YoonHae Fanfics Library



[Chapter] Just Stay By My Side (Part 8) End

Author : Riana

Genre : [chapter 8] , Romantic Comedy

Cast : Yoona x Donghae x Hyoyeon x Eunhyuk

Rating : PG-15

Title : Just Stay By My Side

Just Stay By My Side

Part 8

YoonA duduk sejenak di atas bangku panjang yang berada tepat di bawah pohon besar yang rindang. Ia mengeluarkan handphone dari sakunya dan bergegas mencari nomor Hyuk Jae di daftar kontak. Tanpa ragu Ia lekas menghubungi laki-laki yang tengah sibuk dengan pekerjaannya itu.

“YoonA, ada apa?” Sahut Hyuk Jae penuh tanya.

“Apa kau benar-benar tidak tahu kemana perginya Dong Hae?” Tukas YoonA.

“Aku sendiri juga bingung, saat aku menghubungi keluarganya pun mereka hanya bilang kalau Dong Hae pergi untuk sementara waktu. Tapi, mereka tidak mengatakan Dong Hae pergi kemana. Sepertinya Dong Hae memang sengaja menjauh untuk menyendiri, dia tidak ingin siapapun menemukannya.” Jelas Hyuk Jae.

“Bagaimana kalau kita bertanya dengan teman-teman dekatnya?”

“Teman yang paling dekat Dong Hae hanya aku.” Tegas Hyuk Jae.

“Benar Juga,” YoonA tersipu sembari tertawa kecil.

“Oh ya, aku mendengar kabar bahwa beberapa hari yang lalu Dong Hae pergi bermain futsal ke tempat biasa kami bermain. Mungkin kau bisa mencari informasi di tempat itu, siapa tahu dia meninggalkan pesan disana. Kebetulan dia sangat dekat dengan pemilik lapangan futsal itu, Dong Hae sudah mengganggapnya seperti ayahnya sendiri.” Ungkap Hyuk Jae yang terdengar terburu-buru.

“Bisa kau kirimkan aku alamatnya, aku akan kesana.”

“Tentu saja.” Hyuk Jae mengiyakan. “Semoga kau dapat menemukannya. Aku sendiri sudah sangat jarang bermain futsal bersamanya, kau tahu sendiri masalahnya bukan?”

YoonA lekas menutup handphonenya, Ia pun bangkit dari duduknya dan beranjak dari taman yang masih berada di lingungan kampus menuju tepian jalan raya, terlihat raut wajahnya yang cemas.

Senyum kembali mengembang di wajahnya, Ia tak bisa menyembunyikan kesenangannya melihat sekolompok anak kecil yang tengah bermain di halaman depan bangunan sekolah.

Dong Hae duduk santai di atas bebatuan yang diukir seperti bentuk batang pohon. Sejenak Ia melepas lelahnya disana sambil menghabiskan roti sandwich dan sekotak susu rasa melon.

Suara tawa kegembiraan anak-anak itu sangat bisa menghibur hatinya yang tengah dilanda kesedihan. Sesekali Ia tertawa kecil melihat lelucon anak-anak yang meniru gaya dance group idola mereka.

Tiba-tiba Ia menghela napasnya, “Ingin sekali rasanya kembali ke masa lalu, menjadi anak kecil yang bisa terus bermain sepanjang hari tanpa harus memikirkan masalah apapun.” Desisnya dalam hati.

Gadis itu segera membungkukkan punggungnya, terlihat jelas aura gelap menyelimutinya. Ia tampak begitu putus asa dan duduk sejenak di bangku penonton untuk melepas lelahnya.

“Beberapa hari yang lalu Dong Hae memang bermain futsal sendirian disini, tapi dia tidak bercerita apapun tentang kepergiannya.” YoonA mengingat kembali kata-kata pemilik tempat itu.

“Dimana lagi aku harus mencarinya?” Desah YoonA kemudian menghela napasnya lagi.

Ia lekas bangkit dan langkahnya terasa begitu berat keluar dari lapangan futsal yang berada dalam ruangan. Ia berdiri tepat di depan pintu masuk sambil menatap langit yang berubah gelap dan mendung. Angin pun berhembus dengan kencang, tapi Ia tak akan berhenti untuk terus mencari Dong Hae.

“Sepertinya hujan akan turun.” Desisnya.

Tiba-tiba perutnya berbunyi keroncongan, Ia bisa mendengarkan suara perutnya yang kelaparan. “Sebaiknya aku makan siang dulu.” Ucapnya sambil memegangi perutnya itu.

Sekejap Ia sudah berada di salah satu restoran pinggiran yang tak jauh dari lapangan futsal. Ia duduk di salah satu meja dan bersabar menunggu makanan yang dipesannya tersaji. Matanya pun mulai melirik ke beberapa buah meja yang berada di sekitarnya.

kekasih yang tampak mesra duduk bersebelahan, juga ada seorang ayah yang tengah menyuapi anak perempuannya yang masih kecil. Sekilas matanya melirik ke salah satu meja dimana seorang anak laki-laki yang duduk berhadapan dengan Ibunya. Ia pun mulai tertarik pada anak dan Ibu itu, Ia melihat sang anak yang tengah menggambar sesuatu di atas buku gambar. Tampak Ibu anak itu yang bercanda dengan mengejek gambaran anaknya.

“Bagaimana mungkin kau menggambar awan seperti bentuk kacang.” Sang Ibu menggelengkan kepalanya seraya tertawa kecil.

“Umma, aku masih anak kecil. Lagipula aku sangat benci menggambar.” Anak laki-laki itu mulai marah.

Wanita yang masih terlihat muda itu lekas mengusap kepala anaknya, “Tenang saja, masih banyak waktu untuk belajar. Kelak cobalah untuk menggambar objek lain, jangan selalu terfokus pada gambar pemandangan.” Ia memberikan nasihat pada anaknya. “Sekarang makanlah, nanti soupnya keburu dingin.” Perintahnya.

“Baiklah, Umma.” Tanpa perlawanan anak kecil yang terlihat sangat imut itu mematuhi perintah Ibunya.

YoonA tersenyum kecil, “Aku baru ingat, Dong Hae juga sangat benci menggambar.” Ia kembali menghela napas, “Dong Hae, aku sangat ingin melihatmu.” Ia terus merengek.

Seorang pelayan yang tampak sebaya dengannya pun mulai  menyajikan makanan yang tadi dipesannya. Ia lekas menyantap semua makanan itu untuk menambah tenaga dalam pertualangannya mencari Dong Hae.

Langkahnya kembali terhenti, Ia berdiri sejenak di tempat pemberhentian bis untuk berteduh dari hujan deras yang mengguyur kota. Beberapa orang berlarian mencari tempat berlindung, mereka bergegas mencari tempat yang aman agar terhindar dari air hujan.

YoonA terus saja menghela napasnya, tapi Ia tak pernah patah semangat. Ia duduk sejenak di bangku panjang bersama orang-orang yang juga berhenti sejenak disana.

Sekejap hujan berhenti, awan yang tadinya mendung berubah cerah seketika. Matahari pun kembali memancarkan sinarnya ke bumi yang indah. Tergambar pelangi di langit biru di atas sana. YoonA hanya terdiam memandangi pelangi dengan berbagai macam warna menghiasi langit.

Ia segera mengalihkan perhatiannya pada barisan anak sekolah TK yang menyebrang jalan dibimbing Guru mereka. Mereka terlihat begitu ceria melintasi jalanan yang masih basah bekas air hujan.

“Hati-hati anak-anak!!! Jalannya pelan-pelan saja, jangan terburu-buru!!” Wanita yang tampak cantik dengan seragam kerjanya memberi arahan.

“Dong Hae juga sangat menyukai anak kecil, dia pasti sangat senang setiap kali melihat anak kecil.” Batin YoonA, terlintas dalam ingatannya kata-kata Dong Hae, “Saat aku sedang sedih dan tak dapat terbendung lagi. Aku lebih memilih untuk menyendiri di sini, tepat di ruangan ini. Terkadang aku juga bermain piano. Kalau disini, tak akan ada satu orang pun yang menemukanku. Aku bisa lebih mudah untuk menenangkan diri.” Kata-kata Dong Hae membuatnya tersentak, Ia pun menjentikkan jarinya. “Aku baru ingat, taman kanak-kanak. Dong Hae pasti berada disana.” Ia melompat kegirangan.

“Tapi bagaimana aku kesana, perlu waktu satu jam untuk mencapai tempat itu. Lagipula aku sudah tidak punya uang yang cukup untuk naik bis. Mengendarai Sunshine juga sangat tidak mungkin, aku bisa kena tilang lagi.” Ia menekuk wajahnya yang cemberut.

Ia segera menjauh dari tempat pemberhentian bis dengan wajah menuduk. Ia melangkah dengan sangat berat melintasi taman tengah kota. Perlahan matanya mulai melirik sepeda keranjang yang terparkir disana, dimana seorang anak kecil berdiri disampingnya.

Muncul niat jahat dalam benaknya, Ia mengendap-endap mendekati sepeda itu. Ia melihat ke sekitar, tak ada seorang pun yang mengawasi anak perempuan yang rambutnya dikepang dua. Ia melangkah pelan dan memasang wajah manis pada gadis yang berusia sekitar 11 tahunan itu.

“Itu, apa bisa aku pinjam sepedamu?” YoonA tanpa ragu.

“Tidak boleh, Umma bilang aku tidak boleh meminjamkannya pada siapapun.” Tolak Gadis itu dengan tegas.

“Aku pinjam sebentar saja, setelah itu akan segera kembalikan padamu. Aku akan memberikan imbalan padamu. Aku akan memberikan coklat, permen, es krim.” Rayu YoonA dengan lembut.

Gadis itu lekas membuang muka sambil merengutkan wajahnya.

YoonA mulai geram dan lekas menarik sepeda itu, Ia tak peduli pada orang-orang yang mulai memperhatikannya karena berdebat dengan anak kecil yang jauh dari pengawasan orang tuanya. “Aku pinjam sepedamu dulu, kau tunggu saja disini. Aku akan segera kembali.” Ia tanpa segan segera menaiki sepeda keranjang itu dan mengayuhnya dengan cepat menjauh dari anak kecil yang mulai menangis karena sepedanya telah dipinjam secara paksa.

Ia mempercepat laju sepedanya yang sudah memasuki jalan raya. Ia tak menggubris suara tangisan anak kecil yang mulai membuat gaduh  dan mengundang perhatian di taman.

“Umma!! Umma!!” Anak kecil itu terus menangis.

Sang Ibu yang tadi meninggalkannya lekas berlari mendapati anaknya yang merengek. “Ada apa sayang?”

“Eonni itu membawa kabur sepedaku, Umma.” Gadis itu menunjuk ke jalan raya dimana YoonA sudah tak terlihat lagi. “Dia bilang, dia pinjam sebentar sepedanya.”

“Apa kau masih ingat seperti apa ciri-ciri Eonni itu?”

Peristiwa itu pun semakin menarik simpati orang-orang yang berada di sekitar taman. Mereka mulai berbisik dan memberitahukan sosok YoonA yang pergi dengan mengayuh sepeda. Mereka mulai menaruh iba pada anak kecil yang tak bisa menghentikan suara tangisannya yang sangat nyaring. Seorang polisi pun segera datang ke tempat perkara untuk menggali informasi yang diperlukan.

Dengan sekuat tenaga dan energi yang masih tersisa, YoonA terus melajukan sepeda itu. Ia melaju diantara berbagai jenis angkutan yang memadati jalan. Keringat dingin mengucur dan membasahi seluruh tubuhnya. Ia juga dapat merasakan kakinya yang mulai lelah, tapi ia tak mau putus asa.

Kembali terdengar tawa anak-anak yang menghiasi suasana halaman luas belakang sekolah. Mereka berlarian dan saling melempar guyonan atau sekedar bermain petak umpet. Tampak sekelompok anak kecil lain tengah bermain bola. Di antara mereka Dong Hae ikut mengambil alih sebagai penyerang yang begitu bersemangat menggiring bola lalu berbagi pada anak laki-laki yang satu tim dengannya.

“Ayo cepat!!!” Teriak Dong Hae gembira, tawanya begitu lepas.

Langit yang kembali terlihat cerah dengan sinar matahari yang terik menambah kehangatan udara sore hari. Kicauan burung yang saling bersahutan menambah keramaian.

“Goal!!!!” Seru Dong Hae seperti anak kecil. Ia segera bertepuk tangan lalu saling berkompak dengan anak laki-laki yang berhasil membobol pertahanan lawan. “Kau hebat, terus pertahankan!” Ia sambil mengusap lembut kepala anak itu.

YoonA yang masih berada jauh di jalan raya yang sepi terus mengayuh sepedanya menuju taman kanak-kanak itu. Ia tak merasa lelah sedikitpun untuk mencapai tempat itu. Setibanya di depan pagar, Ia bergegas turun dan meninggalkan begitu saja sepeda yang diparkirkannya dekat gerbang utama. Ia berlari mencari keberadaan Dong Hae ke sekeliling tempat itu.

Telinganya dapat mendengar jelas suara tawa Dong Hae yang sangat berciri khas. Ia berlari mencari asal suara yang sangat tak asing itu. Ia terus berlari meskipun tubuhnya sudah tak sanggup bertahan setelah perjalanan yang cukup panjang.

“Dong Hae!” Teriak YoonA yang melintasi koridor utama.

Seketika langkahnya berhenti, Ia tampak lega mendapati Dong Hae yang baik-baik saja. Ia tersenyum kecil lalu  berjalan pelan untuk menghampiri laki-laki yang masih belum menyadari keberadaannya.

Tampak Dong Hae yang masih asyik bermain bola menolehkan kepalanya ke belakang, Ia begitu terkejut dan lekas membalikkan badannya. Permainan pun berhenti sejenak, perhatian tertuju pada sosok YoonA yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.

“Akhirnya aku menemukanmu!” Desis YoonA yang tak dapat menutupi kebahagiaannya. Ia berdiri tepat di depan Dong Hae yang menatap lembut ke arahnya.

Napasnya terengah-engah dan matanya mulai berkaca-kaca, rasa lelah yang menyelimuti lenyap seketika. “Dong Hae, apa kau tahu betapa aku sangat mengkhawatirkanmu?” Ungkap YoonA yang mulai menangis dan segera memeluk tubuh Dong Hae.

Dong Hae membalas pelukan itu lalu mengelus penuh kehangatan pundak YoonA. “Aku pikir tak akan ada seorang pun yang datang mencariku.” Ia dengan tawa kecil coba menenangkan gadis yang berada dalam dekapannya.

“Bukankah aku sudah berjanji, aku akan datang mencarimu. Dan lagi Bagaimana mungkin kau berpikiran seperti itu. Apapun yang terjadi aku pasti akan datang menemuimu. Aku tak peduli sejauh apapun kau menghilang, aku pasti akan datang untukmu.” YoonA meluapkan semua perasaannya dan tangisannya tak juga berhenti.

“Sudahlah, jangan menangis. Bukankah aku baik-baik saja.” Dong Hae terus mengusap kepala YoonA.

Beberapa anak menyaksikan adegan itu dengan mata terbuka, merautkan wajah heran mereka dan tak begitu ambil peduli. Mereka pun kembali melanjutkan permainan yang tertunda.

Duduk mereka di bawah naungan warna jingga langit sore hari, di atas batu besar di antara rumput ilalang yang meninggi. Sekelompok burung yang berterbangan pun kembali ke sarang mereka.

YoonA coba menghentikan air matanya yang terus menetes membasahi pipinya. Perasaan senang dan terharu barbaur jadi satu.

“Ha ha ha …” Dong Hae tertawa lepas. “Jadi kau berpikir bahwa aku akan bunuh diri karena semua masalah ini.” Ia tak dapat menahan kegelian mendengar alasan polos YoonA.

YoonA hanya mengangguk, menyembunyikan kebodohannya.

“Aku masih punya Ibu, Kakak yang menyayangiku. Tidak mungkin aku melakukan hal di luar batas seperti itu apalagi sampai membunuh sahabatku sendiri dan juga kekasihnya.” Dong Hae menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

“Aku hanya khawatir padamu, itu sebabnya aku datang jauh-jauh dari Seoul untukmu. Aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja.” Ungkap YoonA.

“Tidak perlu khawatir, aku tidak akan berbuat nekat seperti yang kau pikirkan. Lagipula, bukankah aku masih punya kau yang akan selalu ada di sisiku.” Dong Hae lekas menyenggol bahunya untuk menggoda YoonA.

YoonA tersipu malu, “Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan, kau yang memanfaatkanku. Karena itulah gunanya teman, mungkin terdengar sedikit jahat kata ‘memanfaatkan’. Tapi aku sadar itu sebabnya Tuhan emang sengaja mengirimkankanku untukmu jadi saat kau sedang membutuhkanku, aku akan selalu ada. Itu juga yang membuatku bisa lebih dekat denganmu. Aku hanya sangat terguncang mendengar pernyataan bahwa kau menyukai Hyuk Jae, tapi sekarang itu bukan masalah lagi. Kau memiliki kehidupanmu sendiri, semua keputusan ada ditanganmu. Aku disini hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.” Ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Mengenai hal itu, aku sendiri juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku. Mungkin karena selama ini tak ada seorang wanita pun yang dekat denganku. Itu sebabnya aku merasa Hyuk Jae adalah orang paling penting. aku tidak mau kehilangan Hyuk Jae sebagai sahabatku. Tapi, saat kau juga menghindar dariku, rasanya jauh lebih menyakitkan.” Sahut Dong Hae lalu tersenyum tipis.

“Lebih menyakitkan?” YoonA mengambil kata-kata Dong Hae.

“Aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu yang selalu datang menggangguku, saat kau tersenyum atau menggodaku, kau selalu mendengarkanku di saat ku ingin bercerita, menemaniku bermain sepak bola, juga mentraktirku. Aku sangat senang dengan semua yang kita lalui bersama.” Dong Hae meluapkan isi hatinya dengan penuh kehangatan.

“Bukahkah, aku sudah berjanji akan selalu ada disisimu.” YoonA membanggakan dirinya. “Dan aku menyukaimu apa adanya dirimu.”

“Kau menyukaiku?”

YoonA mengangguk lagi. “Aku bisa terima kau yang tidak membalas perasaanku, asalkan bisa mengembalikanmu seperti dulu aku sudah merasa sangat senang.

“Siapa bilang aku tidak akan membalas perasaanmu?” Dong Hae mulai serius.

YoonA lekas menutupi wajahnya yang memerah, “Apa maksudmu?”

“Aku sangat bangga memilikimu.” Dong Hae tiba-tiba saja merangkul bahu YoonA. “Jadi cukup disisiku saja, sebagai teman atau apapun biarkan waktu yang menjawab.”

“Berhentilah menggodaku.” YoonA tersipu malu.

Matahari pun mulai membenamkan dirinya di balik awan dan mereka saling melempar senyum kecil yang begitu manis.

“Bukankah hari ini kau ada Ujian, apa semuanya berjalan lancar?” Pertanyaan Dong Hae menyadarkan YoonA dari mimpi indahnya.

“Aku lupa kalau aku tidak jadi mengikuti ujian. Pabo!” YoonA mencaci dirinya lagi dan belum menjawab pertanyaan Dong Hae yang mulai merautkan wajah herannya. “Tentu semuanya berjalan dengan sangat sangat lancar.” Ia tersenyum perih untuk menutupi kebohongan.

“Syukurlah, sebentar lagi YoonA akan menjadi guru TK yang paling hebat diantara semua guru.” Dong Hae coba memberikan semangat.

“Aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, bagaimana kalau Appa, Umma, Yong Jun tahu kalau aku tidak mengikuti ujian. Mereka semua bisa membunuhku.” Batin YoonA mulai khawatir.

YoonA pun terdiam sejenak dengan raut wajahnya yang tak dapat terbaca sambil menatap langit yang perlahan berubah warna, disampingnya Dong Hae tampak begitu lega karena masih ada orang yang peduli padanya.

“Jadi beberapa ini hari kau tinggal disini?” Tanya YoonA segera pada Dong Hae yang sibuk memasukkan bajunya ke dalam tas ransel besar.

Dong Hae segera mengangguk pelan.

YoonA memperhatikan dengan seksama ruang sempit, tempat dimana Dong Hae berlindung sementara waktu. Tidak banyak fasilitas di dalamnya, hanya ada meja, kursi serta satu tempat tidur yang cukup untuk satu orang saja.

Mereka pun lekas keluar dari ruangan yang terletak tepat di paling ujung koridor taman kanak-kanak. Mereka melangkah gontai melintasi tiap ruang kelas yang sudah terkunci rapat. Lampu-lampu di koridor pun menyala terang menyinari tiap jejak kaki mereka.

Tiba-tiba YoonA berhenti melihat papan tahun pembuatan taman kanak-kanak yang terpajang di gerbang paling depan. Ia tersentak kaget menemukan nama Dong Hae yang terukir jelas disana. “2008.10.15 didirikan atas nama Lee Dong Hae.” Ucapnya. “Bagaimana mungkin bisa, jadi kau adalah pemilik TK ini?” Tanyanya tak percaya.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh membangun TK?’ Dong Hae dengan nada sinis.

“Kalau kau pemiliknya, lalu untuk apa waktu itu kita berlari menghindar dari penjaga sekolah?” YoonA dengan wajah penuh tanya.

“Aku hanya ingin bersenang-senang.” Jawab Dong Hae singkat.

“Bersenang-senang katamu?” YoonA tak terima. “Aku harus melompati pagar dan hampir saja menabrak tiang hanya untuk kesenanganmu.” Ia mulai marah.

Dong Hae pun lekas tersenyum manis untuk meredakan emosi gadis itu. Ia lekas merangkul gadis itu, “Ayolah, sebaiknya kita pergi. Kebetulan hari ini aku sangat lelah, kau tidak tahu apa saja yang sudah terjadi sepanjang hari ini.”

YoonA mendengus kesal, “Seharusnya aku yang merasa begitu lelah, kau tidak tahu perjuangan yang kutempuh untuk bisa menemukanmu” Ungkap YoonA dengan nada kesal.

“Ngomong-ngomong, kau naik apa kesini?” Dong Hae mengalihkan pembicaraan.

“Apa?” Seketika raut wajah YoonA kembali berubah. “Aku naik sepeda.” Ia dengan wajah lugu memberikan jawaban.

“Kau pasti bercanda, berapa jam waktu yang kau tempuh untuk sampai disini?” Dong Hae melepaskan rangkulannya dan menatap kagum pada gadis itu.

“Sekitar 2 jam setengah.” YoonA mengingat-ingat.

“YoonA, kau memang benar-benar sangat hebat.” Dong Hae sambil menepuk pundak YoonA.

“Ah, aku baru ingat. Aku harus segera mengembalikan sepeda itu, tadi aku meminjamnya dari anak kecil yang berada di taman.” YoonA segera menarik tangan Dong Hae untuk bergegas meninggalkan tempat itu.

“Kau meminjamnya?” Dong Hae semakin heran.

YoonA mengangguk, “Benar, aku bahkan tidak memperdulikan anak kecil yang menangis itu karena sepedanya kupinjam.”

“Im YoonA, apa yang membuatmu berubah menjadi pencuri?” Dong Hae yang mengikuti langkah YoonA yang menariknya menjauh dari gerbang.

“Kau pikir demi siapa aku melakukan semua ini?” YoonA coba mengingatkan Dong Hae akan jasanya.

Dong Hae pun hanya tertawa kecil, Ia baru sadar betapa berharganya gadis yang berada di dekatnya itu. Ia bersama tas ransel di punggungnya lekas meletakkan sepeda itu di burita mobil dan mengikatnya. Ia segera melepas tas ransel besar yang membebani pundak lalu melemparkannya ke jok belakang.

Mereka masuk mobil dan bersiap kembali ke Seoul. Serentak mereka memasang sabuk pengaman, lalu duduk santai disana. Dong Hae menyalakan mesin mobil kemudian melaju menuju jalan raya.

Tak perlu waktu yang lama, mereka sudah tiba di Seoul. Dong Hae lekas mengarahkan mobil menuju taman kota. Hanya beberapa orang yang terlihat menghabiskan waktu disana, mengingat langit malam yang sudah berselimut kegelapan dan lampu-lampu hias bersusun berjejer untuk menerangi tempat itu.

Ia menghentikan mobilnya di tepian jalan dan membiarkan YoonA keluar lebih dulu.Gadis itu bergegas melepaskan tali yang mengikat sepeda di belakang bagasi. Ia menderet sepeda itu masuk menuju taman dan matanya melirik mencari keberadaan gadis kecil pemilik sepeda.

Dong Hae menutup pelan pintu mobil, Ia melangkah gontai mengikuti YoonA dari belakang. Ia hanya merautkan wajahnya heran melihat tingkah gadis yang tampak kebingungan itu.

“Apa kau masih ingat seperti apa wajahnya?” Tanya Dong Hae.

“Aku lupa, aku hanya ingat rambutnya di kepang dua.” Jawab YoonA. “Sebenarnya aku meminjam paksa sepeda ini.” Ia dengan nada rendah coba memberitahukan.

“Jadi kau merampas sepeda ini?” Dong Hae tersentak kaget.

YoonA menoleh ke belakang dengan ragu, Ia tak berani menatap Dong Hae yang melototkan mata ke arahnya. “Uangku sudah tidak cukup untuk naik bis, jadi kupinjam saja sepeda anak itu.” Jelasnya.

“Itu namanya sama saja dengan pencurian. Sebaiknya kita ke kantor polisi saja.”

“Ke kantor polisi? Apa mereka akan menangkapku?” YoonA ketakutan.

“Kita jelaskan saja yang sebenarnya, mungkin mereka akan mengerti.” Dong Hae terdengar ragu.

Tepat di depan kantor polisi YoonA ditemani Dong Hae menyerahkan sepeda yang dipinjamnya. Ia tak henti-hentinya membungkukkan badan meminta maaf pada Ibu dan Anak yang terlalu lama menunggu informasi tentang sepeda yang hilang.

“Sungguh maafkan aku.” YoonA merautkan wajah memelasnya.

“Tidak apa-apa, lain kali jangan ulangi lagi perbuatanmu ini. Orang lain akan mengira kau sebagai pencuri.” Ibu anak itu terdengar bijaksana.

Polisi yang ikut menyaksikan pun hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Dong Hae yang tak mengambil peran apapun, hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang malu pada perbuatan YoonA.

Sekejap mereka berada di lobi apartment, mereka berdiri disana menunggu pintu lift terbuka. Sesekali Dong Hae mencuri pandang melihat YoonA yang tertunduk dan lelah.

“Kau baik-baik sajakan?” Dong Hae meyakinkan melihat YoonA yang berkali-kali memukul pundaknya yang kaku.

“Oh, tentu saja.” YoonA terkejut.

“Apa kau begitu menyukaiku sampai kau melakukan berbagai cara hanya untuk mencariku?” Dong Hae dengan senyum nakal coba menggoda YoonA.

“Apa?” YoonA tak focus. “Aku memang sangat menyukaimu tapi masalahnya sekarang aku tidak mengikuti ujian masuk universitas. Aku takut kalau keluargaku tahu, mereka pasti akan memintaku kembali ke rumah dan aku harus meninggalkanmu disini.” Batinnya.

Mereka serentak masuk ke dalam lift dan membiarkan lift naik ke atas dengan pelan.

Dong Hae tercengang mendapati isi apartmentnya yang berantakan, Ia menghempaskan tas ransel ke lantai dengan memelaskan wajahnya. “Aku baru ingat kalau aku meminta orang untuk membersihkan seluruh ruangan. Mungkin satu atau dua hari baru selesai.” Ucapnya.

YoonA lekas berlari dari depan pintu apartment untuk menghampirinya. “Jadi bagaimana sekarang?” Tanyanya segera.

“Sebaiknya aku menginap di apartment temanku saja.” Dong Hae menggaruk kepalanya.

“Menginap saja di apartmentku, seperti waktu itu.” Tawar YoonA.

“Di apartmentmu lagi?”

“Aku sangat senang bisa menerimamu di apartmentku yang sejuk dan nyaman.” YoonA mempromosikan.

“Aku takut kau melakukan sesuatu padaku, mungkin saja kau akan menyerangku saat aku tidur.” Dong Hae membuat YoonA geram.

“Aku tidak akan melakukan apapun, kau pikir aku gadis genit. Kalau kau tidak mau, terserah kau saja.” YoonA dengan tas ransel di punggungnya lekas keluar dari kediaman Dong Hae.

“Baiklah, baiklah!” Dong Hae bergegas mengikutinya dari belakang.

YoonA pun tersenyum penuh kepuasan.

YoonA tercengang, Ia mengentikan sejenak kegiatannya mendapati Dong Hae yang baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama yang pernah diberikannya. Ia berdiri dan meninggalkan kasur yang terbentang di lantai, sengaja dipersiapkannya untuk tidur Dong Hae. Ia melangkah pelan menghampiri Dong Hae yang baru selesai mandi dengan rambutnya yang masih basah.

“Ada apa?” Tanya Dong Hae heran.

“Kau mengenakan lagi piyama yang waktu itu aku berikan padamu.” YoonA terharu.

“Jangan berlebihan, ini bukan kali pertamanya kau melihatku mengenakan piyama inikan?”

“Hanya saja aku sangat senang, kau sangat menyukai hadiah pemberianku.”

“Semua piyamaku masih di tempat laundry, aku belum sempat mengambilnya. Kebetulan hanya piyama darimu yang tertinggal karena aku jarang memakainya.” Dong Hae mengelak.

“Bagaimanapun aku sangat senang.” Ungkap YoonA.

Dong Hae lekas menghindar, Ia bergegas duduk di sopa ruang tamu untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

“Bagaimana kalau kita berphoto?” Ajak YoonA yang tiba-tiba duduk disampingnya.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu senang berphoto?” Dong Hae mulai kesal.

“Ayolah!” Paksa YoonA yang sudah mempersiapkan kamera dari handphonenya.

Dong Hae tak bisa menolak lagi, Ia memaksakan senyumnya ke arah kamera sementara YoonA tersenyum penuh kemenangan, kepala mereka pun saling berdekatan.

“Chess!!” Ucap YoonA.

“Sudah ‘kan? Aku ingin pergi tidur dulu.” Dong Hae bergegas beranjak dari sopa.

“Tunggu.” Cegah YoonA yang baru selesai mengabadikan photo mereka berdua. Ia berdiri lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Dong Hae.

Mata mereka saling menatap satu sama lain, YoonA pun tersenyum tipis sementara Dong Hae tampak begitu heran.

“Ada apa lagi?” Tukas Dong Hae.

Tanpa ragu YoonA mendaratkan ciumannya di  pipi kanan Dong Hae. “Selamat malam!” Akhirnya. Ia lekas berlari masuk kamar, menyembunyikan dirinya di balik pintu yang sudah tertutup rapat. Ia memegangi dadanya, jantungnya berdebar dengan sangat cepat.

Dong Hae menoleh ke belakang melihat YoonA yang sudah menghilang, Ia pun tersenyum kecil dan pipinya merona merah. Ia tersipu sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium dengan lembut oleh gadis yang mulai berhasil menyentuh hatinya.

Tenda berukuran besar berdiri dengan megah tepat di halaman luas belakang rumah. Berbagai jenis bunga yang elok nan cantik menghiasi sekelilingnya. Terdapat piano di sudutnya, berdekatan dengan altar. Seorang wanita muda dengan rambut panjang terurai bersiap memainkan tiap jari-jari di tangannya untuk menghasilkan nada yang indah dari piano tersebut.

Tamu undangan pun mulai duduk di bangku yang telah disediakan. Mereka bersabar menunggu acara yang akan segera dimulai. Langit cerah dan udaranya yang sejuk menambah kenyamanan pesta yang diselenggarakan di luar ruangan itu.

Hyo Yeon terlihat sangat gugup, tangan dan kakinya gemetar. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, Ia terus saja mondar mandir di dalam kamar ditemani YoonA. Ia tak dapat berdiam diri mengingat sebentar lagi dia akan resmi menjadi istri dari orang yang paling dicintainya.

Ia kembali melihat dirinya yang sudah mengenakan gaun pengantin di depan cermin. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuang jauh-jauh semua pikiran buruk dalam benaknya. Ia berusaha untuk berpikir positif dan berharap semuanya berjalan lancar.

“Eonni, Tenanglah!!” Seru YoonA yang begitu mempesona mengenakan gaun pengiring pengantin.

“Aku sendiri juga tidak tahu, kakiku tak bisa diam. Aku bahkan ingin sekali berlari keluar dan menyelesaikan resepsi ini secepatnya.” Hyo Yeon terdengar gagap dan tangannya begitu dingin.

“Wajar saja Eonni, ini adalah pertama kalinya untukmu.” YoonA lekas mengelus pundak mempelai pengantin wanita itu.

Terdengar suara langkah seseorang dari luar sana, langkahnya semakin mendekat. Tampak di depan pintu seorang laki-laki yang mengatur jalannya pesta. “Apa kau sudah siap?” Tanyanya.

Hyo Yeon lekas mengumpulkan seluruh kekuatannya, Ia menarik napasnya dalam-dalam. “Tuhan, semoga semuanya berakhir sempurna.” Doanya dalam hati.

YoonA pun tersenyum tipis dan teraut jelas wajahnya yang senang dan ikut berbahagia. Ia melangkah pelan dengan bunga di tangannya mengikuti Hyo Yeon dari belakang.

Piano mulai dimainkan dengan lagu yang biasa didengar saat pesta pernikahan. Semua mata tertuju pada sosok pengantin mempelai wanita yang sangat cantik seperti bidadari dan indah seperti bunga di taman surgawi. Disampingnya berdiri sang Ayah yang siap melepas putri kesayangannya untuk menikah.

Hyo Yeon bernapas dari mulut, Ia menatap dengan mata berkaca-kaca Hyuk Jae yang sudah menunggunya di depan sana. Laki-laki itu pun berbisik dari kejauhan untuk memberikannya semangat. Dengan mantap Ia melangkahkan kakinya menuju altar didampingi sang Ayah, dibelakangnya YoonA mengikuti.

YoonA dengan santai berjalan di antara tamu undangan, Ia menyempatkan diri untuk melirik Dong Hae yang duduk disalah satu bangku. Ia tersenyum tipis ke arahnya lalu kembali focus pada pengantin di depannya.

“Gadis itu cantik sekali hari ini.” Batin Dong Hae yang tanpa sadar berdecak kagum pada YoonA. “Ah kalau dia tahu aku mengucapkan ini, dia pasti akan merasa besar kepala.” Ia lekas menggelengkan kepalanya.

Hyuk Jae dan Hyo Yeon pun saling mengucapkan kata setia seumur hidup. Mereka saling menatap satu sama lain lalu bertukar cincin pernikahan. Mereka saling melempar senyum untuk menghilangkan rasa gugup yang membuat tubuh mereka terasa gemetar. Hyuk Jae pun lekas mencium bibir Hyo Yeon dengan sangat mesra, sejenak mereka lupa pada puluhan pasang mata yang berada disana menyaksikan ciuman penuh rasa cinta itu.

Dong Hae dan YoonA pun saling melempar senyum dari kejauhan.

Pesta terus berlanjut dengan sangat meriah, para tamu undangan saling berbagi cerita dan guyonan. Mereka tak hentinya bercanda tawa sambil menghabiskan makanan yang tersaji.

Dari atas panggung seorang penyanyi mulai menunjukkan kemampuan vocal dengan menyanyikan lagu-lagu romantis untuk menambah kehangatan pesta. Tampak Hyo Yeon dan Hyuk Jae juga beberapa pasang kekasih berdansa. Suasana semakin ramai dan waktu terasa sangat lambat berlalu.

YoonA hanya bisa berdiri dari kejauhan, Ia tak berhentinya tersenyum melihat kebahagiaan pengantin baru itu. Perlahan Dong Hae sambil memegangi segelas anggur di tangan datang mendekatinya, Ia pun berdiri tepat di samping gadis itu.

“Sepertinya kau adalah orang yang paling bahagia di pesta ini?” Ejek Dong Hae.

“Tentu saja, aku sangat senang melihat mereka yang akhirnya menikah. Bukankah mereka berdua sangat serasi, mereka saling melengkapi satu sama lain.” Ungkap YoonA.

“Benar, Hyuk Jae sangat beruntung karena mendapatkan Hyo Yeon.” Dong Hae mengangguk.

“Kau sudah tidak sedih lagi bukan?” YoonA coba meyakinkan melihat raut wajah Dong Hae yang tampak muram.

“Semuanya baik-baik saja.” Dong Hae terus mengangguk untuk mengiyakan.

“Suatu saat nanti, kau pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar kau cintai. Seseorang yang akan membuatmu menjadi orang paling beruntung. Tapi orang itu harus seorang wanita” YoonA mengingatkan dengan nada bercanda.

Dong Hae yang baru meneguk sedikit minumannya langsung tersedak, “Apa maksudmu?”

“Kurasa kau tahu sendiri maksudku.” Ejek YoonA lalu tertawa kecil.

Dong Hae lekas merengutkan wajahnya, Ia begitu menyesal karena telah menyatakan sukanya pada Hyuk Jae di hadapan YoonA. Ia segera menghabiskan anggur yang tersisa dari gelasnya, “Im YoonA!” Panggilnya.

YoonA segera menoleh ke arahnya.

Tiba-tiba Dong Hae dengan sangat berani mendaratkan bibirnya yang masih basah di bibir indah YoonA. Gadis itu tercengang dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Ciuman singkat itu membuatnya sangat terkejut dan membawanya jauh ke negeri impian.

“Tadi malam kau mencium pipiku lalu pergi begitu saja, ini balasan untuk itu.” Bisik Dong Hae lalu beranjak dari hadapan YoonA yang tak bergerak sedikitpun.

Bekas bibir Dong Hae masih melekat di bibir manisnya, Ia bisa merasakan sisa anggur yang menempel disana.SejenakIaterhenyak dan tersudut sendirian diantara banyaknya tak yang tak begitu memperhatikannya.

Senyumnya melebar melebih jalan raya yang dilaluinya, Ia tak dapat menyembunyikan rasa senang saat dapat mengendarai motor scooter kesayangannya kembali. Ia melaju dengan santai di antara mobil dan truk yang melintas di sampingnya. Ia menikmati angin sore yang bertiup dan menerbangkan rambutnya yang terurai di belakang dan kepalanya tertutup helm yang melindungi.

Motor scooter warna kuning itu di belokkan saat berada di persimpangan dan perlahan memasuki jalan pintas agar lebih cepat menuju apartment.

“Seperti apa seharusnya sikapku saat bertemu Dong Hae nanti?” Pikir YoonA yang terus mengingat ciumannya. “Aku benar-benar sangat malu bila berhadapan dengannya. Apa ini petanda bahwa sebenarnya Dong Hae juga menyukaiku?” Ia berada di atas angin. “Tapi mungkin saja dia hanya ingin mempermainkanku.” Ia lekas menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak ingin berharap lebih karena semuanya masih belum ada kepastian.” Ia mengingatkan dirinya lagi.

MendadakIamengerem motornya, Ia berhenti sekita menememukan Dong Hae yang keluar dari tempat parkir dengan menyetirkan mobil mewah yang biasa menemani.

“Hampir saja.” YoonA bernapas lega dari balik pohon besar, bersembunyi bersama motor scooternya. Ia pun lekas menjulurkan kepalanya untuk memastikan Dong Hae sudah tak berada disekitar tempat itu lagi.

Ia kembali menyalakan mesin motor lalu melaju pelan memasuki kawasan parkir. Ia melepaskan helmnya dan bergegas meninggalkan motornya terparkir aman disana. Ia berlari kecil menuju lobi dan berhenti seketika di depan pintu lift.SekejapIasudah berada di koridor apartment, Ia berdiri tegap sambil memasukkan kode rahasia untuk membuka pintu.

Ia melangkah gontai sambil menepuk pundaknya yang penat, lalu melempar tas ranselnya ke atas sopa ruang tamu. Tiba-tiba matanya terbelalak, bibirnya terkunci rapat dan kakinya terasa begitu berat. Ia mendapati keluarganya dengan rautan wajah yang tak menyenangkan tengah duduk di ruang keluarga bersiap untuk memarahinya.

SedikitpunIatak berani untuk mendekat melihat sang Ayah yang tampak sangat geram, “Im YoonA, Putri Sulung keluarga Im yang sangat disegani. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kau tidak mengikuti ujian masuk universitas?” Tuan Im lekas mengintrogasi putrinya.

“Jadi kalian sudah tahu?” YoonA dengan wajah lugunya.

“Kemarin Appa meminta pertolongan pada temannya yang merupakan salah satu Rektor disana untuk melihat seberapa besar kemungkinan kau diterima disana. Dia sangat terkejut mengetahui kau tidak ada di daftar nama peserta yang mengikuti ujian.” Jelas Nyonya Im.

“Sejak awal aku memang sudah tidak setuju membiarkanmu hidup sendirian di Seoul. Kau sendiri yang memutuskan ingin meneruskan kuliah disini, sekarang dimana rasa tanggung jawabmu?” Tuan Im berkacak pinggang meluapkan kekesalannya pada YoonA yang duduk termenung di atas sopa.

Nyonya Im dan Yong Jun hanya bisa menyaksikan dari dekat dan tak berani membela YoonA.

“Sungguh maafkan aku! Sebenarnya aku punya alasan sendiri, Appa.” YoonA lekas berlutut memohon ampun dan meminta diberi kesempatan untuk menjelaskan.

“Sebaiknya kau pulang saja ke rumah, kau intropeksi diri.” Akhir Tuan Im.

“Sayang, bukankah masih ada pendaftaran di Universitas lain yang masih buka, YoonA bisa saja mencobanya disana.” Nyonya Im memberikan pendapatnya.

“Tidak ada kesempatan lagi, aku menyekolahkan setinggi mungkin agar bisa kuliah di UniversitasSeoul. Sekarang semuanya sudah sirna, sebaiknya kau cepat berkemas.” Tegas Tuan Im dengan nada tinggi.

“Appa.” YoonA dengan wajah kasihan terus memohon.

Nyonya Im lekas membantu YoonA berdiri, “Sudah, cepat sebaiknya kau berkemas sebelum Appa semakin marah padamu.” Bisiknya.

YoonA mulai putus asa, Ia melangkah dengan berat hati menuju kamarnya. Ia segera mengambil tas besar yang terletak di atas lemari. Nyonya Im membantunya untuk memasukkan baju-baju ke dalam tas itu.

“Bagaimana sekarang? Aku tidak bisa bertemu Dong Hae lagi.” Batin YoonA sambil berjalan pelan mengambil kotak untuk membungkus buku-bukunya. Ia duduk sejenak di bangku meja belajar lalu mulai memasukkan buku-buku itu ke dalam kotak.

Ia terhenti sejenak melihat buku-buku yang pernah dibelinya dan menatap dengan seksama buku yang sudah membuatnya berpikiran aneh dan terus menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, “Gay isn’t a mistake. Untuk apa aku membeli buku ini?” Ucapnya dalam hati lalu memukul pelan kepalanya.

Ia berdiri lalu memasukkan buku itu ke dalam tong sampah, “Kurasa Dong Hae adalah seorang laki-laki normal, dia hanya sedikit bimbang dengan perasaannya. Sampai sekarang pun aku masih bingung apa dia juga menyukaiku.” Pikir YoonA lalu tersenyum kecil. “Bukan saatnya memikirkan itu.” Ia menggelengkan kepala, “Beruntung Appa tidak mengurungku di gudang belakang rumah atau menyita semua mainanku seperti waktu kecil dulu. Lagipula sekarangkanaku sudah dewasa, jadi Appa tidak bisa berbuat apa-apa. Masih ada tahun depan untuk masuk Universitas, yang terpenting Dong Hae baik-baik saja.” Batinnya lega.

Perhatiannya kembali tersita pada peralatan menggambar yang sengaja dibelinya untuk DongHae,Iameraih benda yang terselip diantara tumpukan tas ransel. “Apa sebaiknya aku memberikan ini dulu pada Dong Hae sebelum aku pergi?”

Ia bergegas berlari keluar kamar, Ia tak menggubris Nyonya Im yang memanggilnya dan terus berlari ke ruang utama, Tuan Im dan Yong Jun hanya merautkan wajah heran melihat dirinya yang terburu-buru.

Ia lekas menggantung peralatan menggambar yang terbungkus dalam tas ransel plastic tranparant itu ke gagang pintu. “Dong Hae, sampai jumpa lagi!” Pamitnya. Ia pun segera membalikkan badan kembali ke apartment dengan berlari seperti anak kecil.

Sekejap semua barang berharga miliknya sudah berada dalam bagasi mobil. Semua anggota keluarganya sudah berada di mobil menunggunya. YoonA menyempatkan waktunya sebentar untuk mendongak ke atas, memandangi jendela apartment Dong Hae dari tempatnya berdiri.

“YoonA cepatlah masuk!” Perintah Tuan Im.

“Baiklah.” YoonA mematuhi. Ia duduk di belakang, disamping Yong Jun yang tak mau berkomentar banyak mengenai tingkah kakak perempuannya.

“Berikan handphonemu! Untuk sementara waktu sebaiknya kau tidak perlu berhubungan dengan orang lain dulu.” Pinta Tuan Im yang bersiap melajukan mobilnya.

“Tapi, Appa!” YoonA dengan nada protes.

Nyonya Im lekas menggelengkan pelan kepalanya ke arah YoonA, meminta anak perempuannya itu agar tidak melakukan perlawanan.

“Umma.” Desis YoonA. Dengan berat hati Ia mengeluarkan handphone dari kantong baju lalu diletakkannya ke atas telapak tangan sang Ayah.

YoonA menghela napas, “Kenapa semuanya secepat ini, aku bahkan tidak sempat berpamitan dengan Dong Hae.” Batinnya menangis. “Lalu bagaimana aku bisa terus berkomunikasi dengannya, Appa bahkan tidak mengijinkanku untuk memegang handphone.” Ia sambil menatap kosong keluar jendela.

Mobil pun perlahan melaju ke jalan raya dan berlomba dengan mobil lainnya. Tampak langit yang mendung menambah kemuraman hati YoonA. Ia coba membendung air mata yang hendak menetes, Ia menguatkan diri dan terus bertahan.

Hujan pun turun mengguyur, membasahi tiap jalan yang mereka lewati. Mewakili perasaan YoonA yang terpuruk saat itu.

SedikitpunIatak merasa lelah, dengan langkah gontai Ia keluar dari lift yang pengap. Ia tampak begitu nyaman mengenakan kostum sepak bola lengkap dengan sepatu dan kaos kaki panjang yang memang sengaja tak dilepasnya. Ia terlihat seperti salah satu pemain dari kesebelasan ternama yang baru selesai bertanding. Dengan tas ransel di punggung, Ia berjalan di koridor.

Dong Hae kembali mengernyitkan dahi menemukan bingkisan unik yang tergantung di gagang pintu. “YoonA.” Terkanya. “Kenapa akhir-akhir ini gadis itu senang sekali memberikan bingkisan dan menggantungkannya di gagang pintu? Apa tidak bisa dia memberikan langsung padaku?”

Ia lekas meraih benda itu, dan kembali merautkan wajah heran, “Peralatan menggambar?Adacanvas, crayon, pensil, serutan?Adaapa lagi dengan gadis ini? Selalu saja membuatku bingung.” Ia pun menggelengkan kepalanya. Matanya pun terhenti seketika melihat kartu pesan di dalamnya, Ia membuka pesan itu dengan penuh tanya. “Kelak saat kita bertemu lagi kemampuan menggambarmu sudah harus lebih baik. Aku juga akan belajar memasak untukmu, kau akan menjadi orang pertama yang mencoba masakan buatan Koki YoonA. Apa kau akan merindukanku? Aku akan sangat merindukanmu, sekarang saja aku begitu ingin melihatmu. Dong Hae, sampai jumpa!” Akhir YoonA dengan pesan yang ditulisnya.

Dong Hae lekas berbalik, Ia tak percaya gadis itu pergi meninggalkannya. Ia berlari cepat ke depan pintu apartment YoonA dan segera menekan bel tapi tak ada jawaban. Ia mengeluarkan whiteberry dari saku celananya untuk menghubungi gadis yang tiba-tiba menghilang dari sisinya.

“Maaf nomor yang ada tuju sedang berada di luar jangkauan, . . .” Suara operator wanita itu terputus.

Ia bergegas menuju lift dan turun ke bawah, lalu berdiri sejenak di lobi melihat ke sekelilingnya. “Apa sebenarnya yang terjadi?” Pikirnya. Ia berlari menuju tempat parkir untuk melihat motor scooter YoonA yang juga sudah tidak disana lagi.

“Im YoonA!!!” Teriaknya menggema, menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.

Suara langkahnya terdengar jelas menghentak di lobi perusahaan. Kakinya yang cukup panjang berjalan dengan tegap menaiki tangga escalator. Beberapa pasang mata tertuju padanya, mereka memperhatikan dengan seksama penampilan baru General Manager yang memotong pendek rambutnya seperti seseorang yang bersiap masuk wajib militer.

“Wah, Pak Lee tampan sekali! Sangat sangat tampan.” Bisik seorang karyawati pada teman sekerjanya. Mereka berdecak kagum dan mata mereka terus mengikuti tiap gerakan Dong Hae.

“Benar. Baru beberapa hari kembali dari cuti dia terlihat semakin berbeda saja.” Ungkap karyawati satunya lagi.

Dong Hae lekas menghempaskan tasnya ke atas meja, lalu meraih beberapa berkas penting yang menumpuk di atassana. Ia pun duduk di kursi kerjadan mulai memeriksa tiap lembaran kertas dalam map itu.

Ia berusaha semampunya untuk tetap focus pada pekerjaan, Ia membuang semua pikiran yang mengganggu konsentrasinya. “Dong Hae! Dong Hae! Aku akan selalu berada disisimu, Aku akan mentraktirmu.” Kata-kata yang penuh dengan kehangatan itu berdengung di telinga, bayang-bayang YoonA pun sepintas muncul dalam ingatannya.

“Gadis itu! Sejak dia pergi aku tidak bisa lagi melakukan semuanya dengan baik.” Dong Hae menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja dia pergi.” Ia menghentakkan ujung pulpennya dan menghentikan sejenak pekerjaannya.

Matanya pun lekas melirik keluar jendela lalu menyandarkan punggungnya untuk beristirahat di sela waktu sibuk. Ia kembali menoleh ke laci yang terbuka, Ia lekas terhenti menemukan peralatan menggambar yang lupa dibawanya pulang.

Ia meraih buku gambaran itu lalu membukanya. Melihat kembali beberapa gambaran yang sudah dibuatnya, “Kelak saat kita bertemu lagi kemampuan menggambarmu sudah harus lebih baik.” Ia teringat pesan YoonA. “Apa aku anak kecil?” Dengusnya kesal.

Tanpa sadar Ia kembali memainkan pensil yang tajam lalu membuat lingkaran kecil di atas kanvas putih itu. Ia terlihat begitu serius menggambar benda yang ada di pikirannya. “Im YoonA, kau lihat saja sekarang kemampuan menggambarku sudah jauh lebih baik.” Ia dengan bangga melihat hasil karyanya.

Terdengar seseorang yang tengah mengetok pintu, “Masuklah!” Ia mempersilahkan.

“Ini adalah referensi kerja dari Perusahaan Baek Joong.” Sang Sekretaris lekas meletakkan berkas itu ke atas meja.

“Apa semuanya sudah lengkap?” Dong Hae meyakinkan.

Wanita muda itu segera menganggukkan kepala, lalu membungkuk untuk permisi keluar.

“Tunggu!” Cegah Dong Hae.

Sekretaris itu memalingkan badan dengan penuh tanya.

“Bagaimana menurutmu gambar motor scooter ini?” Dong Hae mempelihatkan gambar yang tercipta dari tangannya.

“Sangat Bagus.” Wanita itu dengan mantap.

“Benarkah?”

“Tentu saja. Gambaran Pak Lee selalu sangat bagus.” Sang Sekretaris mengacungkan kedua jempolnya.

“Kalau begitu, kau boleh keluar.” Dong Hae pun mempersilahkan.

Wanita itu keluar dengan raut wajah heran, Ia menyempatkan diri untuk menengok ke belakang melihat tingkah aneh pimpinannya. Ia lalu menggelengkan kepala, bingung dan tak habis pikir pada perubahan sikap Dong Hae akhir-akhir ini.

“Adaapa denganmu?” Tanya seorang karyawati yang berpapasan dengannya.

“Aku sendiri tidak tahu, akhir-akhir Pak Lee sering kali meminta pendapatku tentang gambar yang dibuatnya.” Jelas Sekretaris itu.

“Gambar?”

“Benar. Pak Lee senang sekali menggambar  akhir-akhir ini, dia seperti anak kecil saja. Pertama dia menggambar pemandangan, dia bertanya padaku apa awan yang dibuatnya seperti kacang. Sekarang Dia meminta pendapatku tentang motor scooter yang baru dibuatnya.”  Cerita Sekretaris itu dengan semangat.

Sementara Dong Hae tersenyum penuh kepuasan dari balik ruang kerjanya. Ia juga lupa pada berkas-berkas yang masih harus diperiksa dan ditandatangani.

Napas mereka terengah-engah, mereka terus berlari dan saling berebutan bola. Hyuk Jae berhasil menguasai bola lalu membobol gawang yang tak ada keeper menjaganya.

Permainan mereka pun selesai dengan hasil akhir Hyuk Jae keluar sebagai pemenang. Ia tertawa lepas, berlari sambil mengelilingi lapangan kecil di bawah langit sore.

Dong Hae terbaring di atas rerumputan yang lembab, keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Ia menyipitkan mata agar terlindung dari sinar matahari yang masih terik. Ia merentangkan tangannya, sejenak melepaskan lelahdi antara angin berhembus lembut merasuk tubuhnya.

“Lee Dong Hae!” Panggil Hyuk Jae lalu melempar tubuhnya tepat disamping sahabatnya itu.

Hubungan mereka berdua semakin baik setelah sempat berselisih paham waktu itu. Mereka bisa dengan luluasa saling melempar guyonan dan berbagi cerita.

“Dong Hae, ada apa denganmu akhir-akhir ini? Tidak biasanya kau begitu tenang saat kalah dalam pertandingan.” Hyuk Jae dengan nada heran.

“Aku sendiri tidak tahu. Aku sedang tidak mood main bola.” Sahut Dong Hae.

“Apa karena gadis itu?”

“Im YoonA? Tentu saja tidak.” Sangkal Dong Hae segera.

“Kau tidak perlu menyangkal, aku tahu siapa kau.” Goda Hyuk Jae.

“Apa? Tentu saja bukan dia.” Dong Hae menggelengkan kepalanya.

“Menurutmu Dia akan kembali?”

“Dia berjanji akan selalu berada di sisiku, jadi suatu saat nanti dia pasti akan kembali.”

“Kenapa kau tidak temui saja Dia?”

“Aku tidak tahu dimana YoonA sekarang.” Dong Hae melukis wajah YoonA yang tersenyum di langit cerah yang tengah dipandanginya.

“Kau tidak tahu dimana dia tinggal, lalu selama ini apa saja yang kau bicarakan dengannya. Kau bahkan tidak sempat menanyakan asal usulnya.” Hyuk Jae begitu terkejut.

“Dia yang selalu mendengarkanku, dia selalu memberikan semangat untukku, dia selalu bisa membuatku tertawa, dia orang yang menerimaku apa adanya.” Ungkap Dong Hae.

“Benar juga, bukankah YoonA mendengar semua pembicaraan kita waktu itu. Lalu kau berlari untuk mengejarnya.” Hyuk Jae mengingatkan.

“Jangan ingat lagi masalah itu.” Dong Hae terlihat malu.

“Oh ya, Apa benar kau menyukaiku?” Hyuk Jae terus saja menggoda dengan senyum nakal.

“Aku memang sangat menyukaimu tapi sebagai sahabatku. Diantara semua teman dekatku, kau adalah yang terbaik. Itu sebabnya aku hanya ingin kau yang selalu disampingku, aku ingin memilikimu tapi itu sebatas sahabat saja.” Jelas Dong Hae.

Hyuk Jae pun menganggukkan kepalanya, “Aku sendiri sangat shock saat kau mengatakan hal itu. Kau benar-benar membuatku sangat takut.”

“YoonA yang menyadarkanku, dia orang pertama yang berusasah payah untuk mencari dan menemukanku. Sayang, suka, cinta adalah perasaan yang berbeda. Seperti kita sayang pada keluarga kita, atau suka akan suatu hal. Kita ingin sekali menjaga, melindungi serta terus mempertahankan mereka. Berbeda dengan cinta, meskipun kita tidak dapat memilikinya tapi kita akan selalu bersyukur dan merasa cukup asalkan orang itu bisa selalu berada didekat kita, menerima kita seperti apa kita. Tidak berpura-pura menjadi orang lain.” Ungkap Dong Hae, dalam ingatannya pun hanya ada YoonA seorang.

“Lihat! Kau jatuh cinta pada gadis itu.” Hyuk Jae terus saja menggodanya.

“Tidak. Aku hanya merindukannya.”

“Berhentilah menyangkal!” Pinta Hyuk Jae.

“Bagaimana kabar Hyo Yeon?” Dong Hae mencoba bangun lalu duduk sejenak, Ia terus mengalihkan pembicaraan.

“Dia sangat baik, tapi kau tahu sendiri kondisi wanita yang sedang hamil. Dia sering kali meminta hal yang aneh-aneh, membuatku pusing saja.” Hyuk Jae mengungkapkan keluh kesahnya.

“Hyo Yeon sedang hamil?” Dong Hae tersentak kaget. “Tapi kalian baru 2 minggu menikah.”

Hyuk Jae yang masih berbaring di atas rerumputan lekas tersenyum simpul, “Kehamilannya sudah jalan 1 bulan.”

“Jadi kau dan Hyo Yeon . . .” Dong Hae tak percaya.

Hyuk Jae segera bangkit untuk membungkam mulut besar Dong Hae.

“Hyuk Jae, kau benar-benar sangat hebat. Kau memang seorang pria sejati.” Dong Hae memuji dengan nada mengejek sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

“Sebaiknya kau juga cepat menikahlah dengan Im YoonA.” Balas Hyuk Jae.

Mereka pun saling melempar guyonan dan menggoda satu sama lain.

“Kenapa kau memindahkanku ke cabang perusahaan di Buncheon?” Hyuk Jae penasaran.

“Aku sudah bosan denganmu.” Jawab Dong Hae bercanda.

“Apa!!”

“Bercanda. Bukankah memang sudah seharusnya kau jabatanmu dinaikkan, melihat dari hasil kerjamu yang semakin baik. Kuputuskan untuk mengangkatmu sebagai kepala bagian keuangan.” Jelas Dong Hae.

Ia menghela napas lalu tersenyum lebar. Didepannya terpajang 3 mahakarya, gambar yang dibuat dengan pemikirannya sendiri. Lampu neon menyala dengan terang, memberikan sinarnya pada tiap sudut yang gelap.

Lagu dengan lyric yang sangat indah berkumandang dari speaker computer di ruang kerja. Dong Hae memalingkan tubuhnya dan melangkah ke depan, Ia membuka laci kecil disamping meja kerja lalu meletakkan kembali plester yang sudah selesai digunakannya.

Ia terhenti sambil mengernyitkan dahinya, menemukan memory card yang masih tersimpan disana. “Bukankah ini milik YoonA.” Ucapnya yakin. “Jadi dia masih belum mengambilnya.”

Ia pun mulai tertarik dengan benda kecil itu, lalu segera membuka kotak penyimpanannya yang transparent. Kemudian duduk di kursi lalu meraih card reader untuk membuka file di dalamnya.

“Mari kita lihat, apa saja yang disimpan YoonA didalam sini.”

USB meneliti data, Ia lekas mengarahkan mousen menuju My Computer dan segera membuka icon memory card diantara hardware lainnya.

“Wah, banyak sekali filenya.” Raut wajahnya pun berubah-rubah dan tak dapat terbaca. Ia semakin penasaran membuka folder yang ada satu persatu.

“My Dream Boy.” Ia lekas membuka folder dengan nama yang begitu menarik perhatiannya. Ia tercengang dan begitu terkejut, senyum di wajahnya pun mengembang. Pipinya merona merah dan tersipu malu mendapati ratusan photonya tersimpan disana.

“Im YoonA, sepertinya kau memang benar-benar sangat menyukaiku.” Ia tak dapat menyembunyikan kebahagiannya. Ia mulai bertingkah seperti layaknya seorang remaja yang tengah dilandaasmara.

Ia pun keluar dari folder itu menuju folder lainnya dimana photo YoonA berkumpul. Ia melihat ekspresi berbeda dari wajah gadis itu, sesekali Ia tertawa kecil melihat photo-photo konyol yang tersimpan rapi disana. YoonA yang memonyongkan bibir, raut wajah yang tengah cemberut, serta wajah memelas. Ia semakin terpesona pada kecantikan alami gadis yang begitu dirindukannya.

Tanpa pikir panjang, Ia mencetak semua photo itu. Ia pun duduk di lantai untuk memotong dan meratakan tiap sisi photo yang sudah selesai dicetak. Ia tampak begitu bersemangat menempelkan semua photo YoonA di dinding ruang kerja pribadinya.

“Mulai sekarang, kemana pun aku melangkah aku hanya akan melihatmu.” Desisnya lalu sejenak meluangkan waktu malamnya yang singkat untuk memandangi photo-photo gadis itu yang terpajang memenuhi tiap sisi dinding.

Ia juga menyempat diri sejenak untuk memasang kembali memory card ke dalam whiteberry milik YoonA. Ia duduk kembali di bangku panjang, sambil menyalakan whiteberry itu.

“YoonA bahkan menggunakan photoku sebagai photo pembuka.” Ungkapnya bahagia.

Ia mengutak-atik barang yang bukan miliknya dan melihat-lihat isinya. “10089, nomor peserta ujian.” Desisnya saat membuka note yang tersimpan disana.

Dong Hae hanya menatap heran pada kedua orang yang tengah memperbaiki aliran listrik di apartment yang pernah ditempati YoonA. Ia berlalu di hadapan mereka dan bergegas memasuki lift yang hampir tertutup.

Ia berdiri sejenak di dalamsanasambil membenarkan kancing lengan kemeja. Ia juga menggaruk alisnya yang gatal, lalu kembali pada posisi nyaman di dalam ruangan yang sempit dan pengap itu.

“Apa sudah ada orang lain yang menghuni apartment YoonA? Cepat sekali! Kenapa tidak YoonA saja yang kembali kesana.” Harapnya dalam hati.

Ia berdeham lalu melangkah menuju lobi. Ia bergegas bersama tas ransel di punggungnya berlari menuju mobil yang terparkir di depansana. Terdengar jeritan whiteberry yang menghentikannya, Ia bergegas meraih benda itu dari kantong celana.

“Adaapa?” Dong Hae terdengar dingin.

“Nona yang waktu itu melamar menjadi Guru Tk sudah datang menunggu anda.”

“Apa jadwal interviewnya hari ini?” Dong Hae tampak ragu.

“Iya Pak.”

“Padahal aku harus berangkat kerja. Katakan padanya untuk menunggu, aku akan segera kesana.” Ia pun menutup panggilannya. “Sebaiknya aku ke kantor dulu, karena ada rapat penting yang harus kuhadiri.” Ucapnya sambil melihat jam di tangan.

Ia pun segera masuk mobil dan melaju menuju jalan raya. Sinar terik matahari pagi membias masuk melalui kaca belakang mobil. Cahayanya yang terang juga terpantul di kaca spion membuat Dong Hae sedikit kesulitan melihat mobil yang melaju di belakangnya.

SejenakIaduduk termenung di atas bangku panjang di bawah pohon besar yang rindang. Ia pun tak segan melempar senyum dan tertawa lepas menyaksikan para murid yang tengah asyik bermain bola di tengah lapangan.

Tiba-tiba bola menggelinding ke arahnya, YoonA segera menangkap bola itu lalu melemparkannya ke arah mereka.

“Noona!” Teriak mereka. “Apa kau ingin ikut bermain? Kami kekurangan satu pemain.”

“Apa aku boleh ikut bermain?” YoonA tak percaya.

Mereka pun lekas mengangguk.

YoonA menyambut dengan sangat gembira, Ia lekas berlari kecil ke arah lapangan. Meskipun tengah mengenakan rok panjang yang menutupi hingga lututnya, Ia tak merasa risih sedikitpun. Ia begitu bersemangat berebut bola dengan para murid dari kelas nol besar.

Seseorang dari kejauhan terus saja memperhatikan tingkahnya yang kekanak-kanakan. Ia melangkah pelan dan terlihat sedikit ragu, Ia tak percaya akan bertemu gadis yang sangat dirindukannya di tempat itu.

Bola kembali menggelinding keluar lapangan dan berhenti tepat di kaki Dong Hae. YoonA yang berlari mengejar lekas tersenyum tipis mendapati Dong Hae yang sekarang berdiri di hadapannya.

“Lee Dong Hae, kau terlihat semakin tampan saja dengangayarambut barumu.” YoonA melemparkan pujiannya. “Apa kau ingin ikut bermain?” ajaknya dengan begitu tenang.

Dong Hae terhenyak, matanya mulai berkaca-kaca. “Im YoonA, kemana saja kau selama ini?”

“Ayolah! Kalau kau menang aku akan memasak untukmu, …” YoonA mengalihkan pembicaraan. “Kalau aku menang pun akan memasak untukmu.” Akhirnya lalu berlari lagi ke arah lapangan bersama bola di tangannya.

Seperti tak terjadi apapun diantara YoonA dan Dong Hae, mereka bermain seperti biasanya. Saling berkejaran berebut bola dan mempertahankannya dengan seluruh kemampuan yang ada. Mereka terlihat begitu sangat ceria dan tak ada sedikit pun beban di pundak mereka.

Terdengar tawa dan teriakan kemenangan di sela pertandingan. Teraut beberapa wajah yang kecewa karena kekalalah, tapi mereka tetap tersenyum dan menerimanya dengan ikhlas.

Bel berbunyi, petanda pelajaran akan segera dimulai.Paramurid pun berhambur beranjak dari halaman belakang menuju kelas mereka masing-masing. YoonA menyempatkan diri untuk berkompak dengan tiap murid yang satu tim dengannya. “Kerja bagus anak-anak, lain kali aku akan mentraktir kalian.” Ia masih tetap sama seperti yang dulu, selalu bisa membuat orang lain senang meskipun hanya dengan melihatnya.

“Jadi kau wanita yang melamar menjadi Guru baru di TK-ku?” Dong Hae dengan yakinnya.

YoonA pun mengangguk pelan sambil menyapu keringat di dahinya. “Kulihat lowongannya di Koran dan di Internet, disana tidak tertulis harus lulusan sarjana. Jadi aku coba saja.” Jelasnya.

“Menurutmu kau akan diterima.”

“Kenapa tidak, pemilik taman kanak-kanak ini adalah teman baikku.” Bisik YoonA pada Dong Hae yang duduk sangat dekat dengannya.

“Kau percaya diri sekali.” Dong Hae meremas rambut YoonA.

YoonA pun tersenyum kecil, “Tentu saja, sekarang kepercayaan diriku sudah meningkat 85%.” Sahutnya dengan nada bercanda.

“Kapan kau tiba diSeoul?”

“Tadi malam. Aku ingin sekali bertamu ke apartmentmu, tapi sepertinya kau sudah tertidur pulas.” Ungkap YoonA.

“Jadi, kau kembali ke apartmentmu?” Dong Hae tampak kaget.

“Memangnya kau pikir aku akan tinggal dimana lagi kalau tidak disana. Lagipula aku sangat merindukan tetanggaku yang tampan ini.” YoonA menyenggolkan bahunya menggoda Dong Hae.

“Kau semakin terbuka saja tentang perasaanmu.” Sahut Dong Hae.

YoonA hanya membalas dengan tawa kecil.

“Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau tidak mengikuti ujian masuk universitas?” Dong Hae mulai serius dengan kata-katanya. “Kau meninggalkan ruangan karena ingin mencariku, aku merasa sangat bersalah padamu.”

“Kenapa semua orang harus tahu lebih dulu sebelum aku memberitahukan pada mereka.” YoonA menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

“Im YoonA.” Dong Hae menatap tajam ke arahnya dengan penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa, aku sangat senang karena akhirnya kau baik-baik saja.” YoonA mengelus punggung Dong Hae. “Kebetulan teman baik ayahku salah satu orang penting di UniversitasSeoul, berkat orang itu aku bisa mengikuti ujian susulan. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi.” Ia coba menenangkan.

“Aku benar-benar tidak berguna, karena di saat kau sedih aku justru tidak ada disampingmu.” Dong Hae terus menyalahkan dirinya sendiri.

YoonA lekas memegangi dagu Dong Hae dan mengangkat wajah tertunduk laki-laki itu, Ia menatap penuh kelembutan mata sipit Dong Hae yang indah. “Dong Hae, kenapa kau jadi sangat sensitive seperti ini.” Ejeknya. “Semuanya sudah berlalu, jadi tak ada yang perlu kau cemaskan lagi. Lagipula orang yang berjanji untuk selalu disisimu itu adalah aku, jadi biar aku saja yang selalu meminjamkan bahuku ini untukmu.”

“Im YoonA.”

“Sudah berhentilah terus merasa bersalah. Ayo kita makan! Aku sangat lapar.” YoonA bangkit dari duduknya dan segera menarik tangan Dong Hae untuk beranjak dari bangku panjang yang mereka duduki.

Mereka pun berlari kecil keluar melewati gerbang depan. Mereka saling memberi semangat dengan mengepalkan tangan. Mereka serentak memasang helm dan bergegas menaiki motor scooter milik YoonA.

Dong Hae dengan pesona yang terpancar dari wajahnya, menyalakan motor itu sementara YoonA duduk di belakangnya. Tangan gadis itu melingkar dengan sangat erat di pinggangnya.

Motor scooter itu melaju membawa mereka menembus angin yang bertiup di jalan raya yang sepi, hanya beberapa mobil melintas mendahului mereka. Matahari mulai meninggi memancarkan sinarnya yang terik, awan putih ikut bergerak mengikuti mereka.

“Apa benar kau tidak perlu bantuanku?” Tanya Dong Hae yang tampak enggan beranjak dari dapurnya itu.

“Sekarang kemampuanku memasakku sudah lebih baik, jadi kau tidak perlu khawatir lagi.”  YoonA dengan penuh percaya diri sambil memasang celemek ke tubuhnya.

“Ingat, terakhir kali kau hampir saja membakar apartmentku.” Dong Hae masih meragukan gadis itu.

“Cepat pergilah, semua akan baik-baik saja. Aku akan memasak makan malam yang special untukmu.” YoonA lekas mendorong pundak Dong Hae keluar dari ruang dapur.

“Kau tidak perlu terburu-buru, berhati-hatilah!” Teriak Dong Hae yang terus saja mengingatkan.

YoonA menjulurkan leher untuk memastikan Dong Hae sudah tak berkeliaran di sekitar ruangan itu lagi. Ia tersenyum simpul dan memulai uji coba pertama setelah lulus dari kursus memasak yang diikutinya.

Dong Hae melangkah pelan memasuki ruang kerja pribadinya, Ia menyempatkan dirinya sebentar untuk membenarkan salah satu photo YoonA yang lemnya sedikit terbuka. Ia tersenyum penuh kepuasan mendapati wanita yang selama ini selalu dirindukannya sekarang berada sangat dekat dengannya. Ia berjalan ke arah laci kecil, tempat penyimpanan barang berharga. Ia mengambil whiteberry milik YoonA yang masih betah bersembunyi disana.

“Dong Hae, kau dimana?” Teriak YoonA memanggil-manggil namanya.

Dong Hae tak mendengar, Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

YoonA masuk ke ruangan dimana pintunya terbuka itu. Pikiran nakal terlintas dalam benaknya,  Ia mengendap-endap dengan langkah yang sangat pelan dan coba mengejutkan Dong Hae. Namun langkahnya terhenti, Ia begitu takjub menemukan ratusan photo dirinya yang terpajang memenuhi seluruh sisi dinding di ruangan itu.

Matanya tak berkedip sedikit pun, senyum pun mengembang di wajahnya yang cantik. “Darimana kau mendapatkan semua ini?” Desis YoonA yang menemukan berbagai macam pose dan ekspresi menghiasi tempat itu.

“YoonA!!” Dong Hae memalingkan tubuhnya terkejut. “Kenapa?” Ia lekas mengarahkan kakinya mendekati YoonA yang masih takjub dan terpaku pada ratusan photonya.

“Aku tidak percaya kau membuang semua photo Hyuk Jae dan menggantinya dengan photoku, bahkan ini jauh lebih banyak.” Ungkap YoonA dengan mata berkaca-kaca.

Dong Hae meraih tangan YoonA lalu menyerahkan whiteberry yang selama ini ada padanya. “Kau menyimpan sangat banyak photoku di dalamnya, kenapa aku tidak boleh mencetak semua photomu dan memajangnya disini.” Jelasnya.

“Hanya saja.” YoonA terdengar gagap. “Kau juga menggambar!!” Serunya gembira menemukan beberapa karya Dong Hae juga terpajang disana.

“Begitulah, sejak kau pergi aku senang sekali meluangkan waktu untuk menggambar.” Dong Hae tersipu lalu menatap dengan lembut dan penuh kehangat kedalam mata besar YoonA yang indah. Ia pun melempar senyum kecilnya dan membuat YoonA tertawa kecil.

“Oh, kau juga membeli piano classic!” YoonA semakin tak percaya. Ia berlari kecil ke arah piano yang berdekatan dengan jendela.

“Apa kau ingin aku memainkannya lagi untukmu?” Dong Hae yang mengikuti dari belakang lekas menawarkan diri untuk menunjukkan bakat lain yang terpendam dalam dirinya.

“Aku ingin kau mainkan SNSD – Forever.” Pinta YoonA yang sudah duduk di bangku panjang depan piano.

“Apa sebaiknya aku mengambil penyumbat telinga dulu.” Dong Hae dengan nada mengejek.

YoonA lekas melototkan matanya, “Kau pikir suara masih sejelek dulu, sekarang suaraku sudah mengalami banyak kemajuan. Jadi kau mainkan saja dengan tenang.” Kesalnya.

Dong Hae tertawa kecil lalu duduk tepat di samping gadis itu, “Baiklah, SNSD – Forever.” Ia pun mulai mengingat lagi nada dari lagu itu.

“기분 좋은 바람을 따라 눈이 부신 저 하늘 아래,  아름다운 노래와 좋은 향기로 가득한 너와 걷는 길, 기억하니 처음 만났던 어색하고 낯선 시간들, 서툴고 어렸던 날 그저 말없이 지켜준 네게 고마워.” Suara YoonA yang merdu membuat Dong Hae terhenyak.

Dong Hae pun semakin asyik memainkan pianonya sambil sesekali mencuri pandang ke arah YoonA.

“오랜 세월이 흘러도 영원히 너와 꿈꾸고 싶어.” YoonA mengakhiri lagu itu dengan sangat indah.

Dong Hae tertegun dibuatnya dan lekas bertepuk tangan, “Im YoonA, apa ini benar kau? Bagaimana mungkin beberapa bulan tidak bertemu suaramu bisa semerdu ini.” Ejeknya lagi sambil menyenggol bahu gadis itu.

“Asalkan kau mau berusaha, kau pasti bisa.” YoonA membanggakan dirinya. “Ayo kita makan malam! Makanannya sudah siap.” Ajaknya segera.

“Im YoonA!!” Cegah Dong Hae segera. Ia lekas menarik tangan YoonA dan meminta gadis itu untuk kembali ke tempat duduk.

“Kenapa?” YoonA dengan wajah bingung.

Dong Hae kembali tersenyum tipis, matanya menatap lembut ke arah gadis itu. “Adayang ingin aku katakan padamu.” Ia terdengar bingung merangkai kata.

“Katakanlah!”

“Aku ingin sekali bisa mengenal lebih jauh dirimu. Selama ini kau yang selalu mendengarkan curahan hatiku, selalu datang untuk menghiburku. Kau seperti seorang malaikat yang tercipta untuk menyelamatkanku.” Tersimpan berjuta makna dari tatapan Dong Hae dan kalimat yang terucap dari bibirnya membuat YoonA sangat tersentuh.

“Dong Hae.” Desis YoonA.

“Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri. Aku tidak pernah mendengar sedikit pun tentang kehidupanmu. Bukankah aku sangat egois?”

YoonA menggelengkan kepalanya, “Tentu saja tidak. Aku sangat senang bisa selalu menjadi pendengar setiamu. Kau channel radio nomor satu di hatiku.”

“Channel Radio?”

YoonA mengangguk, “Seperti channel radio, tidak perlu melihatmu menjadi orang lain untuk menutupi siapa dirimu. Cukup menjadi dirimu dengan caramu sendiri. Frekuensi 1015, Hae Radio.” Ia sambil mengusap kepala Dong Hae dan tertawa kecil.

“Baiklah, Hae Radio.” Dong Hae setuju. “Sekarang biarkan aku membalas semua kebaikanmu itu. Aku ingin tahu apa saja yang pendengar setiaku ini suka dan juga dibencinya.”

“Kalau begitu, kau cukup berada disisiku saja seperti ini.”

Tangan mereka saling berpegangan, mata mereka menatap satu sama lain dengan penuh perasaan cinta.

“Mulai dari sekarang kita akan selalu menghabiskan waktu bersama. Masih banyak hal yang belum kita lalui, masih banyak pertualangan lain yang akan kita jumpai.” YoonA mengungkapkan keinginannya.

Perlahan Dong Hae pun mendekatkan wajahnya.

YoonA hanya terdiam membisu, bibirnya terkunci rapat dan jantung berdenyut kencang. Ia dapat merasakan darahnya yang mengalir dengan sangat cepat. Ia membiarkan tangan laki-laki itu menyentuh lembut pipinya.

Wajah Dong Hae semakin mendekat, bibirnya yang lembab menyentuh bibir kecil YoonA untuk kedua kalinya. Gadis itu tak juga melakukan perlawanan, Ia menutup matanya dan tangannya terangkat lalu berhenti tepat di dada Dong Hae.

Beberapa detik yang berlalu terasa begitu lama, seakan waktu berhenti. Bibir mereka masih melekat satu sama lain dan napas mereka saling bertukar. Musik yang mengalun lembut dari speaker computer pun membuat sentuhan hangat penuh kasih itu terus berlanjut.

Tiba-tiba YoonA membuka mata dan melepaskan bibirnya menjauh.

“Kenapa?” Dong Hae lekas menyembunyikan raut wajahnya yang merah, Ia tampak salah tingkah.

“Aku lupa mematikan kompor.” YoonA dengan wajah lugunya.

“Apa!!” Dong Hae tersentak kaget.

YoonA lekas tersenyum lirih, Ia bergegas beranjak keluar dan berlari ke arah dapur diikuti Dong Hae.

“Sampai kapanpun kau tidak pernah berubah, kau tetap saja YoonA yang ceroboh.” Ejek Dong Hae.

“Maafkan aku!!” Ia tergesa-gesa.

Mereka saling melempar tawa kecil sambil duduk manis di kursi meja makan yang bundar. Mereka duduk bersebelahan dan saling menyuapkan makanan. Tercium aroma sedap yang sangat menggoda dari tiap masakan yang tersaji disana.

“Bagaimana?” Tanya YoonA.

“Sangat enak.” Dong Hae melemparkan pujiannya dan tampak begitu lahap menyantap seafood kesukaannya.

“Sekarang cobalah Es Chocolate Caramel-nya.”  Pinta YoonA sambil mendekatkan gelas besar dengan hiasan sekupas jeruk di ujung gelas.

Dong Hae segera meminumnya, “Aish …” Ia memuntahkan minuman dingin yang segar itu.

“Kenapa?” Tanya YoonA panic.

“Apa rasanya memang asin?”

YoonA kembali merautkan wajah lugunya yang polos, “Sepertinya aku salah memasukkan ramuan, gula jadi garam.” Ungkapnya.

Dong Hae tertawa kecil lalu mengusap rambut YoonA yang dihiasi jepitan warna kuning. “Tidak apa-apa, setidaknya kau sudah berusaha.”

Mereka pun kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda.

Langit gelap semakin menjauh, bintang yang berhamburan berkelap-kelip dengan sangat indah.

Mulai dari saat itu mereka hanya akan melihat ke depan dan berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan. Tak perlu kembali ke masa lalu, yang terpenting apa yang terjadi sekarang. Selama masih ada orang yang peduli dan berada disisi juga selalu memberi dukungan. Maka kau tidak akan pernah merasa sendirian di dunia yang penuh dengan segala macam masalah yang membuatmu berpikir untuk mengakhiri hidupmu. Biarlah semua berjalan seperti adanya dan jangan berhenti berharap serta selalu berusaha dengan melakukan yang terbaik.

THE END

~Just Stay By My Side~


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * ochalicious says:

    y ampun mereka sweet bgd . .
    suka deh sm kata2 di paragraf terakhir . .
    puas deh sama endingnya . .
    makasih y un . .
    next ff d tunggu lho . .

    | Reply Posted 5 years, 4 months ago
  2. * Nciz Krisna says:

    wah, di sini semua FF Yoonhae….
    senengnyaa😀
    nyari FF Yoonhae kan susah *terutama yg b.indo,
    hehehe

    baca dari part1 mpe akhir
    tp commentNa jadi 1 di sini gpp ya, chingu
    wah, endingnya keren,
    perjuangan Yoona patut di acungi jempol
    hahaha
    nice story

    | Reply Posted 5 years, 4 months ago
  3. * mimi says:

    suka bgt deh endingnya uni
    aku suka bgt sama fanfic2 yg dibikin uni, aku sering loh mampir ke blog unie yoonhae hehe
    salam kenal ya

    | Reply Posted 5 years, 4 months ago
  4. * HaenA says:

    wuaah, daebak!!
    YoonHae so sweet banget! Jdi senyum2 sendiri bacany,,
    dtunggu ff slnjutny,
    hwaiting!!

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  5. * sylvia.monica22 says:

    wuah..
    Yoonhae..
    Ffnya serasa nyata…
    Author.. Ffnya kerennnnn…😀
    yoonhae..

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  6. * Noniiii says:

    WaAaaahhhh cerita nya kereeeen… D tunggu ff selanjutnya..
    Salam kenalll readerrr baru d sini… *bow 90 derajat bareng yoonhae

    | Reply Posted 5 years, 1 month ago
  7. * leeyooneun says:

    keren banget … The Best pokoknya
    YoonHae so sweet
    FFnya nyata banget
    jd makin suka sama YoonHae
    ^^v

    | Reply Posted 5 years, 1 month ago
  8. * ucie says:

    aku sangat sangat suka dengan ceritanya,,,,
    yoona dan donghae

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  9. Aku udh selesai baca nya pas tadi malam .. Tapi baru bisa comment skr ..

    Semalam sinyal nya lg kacau bgt eonni .. Gpp yagh kalo comment part 5,6,7,8 nya aku ringkas jadi satu disini??

    Sumpah nie FF keren deh .. Aku ampe’ ribut2 ndri tengah malem baca nya ..
    Ketawa2 ndri lah .. Deg .. Deg .. Kan lah ..
    Gila,,berasa bgt deh .. Feel nya itu loh,,dapet bgt ..

    Yoona eonni juga cinta bgt ma Hae oppa .. Walau marah,,tetep ajah Hae oppa di no.1 kan ..

    Geregetan nya dapet .. Buat aku penasaran terus di setiap part nya ..
    Huuuaaa .. Like it deh pokok nya ..

    Eonni,,aku tunggu karya2 terbaru nya yagh .. Moment2 YoonHae juga aku tunggu .. Kalo ada info2 lg,,sharing ya eonni ..🙂

    Oke deh .. Terus berkarya .. Aku jadi suka couple YoonHae,,gara2 baca FF buatan eonni nie ..
    Nagih pula baca nya ..
    Hee ..

    Keep writing !! And Fighting !!

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  10. * lili says:

    iiih saya suka BGT ama ni FF!!bikin FF yoonhae lagi yaaa nyehehehe

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  11. * Adel13 says:

    Woww.. keren banget! kata-katanya menyentuh banget🙂

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  12. * ayomi says:

    kerrrrrrreeeennn!!!

    | Reply Posted 4 years, 7 months ago
  13. * aegi says:

    ah~ manis banget
    sukkaaaa~😀

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  14. * shequeen says:

    “plok plok plok plok”
    kereen bangeett hahahaha
    good job!! ^^

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  15. Huaaaa .. finish ! I Like it ! eon bikinnya gak terburu buru. Jadi feelnya dapet. Awalnya aku kesel sama HyoHyuk yang selalu muncul,padahal aku nunggu banget bagian YoonHae. tapi aku jadi suka keseluruhannya kok,bagus bgt.

    Oh ya,aku udah baca dr part 1,tapi baru comment di part ini,mianhamnida unnie..hehehe.

    YoonHae jjang..! YoonHae the best !
    terus berkarya yah eon.. fighting !

    | Reply Posted 4 years, 5 months ago
  16. * *Polaris says:

    ah, so sweet…
    Keep wraiting ya..
    Bkin lnjutnnya jga gk papa..
    Ok😉

    | Reply Posted 4 years, 5 months ago
  17. * Deery00ng says:

    Bagus unN , ,
    crita.x jga pnjang jd puas bgt deh bca.x , ,

    unN,Jngan b0sen” y buat nulis ff uri y0onhae c0uple trsayang , ,^^

    y0onhae jjang , ,
    unNIE jjang🙂

    | Reply Posted 4 years, 4 months ago
  18. * LaDy_QueeNita says:

    endingnya kereeeen, ^^
    maaf yaa baru sempet komment di part terakhir ajaa,😀

    boleh ngasih saran gak unnie ?😀
    ff selanjutnya ‘kalau bisa’ ditaro POV nya dong, soalnya kadang2 aku rada bingung ngebedain POV nya, hehehe

    ditunggu karya2 selanjutnya,
    KEEP WRITTING AND FIGHTING !! ^^

    YONHAE JANG !!😀

    | Reply Posted 4 years, 4 months ago
  19. * Winda says:

    Uwaaawww kereeenn,
    DAEBAAKKK🙂
    di tunggu ff yoonhae yg lainnya

    | Reply Posted 4 years, 4 months ago
  20. * Salsa_YH says:

    mian br coment,br nemuin ni crita…

    ya ampun…crita’a kren bgt bgt bgt…akhirnya sweet bgt Yoona eonni dan Donghae oppa..

    ditunggu FF selanjut’a min…

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  21. * ChaEkha says:

    baggoooooeeesssss bnget critanya…
    Ending yg bahagia..
    Akhirny yoonhae brsatu kmbali….🙂

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  22. * Elsa says:

    Kereenn!! harusnya mereka sampai nikah pasti seru!! DAEBAK!!🙂 Keep writing~^^

    | Reply Posted 4 years, 1 month ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: