YoonHae Fanfics Library



[Three-Shots] Undead Love (Part 1)

yoonhaebum

Author : YoonHaeHyuk

Genre : [3Shots-1], Angst/Hurt

Cast :

Lee Donghae (SJ)      –           Lim Dong Hae

Kim Kibum (SJ)          –           Kim Ki Bum

Im YoonA (SNSD)      –           Lim Yoon Ah

Rating : PG-15

Title : Undead Love

Note by Author :

Pertama-tama… aku ingin meminta maaf kepada para Pyros yang mungkin membaca ff ini. Disini aku memasukkan Kibum dalam kisah asmara yang ada. Dan malah menjadikan Yoong-Hae sebagai saudara. Bukan apa-apa sih… Hei! Apa kalian memperhatikan, Hae dan Yoong itu cukup mirip!😀 itulah alasannya.

Tentu aku tetap YOONHAE SHIPPER dan aku tarus begitu. Bukan bermaksud berpaling dari uri Yoong-Hae. Aku hanya ingin membuat kisah ini menjadi lebih…err, kalian akan menilainya sendiri jika sudah membacanya. ^^

Tanpa perlu menambah cuap-cuap tak jelas, langsung saja ya. “Kisah ini ku dedikasikan untuk kalian, para YoonHae dan juga para YoonBum (v^_^v) untuk readers umum juga boleh, sangat. Juga untuk Riana eonni, terima kasih atas FanPICTon-nya di Yoonghaeutiful J”

Happy Reading All~~

~Undead Love 1~

Aku menatap namja di depanku dengan tenang. Hanya bersandar diam dan tetap menunggu apa yang akan di katakan orang itu. Kulihat matanya tampak gelisah meskipun aku tahu dia tetap berusaha tenang sepertiku. Tampaknya apa yang akan di katakannya sesuatu yang sangat penting.

“Jadi, Ki Bum-ah.” Akhirnya ia membuka suara. Aku memajukan sedikit badanku dan mulai mencoba mendengarkan. “Aku tidak yakin Yoong akan menerima kehadiran barumu. Mengingat dia anak yang tertutup dan penuh prasangka. Tapi, aku benar-benar meminta tolong padamu.”

Aku tersenyum kecil “Tak masalah hyung. Aku telah berjanji akan membantumu sebisaku. Dan inilah yang akan aku lakukan.” Orang itu mengangguk pelan seakan untuk dirinya sendiri.

“Apa kau yakin? Aku takut karena Yoong—”

“—orang yang penuh prasangka. Ya, kau telah berkali-kali mengucapkannya Hae hyung.”

“Aku hanya ragu Ki Bum.”

Aku menepuk pundaknya pelan untuk sekedar menenangkannya. “Aku akan berusaha semampuku. Demi kau, dan dongsaengmu.”

“Gomawo, Ki Bum-ah.”

“Hm, kalau boleh aku bertanya. Mengapa kau menginginkanku untuk mendekati Yoon Ah? Apa ada masalah dengan kalian?”

“Aniyo. Tidak ada masalah dengan kami. Tetapi aku. Dan itu berpengaruh ke Yoong.” Dong Hae hyung menunduk.

“Katakan padaku, mungkin aku bisa membantumu hyung.”

Dong Hae hyung langsung menatapku dan tersenyum “Tidak apa, kau sudah membantuku sejauh ini. Itu sudah bantuan yang besar bagiku.” Aku mengangguk dan berhenti bertanya meski aku tahu ada yang disembunyikan oleh mantan senior kampusku ini.

Mungkin kau tidak berkata kali ini, hyung. Tapi suatu saat mungkin kau akan mengatakannya.

“Baiklah. Aku senang membantumu. Katakan saja jika kau perlu bantuan lagi, oke?” Dong Hae hyung tersenyum lagi padaku.

~Undead Love 1~

Di taman kampus..

Sudah sejam lebih aku hanya memperhatikannya dari jauh. Memperhatikan semua gerak geriknya meski sebenarnya ia sedikit bergerak hanya untuk merenggangkan badan lelah karena terlalu lama membaca.

Lim Yoon Ah. Gadis itu, ya gadis itu yang dimaksud Dong Hae hyung. Seseorang yang seharusnya aku dekati. Seseorang yang seharusnya kubuat ia mencintaiku. Demi Dong Hae hyung…

Tampaknya apa yang selalu dikatakan Dong Hae hyung tentang gadis itu benar. Ia sosok yang terlihat dingin dan acuh pada sekitar. Terlihat dari tatapan matanya yang serius dan hanya terfokus kepada buku yang dibacanya, bahkan hanya sesekali mendelik dan tersenyum singkat saat orang lain menyapanya. Apa akan mudah mendekatinya?

Akhirnya aku berjalan mendekati pohon dimana ia duduk berteduh membaca buku dan berdiri di hadapannya. Merasa ada yang melindungi cahaya, Yoon Ah mendongak dan menatapku dingin dibalik kacamata minusnya.

“Hai, Lim Yoon Ah.” Aku mencoba beramah-tamah.

“Siapa kau? Apa aku mengenalmu?” tanya Yoon Ah ketus dan melepas kacamatanya.

“Tidak. Ini pertama kalinya kita bertemu.”

“Apa maumu? Kalau tak ada yang penting, lebih baik jangan menggangguku.” Yoon Ah mengeluarkan tatapan sinisnya padaku. Hm, apa yang harus aku katakan sebagai alasan? Jujur saja, aku mendatanginya tanpa persiapan.

“Ani, aku hanya ingin kau tahu namaku. Kim Ki Bum imnida. Senang berkenalan denganmu.” Aku segera menunduk hormat dan kemudian langsung pergi meninggalkannya.

Diantara langkahku, aku menyempatkan diri menoleh ke belakang dan mendapati Yoon Ah yang kembali menekuni bacaannya tadi namun tampak sekali bahwa ia tak fokus lagi.

Awal yang bagus, kurasa…

~Undead Love 1~

Di Café,

“Kau sudah bertemu dengan Yoon Ah?” tanya Dong Hae hyung.

“Kami sudah berkenalan.” Dong Hae hyung menghela nafas. “Meski tidak secara umum.” Aku meringis.

“Jadi menurutmu, apa kau bisa mencuri hatinya?” Dong Hae menatapku cemas. Aku tidak menjawab dan malah meminum mocca pesananku.

“Hei, menurutmu bagaimana?” Hae hyung terus mendesakku.

“Menurutmu sendiri hyung?”

“Ya! Bukannya kau yang menjalaninya?” heran Dong Hae.

“Dan bukannya kau yang menyuruhku? Kukira kau sudah punya rencana setelah ini.” Aku tetap bersikap tenang dan kini malah memotong rolls cake.

“Aku tak sempat memikirkannya. Aku terlalu takut rencanaku takkan berhasil. Bahkan sebelum semuanya berakhir.” Ia menutupi wajahnya dengan tangannya tampak frustasi.

“Semuanya berakhir?” Aku berhenti memotong dan menatapnya. Dong Hae hyung tampak panik.

“Eh, aniyo. Gwenchanayo.” Dong Hae hyung berusaha tersenyum padaku yang tidak menggubris perkataanya dan malah terus menatapnya tajam meminta penjelasan. ‘Jawab aku hyung, apa yang terjadi padamu.’

“Ada apa Ki Bum-ah? Tenang saja, tidak ada apa-apa. Itu bukan kata yang berarti khusus. Aku hanya mencemaskan Yoon Ah.”

Baiklah aku menyerah, bahkan kali ini kau tetap tidak mau mengatakannya. Ada apa sebenarnya hyung? Kau harus mengatakannya padaku lain kali.

~Undead Love 1~

“Yoon Ah-ssi. Kita berjumpa lagi.” Aku menyapanya di gerbang luar kampus sepulang kelasku. Tampaknya kelasnya juga sudah selesai, aku melihat buku-buku yang dipeluknya dengan sebelah tangan.

“Oh, kau.” Yoon Ah mendelik sekilas dan terus saja melangkah tanpa memandangku lagi.

“Eh, kau ingat padaku?”

“Bagaimana aku bisa melupakan orang aneh sepertimu?” ujarnya tetap ketus.

“Berjalan lancar.” Tanpa sadar aku menggumam pelan yang sepertinya masih bisa ditangkap oleh indra pendengarannya.

“Eh?” Akhirnya ia menoleh.

“Ah, aniyo. Hei, kau sudah makan siang? Bagaimana kalau—”

“Tidak.”

“Hm, baiklah kalau begitu. Maaf mengganggumu.” Aku mulai menyimpan senyum dan hendak menjauh ketika..

“Dimana?” Aku kembali menoleh dan melihatnya tetap memandang ke depan tenang.

“Dimana makan siangnya? Aku belum makan siang.”

Aku mengangkat alisku tidak percaya. “Kau mau makan siang bersamaku?”

“Jangan salah paham. Bukan karena bersamamu, tetapi karena aku sudah lapar.”

“Baiklah. Ayo.” Aku langsung berjalan mendahuluinya menuju restoran terdekat dan membiarkannya mengikutiku dari belakang.

~Undead Love 1~

“Mian, tapi aku ingin kita duduk di meja yang berbeda saja.” Yoon Ah tetap berdiri meski aku sudah mempersilahkan kursi untuknya. “Tak perlu repot-repot. Aku akan membayar makananku.” Dan duduk kursi di meja sebelah.

“Baiklah.” Aku hanya tersenyum singkat dan memanggil pelayan. Memesan makananku sendiri tentunya. Dan kulihat Yoon Ah pun sedang melihat daftar menu.

Akhirnya kami makan dengan diam, tanpa berbicara seakan hanya dua pelanggan restoran itu yang kebetulan mejanya bersebelahan dan tak saling mengenal satu sama lain. Yoon Ah memakan makanannya dengan tenang sambil matanya fokus membaca buku. Masih saja ia bersikap cuek seperti ini, bahkan saat makan siang. Dan aku tidak dapat berkomentar apa-apa dan hanya meneruskan memakan makan siangku.

“Aku sudah selesai. Bagaimana denganmu?” Aku berdiri dan menatapnya yang hanya memandangku diam. Ia memberi anggukan kecil yang padaku yang menandakan bahwa aku duluan saja.

“Baiklah. Terima kasih karena telah menemaniku makan siang, nona. Annyeong.” Aku menunduk singkat dan berjalan menuju kasir. Yoon Ah masih saja bersikap dingin dan tetap membaca bukunya.

~Undead Love 1~

Di café,

“Hyung. Aku ingin bertanya padamu.”

“Ya?”

“Kenapa kau menginginkan aku mendekati Yoon Ah?” Dong Hae hyung menundukkan kepala.

“Bila saatnya tepat, pasti akan ku beritahu.” Ia mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum. “Jadi, bagaimana kau dengan Yoong?”

“Seperti biasa—”

“—Cuek. Ya, ternyata memang hanya aku yang dapat mendekatinya.” Dong Hae hyung menyandarkan diri di bangku.

“Aku tanya sekali lagi hyung. Kenapa kau memintaku untuk mendekati Yoon Ah-ssi sedangkan kau tahu bahwa ini akan sulit. Bahkan mungkin sia-sia.”

Kini Dong Hae hyung menatapku dalam “Aku benar-benar meminta padamu, Ki Bum-ah. Dekati Yoong, buat ia tak tergantung padaku dan dapat merelakanku pergi.”

“Kemana?”

“Suatu saat akan ku beritahu. Ah, sebentar.” Dong Hae hyung mengambil ponsel di sakunya dan berdiri menjauh dariku sehingga aku tak dapat mendengar pembicaraannya di telepon.

Hyung, kau selalu berkata Suatu saat nanti akan ku beritahu. Kapan saat itu hyung?

Aku mendesah dan memandang air hujan yang membasahi kaca luar café. Dong Hae hyung kembali berjalan ke arahku. “Ki Bum-ah, bisa temani aku sebentar ke suatu tempat?”

~Undead Love 1~

Aku tak percaya saat Dong Hae hyung memakirkan mobilnya di parkiran sebuah gedung. Gedung ini… Rumah sakit?

“Kau mau tetap di mobil atau ikut denganku ke rumah sakit?” Dong Hae hyung menoleh padaku sebelum membuka pintu kemudi mobil.

“Aku ikut.”

“Dong Hae-ssi?” panggil seorang suster menatap kami. Mencari yang mana pasien yang dipanggil dokter.

“Saya, sus.” Hae hyung segera berdiri dari duduknya dan menoleh sebentar padaku yang mengangguk sebelum akhirnya mengikuti suster itu memasuki ruangan dokter.

Tuhan, jangan katakan terjadi sesuatu yang buruk dengan Dong Hae hyung. Tidak, mungkin ia ada keperluan lain sehingga harus masuk ke ruangan dokter…Jantung.

Aku menunduk dan menutupi wajahku frustasi. Semoga ini tidak seperti yang aku pikirkan.

Akhirnya Dong Hae hyung keluar ruangan dokter dengan wajah biasa-biasa saja. Tampak sebuah map coklat ditangannya.

“Apa itu hyung?”

“Tidak apa-apa. Ayo Ki Bum-ah, kita kembali ke café mengambil mobilmu yang dititipkan disana.” Hae hyung menggeleng dan tersenyum seakan tak terjadi apa-apa di dalam tadi.

“Map apa itu hyung?” Aku tak menggubris perkataannya dan tetap berdiri diam di koridor yang sepi ini. Memandang curiga isi map yang ditangan Hae hyung. Diagnosa penyakit kah?

“Sudah kukatakan tidak ada apa-apa.”

“Hyung! Kurasa ini saatnya kau berkata jujur padaku apa yang terjadi denganmu!” Aku sudah tidak tahan lagi. Tanpa sadar aku meninggikan suaraku.

Akhirnya Dong Hae hyung berbalik dan membalas tatapanku sama tajamnya.

“Baiklah. Akan ku katakan padamu. Ah tidak, tepatnya aku akan memintamu membaca sendiri hasil keterangan dokter tadi.” Dong Hae hyung berjalan ke arahku dan menyerahkan map itu.
Sekilas aku menatapnya untuk meyakinkan apa benar ia mengizinkanku untuk membaca map yang bahkan terlihat belum dibuka sekalipun. Ia hanya menaikkan alisnya dan lebih menyodorkannya padaku.

“Bacalah. Justru aku tak ingin membacanya. Bacakan untukku, Ki Bum.”

Aku membuka kaitan map itu berhati-hati sambil merutuki keputusanku tadi. Jujur saja, aku takut kenyataan yang ada tertulis di kertas ini adalah sesuatu yang buruk.

“Bagaimana? Apa isinya?” tanya Dong Hae hyung.

Bagaimana aku mengatakannya? Isi kertas diagnosa ini mengatakan bahwa…
Tidak. Pasti hasil diagnosa ini salah. Tidak mungkin Dong Hae hyung menderita gagal jantung dan diagnosa ini juga berkata bahwa waktunya tidak akan lama lagi.

“Hyung,”

“Sekarang kau tahu kan? Alasan mengapa aku ingin Yoon Ah bersamamu? Aku ingin Yoon Ah dapat menerima kepergianku.” Suara Dong Hae hyung terdengar getir.

“Ah, mianhe.” Bagaimanapun aku yang memaksa agar ia memberitahu apa yang terjadi dengannya. Dan itu…

“Gwenchana. Sudah kukatakan, suatu saat kau akan ku beritahu tentang ini. Sekarang yang aku pinta darimu adalah, cintai Yoon Ah. Gantikan diriku untuk mencintainya.”

Eh? Apa maksudnya tadi?

“Ayo, kita kembali.” Dong Hae hyung tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang. Meninggalkanku sendirian yang terpaku diam.

~Undead Love 1~

Di kantin kampus,

“Lim Yoon Ah.”

Yoon Ah mendongak dan menatapku dingin. “Kau lagi. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Kau sibuk?”

“Tidak lihat aku sedang apa?” Aku melirik buku yang ada di tangannya dan tersenyum.

“Aku tahu. Bisa berbicara sebentar?”

“Ada apa?” Yoon Ah mempersilahkanku duduk di kursi di depannya.

“Kau dongsaengnya Lim Dong Hae hyung?”

“Darimana kau tahu?”

“Aku kenal dengan oppa mu.”

“Ada hubungan apa?”

“Kau takut kalau kami merupakan sepasang kekasih?” Aku melihatnya sedikit tersentak yang berusaha ditutupinya.

“Tidak mungkin. Hae oppa normal.”

“Tentu saja normal. Tadi hanya bercanda.” Aku tersenyum. Tentu saja Dong Hae hyung normal. Bahkan ia sendiri mengatakan ia mencintai seorang yeoja. Yeoja itu kau, Lim Yoon Ah.

“Lalu, untuk apa kau bertanya itu padaku?”

“Aniyo. Hanya ingin memastikan apa benar kau itu dongsaeng Dong Hae hyung. Gomawo, Yoon Ah. Selamat tinggal.” Aku beranjak dari kursi dan tersenyum sebelum meninggalkannya bersama rasa penasaran.

Aku pun sebenarnya heran, Yoon Ah. Kenapa semua ini harus terjadi?

~Undead Love 1~

Café again,

Hampir tiap sore aku dan Dong Hae hyung janjian untuk bertemu. Untuk membicarakan sesuatu yang tentunya bertopik Yoon Ah. Selalu..

“Aku pernah berkata padamu untuk menggantikan diriku mencintai Yoon Ah.” Aku mengangguk paham dan tetap mendengarkan ujar Dong Hae hyung. “Aku mencintai Yoon Ah.”

Deg! “Hyung?” Bukankah mereka saudara? Aku menatap Dong Hae hyung tak percaya yang dibalas dengan senyuman penuh arti.

“Apa aku salah mencintainya? Toh kami saudara tiri.”

Aku tersentak mendengar perkataannya tadi. Apa benar? Saudara tiri? Bagaimana bisa?

“Kau kaget? Aku pun juga, setahun yang lalu saat aku tahu tentang hal itu. Akulah yang bukan saudaranya.” Dong Hae hyung meminum kopi pesanannya dengan santai kemudian melanjutkan “Akan kujelaskan. Orang tuanya —ah orang tuaku juga sih, setahun pernikahan mereka belum juga dikaruniai anak. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsiku yang masih berusia satu tahun di panti asuhan. Tentu mereka menyayangiku, sampai 2 tahun kemudian Yoon Ah lahir. Orang tuaku dan dia tetap tidak membedakan kasih sayang dan memperlakukan kami seperti saudara kandung. Kami pun saling menyayangi, yang membuatku tidak sadar bahwa aku bukanlah anak kandung orang tuaku. Tentu saja akhirnya mereka memberi tahu yang sebenarnya padaku saat aku sudah dewasa.”

Aku tetap diam mendengarkan tanpa berniat memotong ucapannya. Dong Hae hyung tersenyum padaku sebelum melanjutkannya kembali. “Saat itu aku sadar, perasaan aku menyayangi Yoon Ah, sangat menyayanginya. Itu bukan sekedar menyayangi. Tetapi telah berkembang menjadi rasa cinta. Apalagi saat aku tahu aku bukanlah saudara kandungnya membuat perasaan ini semakin besar.”

“Apa Yoon Ah tahu tentang ini?”

Dong Hae hyung menggelang. “Tidak. Mereka hanya mengatakannya padaku. Dan aku pun meminta mereka untuk tetap merahasiakannya dari Yoon Ah.” Ia mendesah, “Karena saat itu aku tahu juga tentang penyakitku. Kau tahu rasanya bagaimana? Saat kupikir aku bisa mencintainya seutuhnya. Saat itu pula aku tahu kalau itu tidak mungkin.”

Aku diam mencerna semua perkataan Hae hyung yang begitu mengejutkan tadi. Itu yang membuatnya ingin agar aku mencintai Yoon Ah. Benar-benar menggantikannya mencintai Yoon Ah.

Dong Hae hyung beranjak dari kursi, “Ya. Sudah cukup pertemuan kita untuk hari ini. Terima kasih karena sudah mau mengerti. Tenang saja, aku yang bayar bill-nya. Sampai jumpa, Ki Bum-ah.”

“Ah, satu lagi yang perlu kau ingat.” Dong Hae menoleh sebentar. “Aku benar-benar mencintainya. Kuharap kau juga bisa begitu.”

Aku hanya bisa memandang punggung Dong Hae hyung yang mulai menjauh masih tak percaya. Kemudian pergi dari café juga. Meninggalkan kopi ku yang sudah dingin sebelum ku minum sekalipun.

~Undead Love 1~

Hari ini aku hanya memandang sosok Yoon Ah dari jauh tanpa berniat mendekatinya. Segala macam pikiran berkecamuk di otakku. Tentang Dong Hae hyung, Yoon Ah, permintaan Hae hyung, sikap Yoon Ah, penyakit Hae hyung, dan kenyataan tentang mereka.

Aku tahu seharusnya sekarang aku mendekati Yoon Ah, mengingat permintaan Dong Hae hyung yang semakin bersungguh-sungguh. Tetapi.. Entah mengapa justru aku tak bisa. Aku terlalu takut jika Yoon Ah akan benar-benar mencintaiku. Hati kecilku justru menginginkan Yoon Ah membalas cinta Dong Hae hyung. Tetapi bagaimana dengan penyakit Dong Hae hyung? Ia tahu sudah tak mungkin lagi mencintai Yoon Ah dan menjaganya.

Biarlah seperti ini. Akan kubiarkan permainan ini seiring berjalannya waktu.

~Undead Love 1~

Dua bulan kemudian..

31 Agustus. Tiga hari sebelum tanggal penting yang tertulis di kertas diagnosa. Aku memandang kertas diagnosa dan kalender bergantian. Berharap hal ini tak akan pernah terjadi.

Kamudian aku memutuskan untuk bersiap-siap dan menyimpan kembali kertas diagnosa Dong Hae hyung di laci meja kerjaku dengan berhati-hati. Dong Hae tak ingin menyimpannya dengan alasan “Aku tinggal menunggu kematianku dua bulan lagi seperti yang tertulis disitu.” dan akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya. Aku ingin membuktikan hal yang tertulis disana. Perkiraan kematian Dong Hae hyung. Semoga saja itu salah.

Sore ini aku bertemu lagi dengan Dong Hae hyung di café yang biasa. Jujur saja, setelah selama dua bulan aku menjauhi Yoon Ah dan berbohong tentang perkembanganku kepada Dong Hae hyung, baru kali ini aku sangat gugup untuk bertemu dengannya. Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?

Di café,

“Kau tahu, Ki Bum-ssi. Tiga hari lagi.”

“Itu belum tentu hyung.”

“Benar atau tidaknya, tak masalah bagiku. Toh aku sudah punya kau yang kupercaya.” Dong Hae tesenyum padaku.

Aku hanya diam tak berani menjawab apa-apa.

“Besok adalah hari terakhir yang di perkirakan dokter. Apa kau sudah membuatnya jatuh cinta padamu?”

“Entahlah hyung. Aku tak tahu.” Aku mengangkat bahu dan Dong Hae hyung menepuk bahuku.

“Gomawo, Ki Bum-ah. Kalau pun memang ia tak dapat mencintaimu, aku harap kau tetap mau menjaganya untukku.”

Hyung, ia memang tidak mencintaiku. Akulah yang menghindar darinya. Akulah yang tak ingin dicintai olehnya. Karena itu sangat sulit bagiku. Sulit untuk mencintai Yoon Ah. Karena kau, hyung.

“Ne, hyung.”

“Kau tahu, Ki Bum-ah. Aku rasa waktuku memang takkan lama lagi. akhir-akhir ini aku merasa semakin parah dan tersiksa. Hingga rasanya ingin mati lebih cepat.”

Hatiku mencelos begitu mendengarnya. “Jangan berkata seperti itu hyung.”

“Kau benar. Jangan berkata seperti itu hari ini. Memang belum tentu yang diperkirakan dokter itu seratus persen benar. Tapi seminggu ini jantungku semakin tak bisa diajak kompromi.”

“Kau meminum obatmu?”

“Sudah kuhentikan sebulan yang lalu.” Aku terbelalak saat mendengar Dong Hae hyung tampak santai saja mengatakannya. “Dan buktinya, aku masih bertahan sampai sekarang? Aku belum mati kan hari ini? Nanti di tiga hari yang akan datang.”

“Hyung!” Aku menegurnya. Berhenti berkata seperti itu hyung.

“Apa Ki Bum? Aku memang akan mati, bukan? Tertulis disitu.” Dong Hae hyung tetap bersikap biasa.

“Jangan percaya!”

“Tetapi memang kenyataannya seperti itu. Jantungku melemah!”

-BUGH!-

Tanpa sadar kulayangkan sebuah pukulan di pipinya. Emosiku sudah tak terkendali lagi.

“Apa, Kim Ki Bum? Kenapa kau yang takut? Kau takut aku akan mati?”

Hentikan hyung! -BUGH!- Satu pukulan lagi untuk menyadarkannya.

“Kenapa hyung?! Kau terlalu cepat menyerah! Apa kau ingin membiarkan Yoon Ah sendirian!!” Aku mencengkram kerah jaketnya. Tak perduli bahwa kami sudah menjadi pusat perhatian umum di café. Juga tak kuhiraukan para pelayan café yang berkali-kali menyuruhku tenang dan tak membuat keributan disana.

“Yoon Ah sudah memilikimu untuk menemaninya. Sudah kukatakan, CINTAI YOON AH.” Darah menetes dari sudut bibirnya.

“Kau lebih mencintainya!” Nafasku tersengal menahan emosi.

“Aku akan mati. Seharusnya kaulah yang menjaganya.” Bahkan Dong Hae hyung masih tersenyum mengatakannya?!

-BUGH-

Aku sudah tak tahan lagi. Ku layangkan sekali lagi pukulan untuknya dan kemudian langsung berdiri dan pergi meninggalkannya di café.

~Undead Love 1~

Esoknya di Kampus,

Aku tak dapat konsentrasi dengan apa yang dijelaskan dosenku hari ini. Terlalu banyak hal yang memenuhi pikiranku. Sampai sekarang Dong Hae hyung tak ada lagi menghubungiku. Tak ada janji bertemu di café, bahkan pertanyaan perkembanganku di kampus dengan Yoon Ah lewat e-mail pun tak ada lagi. Berkali-kali aku mengecek ponselku menunggu kabar apapun dari Dong Hae hyung dengan gelisah. Aku takut keadaannya semakin parah karena aku memukulnya semalam.

-drrt- Terasa getar vibra ponselku di saku yang menandakan ada pesan. Dari nomor yang tak kukenal.

Ki Bum-ssi. Keadaan Dong Hae oppa…

Siapa? Satu-satunya kemungkinan hanya Yoon Ah.

Dimana dia sekarang? –Ki Bum-

Rumah Sakit Seoul.

Tunggu aku. –Ki Bum-

Langsung saja ku bereskan perlengkapan kuliahku. Meminta izin dengan alasan keluarga sakit dadakan, aku pun langsung melesat pergi menuju area parkir kampus.

“Hyung, bertahan hiduplah.” Desisku dan melajukan mobilku segera menuju rumah sakit.

Aku berjalan setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Yoon Ah dan mendapatinya sedang duduk diluar ruang ICU sedang memeluk dirinya sendiri. Tampak menahan tangis.

“Yoon Ah.”

Yoon Ah mendongak ke arahku. Wajahnya pias. Aku dapat melihat matanya yang sudah berkaca-kaca namun ia belum menangis. “Ki Bum-ssi, gomawo karena sudah mau datang. Aku tak tahu lagi harus memberi tahu siapa.”

“Bagaimana keadaannya?”

Yoon Ah menggeleng lemah, “Ada dokter di dalam memeriksa keadaannya.”

“Bagaimana kejadiannya?” Aku memutuskan duduk disampingnya.

“Nafsu makan Hae oppa menurun. Bahkan obat yang biasa di minumnya pun sudah tak terlihat lagi. Kemudian pagi ini tiba-tiba saja ia tak sadarkan diri. Begitu kubawa ke rumah sakit, dokter berkata ‘semua sudah terlalu jauh.’” ucap Yoon Ah getir.

“Berarti benar dia telah menghentikan obatnya.” Gumamku.

“Kau tahu, Ki Bum-ssi?” Aku menoleh dan beradu pandang dengan Yoon Ah yang menatapku tajam. “Kalau Hae oppa menderita…Gagal jantung?”

“Ne.” jawabku lugas.

Yoon Ah menatapku tak percaya. “Kau tahu?! Kenapa kau merahasiakannya dariku, Hae oppa!” Air mata hampir jatuh dari pelupuk matanya namun tetap di tahannya. Aku hanya dapat mengepalkan tanganku menahan keinginan untuk memeluknya dan menenangkannya. Dong Hae hyung tak akan memafkanku jika ia tahu aku membuat Yoon Ah menangis.

Tiba-tiba dokter keluar dari ruang inap Dong Hae hyung. Aku dan Yoon Ah serta merta menoleh.

“Bagaimana keadaannya, dokter?” Yoon Ah spontan berdiri.

“Keadaannya jauh melemah. Jantungnya sudah semakin melemah sejak sebulan lalu. Ia masih belum sadarkan diri. Silahkan temui dia. Jika ada apa-apa, panggil saya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.” Ucap dokter itu sebelum pamit pergi yang dibalas oleh anggukan dari kami berdua.

Yoon Ah langsung masuk ke ruang ICU diikuti olehku. Tampak Dong Hae hyung berbaring tak berdaya di atas kasur rumah sakit dengan selang infus di tangan kirinya. Mataku terpaku menatap monitor pendeteksi gerak jantung di ujung kamar. Hanya tampak gelombang pendek tak teratur menandakan jantungnya masih berdetak meski sangat lemah.

Yoon Ah menatap wajah Dong Hae hyung dan memanggilnya getir “Oppa.”

Dong Hae hyung tak bergeming.

“Apa— Kau baik-baik saja? Kenapa… Kau merahasiakan penyakitmu dariku oppa?” Yoon Ah menggigit bibirnya berusaha menahan tangis. Ia menggenggam tangan Dong Hae hyung erat.

“Kau—” Kuusap punggung Yoon Ah berusaha menenangkannya. “— Tak pernah mengatakan kalau kau sakit?” kata Yoon Ah lagi. Ia kembali mengamati wajah Dong Hae hyung mengharap reaksi. Tetapi sia-sia, Dong Hae hyung tetap tak bergeming.

Kemudian Yoon Ah menunduk dan menutup matanya berusaha menahan air mata yang kini mulai menggenang.

“Hyung.” Akhirnya aku bersuara. “Bertahan hiduplah. Ini belum tanggal yang tertulis hyung. Kau mengatakannya tiga hari lagi. Kumohon,” desisku.

Kini air mata mengalir di pipi halus Yoon Ah. Bahunya bergetar. “Apa kau sudah tak menyayangiku lagi, oppa? Sehingga kau merahasiakannya selama setahun ini?”

“Oppa. Kau pasti mendengarku dan Ki Bum-ssi disini. Ya, aku yang memanggilnya. Yang aku tahu, Ki Bum-ssi kenal denganmu.” Yoon Ah menggenggam tangan Hae hyung semakin erat.

Aku menatap Dong Hae hyung dalam diam. Aku pun berharap melihat adanya reaksi yang diberikannya pada kami yang menandakan ia mendengar setiap perkataan kami meski hanya sedikit. Mataku melebar saat melihat cairan bening turun perlahan membasahi pipi Dong Hae hyung. Apa benar?

Dong Hae hyung menangis? Ia dapat mendengar kami?

“Oppa. Aku tahu kau mendengar kami. Aku tahu.” Yoon Ah tersenyum bergetar menahan tangisnya sendiri. “Kau pasti juga mendengar jika aku mengatakan Aku menyayangimu ‘kan oppa? Aku sangat menyayangimu. Sangat, sangat menyayangimu. Rasa sayang yang begitu besar. Mungkin sangat besar melebihi kata rasa sayang itu sendiri. Kau tahu maksudku bukan oppa?—”

Air mata Dong Hae hyung semakin membasahi pipinya satu persatu. Namun badannya tetap diam tak bergerak sedikit pun. Hanya air mata dan gambar gerakan detak jantungnya yang menandakan kehidupan masih berada di sisinya.

“—Oppa, Neun saranghaedo doeni?*”(Bolehkah aku mencintaimu?)

Setelah satu kalimat itu diucapkan oleh Yoon Ah, aku mendengar bunyi panjang dan datar yang membuat hatiku mencelos. Segera kutatap alan pendeteksi detak jantung. Hanya ada garis panjang. Dong Hae hyung…

Dokter dan beberapa suster langsung masuk ke ruangan kami. Sang dokter memeriksa keadaan Dong Hae hyung sebentar sebelum akhirnya menatap jam tangannya dan berbicara kepada suster yang mencatatnya.

“Waktu kematian pukul 11 siang lewat 45 menit.”

Yoon Ah melepaskan genggamannya dan membekap mulutnya. Air matanya segera tumpah. Segera kurengkuh badannya dan mendekapnya erat.

Kubawa Yoon Ah keluar ruangan dan masih sempat melihat sosok Dong Hae hyung untuk terakhir kalianya yang kini dilepas selang infus dan beberapa alat yang tersambung ke tubuhnya sebelum pintu tertutup.

Aku mengelus pelan rambut Yoon Ah yang masih menangis didalam dekapanku. Ia menangis tanpa isakan. Kejadian ini begitu menyakitkan baginya.

“Kau tahu, di saat terakhir kali kami bertemu, Hae hyung menitipkan sebuah pesan untukmu.” Bisikku pelan. Yoon tetap menangis dan aku melanjutkan.

“Ia berpesan ‘Saranghamnida, Yoon Ah.’”

Dan kini ia terisak dan memanggil nama Dong Hae hyung berkali-kali. Bahunya bergetar yang membuatku semakin erat mendekapnya.

Kau tahu hyung, hal terakhir yang ku lakukan untuk Yoon Ah demi kau sebelum kau pergi, hyung. Aku memeluknya.

–‘Undead Love part 1’, END.–

p.s: Mian kalau cerita ini tidak bagus *deep bow*
Dan “Jeongmal Mianhe!” karena telah ‘mematikan’ our Donghae oppa tercinta, wahai para Elfish sekalian *deep bow again*
Buat para Pyros, mianhe juga karen membuat YoonHae jadi seperti ini. *deep bow tightly*

Readers-deul (khususnya Pyros), maaf ya kalau alurnya kecepetan ^^v
Ohya, part 1 ini Kibum’s Eyes ya? Part 2 nya Yoona’s Eyes lho… dan tentu kalian tahu part 3-nya siapa, bukan?
Pasti nggak sabar nunggunya😉 Aku juga lho~ haha (loh kok?)

Comment please J Terima bashing + flaming~ *lambai-lambai sapu tangan*

[Neun saranghaedo doeni? = Bolehkah aku mencintaimu]


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. ceritanya sedih..knapa hae oppa mati disini? hiks hiks😦

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
    • * YoonHaeHyuk says:

      hehe🙂 mianhe ya~ tenang.. tetap Yoonhae kok ^^
      gaada YoonBum, paling cuma dikit🙂

      gomawo uda baca ya🙂

      | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  2. * Cicirachma says:

    Sediiiiiiiiihhhh… Aduuuuh akhir2 ini aku baca ff YoonHae, knp selalu salah satu dr mrk itu meninggal.. Entah itu Donghae nya atau Yoona nya hiks hiks hiks.. Tapi baguuuuuuusss ff nyaaaaaaa🙂

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
    • * YoonHaeHyuk says:

      ne, aku juga banyak baca yg sad ending😦
      ini zaman melankolis mereka mungkin? *loh?*

      gomawo, gomwao uda baca ^^
      tunggu next part ya🙂

      | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  3. * amalia_YH says:

    huwaaahhh..
    ff ini berhasil membuatku menangis..😦
    yoongie kau selalu boleh mencintai hwae..🙂
    lanjut part 2..

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
    • * YoonHaeHyuk says:

      benarkah??🙂
      ne, memang begitu seharusnya😀 hhhee

      gomawo uda baca ya ^^/~
      oke, next part dlm proses🙂

      | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  4. Dongsaeng~
    T_T iya kok akhrnya our Hae meninggal ya. hhhuu
    gak rela, Hwae Oppa!!!
    aish jadi gk sabar pengen baca cerita yang dari sudut pandang Hwae Oppa-nya ^^
    keep writing ya dongsaeng!!
    eonni tunggu lho lnjutannya, fighting!! hhhee

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  5. * haerin861015 says:

    Seddiiiihhh ToT Haeppanya ko mati ? Ntar idup lagi(?) kan ??
    ntar yoongnya gmana ? Pasti dia frustasi..#sotoy😄

    Akhirnya harus yoonhae yaa author yg baiikk🙂
    apapun itu akhirnya harus yoonhae#maksa..

    Lanjuutt😀

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  6. * fishyoong says:

    Donghaenya kok meninggal~
    kalau salah satu meninggal gini mending yg satunya iku dimatiin juga, sekalian biar yoonhae tetep bersatu di akherat(?)
    beneran gak suka sad ending, nyesek T___T

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  7. * haee says:

    huwaaa.. hae kok meninggal..
    sedihhhh…. yoona nya gimana nanti tu??

    ditunggu lanjutannya thor >)

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  8. * meti says:

    hae oppa kenapa meninggal ????sedih *mewek kasian yoona nya. Sebenernya ga rela juga kalo haeppa sama yoonie harus pisah.😥 kibumppa jaga yoonie ya🙂

    | Reply Posted 5 years, 3 months ago
  9. * tryamalia says:

    Daebakk eoni!!😀
    Keep writting,fighting! \^^/

    | Reply Posted 5 years, 1 month ago
  10. * ShinRinRin says:

    Kapan di buat lagi sambungannya😀

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: