YoonHae Fanfics Library



[Chapter] Don’t Be Shy (Part 1)

Author :  Riana

Genre : Chapter, Romantic Comedy

Cast : Im YoonA x Lee Donghae

Rating : PG-15

Title : Don’t Be Shy

Note : Hai semuanya!!! Hhee. Selagi menunggu kiriman ff lanjutan dari penulis lainnya, aku post dulu ff zaman dulu yang sebenarnya bukan our YoonHae castnya tapi  sudah aku ganti menjadi mereka. So, maklum yang kalau ada kesalahan pada penokohan cerita. hhhe. Happy Reading all!!

Don’t Be Shy

Part 1

Terdengar beberapa langkah orang yang tengah berlarian di koridor asrama. Beberapa di antara mereka juga tampak tengah menarik koper sambil berjalan dengan santainya menuju gerbang utama untuk menghirup udara kebebasan di masa libur militer yang sudah lama mereka nantikan.

”Akhirnya libur pertama kita di tahun ini tiba juga.” Seorang laki-laki berbadan tegap itu melepaskan topinya sembari menarik napasnya dalam-dalam.

”Benar. Aku ingin sekali segera tiba di Seoul.” Sahut seseorang disampingnya.

”Apa sekarang kau sudah bertemu seseorang? Kemudian dia sedang menunggumu disana?” celetuk salah seorang lagi di antara mereka bertiga.

”Tentu saja tidak. Sampai detik ini seorang Lee Donghae masih sendiri. Hanya saja sekarang aku sangat merindukan masakan ibuku.” Bantah Donghae segera. Itulah Lee Donghae, anak seorang Jenderal berpangkat tertinggi disana yang ikut berjasa membuatnya di terima di kemiliteran.

”Dasar kau! Entah kapan kau bisa berpisah dari Ibumu itu.” Celetuk orang itu kembali sambil menepuk pundaknya dengan penuh canda.

”Tapi kemungkinanan besok aku akan bertemu seseorang. Seseorang yang ingin menemukanku dengan temannya.” Ungkap Donghae.

”Kudoakan semoga kau bisa bertemu dengan gadis yang ditakdirkan untukmu saja secepatnya.”

Tiba-tiba mobil hitam mengkilap itu melintas dan berhenti di hadapan mereka. Seseorang dari dalam sana membuka kaca jendelanya. Disana duduk seorang laki-laki tua dengan seragamnya. Teraut dari wajah tua itu sikap disiplin dan penuh wibawa. ”Donghae cepatlah naik!” perintah Pria itu dengan wajah sang penguasa.

”Baik ayah.” Singkat Donghae mengiyakan. ”Sampai jumpa di Seoul teman-teman. Kuharap kita semua dapat berkumpul lagi seperti ini.” pamit Donghae pada kedua temannya, Bong Man dan Ryeo Wook.

Donghae lekas menarik kopernya menuju pintu mobil disebelah ayahnya. Ia duduk di dalamnya dengan manis, kemudian mobil pun melaju menuju jalan raya.

Suasana ramai kantin kampus, salah seorang pelayan mengantarkan minuman menuju meja mereka. Salah seorang dari mereka segera meminum jus dingin yang tersaji di depannya. ”Sungguh sangat menyegarkan.” Yoona tampak lega. Sekejap jus itu menghilangkan kekeringan di tenggorokannya.

”Kalian tau, kemarin Yong-Bin Oppa memberikanku anting-anting baru. Dia bilang ini merupakan produk terbaru perusahaan milik ayahnya.” Yuri tampak membanggakan diri sambil memperlihatkan anting-anting di telinganya.

”Sungguh sangat beruntung, berbeda sekali denganku. Hari ini Jung Min kembali meminjam uang dariku untuk membayar tagihan telepon rumahnya. Dia bilang lusa baru mengembalikannya padaku.” Gerutu Hyuna.

”Benar, kedua pacar kalian sangat bertolak belakang. Meskipun begitu, setidaknya kalian sangat beruntung. Berbeda denganku, sampai detik ini tak ada seorang pun yang melirikku.” Yoona merendahkan dirinya. Sejenak ia terperangkap dalam kegelapan hatinya. Sekejap pula raut wajahnya berubah murung.

”Yoona, kau tak perlu bersikap seperti itu. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan bertemu seseorang yang benar-benar mencintaimu, seseorang yang mencintaimu apa adanya dengan tulus.” Hyuna memegangi pundak sahabatnya itu.

”Apa perlu kami berdua membantumu untuk menemukan orang itu?” Yuri menawarkan.

”Maksud kalian?” Yoona penuh tanya.

”Kau tenang saja. Kalian berdua pasti akan cocok, kebetulan aku baru mendapatkan kenalan melalui internet.” Yuri menjelaskan.

”Baiklah. Kalau begitu terserah padamu saja.” Akhir Yoona sambil menghabiskan jus miliknya.

Mereka keluar dari kantin itu dan sejenak berdiri di depannya. Yuri memegangi pundak Yoona dengan penuh kehangatan. ”Jangan lupa, nanti malam pukul 7 kau harus berada di cafe itu. Kami akan menunggumu.” Yuri kembali mengingatkan.

”Aku tau. Kau tenang saja.” Yoona sambil melepaskan tangan Yuri yang memegangi pundaknya.

”Kalau begitu sampai jumpa nanti malam.” Yuri dan Hyuna berlalu pergi meninggalkan Yoona. Tampak mereka berdua mulai menjauh.

Angin musim semi berhembus lembut diantara bunga-bunga, Yoona melangkahkan kakinya di tepi jalan raya. Perlahan ia melangkah bersama tas slempang yang menggantung di pundaknya, beberapa orang berlalu lalang di sekitarnya. Ia bersiap untuk menyebrangi jalan. Sekejap lampu lalu lintas memperbolehkan pejalan kaki untuk menyebrang, gadis itu terlihat mulai lelah, ia pun segera  menaiki jembatan penyebrangan.

Handphone di atas laci itu terus bergetar tanpa nada bunyi.  Yoona tak menyadari seseorang tengah memanggilnya. Ia lebih memilih untuk menikmati musik dari I-pod miliknya di atas tempat tidur, perlahan ia mulai tersadar dan meraih handphone itu. Terlihat di layar Yuri tengah memanggilnya. Ia segera melepas headset yang melekat di telinga. ”Ada apa?” Jawab Yoona dengan santainya.

”Dasar bodoh. Kemana saja kau, kami sudah menunggumu sejak setengah jam tadi? Apa kau lupa dengan pertemuan malam ini?” Maki Yuri.

”Maafkan aku! Aku lupa. Apakah orang itu sudah datang?”  Yoona tampak kebingungan.

”Tentu saja, sekarang kami menunggumu. Cepatlah datang!” perintah Yuri.

”Benar cepatlah. Sepertinya dia mulai bosan menunggumu.” tambah Hyuna yang merebut handphone agar bisa bicara dengan Yoona.

”Tunggu aku.” Akhir Yoona kemudian menutup handphonenya. Ia bergegas mengganti pakaian.

Yoona berlari dengan cepat di atas jembatan penyebrangan jalan, ia menuruni jembatan itu sambil membenarkan posisi jam tangannya. Ia berlari sambil membawa tas selempangnya,  menerobos orang-orang yang berjalan disekitarnya.

Mendadak terjadi keributan di sekitar toko perbelanjaan. Membuat gadis itu semakin sulit untuk berlari lebih cepat. Ia melihat seorang pria tengah dikejar-kejar oleh dua orang polisi dari arah belakangnya. Di belakangnya lagi tampak seorang wanita seumuran ibunya yang ikut mengejar pria itu. Tiba-tiba saja wanita itu terhenti disampingnya, wanita itu tampak terengah-engah dan pingsan. Membuat Yoona semakin bingung, ia tak tau harus berbuat apa. Ia segera menghampiri wanita itu dan coba menyadarkan wanita itu.

Dari arah berlawanan, tampak seorang polisi muda menghampirinya. ”Nona apa kau mengenal wanita ini?” tanya polisi.

”Tidak.” Jawab Yoona segera sambil menggelengkan kepalanya.

”Apa bisa kau membantu kami untuk membawa wanita ini ke rumah sakit terdekat?” mohon polisi itu.

”Sepertinya…” Yoona tampak ragu mengingat pertemuannya yang terancam batal.

”Baiklah kalau begitu terima kasih.” Sambung Polisi dan berlalu pergi kembali mengejar pencuri itu.

”Tunggu, tapi…” Cegah Yoona.

Koridor rumah sakit.

Yoona duduk di bangku panjang ruang tunggu, ia mengeluarkan handphone dari sakunya. Kemudian menghubungi Yuri,

”Yoona sekarang kau dimana?” Teriak Yuri menggema di toilet w, membuat beberapa wanita disana melirik ke arahnya.

”Sekali lagi aku minta maaf, aku tak bisa pergi. Suruh saja dia pulang, sampaikan maafku padanya.” Mohon Yoona memelas.

”Apa kau sudah gila, kami sudah menunggumu sejak jam 7 tadi, kau pikir dia akan pergi begitu saja. Sudahlah sebaiknya kau cepat ke sini saja. Kami akan tetap menunggumu.” Yuri semakin marah, ia membentak Yoona dengan sangat keras, membuat Hyuna bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju toilet wanita dan menghampirinya.

Terlihat Yuri menutup handphonenya dan melemparkannya ke dalam hand-bag   yang menggantung di pergelangan tangannya. ”Sungguh Yoona sangat keterlaluan.” Gumamnya dengan merengutkan wajah.

”Ada apa Yuri?” Hyuna penuh tanya.

”Sepertinya pertemuan hari ini dibatalkan saja. Yoona tidak akan datang.”

”Kenapa? Apa sesuatu telah terjadi padanya?”

”Aku sendiri tidak tau, baru saja dia meneleponku dan memberitahukan hal buruk itu. Entah bagaimana aku harus menjelaskan pada laki-laki itu mengenai hal ini.”  Yuri tampak bingung.

Mereka berdua melangkah keluar dari toilet, melangkah pelan dan penuh kebingungan. Mereka tampak khawatir dan terus memikirkan reaksi laki-laki yang tampak lebih tua beberapa tahun di atas mereka.

Laki-laki itu tampak masih sabar menunggu kedatangan Yoona, ia kembali meneguk kopi di hadapannya sambil menatap ke luar kaca etalase.  perlahan Yuri dan Hyuna menghampirinya, mereka duduk di meja laki-laki itu dengan penuh ketakutan.

”Apa sesuatu telah terjadi pada teman kalian? Kenapa sampai saat ini dia belum juga datang?” Laki-laki itu langsung menghujani mereka dengan pertanyaan.

”Sungguh maafkan kami, sepertinya……” Hyuna terputus. Mendengar handphone laki-laki itu berbunyi dengan keras.

Laki-laki itu bergegas menjauh dan menjawab panggilan dari handphonenya, ”Ada apa?”

”Sekarang ibumu di rumah sakit, segeralah kemari!” suara di seberang sana tampak tergesa-gesa.

”Ada apa dengan ibu? Dan siapa kau?”

”Disini kantor polisi, sudah tak ada banyak waktu lagi. Dengar penjelasannya, nanti di rumah sakit saja. Sekarang cepatlah kau pergi, kasihan gadis yang menolong ibumu.” Jelas orang itu.

”Baiklah. Terima kasih.” Laki-laki itu menutup handphonenya dan kembali menghampiri Yuri dan Hyuna.

”Aku harus segera pergi. Mungkin lain kali saja kita bertemu lagi. Dan kuharap hal ini tidak terulang lagi. Permisi.” pamit laki-laki itu dan berlalu pergi.

”Tunggu!” Cegah Yuri, tapi semuanya terlambat.

”Sepertinya Yoona memang tidak berjodoh dengannya.” Ucap Hyuna sembari meminum jusnya.

”Mungkin saja.” sahut Yuri ragu. ”Sudahlah tak perlu dipikirkan, setidaknya kita sudah berusaha untuk membantu.” Ia menutup pembicaraan kemudian meneguk jus melon yang dipesannya.

Laki-laki itu berlari memasuki gerbang rumah sakit, ia berlari di koridor dengan penuh tanya di benaknya. ”Dimana ibu?” Pikirnya.

”Lee Donghae.” Tiba-tiba saja terdengar seorang wanita memanggil namanya.

Ia begitu kenal suara serak yang selalu memanggilnya seperti itu. Suara yang membangunkannya di pagi buta, suara yang terkadang cerewet dan senang memerintahnya. Ia berbalik mencari suara itu, tampak disana seorang wanita bersama seorang gadis memapahnya berjalan.

Ia menghampiri mereka dan sudah mengetahui wanita paruh baya itu adalah ibunya yang terlihat masih berjiwa muda meskipun usianya sudah hampir setengah abad. ”Ibu, bukankah kau pingsan makanya aku bergegas ke rumah sakit.” Gerutu Donghae.

”Jadi kau berharap ibumu masih tertidur dalam kamar yang bau itu.” Sahut Nyonya Lee dengan nada sedikit marah. Yoona, gadis yang memapahnya hanya tertawa kecil melihat tingkah bodoh Donghae yang menggaruk kepalanya.

”Maafkan aku. Hanya saja kau membuatku membatalkan janji hari ini.” Gumam Donghae.

”Ahjumma sepertinya anakmu sudah datang. Sebaiknya aku pergi saja, kebetulan aku juga ada janji penting.” Pamit Yoona dengan sopan.

”Tunggu dulu. Bagaimana kalau kita makan malam bersama sebagai ucapan terima kasihku atas pertolonganmu hari ini?” tawar Nyonya Lee dengan ramah pada Yoona yang sudah bersiap-siap dengan mengambil tas selempangnya di bangku tunggu.

”Tidak perlu. Mungkin lain kali saja, kalau kita bertemu lagi.” Yoona menolak dengan lembut.

”Benar apa yang ibuku katakan, sebaiknya tunggu sebentar saja lagi. Setelah itu terserah padamu.” Donghae menambahkan.

”Tidak perlu. Kalau begitu saya permisi dulu.” Yoona memasang tas selempangnya kemudian membungkukkan sedikit punggungnya dan perlahan melangkah menuju pintu keluar.

”Tunggu dulu.” Cegah Donghae, Yoona membalikkan tubuhnya.

”Siapa namamu?”

”Im Yoona.” Singkat Yoona dan tersenyum lembut. Ia pun berlalu pergi.

”Seperti nama gadis itu saja.” Desis Donghae pelan, membuat ibunya tampak bingung.

”Kenapa? Apa kau tertarik pada gadis satu ini?” tukas Nyonya Lee memastikan.

”Tidak, dia sama sekali bukan tipeku. Dia tampak seperti seorang gadis yang penuh dengan keromantisan. Berbeda sekali dengan diriku yang tidak bisa membuat bersikap romantis seperti yang mereka inginkan.” Bantah Donghae segera.

”Hei anak muda! Apa kau tau sebenarnya seperti apa romantis itu?”

”Memangnya menurut ibu seperti apa?”

Nyonya Lee membalikkan tubuhnya dan menepuk pundak Donghae, ”Kelak kau pasti mengetahuinya. Apabila saatnya sudah tiba maka kau akan memahaminya, tentang cinta dan pengorbanan, kemudian keberanianmu dalam mengungkapkannya.” Perempuan itu berlalu pergi dengan penuh kepastian.

”Apa maksudnya?” pikir Donghae  bingung sendiri di koridor rumah sakit.

”Sebenarnya aku sendiri tidak tau apa romantis itu karena sejak dulu sampai sekarang Appa-nya Donghae tak pernah memperlakukanku dengan sikap romantis. Ia selalu bersikap dan bertindak tanpa berpikir dulu.” gerutu Nyonya Lee di setiap langkahnya.

Tampak di tengah keramaian orang yang berlalu lalang di tepian jalan raya seorang  Yoona berlari tergesa-gesa sepulangnya dari rumah sakit, ia menyebrangi jalan dan coba membenarkan baju hangat yang dikenakannya.

Sekejap ia menatap langit yang mulai mendung, ditemukannya kedua sahabatnya di seberang sana yang hendak menaiki bis. ”Yuri, Hyuna!” Panggilnya segera. Kaki mereka pun terhenti tepat di halte bis, membiarkan bis itu melaju tanpa memuat mereka.

Tampak Yoona yang terengah-engah menghampiri mereka, ia membungkuk sambil menghela nafasnya, sekejap ia berdiri tegap dan menarik nafasnya dalam-dalam. ”Maafkan aku sekali lagi teman-teman!”

”Sudahlah. Mungkin kau memang tidak berjodoh dengannya.” ucap Yuri lembut sambil menepuk pundak Yoona.

Yoona lekas merautkan wajah kecewanya.

”Tenang saja. Kami berdua masih banyak koneksi. Besok kita akan melakukan pertemuan lagi dengan mereka.” Ucap Hyuna bersemangat pada Yoona yang murung.

”Baiklah. Hilang satu tumbuh seribu. Semangat!” Yoona bangkit sambil mengepalkan tangannya.

”Kalau begitu sampai jumpa besok. Aku akan berjalan kaki saja dari sini. Kebetulan ada sesuatu yang ingin kubeli di dekat taman kota.”  Yoona memisahkan diri dari kedua temannya.

”Sampai jumpa lagi di Kampus” Teriak Hyuna pada Yoona yang mulai menjauh.

Yoona terus saja menundukkan kepalanya, ia tampak putus asa sambil menjinjing tas selempang di tangan kanannya. Perlahan ia melangkah di tepi jalan dan membiarkan angin malam menusuknya. ”Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk bahagia.” Gumam Yoona. ”Selalu saja akhir cerita yang seperti ini. Membosankan.” makinya pada rumput yang bergoyang tertiup angin.

Tiba-tiba saja perutnya berteriak kelaparan, ia memegangi perutnya dan dapat merasakan alunan musik yang tidak enak untuk didengar. Ia melihat ke sekelilingnya, tak terdapat satupun orang yang menjual makanan disana. Hanya beberapa dedaunan kering yang berterbangan tampak menertawakannya. Sekejap rumah sakit di dekatnya, mengingatkannya pada Nyonya Lee dan Donghae  yang masih berada di sana. ”Seharusnya aku makan malam saja bersama mereka.” Sesal Yoona. ”Dengan begitu aku tidak kelaparan seperti ini, sampai di rumah nanti semua makanan pasti sudah dihabiskan Appa, Eomma, juga Eonni. Benar-benar sangat menyedihkan.” Ia membayangkan dirinya sendirian dalam gelap dan kelaparan, sendirian tanpa makanan.

Yoona pun segera melangkahkan kakinya kembali, kakinya tampak kesakitan karena hak sepatu yang digunakannya lumayan tinggi. Ia pun melepaskan sepatu itu dan menjinjingnya bersama tas selempangnya.

Terdengar langkah seseorang dari balik punggungnya, langkah itu terdengar misterius, pelan dan sangat pasti. Seiring dengan irama langkah Yoona yang mulai ketakutan. ”Siapa kau?” tanya Yoona gugup segera tanpa menoleh ke belakang.

”Bodoh! Aku hanya ingin mengembalikan handphonemu saja.” sahut seseorang di belakang itu segera.

Yoona lekas membalikkan tubuhnya, ditemukannya seseorang dengan wajah yang tak asing lagi. Donghae di sana ekpresi yang datar ”kau? Bagaimana caranya mengikutiku sejauh ini?” Ia tampak bingung.

”Dasar aneh. Sejak tadi aku mengejarmu dan tiba-tiba saja kehilangan jejakmu.  Susah payah aku mencarimu, tak disangka malah bertemu di dekat rumah sakit ini lagi.” Gerutu Donghae.

”Kenapa handphoneku bisa ada padamu? Apa aku menjatuhkannya di jalan?” tanya Yoona sambil meraih handphone dari tangan Donghae.

”Kau meninggalkannya di rumah sakit tadi. Apa kau seorang pelupa?”

Yoona bungkam, ”Terima kasih.” Akhirnya sinis dan tampak begitu lelah. Ia segera memalingkan tubuhnya dan kembali melangkah, meninggalkan Donghae di dekat pohon besar.

”Hei Tunggu.” Cegah Donghae segera.

Yoona menolehkan kepalanya ke arah Donghae. ”Kenapa?”

”Bagaimana kalau kutraktir makan?” tawar Donghae lagi.

”Wah, kebetulan sekali perutku sangat lapar. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Dan lebih beruntungnya lagi dia cukup tampan, mungkin saja kami bisa lebih dekat. We he he he…” Batin Yoona bersorak gembira.

”Bagaimana?” tanya Donghae untuk yang kesekian kalinya.

”Boleh saja asalkan kau mau mentraktirku di restoran mahal.” jawab Yoona seraya meninggikan derajatnya

”Baiklah.” Donghae mengiyakan.

”Kebetulan dan keajaiban. Dia kaya, tampan, dan sangat baik. Sepertinya kami akan cocok. Teman-teman kalian tak perlu membantuku lagi. Ha ha ha ha.” Batin Yoona kembali bersuka cita.

Perlahan mobil itu berhenti di salah satu restoran dekat lampu lalu lintas, disampingnya terlihat sebuah butik yang menjual gaun pengantin. Donghae terlebih dahulu keluar dari mobil, tapi dia tidak sedikit pun berniat membukakan pintu mobil untuk Yoona yang masih tetap setia menunggunya.

Yoona pun melirikkan matanya pada Donghae  yang berada di luar sana. Tapi tak seperti yang diharapkan, Laki-laki itu tetap saja kokoh pada pendiriannya. Ia berdiri menunggu gadis itu keluar dengan sendirinya. ”Cepat keluarlah! Apa kau tidak ingin makan dan menunggu sampai besok disana?” Perintah Dongahe pada Yoona yang mulai merautkan wajah masamnya.

Yoona membuka sendiri pintu mobil dan menutupnya dengan keras.

”Apa kau tidak bisa lebih pelan?” Bentak Donghae pada Yoona yang membanting pintu mobilnya.

”Sudahlah tak perlu dibahas. Lebih baik kita langsung makan saja. Perutku sudah terlalu lapar untuk mendengar ocehanmu.” Sahut  Yoona menggerutu. ”Ku pikir semuanya akan berjalan seperti yang aku harapkan, ternyata perkiraanku meleset. Dia benar-benar bukan tipeku.”  Batinnya bergumam.

”Dasar gadis ini. Apa dia tidak pernah naik mobil sebelumnya?” Batin Donghae menggerutu.

Seorang pelayan sebaya mereka dengan seragam kerja berdiri di depan pintu. Ia memberikan senyum penuh keramahan menyambut mereka berdua, sekejap ia membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.

Tampak salah seorang pelayan menghampiri mereka, seorang laki-laki yang cukup tua dengan sedikit kerutan di wajahnya. ”Ada yang bisa kami bantu?” Orang itu dengan sopan bertanya.

”Dasar aneh. Apa perlu bertanya seperti itu segala, kalau pergi ke restoran tentu saja orang-orang ingin makan. Mereka pikir mau apa lagi.” Batin Yoona menggerutu.

”Apa masih ada meja yang kosong? Kami ingin makan malam disini.” Jawab Donghae santun.

”Tentu saja. Silahkan masuk!” Pelayan itu kembali dengan penuh senyum keramahan dan menunjukkan meja kepada mereka.

Donghae menarik kursinya keluar dari bawah meja, sekejap ia duduk dan melihat menu makanan. Sementara  Yoona tetap pada rengutan di wajahnya. Ia menarik kursinya sendiri dan segera duduk disana sambil melihat menu makanan.

”Aku ingin makan Sop Ayam Rebus saja.” Ucap Donghae pada pelayan yang berdiri di sampingnya. ”Bagaimana denganmu?” tanyanya pada Yooa yang tampak bingung.

”Sama seperti kau saja.” Jawab Gadis itu segera.

”Baiklah kalau begitu Sop Ayam Rebus saja.” Akhir Donghae sambil meletakkan kembali menu makanan ke tengah meja.

Suara mobil dari jalan raya masih meramaikan suasana malam yang hening itu. Angin malam berhembus dengan kencangnya, menerpa wajah Donghae dan Yoona yang baru saja keluar dari restoran.

Mereka berdiri menunggu mobil yang mereka parkirkan tiba.

Yoona menolehkan pandangannya pada Donghae yang berdiri disampingnya. ”Terima kasih.” Ucapnya lembut.

”Tak perlu berterimakasih. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kebaikanmu menolong Eomma hari ini. Sebenarnya Eomma yang memintaku untuk sekalian mengajakmu makan malam. Dia bilang kau pasti kelelahan karena menjaganya.” Jelas Donghae sambil menghangatkan tangannya ke dalam kantong mantel tebal yang tengah dikenakan.

”O, benarkah. Kalau begitu sampaikan terima kasihku untuk Eomma-mu saja.”

”Baiklah.”

Terlihat mobil itu menghampiri mereka, seseorang keluar dari dalamnya dan menyerahkan kunci mobil pada Donghae. ”Cepat naiklah!” perintahnya segera sambil membuka pintu mobil

”Tidak perlu mengantarku. Aku akan pulang sendiri.” Yoona segera menolak.

”Siapa bilang aku akan mengantar ke rumahmu. Aku hanya akan mengembalikanmu ke tempat dimana kita bertemu tadi karena aku harus segera menjemput Eomma di rumah sakit, dia pasti sudah menungguku sejak tadi.” Donghae menjelaskan.

Membuat Yoona terdiam sejenak, hatinya pun mulai terbakar api kemarahan mendengar ucapan itu. Ia menundukkan wajahnya dan perlahan mengepalkan tangannya. ”Kubilang tidak perlu. Berarti tidak juga untuk mengantarku ke tempat semula. Kau pulang saja dulu.” Tegasnya, ia pun lekas melangkah, menjauhi restoran dan Donghae di dekat mobilnya.

Donghae menarik nafasnya, ia bergegas berlari ke arah Yoona dan menarik lengannya. ”Dasar bodoh.” Pekiknya. ”Aku hanya bercanda saja dan kau langsung marah seperti ini. Ayolah, mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri.” Urainya. ”Cepat naiklah!” Rayunya lalu menyungingkan bibirnya untuk tersenyum manis dan menenangkan Yoona yang tampak marah dengan rauh wajah menakutkan.

”Kubilang tidak perlu.” Sahut Yoona bersikeras. ”Jadi lepaskan tanganmu.” Ia  menyingkirkan genggaman tangan Donghae dari lengannya.

”Maafkan aku karena bersikap kasar padamu. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu marah, hanya saja aku tidak tau bagaimana caranya bercanda dengan seorang gadis.” Donghae menjelaskan sambil perlahan menundukkan wajahnya menyesal.

Yoona lekas menatap matanya. ”Baiklah lupakan saja.” Singkatnya segera dan sekejap tersenyum kecil.

”Sungguh sangat aneh. Sekejap sikapnya berubah seperti anak kecil. Dan tanpa kusadari hal ini membuatku menyukainya.” Batin Yoona di setiap langkahnya.

Bersambung~


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. Donghae bukan Donghae banget ya, kaku.. Itu masih ada nama Kyumin nyelip satu..

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
    • woah!! Thanks bngt y chingu buat pemberitahuannya. kkk. maklum, krn ini bukan YH ff, jd aqny buru2 edit ff yg dulu and sdkit mksa kynya karakternya y. hhee. once again, thanks y ^^

      | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  2. * yenny_yoonhaelovers says:

    waaahhhh… segera di post lanjutan’n ya oennie… dah kangen bgd ma ff uri YoonHae..!! hheheee

    fighting!! ^^

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
    • Iya, eonni jg msh nunggu teman pyro yg lain kirim ff lanjutn dr part2 sblumnya. hhee
      jd terpaksa post ff satu ini. hhee

      | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  3. * nozu says:

    wah penasaran sama ceita selanjutnya..
    hae oppa ko jadi galak gitu..kekekeke
    yoonhae emg daebakk,,

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  4. * Cicirachma says:

    Donghae dalam versi berbeda hahaha.. Tp seruuuuu, lanjutkaaaaaaaaan

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  5. * Yoonhaeshipper says:

    kyaa ada ff dari unni karakter hae disini beda banget kkk tapi penasaraan lanjutannya cepet ya unn😉

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  6. * Jung SaeRa says:

    pantesan kaya pernah denger (lihat) tuh judul….ternyata bener. hehehehe….dulu Kyumin sama Seoyeon ya kalo gak salah??? tapi kayaknya emang lebih seru kalo Yoonhae castnya.hehehehe…aku sampe lupa eon sama ceritanya, bacanya udah lamaaaaa banget..hehe

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  7. * marzha says:

    Eonie…
    Ditunggu update selanjutnya… Ahahaha..
    Si Donghae ga romantis>> Eheheehhe…

    Semangat ya eonie..

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  8. * Sandhi Blue says:

    DAEBAKKKKKK….karakternya donghae beda bangedhhh n w suka,,,bosen dy yang polos n miskin,,,khkhkhkh,,, buruan bikin lanjutannya ayo ayo,,,,*lompat2 bareng HAE

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  9. * sylvia.monica22 says:

    onnie..
    Aku suka banget ffnya..😀
    bisa ku baca ulang2 nih…
    Lanjutin ya eoni..
    Aku suka…😀

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  10. * haerin861015 says:

    Suka ama ceritanya😀
    Lanjuuuuuuuuuuuuutttt ~~~~~~~~~

    YoonHae jjang !!

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  11. wooww keren onn, penasaran sama kelanjutannya, hehehee
    YoonHae jodoh banget ya, ga didunia nyata atau ff kekeke
    hehhe pokoknya ditunggu kelanjutannya onn, fighting!!!^^*

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  12. * tiya says:

    ff nya keren…
    Lanjut ya…
    Gomawo

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  13. yaampun ini bukan lee donghae banget yang biasanya bisa meluluhkan hati semua wanita.. ayo ayo update soon ya aku tunggu.

    | Reply Posted 5 years, 2 months ago
  14. * chmnnieff says:

    baguss ceritanya!!! I LOVE YOONHAE^^

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  15. * Deer Fishy says:

    YoonHae lg ..
    Baca dulu ah ..🙂

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  16. * mochichi says:

    ff yg menarik
    ceritanya jarang sih dibuat kek gni
    hehehe

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  17. * Deery00ng says:

    Lanjut unN , ,
    Dsini haepPA.x gk r0mantis , ,
    tp q tetep suka , ,

    y0onhae jjang🙂
    unNIE jjang🙂

    | Reply Posted 4 years, 4 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: