersenyum.” Ia tampak begitu bersemangat. “Ah,Adaapa denganku? Tidak seharusnya menambahkan kata-kata rayuan gombal seperti ini.” Ia kembali menyobek kertas yang baru beberapa patah kata tertulis di atasnya. Ia mengambil lagi kertas kosong, “Semoga cepat sembuh, by Im YoonA.” Singkatnya.

Ia pun meletakkan tas kertas itu bersama catatan kecil di dalamnya dan menggantungkannya di gagang pintu lalu tersenyum tipis kemudian menghela napasnya. Ia membalikkan punggungnya untuk beranjak menuju apartmentnya sendiri.

Wajah orang itu tampak semakin kusut, pikirannya terlalu sibuk dengan semua masalah yang tengah dihadapinya. Ia benar-benar tidak tahu harus seperti bersikap pada orang-orang tersakiti karena kata-kata pedas yang tanpa sengaja terlontar dari mulutnya.

Ia merasa selalu sendiri memecahkan tiap masalah yang datang ke kehidupannya yang tenang. Dong Hae lekas melepaskan dasi yang melingkar dan terasa mencekik lehernya. Ia merasa tak bersemangat lagi untuk menjalani hidupnya yang panjang dan menyedihkan. Dengan sendirinya kakinya itu melangkah di koridor apartment, raut wajahnya berubah seketika menemukan bungkusan kecil yang menggantung di gagang pintu.

Ia meraih tas kertas itu dan melihat isi di dalamnya. Ia mengambil selembar kertas yang lebih menarik perhatiannya. “Semoga cepat sembuh, by Im YoonA.” Bacanya. “Bagaimana pun dia selalu memperhatikanku, tidak peduli seberapa jahat aku memperlakukannya. Aku merasa sangat bersalah, mungkin memang sebaiknya aku menghilang dulu untuk sementara waktu.” Ia beranjak dari depan pintu dan masuk ke dalam apartment yang nyaman dengan udaranya yang sejuk serta suasananya yang tentram.

Ia lekas menyalakan lampu untuk yang bergantungan di plavon untuk memancarkan sinarnya yang terang dan menghilangkan tiap sudut yang gelap. Ia kembali duduk termenung di ruang kerja sambil memandangi tas kertas yang tadi diberikan YoonA padanya. Tampak biasan cahaya bulan memantul di tubuhnya, Ia terdiam sambil bersandar di kursi kerja.

Gulungan – gulungan kain menumpuk di sudut ruangan, beberapa kotak besar berisi pita dan manik-manik memenuhi tempat itu. Terlihat debu yang menutupi benda-benda itu.

Hyo Yeon yang berdiri disana hanya bisa memandang sambil menutup hidungnya. “Akhirnya selesai juga, aku sangat lelah. Pagi-pagi begini aku sudah harus memindahkan mereka semua.” Ia sambil mengibas debu yang berterbangan mengganggu pernapasannya.

Ia bergegas keluar dari gudang dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia melangkah gontai menuju ruang depan dan segera membuka rolling door yang menutupi kaca butik . Terpajang disana beberapa model terbaru gaun musim gugur yang sengaja dipamerkan.

Ia tersenyum lebar menyambut mentari pagi yang hangat dan menyehatkan. Ia kembali melangkah masuk, lalu menyalakan AC untuk menyejukkan ruangan.

“Sebaiknya aku menghubungi Dong Hae karena Tuxedo yang dipesannya sudah selesai.” Ia menarik gantungan handphonen, yang memudahkan meraih benda  yang terselip di sakunya itu. Ia lekas menekan angka 6 untuk panggilan cepat. Terdengar nada sambung pribadi milik Dong Hae. “Maaf nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.” Ia segera mengakhiri panggilan dan merautkan wajah herannya. “Aneh sekali, apa Dong Hae mengganti nomornya? Beberapa hari ini sulit sekali menghubunginya. Sebaiknya aku meminta Hyuk Jae saja untuk menyampaikan pesanku pada Dong Hae.

Dengan cepat Hyo Yeon mengirimkan pesan singkat ke nomor Hyuk Jae. Ia pun tersenyum tipis, “Sekarang aku tinggal menghubungi YoonA saja.” Ia langsung menekan angka 7 untuk panggilan cepat nomor gadis itu.

YoonA berlari dari kamar mandi bersama dengan baju handuk yang menutupi tubuhnya, tampak rambutnya yang masih basah terurai. Ia bergegas menjawab panggilan itu, “Eonni!” Sambutnya gembira.

“Kau sekarang dimana?”

“Aku? Aku masih di apartment. Kenapa?” YoonA seraya tertawa kecil.

“Gaun Pengiring Pengantin waktu itu . . .” Hyo Yeon terputus.

“Kenapa Eonni?”

“Gaun itu sudah ada di butikku, aku ingin kau datang kesini dan melihatnya. Aku takut kalau gaun ini tidak pas di tubuhmu yang tinggi.”

“Tenang saja Eonni, nanti sore aku akan mampir kesana. Jadi, tunggu saja!”

“Baiklah, aku akan menunggumu.” Hyo Yeon pun mengakhiri obrolan singkatnya. Ia kembali pada gambar gaun yang di desainnya, Ia mengalihkan perhatiannya sebentar untuk memeriksa gaun pengiring pengantin yang akan dikenakan YoonA.

Gaun berwarna putih dengan motif bunga di musim gugur terlihat sangat indah.Adapita warna kuning yang melingkar di pinggangnya. “Aku sudah tidak sabar lagi menikah dengan Hyuk Jae dan melihat YoonA mengenakan gaun ini.” Ia pun tersenyum lebar, tampak jelas kebahagian terpancar di wajahnya.

Langkahnya semakin cepat menuruni tangga, Ia menghindar dari kejaraan seseorang yang berlari di belakang untuk meraihnya. Dong Hae tak peduli berapa banyak suara laki-laki itu menggema untuk memanggil namanya.

“Dong Hae!” Teriak Hyuk Jae yang berhasil mencegahnya. Ia tampak terengah-engah dan begitu lelah.

“Adaapa? Aku sedang tidak ingin bicara apapun denganmu.” Dong Hae terdengar sinis.

Sejenak mereka berhenti tepat ujung bawah tangga, beberapa karyawan melintas dan tak memberi sedikit pun perhatian pada mereka.Parakaryawan bergegas pulang ke rumah mereka untuk bersantai.

“Aku hanya ingin menyampaikan pesan Hyo Yeon, dia memintamu untuk segera mengambil tuxedo yang waktu itu kau pesan.” Jelas Hyuk Jae.

“Sepulang dari kantor nanti aku akan mampir ke butiknya.” Suara Dong Hae begitu dingin.

“Bagaimana luka di wajahmu?” Hyuk Jae memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara dengan sahabatnya itu. “Apa kau mengganti nomor handphonemu? Akhir-akhir ini kami kesulitan untuk menghubungimu.”

“Kau tidak usah peduli padaku lagi, urus saja urusanmu sendiri. Kau pikir aku masih punya muka untuk berhadapan dan bicara denganmu seperti ini.” Bentak Dong Hae.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu?” Hyuk Jae bingung.

“Kau!!” Dong Hae meninggikan nada bicaranya. “Sudahlah, aku harus segera pergi.” Ia lekas beranjak dari hadapan Hyuk Jae dan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari lobi.

Hyuk Jae menghela napas, Ia menatap penuh tanya dan sangat heran pada perubahan sikap Dong Hae. Ia membiarkan begitu saja punggung Dong Hae yang berlalu pergi. “Dong Hae, setidaknya kau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa terima kalau kau memang menyukaiku, bukankah kita berdua adalah sahabat.” Batinnya.

Ia melangkah pasti masuk salah satu tempat service handphone yang biasa didatanginya.

Tampak seorang teknisi yang tersenyum dan menyambut hangat langganannya itu.

Dong Hae yang masih mengenakan jas langsung menghampiri, Ia mengeluarkan whiteberry miliknya yang rusak agar diperbaiki.

“Wah, kerusakannya parah sekali.” Ucap laki-laki yang tampak sebaya dengannya. Matanya sipit tertutupi kaca minus, Ia pun lekas focus pada benda yang berada di genggaman tangan kanannya. “Akhir-akhir ini banyak sekali orang melampiaskan kekesalannya pada benda apapun yang ada di tangan mereka. Handphone adalah benda yang sering kali menjadi korbannya.” Orang itu terdengar berbasa-basi.

Dong Hae hanya bisa membalasnya dengan senyum simpul. “Jadi, apa bisa diperbaiki?”

“Aku akan memeriksanya dulu.”

“Kalau begitu aku titipkan disini saja dulu.” Dong Hae bergegas pergi.

“Tunggu!” Cegah Pria yang selalu berusaha ramah pada tiap pengunjung.

“Kenapa?” Dong Hae menoleh ke belakang.

“Waktu itu kau juga menyerahkan whiteberry ini untuk diperbaiki.” Orang itu mengeluarkan whiteberry yang sudah tak asing lagi.

Dong Hae mengurungkan niatnya untuk pergi, Ia lekas berbalik dan meraih benda yang mengingatkannya pada seseorang. “Bukankah ini milik YoonA, aku baru ingat dia memintaku untuk memperbaikinya.” Batinnya. “Jadi berapa biayanya?”

“Kau kau pelanggan tetap kami, kuberikan diskon 30%”

Dong Hae pun segera mengeluarkan kartu kredit untuk membayar perbaikan itu. Ia kembali melangkahkan kakinya untuk beranjak dari tempat yang berada tepat dekat persimpangan jalan.

Ia berdiri sejenak di depan pintu masuk, “Nanti saja aku mengembalikan whiteberry ini. Sekarang bukanlah saat yang tepat, dia pasti masih tidak mau bicara denganku.” Ia menghela napasnya lalu berjalan menuju tempat dimana mobilnya berada.

Masih tampak sinar matahari di balik awan sore hari, udara hangat yang berhembus sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering yang berserakan dan tangkai-tangkai bunga liar yang memenuhi tepian jalan.

YoonA melangkah pelan dan berhenti sejenak di depan pintu lobi. Ia menatap lirih dari kejauhan pada motor scooter yang sudah beberapa hari ini tak dikendarainya.

“Sunshine, maafkan aku! Untuk sementara waktu tidak bisa mengedaraimu. Tunggu sampaisuratijin mengemudiku keluar, kita akan berkelilingSeoullagi. Aku janji!” Ia pun lekas melanjutkan langkah kakinya. Terlihat jelas wajahnya muram.

Sekejap ia sudah berada tepat di depan butik milik Hyo Yeon. Ia segera merubah raut wajahnya yang kusut lalu tersenyum tipis namun sedikit terpaksa. Coba menutupi keperihan yang tersimpan di relung hatinya.

“Eonni!!” Panggilnya segera.

“Kau sudah datang. Masuklah!” Sambut Hyo Yeon gembira. Ia lekas memperlihatkan gaun yang terbungkus dalam tas kertas itu. “Silahkan kau coba dulu! Ruang ganti bajunya ada di sebelahsana.” Pintanya  sambil menujuk ruang kecil yang berada tepat di sudut butik.

Tanpa ragu YoonA masuk ruangan sempit yang ditutup dengan tirai itu.SejenakIaberada disana untuk mencoba gaun yang nanti akan dikenakannya saat pesta pernikahan sebagai pengiring pengantin.

Terdengar lonceng yang terletak di atas pintu depan berbunyi, pintu bergesek dan terbuka. Seseorang dari luarsanamasuk tanpa permisi. Tampak Dong Hae yang menyempatkan dirinya untuk mampir. Ia melempar senyum simpul ke arah Hyo Yeon yang gugup menanti YoonA berganti pakaian.

“Eonni, bagaimana?” YoonA keluar dari ruang ganti dengan senyum lebar di wajahnya. Ia masih belum menyadari keberadaan Dong Hae.

“Kau adalah pengiring pengantinku yang paling cantik.” Hyo Yeon berjalan mendekatinya dengan sangat bersemangat.

Diantara dua gadis yang saling melempar tawa kecil itu, Dong Hae berdiri tak jauh dari mereka dan hanya bisa menyembunyikan kekagumannya pada seorang YoonA yang terlihat sangat indah di matanya. Wajahnya yang bersinar bak matahari di pagi hari, memancarkan  cahaya terang yang mampu melenyapkan tiap sisi gelap dalam hatinya.

“Bukankah YoonA sangat cantik, Dong Hae.” Ucapan Hyo Yeon membuyarkan lamunannya.

YoonA segera menyembunyikan senyumnya, Ia membuang muka dan tak berani menoleh ke arah Dong Hae. Ia tampak canggung dengan orang yang beberapa hari ini tak bicara dengannya. Mereka berdua seperti orang asing yang tak pernah mengenal satu sama lain.

Dong Hae mengeringkan tenggorokannya. Ia hanya menganggukkan kepala pelan untuk mengiyakan.

“Sekarang kau simpanlah gaun ini. Jangan lupa untuk datang sebelum jam 7 atau sebaiknya kau menginap di rumahku saja?” Tawar Hyo Yeon.

YoonA segera menggelengkan kepala untuk menolak dengan halus, “ Aku akan datang tepat waktu. Kau tenang saja, Eonni.”

“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan.” Hyo Yeon tersenyum penuh kepuasan.

“Aku akan berganti pakaian dulu.” YoonA mohon diri untuk kembali mengganti gaun pengiring pengantin yang dikenakannya dengan casual t-shirt miliknya.

Hyo Yeon mempersilahkan. Ia lekas mengalihkan perhatiannya pada Dong Hae yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan mereka. Ia mengambilkan Tuxedo yang dipesan Dong Hae jauh hari. “Ini!” Ia sambil menyerahkan Tuxedo yang terbungkus rapi dalam tas kertas.

“Aku akan segera mentransfer uangnya ke rekeningmu.” Dong Hae terdengar dingin.

“Aku berikan diskon 50% untukmu, karena kau akan mengenakannya saat pesta pernikahanku nanti.” Hyo Yeon tanpa ragu.

“Benarkah?” Dong Hae tak percaya. “Terimakasih.” Ia kembali tersenyum simpul dan tak mau berbasa-basi.

Terdengar lagi suara pintu depan yang terbuka, Hyuk Jae mempelihatkan batang hidungnya. Di saat bersamaan YoonA keluar dari ruang ganti, Ia tampak segan untuk terus melanjutkan langkahnya.

Dong Hae, orang yang paling begitu canggung tetap berdiri kokoh di antara mereka. YoonA dan Hyuk Jae menatap dingin ke arahnya. “Sebaiknya aku pulang saja, langit diluar sepertinya sudah mulai gelap.” Ia mulai tergesa-gesa dan ingin sekali keluar dari tempat yang membuatnya semakin tak nyaman.

“Aku juga pulang saja.” Sambung YoonA.

Hyo Yeon lekas meraih lengan Hyuk Jae dan menggandengnya. “Kenapa kalian terburu-buru sekali? Bukankah sekarang kita sudah berkumpul, sebaiknya kita makan malam bersama dulu. Anggap saja ini makan malam terakhir sebelum aku sah menjadi istri Hyuk Jae.” Ajaknya dengan lembut.

Dong Hae berdeham, “Kurasa itu bukan ide yang buruk.” Ia begitu terpaksa.

“Baiklah, ayo kita makan malam bersama.” YoonA pun tersenyum tipis. Ia juga masih tampak segan mengiringi langkah Hyuk Jae dan Hyo Yeon dari belakang, berjalan bersama Dong Hae disampingnya.

Mereka tak juga saling bicara dengan obrolan singkat yang biasa mereka lakukan, tak juga saling menatap dan tetap meluruskan pandangan mereka ke depan. Tatapan mereka kosong dan pikiran mereka sibuk masing-masing melihat Hyo Yeon yang menggandeng mesra Hyuk Jae di bawah terangnya lampu hias jalanan.

“Sebaiknya aku diam saja dan tak perlu bicara mengeluarkan sepatah katapun.” YoonA menguatkan hatinya. “Tapi, aku benar-benar tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku yang selalu saja peduli padanya.” Batinnya.

Beberapa pelanggan yang biasa mampir ke restoran itu kembali datang berkunjung. Di antara meja yang sudah tertata rapi, tepat di sudut ruang paling depan mereka berempat duduk santai lantai beralaskan bantal duduk yang sudah dibersihkan dari sisa makanan bekas pelanggan sebelumnya.

Lampu neon putih tergantung di langit-langitnya untuk menerangi meja mereka. Mata mereka sejenak saling menatap, mulut mereka kering dan terkunci. Mereka tetap diam membiarkan perut yang mulai kelaparan, suasana tegang terasa menyelimuti.

Hyo Yeon lekas meraih buku menu yang terletak di dekat tissue. Ia mengeringkan tenggorakannya lalu membuka obrolan ringan, “Jadi kalian ingin makan apa?” Tanyanya pada Dong Hae dan YoonA yang duduk termenung berhadapan dengannya.

“Aku? Apa saja menu utama disini?” Yoona tampak gagap lalu melihat sepintas daftar menu yang baru saja diambilnya.

“Adaapa dengan kalian sebenarnya?” Hyo Yeon mulai curiga, Ia menatap heran Dong Hae dan YoonA lalu menoleh ke arah Hyuk Jae yang tak seperti biasanya.

“Adaapa, apanya? Kurasa semuanya baik-baik saja.” Sahut YoonA lalu tertawa kecil dan terlihat sangat terpaksa.

Hyo Yeon segera memusatkan perhatiannya pada wajah Dong Hae yang masih tampak bengkak, “Oh, ada apa dengan wajahmu?” Ia yang baru menyadari hal itu dan terkejut.

“Hanya sedikit luka kecil.” Jawab Dong Hae singkat dengan nada dingin.

“Aneh sekali. Beberapa hari yang lalu wajah Hyuk Jae juga bengkak seperti itu. Aku pikir kau berkelahi dengannya, tapi Dia bilang kalau dia berkelahi dengan preman. Apa saat itu kau juga bersamanya?” Hyo Yeon menghujani Dong Hae dengan pertanyaan aneh.

Dong Hae terdiam sejenak, Ia juga tampak kebingungan menyusun kata-kata untuk menutupi sebuah kebohongan.

“Sebenarnya, waktu itu aku pulang dari mini market.Adasekelompok berandalan yang coba merampas barang belanjaanku.” YoonA dalam khayalannya. “Mereka semua sangat menakutkan, meskipun wajah mereka terlihat tampan tapi mereka begitu berbahaya.” Ia dengan nada bercanda coba mengarang cerita. “Dong Hae dan Hyuk Jae yang baru pulang entah darimana langsung datang menolongku, mereka seperti Batman dan Robin yang siap melenyapkan dan memusnahkan semua kejahatan di muka bumi.” Ia masih larut dalam imajinasinya. “Mereka memukul semua pemuda yang menggangguku, terlihat dari sisi manapun mereka tampak sangat keren.” Ia sambil mengepalkan tangannya mengebu-gebu.

“Wah, YoonA kau beruntung sekali. Dong Hae dan Hyuk Jae sengaja datang menyelamatkanmu. Seharusnya aku menemani Hyuk Jae mengambil cincin pertunangan yang tertinggal di apartment Dong Hae, jadi aku bisa ikut membantu mengalahkan para preman itu.” Sahut Hyo Yeon yang percaya begitu saja, “Aku benar-benar sangat cemburu padamu.” Sambungnya lagi lalu tertawa kecil.

YoonA hanya mengangguk pelan, sementara Hyuk Jae dan Dong Hae mendengar dengan seksama cerita dari pengarang amatiran itu.

“Begitulah ceritanya.” Hyuk Jae lalu bertepuk tangan untuk menutupi cerita sebenarnya.

Serentak mata Hyo Yeon dan YoonA menatap heran ke arahnya, diikuti Dong Hae yang masih dengan rautan wajah bingung mengatasi situasi saat itu.

“Aku pesan Soup Kacang Kedelai saja. Bagaimana dengan kalian?” Hyo Yeon mengalihkan topic pembicaraan.

“Aku Ayam Mentega Pedas saja.” YoonA dan Dong Hae di saat bersamaan, mereka pun kembali terdiam dan menatap satu sama lain.

“Kalian kompak sekali.” Seru Hyo Yeon yang coba menggoda.

“Aku pesan Soup Kepiting saja.” Hyuk Jae mengakhiri pesanan untuk makan malam mereka.

Tercium aroma sedap dari  makanan yang baru saja tersaji di atas meja. Makanan itu masih terlihat hangat, asap kecil pun mengepul di atasnya. Mereka serentak mengambil sendok dan membuka pembungkus sumpit, mereka pun mulai menikmati makan malam sambil mendengar alunan musik lembut yang terdengar dan menggema ke seluruh ruangan.

YoonA lekas membungkukkan punggungnya pada Hyo Yeon dan Hyuk Jae. Ia pun melambaikan tangannya ke arah mereka yang mulai berjalan di tepian jalan raya dan semakin menjauh lalu menghilang di balik bangunan-bangunan besar yang memadati pusatkota.

Ia berdiri sejenak disana sambil menunggu taksi yang melintas lewat di jalan raya. Ia tak juga menggubris Dong Hae yang sesekali mencuri pandang ke arahnya.

“Apa perlu kau mengarang cerita aneh seperti itu?” Dong Hae yang tampak segan tak putus asa untuk mengajaknya bercanda.

“Jadi kau ingin aku mengatakan yang sebenarnya?” Sahut YoonA ketus, “Apa kau ingin Hyo Yeon Eonni tahu kalau kau menyukai calon suaminya?” Tambahnya lagi lalu bergegas pergi.

Dong Hae terdiam, “Sebenarnya ada sesuatu yang harus jelaskan padamu.”Tiba-tibaIamemegangi tangan YoonA untuk mencegah gadis itu melangkah lebih jauh.

“Aku tidak perlu penjelasan apapun lagi darimu, semuanya cukup sampai disini. Kelak kalau kita bertemu lagi, sebaiknya kita pura-pura tidak pernah mengenal satu sama lain. Itu demi kebaikanku juga dirimu, aku tidak sanggup kalau harus melihatmu yang pernah menyakitiku dengan semua perkataan bohongmu itu. Berpura-pura baik padaku dan memanfaatkanku untuk mendapatkan kembali sesuatu yang tidak mungkin bisa kau miliki.” YoonA tanpa sadar melontarkan kata-kata kasarnya. “ Kau tahu, aku benar-benar sangat membencimu. Aku ingin sekali kau lenyap dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku. Sebaiknya kau menghilang dan jangan pernah kembali.” Ia pun melepaskan tangan Dong Hae yang menggenggam pergelangan tangannya lalu beranjak pergi. Ia berlari kecil melewati beberapa pertokoan yang masih buka dan menunggu pelanggan lain berdatangan.

“Im YoonA!!!” Teriak Dong Hae memanggil namanya, tapi YoonA tetap berlari dan mempercepat kakinya berlari untuk menghindar.

YoonA kembali meneteskan air mata yang kembali membasahi pipinya. Ia lekas bersembunyi di balik tembok besar dan bersandar disana sambil membungkam mulutnya agar tak seorang pun yang mendengar isakannya.

“YoonA, apa tidak bisa sedikit saja kau meluangkan waktu untukku bicara padamu. Aku ingin sekali menjelaskan semuanya padamu, aku jauh lebih tersiksa jika kau yang menjauh dariku. Aku tidak mau kehilanganmu, rasanya jauh lebih sakit dibandingkan aku harus kehilangan Hyuk Jae.” Batin Dong Hae. Ia terdiam sejenak di bawah gelapnya langit malam yang tanpa bintang. Membuatnya semakin kesepian dan terpuruk dalam kesendirian. “Kurasa YoonA benar, sebaiknya aku menghilang saja. Mungkin untuk selamanya jauh lebih baik.” Ia tersenyum tipis lalu menjauh dari depan restoran dimana mereka telah makan malam bersama.

Ia menyendiri di dalam mobil, sejenak duduk termenung disana. Udara dingin yang begitu menusuk menyayat hatinya. Ia bergegas menyalakan mesin mobil dan melaju di jalan raya mendahului mobil-mobil lain. Ia menambah kecepatan laju mobil yang dikendarainya itu dan tak peduli pada suara klakson mobil lain yang menegurnya. Ia tetap focus pada jalanan yang cukup padat dan tak peduli pada orang-orang disekitar yang tampak geram pada ulahnya.

Seperti biasanya Ia selalu datang lebih awal untuk menyiapkan semua berkas yang akan dikerjakannya, tapi  akhir-akhir ini Hyuk Jae tak lagi berangkat bersama dengan Dong Hae sejak terjadi perselisihan diantara mereka.

Ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya dan duduk di balik  kursi meja kerja yang selalu menemaninya menghabiskan waktu seharian penuh di perusahaan dimana sudah hampir satu tahun ini menggunakan jasanya sebagai salah satu staff keuangan.

Ia menghembuskan napasnya melalui mulut, Ia menyandarkan punggungnya sambil memandang langit biru yang cerah di luarsana.SejenakIabersantai sambil menunggu computer yang baru saja dihidupkan loading.Tiba-tibaIamengernyitkan dahinya menemukan sepucuksuratdi dekat monitor computer, Ia tampak heran dan lekas mengambilnya. Ia membukasuratitu dan sekejap raut wajahnya berubah.

“Kepala Bagian Keuangan untuk Cabang Perusahaan di Buncheon?” Tanya dalam hatinya. “Benarkah mereka mengangkatku sebagai Kepala Bagian Keuangan?” Ia tak percaya. “Sebaiknya aku menemui Dong Hae, dia pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ia bergegas bangkit dari kursinya dan melangkah cepat keluar ruangan.

Tampak beberapa karyawan yang berpapasan, melemparkan senyum untuk menyapanya.TapiIatak menghiraukan dan tetap berjalan melewati meja kerja para karyawan.

“Bisa bertemu Pak Lee?” Tukasnya segera pada sekretaris yang meja kerjanya berada tepat di depan ruang kerja Dong Hae.

“Untuk sementara Pak Lee Dong Hae mengambil cuti, tidak tahu kapan akan kembalinya.” Wanita muda itu segera berdiri untuk menjawab pertanyaan Hyuk Jae.

“Cuti?” Hyuk Jae tambah heran. “Sejak kapan?”

“Baru hari ini.”

“Aneh sekali, tidak biasanya Dong Hae mengambil cuti.” Batin Hyuk Jae bertanya-tanya. “Kalau begitu terimakasih.” Hyuk Jae memalingkan tubuhnya.

“Selamat atas pengangkatanmu sebagai Kepala Bagian Keuangan!” Seru gadis itu tiba-tiba.

Hyuk Jae menghentikan langkahnya seketika dan menolehkan kepalanya ke arah sekretaris itu. “Jadi kau tahu tentang hal ini?” Tanyanya lagi.

“Tentu saja, Pak Lee yang mengajukan pengangkatan jabatan untukmu dan semua pemegang saham menyetujujuinya. Mulai besok kantormu sudah tidak disini lagi, tapi di Buncheon.” Jelas Gadis itu dengan lembut dan tak berhentinya menebar pesona.

“Adaapa sebenarnya dengan Dong Hae? Sepertinya dia memang berniat menyingkirkanku dari perusahaan ini.”  Batin Hyuk Jae. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya untuk beranjak dengan berjalan di koridor.

Ia tampak semakin heran dan benaknya dipenuhi dengan pertanyaan. Raut wajahnya pun tak dapat dibaca, Ia coba menghubungi nomor Dong Hae melalui handphone miliknya, tapi tak ada juga jawaban. Membuatnya dilanda rasa penasaran yang sangat besar.

Selalu terdengar alunan musik lembut yang menggema di tiap sudut ruangan, beberapa orang sibuk mencari alat tulis yang mereka perlukan. Di sisi lain, orang-orang duduk dengan santai sambil membaca buku yang sampulnya terbuka dan dapat dilihat dengan bebas isi di dalamnya.

Rambut panjangnya terurai, dihiasi dengan ikat kepala berwarna merah polos. Ia selalu terlihat cantik meskipun hanya mengenakan casual t-shirt tangan panjang dan celana pendek atas lutut.SesekaliIamembenarkan posisi tas punggung berwarna coklat miliknya lalu melangkahkan kakinya lagi ke rak pensil.

“Sebaiknya ujian besok menggunakan pensil apa?” TanyaYoonA pada dirinya sendiri. “Dimana pensil yang biasa digunakan untuk computer?” Matanya pun mulai mengamati dengan seksama tiap model pensil yang terjual disana. “Yang ini saja.” Ia memantapkan pilihannya pada pensil berwarna biru dapat terbaca oleh computer.

Langkahnya selalu terhenti melihat benda yang mengingatkannya pada DongHae,Iaterdiam sejenak melihat paket khusus untuk menggambar. Di dalamnya terdapat peralatan lengkap yang diperlukan, seperti buku gambar, pensil, penghapus dan crayon. Ia menghela napasnya, “Apa perlu aku membelikan itu Dong Hae?” Pikirnya. “Pabo, Dong Hae paling benci menggambar dan lagi dia bukan anak kecil. Lagipula untuk apa aku memikirkan orang itu lagi.” Ia memukul pelan kepalanya dan tertawa mengejek kebodohannya.

Tanpa sadar Ia mengambil peralatan menggambar yang terbungkus dalam tas ransel plastic transparan itu. Ia melangkah ke meja kasir dan membayar semua barang-barang belajaannya. Ia keluar dari toko itu sambil menghela napas dan wajah ditekuk.

“Im YoonA, sebenarnya apa yang salah denganmu? Kenapa kau tak bisa menghilangkah bayangan orang itu  dalam pikiranmu?” Ia mencaci dirinya sendiri sambil memegangi kantong plastic yang berisi barang belanjaannya tadi.

Ia melangkah gontai di tepian jalan raya, matanya lurus ke depan dan tak peduli pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Ia selalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan tak ada waktu untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Sinar terik matahari mulai meninggi tepat di ubun-ubun kepalanya, tapi Ia tak juga merasa kepanasan. Terdengar handphonenya berdering dari balik saku celana, dengan sigap Ia mengambil benda yang terus berbunyi itu. Dilihatnya nomor yang tak dikenal tengah memanggil. “Siapa ini?” Benaknya.

“Halo!” YoonA dengan ragu.

“Im YoonA, ini Aku Hyuk Jae.” Hyuk Jae dengan nada lembut bicara jarak jauh melalui telepon genggam.

“Oh, ada apa?” YoonA heran.

“Apa kau tahu dimana Dong Hae keberadaan sekarang? Tiba-tiba dia mengambil cuti di kantor dan pergi begitu saja, handphonenya juga tak dapat dihubungi. Aku benar-benar sangat khawatir padanya.” Ungkap Hyuk Jae.

“Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku dan Dong Hae juga tak bicara, sejak kejadian waktu itu aku menjaga jarak dengannya.” Jelas YoonA dengan berat hati.

“Benarkah?” Hyuk Jae tak percaya.

“Aku merasa tidak bisa berada di dekatnya di saat seperti ini. Kami juga sudah sangat jarang saling menyapa.” Cerita YoonA.

“Aku mengerti sekarang kenapa Dong Hae tiba-tiba saja pergi, tak ada satupun diantara kita yang bisa mengerti akan dirinya.” Hyuk Jae terdengar menyesal. “Aku merasa sangat bersalah padanya.”

“Apa kau benar-benar tidak tahu Dong Hae kemana?” YoonA meyakinkan lagi.

“Tidak.” Singkat Hyuk Jae, “Kalau kau punya kabar terbaru tentang Dong Hae, segera hubungi aku.” Pintanya.

YoonA lekas mengangguk, “Aku akan mencarinya di apartment, mungkin saja dia masih disana.” Ia menutup handphonenya. Perasaannya pun mulai gelisah dan raut wajahnya menunjukkan betapa khawatirnya Ia pada Dong Hae.

Ia bergegas menuju halte bis untuk segera pulang ke apartment. Ia tergesa-gesa menaiki bis yang baru berhenti di depannya. Ia duduk di dalamnya dan pikirannya kembali sibuk memikirkan keberadaan Dong Hae saat itu.

Suasana tampak sangat hening, tak terdengar sedikitpun suara bising yang mengganggu. Lampu koridor apartment mulai dinyalakan, melihat langit yang berubah gelap dan matahari juga sudah terlalu lelah memancarkan sinar teriknya.

Pintu lift terbuka perlahan, Hyuk Jae keluar darisanadengan raut wajahnya yang muram. Perasaannya sama sekali tak berubah, Ia juga sangat sulit untuk tersenyum meskipun hanya senyum kecil. Ia tak begitu gembira dengan pengangkatan dirinya sebagai Kepala Bagian Keuangan, Ia masih sangat heran pada sikap Dong Hae yang mengambil keputusan itu.

Ia melangkah gontai menuju apartmentnya lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia duduk sejenak untuk melepaskan sepatunya, kemudian melanjutkan langkahnya lagi sambil melepaskan dasinya.

Ia lekas menyalakan lampu dan masih tak menyadari keberadaan seseorang disana yang sejak tadi menunggu kedatangannya.

“Selamat atas keberhasilanmu, Oppa!!” Ucapan selamat itu mengejutkan lamunanannya. Hyo Yeon tampak begitu bersemangat, Ia tiba-tiba saja muncul saat lampu menyala sambil memegangi Kue Blackforest yang tampak begitu lezat dengan coklat bertaburan di atasnya.

“Adaapa ini?” Hyuk Jae heran.

“Apa kau lupa? Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa kau diangkat sebagai Kepala Bagian Keuangan. Aku sengaja menutup butik lebih awal untuk mempersiapkan ini.” Gerutu Hyo Yeon pada Hyuk Jae yang mengernyitkan dahinya.

“Oh Itu, . . .” Hyuk Jae lekas menggaruk kepalanya. “Maafkan aku, aku hampir lupa kalau sekarang aku sudah tidak ditempatkan di Perusahaan dimana Dong Hae berada lagi.” Jelasnya.

“Benarkah?” Hyo Yeon terkejut.

“Aku dipindah ke cabang perusahaan di Buncheon.” Hyuk Jae dengan nada kecewa.

Hyo Yeon meletakkan kue itu ke atas meja ruang tamu, Ia lekas memegangi tangan tunangannya dan menatap matanya dengan lembut. “Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Dong Hae? Apa ini semua karena aku?”

“Tentu saja bukan karena kau. Mungkin karena memang sudah sepantasnya aku menerima imbalan atas kerja kerasku selama ini di Perusahaan.” Hyuk Jae tertawa kecil.

“Tapi, kau terlihat begitu berbeda. Kau tidak seperti biasanya, kau terlihat tidak begitu senang dengan pengangkatan jabatan ini.” Ungkap Hyo Yeon yang mulai khawatir.

“Tentu saja aku senang.” Hyuk Jae mengelak.

Hyo Yeon lekas mendekap erat Hyuk Jae dengan penuh kehangatan dan kelembutan serta kasih sayang yang tak pernah berhenti diberikannya pada orang yang paling berharga dalam hidupnya.

“Bagaimana kalau kita makan malam di luar untuk merayakan keberhasilanmu?” Ajak Hyo Yeon segera setelah melepaskan pelukannya.

Hyuk Jae hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan, Ia hanya bisa menuruti apa yang diinginkan pujaan hatinya itu. Ia tak pernah bisa untuk menolak meskipun Ia begitu lelah. Hyo Yeon menarik tangan Hyuk Jae dan beranjak keluar dari apartment. Mereka memasuki pintu lift yang membawa mereka turun ke lantai dasar, lobi.

Ia duduk di bawah sinar terang lampu neon, di atas meja didepannya terdapat tumpukan buku besar. Ia menghentakan catatan yang sudah jauh hari dipersiapkannya lalu bersandar dan menghela napasnya.

SejenakIamenengok ke luar jendela dan mendapati langit yang sudah berubah gelap. Ia tampak begitu bosan dan tak satu pun materi terekam dalam memori di kepalanya. Ia lekas berdiri dan mengeliat untuk mengencangkan otot-otot yang kaku. Ia melangkah gontai menuju balkon, sejenak berdiri disana untuk merasakan udara malam yang segar menerpa wajahnya.

YoonA terdiam, Ia mulai gelisah dan tak dapat bediri dengan tenang. Selalu saja ada hal yang datang mengganggunya, Ia kembali menghela napas dan terlihat sangat lelah. Hati dan pikirannya kembali tertuju pada sosok Dong Hae yang telah mencuri seluruh perhatiannya.

Ia lekas melangkah masuk dan tak lupa untuk mengunci pintu balkon. “Dong Hae, kau sekarang dimana? Tidak seharusnya aku berkata kasar padanya malam itu.” YoonA mendengus menyesali perbuatannya.

Langkahnya tiba-tiba terhenti pada sebuah buku yang tak pernah dibaca atau pun dibukanya. Ia segera meraih buku yang masih sangat asing baginya, “Aku baru ingat kalau aku membeli buku ini karena cerita Hyo Yeon Eonni waktu itu. Dong Hae juga Hyuk Jae, rasanya sangat menyakitkan mengetahui kenyataannya tidak seperti yang kuharapkan. Seharusnya aku tidak muncul saat itu dan mendengar semuanya, akan jauh lebih baik bila aku tidak tahu dan aku juga bisa saja berada di sisi Dong Hae tanpa ada yang mengganjal di hatiku.”

Ia bersama buku itu lalu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang empuk dan bertiarap di atasnya. Ia mulai membuka halaman pertama buku yang sangat mengusik itu. “Seorang Gay sangat senang mengenakan pakain ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.” Bacanya dalam hati. “Dong Hae, sangat jarang mengenakan pakaian ketat. Biasanya dia hanya mengenakan casual t-shirt dan celana jeans pendek atau panjang.” Ia mengingat kembali sosok Dong Hae.

“Tidak suka bergaul dengan banyak orang.” Ia melanjutkan bacaannya. “Dong Hae punya banyak teman, aku masih ingat saat pesta pertunangan Hyo Yeon Eonni. Aku juga tidak bisa menyangkal kalau orang yang selama ini selalu dekat dengannya ada Hyuk Jae. Kurasa jawaban dari semua ini ada pada matanya yang sayu nan lembut. Membuat semua orang pasti merasa tenang saat menatapnya.” Pikirannya pun melayang ke dunia lain. Dimana disana ada Dong Hae dan juga dirinya, mereka berdua saling berpegangan tangan dan berlari dengan bertelanjang kaki di atas rerumputan kering, membiarkan angin sepoi-sepoi berhembus menyegarkan mereka.

“Ah, ada apa denganku?” Ia menggelengkan kepalanya. “Bukan saatnya untuk mengkhayal hal yang tidak penting.” Ia lekas menutup buku itu dan melemparnya jauh, tepat di atas meja belajarnya. “Dong Hae, kau dimana? Aku sangat merindukanmu.” Ia berteriak dan merengek seperti seorang anak yang kehilangan ibunya.

Ia bergegas bangkit dari ranjang lalu memasang sandal boneka yang biasa digunakannya. Ia terburu-buru keluar dari kamar menuju ruang tamu. Suasana hatinya tiba-tiba berubah, Ia tampak ragu untuk menjulurkan kepalanya dari balik pintu apartment. Ia memperhatikan dengan seksama pintu depan apartment Dong Hae.

Ia pun mulai mengumpulkan seluruh kekuatannya dengan menarik napasnya dalam-dalam. Dengan penuh keberanian Ia melangkah keluar dan berjalan di koridor. Ia lekas menekan bel apartment, coba memberitahukan Dong Hae keberadaannya. Tapi tak ada satu pun sahutan, raut wajahnya berubah kecewa seketika.

“Sepertinya Dong Hae memang sedang pergi, tapi kemana?” Pikir Gadis itu sambil bersandar di dinding koridor.

SejenakIamondar-mandir disana seperti setrikaan, sesekali Ia memperhatikan pintu lift menunggu kedatangan Dong Hae. “Aku ingin sekali melihat Dong Hae yang tersenyum seperti pertama kali kami bertemu, Ia terlihat begitu ramah dan sangat santun. Aku juga sangat berharap bisa terus berada disisinya, meskipun hanya sebagai teman.” Ia lekas duduk bersandar sambil memeluk lututnya. Tak satupun orang yang melintas di koridor yang sepi itu.

“Mungkin selama ini aku memang selalu berharap banyak darinya. Perhatiannya yang membuatku salah tingkah, ejekannya yang membuat kesal. Kata-katanya yang selalu terekam jelas dalam ingatanku, aku tidak ingin sekalipun melihatnya sedih dan terpukul. Aku ingin sekali berada di sisinya di saat seperti ini, bukan meninggalkannya. Ini semua salahku, aku yang jahat. Aku adalah gadis paling jahat.” Perlahan matanya terpejam. Ia yang lelah pun mulai terlelap, duduk sambil memeluk lututnya di lantai koridor. Ia mulai terlarut ke dalam mimpi yang begitu cepat datang menyapanya.

Selalu saja seorang laki-laki yang sudah tak asing lagi datang dan menyelinap ke dalam bunga tidurnya. Dong Hae termenung di goa yang gelap dan tak sedikit cahaya membias masuk kesana. Ia duduk berselungkup menunggu seseorang mengeluarkannya. YoonA terus berlari ke arahGoayang tidak mudah untuk diraihnya. Ia mulai menangis melihat Dong Hae yang terperangkap seorang diri disana.

“Nona! Nona!” Suara laki-laki paruh baya itu terdengar jelas di telinganya. Ia merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya berkali-kali.TapiIamasih enggan untuk membuka mata.

“Nona!” Laki-laki tua itu memanggilnya lagi.

YoonA mendongak untuk melihat seseorang yang terus saja memanggil dan mengganggunya. Ia tampak terkejut menemukan dirinya yang tertidur di depan apartment milik Dong Hae.

“Apa yang kau lakukan disini, Nona?” Tanya Pria berkacamata tebal itu, tampak beberapa peralatan kebersihan disampingnya berdiri.

“Aku?” YoonA kebingungan. Ia pun lekas tertawa kecil.

Seorang laki-laki yang masih tampak muda lekas memasukkan kata sandi untuk membuka pintu apartment Dong Hae. YoonA pun merautkan wajah herannya, Ia lekas mencegah kedua orang itu untuk terus melangkah.

“Apa yang kalian lakukan?” Cegat YoonA.

“Pemilik apartment ini meminta kami untuk membersihkan apartmentnya.” Jelas Laki-laki tua yang tadi membangunkannya.

“Apa kalian tahu Dong Hae pergi kemana?” YoonA lekas memanfaatkan kesempatan itu untuk menggali informasi.

“Pak Lee tidak memberitahukan apapun tentang kepergiannya, kami hanya bicara melalui telepon. Setiap satu bulan sekali. kami memang selalu datang kesini untuk membersihkan seluruh ruangan di Aparment miliknya.” Jelas Laki-laki itu lagi.

“Jadi dia tidak bilang mau pergi kemana.” YoonA putus asa. Ia segera membungkukkan punggungnya dan membiarkan kedua orang itu masuk ke dalam apartment Dong Hae.

Ia melangkah gontai dengan wajah masam menuju apartment miliknya. Ia menutup kembali pintu dengan pelan dan terus berjalan menuju kamarnya. Pandangannya lalu focus pada jam dinding, sontak Ia membelalakkan matanya. Ia tampak terkejut mendapati waktu yang sudah menunjukkan pukul 8 tepat.

“Bagaimana sekarang? Aku bisa terlambat mengikuti ujian masuk universitas. Pabo . . . Pabo.” YoonA terus mencaci dirinya sendiri.

Ia berlari menuju kamar mandi, sekejap Ia keluar darisanadengan baju handuk yang menutupi tubuh dengan rambutnya yang masih basah. Ia tak peduli lagi pada pakaian yang akan dikenakannya untuk pergi ke kampus. Ia sangat terburu-buru memasang rompi lalu mengambil tas ransel yang berada tepat di samping meja belajar. Ia menyempatkan dirinya sebentar di depan cermin untuk melihat kembali penampilannya.

“Apa rambutku terlihat rapi?” YoonA lekas membenarkan posisi jepitan rambutnya. Ia pun bergegas keluar kamar dan berlari menuju ruang tamu lalu mengambil sepatu kats putih. Dengan cepat Ia memasang sepatunya dan berlari lagi keluar apartment, membiarkan pintunya terkunci dengan sendirinya. Ia segera masuk ke dalam lift yang terbuka. Tangan dan kakinya mulai gemetar, sesekali Ia memperhatikan jam di tangan kirinya.

Tangannya direntangkan dan matanya terpejam. Ia berdiri di atas batu besar, rumput ilalang terbentang luas mengelilinginya.SejenakIamenenangkan pikiran disana, di bawah hangatnya matahari pagi dan sejuknya angin yang bertiup sepoi-sepoi.

PerlahanIamembuka mata sambil menghela napas dari mulutnya. Wajahnya tampak begitu segar dan ceria. Ia pun tersenyum tipis sambil memandangi langit biru yang menyapanya. Terlihat burung-burung berterbangan di atassana, menyemarakkan suasana pagi.

“Tuhan, terimakasih karena sudah mengijinkanku untuk bertemu kembali dengan pagi yang cerah ini.” Ucap Dong Hae lembut. Ia pun lekas memalingkan tubuhnya untuk beranjak dari tempat yang jauh dari keramaian itu.

“Tak ada satu orang pun yang akan datang mencariku, YoonA atau pun Hyuk Jae. Bukankah jauh lebih baik seperti ini, jauh dari mereka yang sangat benci padaku.” Dong Hae bicara sendiri dan kakinya terus melangkah dengan wajah menunduk. “Aku benar-benar tidak ingin menyakiti mereka lagi, terlebih lagi Yoona. Dia pasti sangat benci padaku, dia yang memintaku untuk menghilang dari kehidupannya. Aku ingin semuanya seperti ini untuk sementara waktu, sampai keadaan tenang dan mereka lupa akan apa yang terjadi.”

Ia terus menjauh dari tempat yang damai dan tentram itu, menuju tempat yang sudah tak asing lagi baginya. Sebuah tempat yang memberikannya kegembiraan dalam hidup dengan semua tawa dan senyum serta tangisan dan rengekan anak kecil yang membuatnya lupa pada semua masalah yang tengah mengusiknya.

Peserta ujian mulai memasuki ruangan, mereka sudah bersiap sedia dengan peralatan lengkap yang diperlukan. Duduk di salah satu bangku YoonA bersama tas ransel yang baru dilepasnya. Wajahnya tampak dan terlihat biasa saja sementara peserta lain terlihat begitu tegang.

Ia segera mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya lengkap dengan alas buku yang baru dibelinya. Terdengar dua orang di belakangnya tengah bicara, mereka mengobrol singkat memanfaatkan sisa waktu yang ada sebelum ujian dimulai.

“Kau tahu? Tadi pagi aku membaca Koran dan beritanya itu sungguh sangat tragis.” Ucap salah seorang gadis bersemangat.

“Beritanya tragis tapi kau terlihat begitu bersamangat. Ekspresimu sangat bertentangan dengan apa yang akan kau sampaikan.” Sahut Gadis lain yang duduk bersebelahan dengannya.

“Karena ini bukan hanya tragis tapi juga menyedihkan.” Gadis dengan kacamata tebal itu lekas merendahkan nada bicaranya. “Adabanyak sekali akhir-akhir ini orang yang bunuh diri, karena mereka tidak sanggup lagi menghadapi masalah yang menimpa mereka.”

“Oh, jadi berita bunuh diri lagi. Sudah lebih dari sepuluh kasus di bulan ini, semua tentang bunuh diri. Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin mereka memilih jalan pintas seperti itu untuk menyelesaikan semua permasalahan.”

YoonA mulai tertarik dengan perbincangan itu, Ia pun menajamkan pendengarannya untuk terus menguping dari balik punggung dan kepala sedikit pun tak menoleh ke belakang.

“Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa akan ada kehidupan lain setelah kematian, seperti reinkarnasi. Mereka berharap setelah kematian itu, hidup mereka akan jauh lebih baik di kehidupan selanjutnya.” Jelas Gadis yang rambutnya diikat ke atas.

“Aku tidak pernah percaya bahwa kita akan terlahir kembali menjadi sosok yang lain setelah kematian.”

“Semua itu tergantung pada pendapat dan keyakinan masing-masing makhluk.”

“Kubaca dari Koran, laki-laki itu sangat kesepian. Tak ada seorang pun yang peduli padanya lagi, Dia merasa bahwa semua orang sudah meninggalkannya.”

YoonA semakin tertarik dan terus menguping.

“Aku juga pernah mendengar cerita bahwa ada seorang laki-laki yang tega menghabisi orang yang dicintainya karena orang itu pergi bersama orang lain. Dia lebih memilih membunuh gadis dan pria lain itu untuk kepuasan hatinya. Setelah menghabisi mereka berdua, lalu dia membunuh dirinya sendiri.” Topik pembicaraan terdengar semakin seru.

Obrolan mereka terhenti seketika mendengar suara bel yang menggema di seluruh ruangan, menandakan ujian akan segera dimulai. Seketika suasana menjadi hening, tak ada sedikitpun riuh yang mengganggu jalannya ujian.

Soal mulai dibagikan, semua benda yang tidak penting disingkirkan dari atas meja. Disana hanya ada pensil dan penghapus serta alas buku dan kartu ujian. YoonA tak dapat konsentrasi, Ia bahkan tak peduli pada soal ujian berada di hadapannya.

Matanya mendongak ke atas, menatap langit-langit ruangan. Pikirannya kembali dipenuhi akan sosok Dong Hae yang meresahkan hatinya.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Dong Hae? Dia pasti sangat sedih saat ini, aku takut kalau dia mengakhiri hidupnya.” Gadis itu berkhayal di tengah ujiian yang berlangsung dan penjagaannya sangat ketat. Beberapa pengawas mondar-mandir di sekitarnya.

Ia membayangkan Dong Hae yang sendirian di dalam apartment, Ia melihat laki-laki itu mengikatkan tali di langit-langit kamar dan bersiap menggantung dirinya. “Tidak Boleh!!” Serunya dalam hati. “Tidak mungkin Dong Hae melakukan itu, atau mungkin.” Ia kembali dalam imajinasinya yang di luar batas. Dalam benaknya Dong Hae tiba-tiba saja menerobos masuk ke gereja, Ia menembakkan pistol di tangannya ke arah Hyo Yeon dan Hyuk Jae yang baru saja mengikat janji setia sehidup semati. “Jika aku tak bisa memilikimu, maka orang lain pun juga tidak boleh memilikimu.” Teriak Dong Hae di antara kerumunan tamu undangan yang begitu panic. Sementara YoonA hanya berdiri gemetar menyaksikan kejadian itu, Ia pun juga tak dapat mencegah Dong Hae yang menembakkan pistol pada dirinya sendiri. “Dong Hae!!!” Teriak YoonA dengan nada tinggi. Suaranya melengking dan menggema ke seisi ruangan.

Mata semua orang pun tertuju padanya, mereka tampak kaget dan menatap heran ke arahnya.

Gadis itu lekas menutup wajahnya yang malu, “Apa sebenarnya yang aku lakukan?” Ia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa bertahan dengan keadaan seperti ini, bagaimana pun aku harus menemukan Dong Hae.” Ia sambil mengepalkan tangannya lalu meraih tas ransel yang segera dipasangnya.

Ia tak peduli pada ujian yang sedang berlangsung, baginya yang paling penting adalah menemukan Dong Hae. Pengawas pun tak bisa berbuat apa-apa, mereka membiarkan saja YoonA yang berlalu di hadapan mereka, keluar dari ruang ujian.

~Just Stay By My Side~


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * ochalicious says:

    Wah un semakin seru . .
    yoong sih g mw dengerin hae . .
    lanjutin y un . .
    hehe . .

    | Reply Posted 5 years, 4 months ago
  2. part 8nya kenapa yang keluar jadi be my partner??
    penasaran sama cerita akhirnya…

    | Reply Posted 5 years, 1 month ago
    • oh itu, aku salah linknya. maaf ya hhee.
      tapi tadi sudah aku perbaiki. mohon di cek lagi.
      kalau memang masih ad kesalahan. mohon beritahukan padaku hhhee.

      | Reply Posted 5 years, 1 month ago
  3. * lili says:

    seruuuuuuuuu

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  4. * ayomi says:

    kerrrrrrrrreeeeeeennnn

    | Reply Posted 4 years, 7 months ago
  5. * Deery00ng says:

    Lanjut unN , ,
    y0onhae jjang , ,
    unNIE jjang , ,

    fightING🙂

    | Reply Posted 4 years, 4 months ago
  6. * ChaEkha says:

    seruuuuuu🙂
    Lanjut…

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: