YoonHae Fanfics Library



[One-shot] Winter Night

Author: Jeany R.

Cast :

Im Yoona, Lee Donghae, Kwon Yuri, Cho Kyuhyun

Genre : One-shot, AU, Romance, Angst

Rating: PG-13

Title : Winter Night

Note :

Ide ff ini terinspirasi dari lagunya BoA-Distance. Disarankan membacanya sambil dengerin lagu itu. Setelah tanda “**” sampai tanda “***” itu flashback ya, semoga gak bingung bacanya. Maaf kalo ceritanya rada aneh dan membingungkan. HappyReading! ^_^

Winter Night

When it snows outside on this winter night

I’m looking for a trace of you

I’ll never forget the time that we met

the winter when we fell in love

Aku sangat menyukai musim dingin. Musim yang mengingatkanku padamu. Aku juga sangat membenci musim dingin. Musim yang mengingatkanku tentang perpisahan kita. Perpisahan yang tidak pernah aku inginkan. Adanya jarak yang sangat jauh diantara kita, aku membenci itu.

Aku menatap salju yang turun melalui jendela kamarku. Banyak pasangan kekasih dengan tangan saling bertautan sedang berjalan menikmati salju di malam ini. Aku masih sangat menyukai salju, hanya saja aku membenci musim dingin. Membingungkan memang.

“Kenapa malam ini terasa lebih dingin dari biasanya?” gumamku. Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara detak jarum jam di kamarku. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas pasrah.

Aku telah mencarimu di rumah sahabatmu, tapi kau tak ada disana. Aku mencarimu di tempat favorit kita, tapi kau juga tak ada. Aku menunggumu di taman kenangan kita, tapi kau juga tak kunjung datang. Aku lelah. Tolong berikan aku petunjuk dimana aku harus mencarimu.

Bayang-bayang kenangan indah bersamamu tiba-tiba terlintas di otakku. Dadaku sesak.

“Kenapa kau selalu muncul di kepalaku? Aku mohon pergilah. Menghilanglah walau hanya satu musim saja.”

Aku masih ingatlimatahun lalu saat kita bertemu. Tepat di malam bersalju seperti ini. Dan saat melihat matamu itulah jantungku berdetak tak karuan, darah di sekujur tubuhku mengalih deras. Aku seperti tidak melihat ada orang lain di sekitar kita. Yang aku tau di taman itu hanya ada kau dan aku. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Sangat jelas.

Itulah untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan senang yang membuncah setelah dua puluh tahun aku hidup di dunia yang indah ini. Perasaan ingin memiliki seseorang, perasaan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Dan aku merasa bahagia pernah merasakan perasaan seperti itu. Aku memang tidak pernah menyesal telah bertemu denganmu.

**

Banyak sekali pasangan kekasih yang menikmati malam di musim salju seperti ini. Saling bergandengan tangan untuk menghangatkan tubuh mereka. Miris. Begitulah perasaan yang aku rasakan. Seharusnya aku tidur di rumah dari pada berjalan sendiri seperti ini, batinku.

Aku membuat janji dengan Yuri sahabatku untuk menikmati malam pertama musim dingin bersama. Tetapi tiba-tiba dia membatalkan janjinya dengan alasan keluarga besarnya sedang berkumpul. Padahal aku sudah berada di taman ini. Aku berpikir untuk kembali ke apartemen, tapi sudah terlanjur berada di sini.

Aku berjalan menuju bangku taman yang masih kosong. Melihat anak kecil bersama keluarganya bermain bola salju membuatku tersenyum sendiri. Aku terlalu menikmati pemandangan di hadapanku ini sampai tidak menyadari ada seseorang yang memakai hoodie biru duduk di sampingku.

Aku menoleh ke sampingku. Dan saat itu juga dia menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. Deg. Matanya…..aku sangat menyukai mata itu. Teduh. Dia tersenyum ke arahku. Dan senyumnya……astaga indah sekali. Mulai detik ini aku memutuskan itu adalah senyum favoritku.

Dia mengulurkan tangannya mengajakku berkenalan. “Namaku Donghae. Lee Donghae. Kau?” ucapnya.

Donghae. Nama laki-laki itu Lee Donghae. Aku berdehem untuk menghilangkan rasa gugupku sebelum menjawab perkenalannya. Kenapa aku jadi gugup begini? Astaga.

“Yoona. Im Yoona,” kataku sambil menjabat uluran tangannya.

Untuk beberapa detik hanya ada keheningan diantara kami berdua. Sepertinya dia juga sedang menikmati pemandangan di hadapan kami. Terkadang aku mendengar tawanya saat melihat anak kecil saling melempar bola salju. Aku ingin memulai pembicaraan, tetapi aku terlalu takut dan juga malu.

Setelah beberapa menit aku menguatkan diriku sendiri akhirnya aku memutuskan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Tanganku mengepal kuat, mencoba menguatkan diriku sendiri. Menahan egoku untuk sementara.

“Kau menyukai anak kecil?” tanyaku dengan susah payah. Aku menoleh ke arahnya. Pandangannya masih lurus ke depan, melihat anak kecil yang tengah bermain bola salju.

“Ya. Aku sangat menyukai anak kecil, kau?” jawabnya.

Yes! Sorakku dalam hati. Akhirnya aku berhasil memulai pembicaraan dengannya. Dan apa tadi dia bilang? Dia menyukai anak kecil. Sama. Aku juga menyukai anak kecil. Sepertinya pembicaraan ini dapat berlajut.

Sebelumnya aku tidak pernah memulai pembicaraan lebih dulu, apalagi dengan orang yang tidak aku kenal. Tapi apa yang baru saja aku lakukan? Aku memulai pembicaraan dengan orang yang bahkan baru aku kenallimabelas menit yang lalu. Catat itu.

Laki-laki ini seperti memiliki magnet yang sangat kuat yang menarikku, membuatku penasaran terhadapnya. Membuatku ingin mengenalnya, ingin tahu kehidupan pribadinya. Ingin tahu apakah dia memiliki kekasih atau tidak, eh?

“Aku juga,” jawabku sambil tersenyum.

Aku memang menyukai anak kecil. Mengingat aku adalah anak tunggal. Sedangkan kedua orang tuaku jarang sekali berada di rumah, bukan berarti mereka mengabaikanku. Mereka sangat menyayangiku dan peduli padaku. Tetapi tetap saja aku merasa kesepian. Dengan melihat anak kecil bermain seperti ini aku merasa tenang dan tidak kesepian lagi.

Donghae menoleh ke arahku dan berkata, “ Aku senang melihat anak kecil yang bermain seperti ini. Ketika mereka tersenyum, aku juga akan ikut tersenyum.”

Dalam hati aku menyetujui ucapannya. Melihat anak kecil tersenyum, akan membuat kita ikut tersenyum. Tingkah konyol mereka akan membuat kita tertawa sendiri.

Beginilah kegiatanku setiap malam di musim salju ini. Duduk di bangku taman bersama Donghae. Bercerita apa saja yang terlintas di otak kami. Kadang juga kami bergosip tentang artis yang sedang naik daun diKorea. Donghae selalu berhasil membuatku tersenyum. Dan tanpa aku sadari aku merasa tidak bisa jika sehari saja aku tidak melihatnya. Tidak melihat senyumnya seperti berjalan dalam kegelapan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas sekelilingku. Aku kehilangan fokusku.

Donghae bercerita tentang kecintaannya terhadap anak kecil, bercerita tentang teman-temannya, keluarganya dan tentang dirinya sendiri. Siapa dia sebenarnya dan apa yang dia lakukan disini. Bahkan dia bercerita kelak jika dia menikah dia ingin memiliki dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Aku hanya tertawa menanggapinya.

“Kau tau saat menikah nanti aku ingin memiliki seorang anak yang lucu-lucu. Satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Mungkin aku akan menyuruh istriku yang bekerja, sedangkan aku akan merawat anak kami di rumah,” ujarnya.

“Apa? Jadi kau akan menjadikan istrimu sebagai tulang punggung keluarga dan kau akan bersantai-santai di rumah begitu?Malangsekali nasib gadis yang akan menjadi istrimu itu”, ucapku sambil tertawa.

Aku pun menceritakan tentang keluargaku dan diriku sendiri. Bagaimana asal mula aku bisa berada di taman ini. Aku merasa nyaman bisa bertukar cerita dengan Donghae. Aku percaya padanya.

“Aku senang bisa bertemu seseorang yang menyukai anak kecil sama sepertiku. Teman-temanku rata-rata membenci anak kecil. Menurut mereka anak kecil itu hanya pengganggu, menyebalkan dan selalu membuat kesal”, lanjutnya.

Aku juga senang betemu laki-laki setampan dirimu Lee Donghae, teriakku dalam hati.

“Aku sangat ingin melihat Negara ini damai dan sejahtera. Aku tidak ingin melihat ada anak kecil yang tidak bersekolah. Aku tidak ingin hak mereka dirampas begitu saja. Aku tidak ingin melihat kedua orang tua mereka mati ditembak polisi saat menuntut hak mereka. Menyedihkan sekali melihat hal seperti itu terjadi,” kata Donghae.

Saat ini kami sedang membicarakan tentang kejadian yang akhir-akhir ini sering terjadi diKorea. Banyak anak kecil kelaparan sampai akhirnya meninggal. Banyak orang yang meninggal di tembak polisi ketika sedang mengajukan protes.

Aku begitu terharu mendengar niat mulianya itu. Aku hanya bisa memberinya semangat dan terus mendukungnya. Aku juga akan selalu mendoakannya.

Aku mengetahui siapa sosok Donghae sebenarnya. Mengetahui rahasia terbesarnya. Dan aku merasa aku memang telah jatuh cinta pada sosok lelaki itu. Laki-laki pertama yang membuatku merasa nyaman saat di dekatnya, membuatku berani menceritakan rahasiaku. Dan mendengar niat mulianya itu membuatku semakin ingin selalu berada disisinya. Mendukungnya dan memberikannya semangat. Dia jugalah laki-laki pertama yang aku ijinkan mengusap rambutku seperti sekarang ini.

***

I know it wasn’t our time

we had to go our seperate ways

You don’t know that silently I was crying

for you to stay

Aku juga masih ingat bagaimana antusiasnya kau bercerita. Begitu khawatir saat seorang anak kecil jatuh tergelincir lalu kau segera menggendongnya. Kau bertanya padaku apa yang harus kau lakukan untuk membuat anak itu berhenti menangis. Bukankah kau suka anak kecil? Kenapa kau harus menanyakan hal semacam itu padaku? Lalu aku menjawab, ‘Lebih baik kau belikan es krim saja’. Dan kau malah memukul kepalaku. Tentu saja aku hanya bercanda bodoh. Membeli es krim di musim dingin seperti ini? Apa kau sudah gila?

Akhirnya kau membelikan sebuah bunga mawar putih untuk anak kecil itu. Dan anak kecil itu malah mencium pipimu. Kau pun membalasnya dengan senyum terbaikmu. Senyum yang begitu aku sukai.

“Kau tidak taukanbagaimana aku sangat iri terhadap anak kecil itu? Berada di pelukanmu dan bisa mencium pipimu seenaknya. Menyebalkan!” gumamku sambil tertawa sendiri. Apakah aku benar-benar sudah gila?

Kita seperti seseorang yang sudah saling mengenal lama. Kita begitu akrab. Tanpa rasa canggung kau bercerita padaku dan aku bercerita padamu. Aku mengingatnya sambil tersenyum. Dan tanpa aku sadari juga pipiku telah basah oleh air, air mataku. Ya, aku tersenyum dalam tangisku.

**

Malam ini adalah malam terakhir di musim salju. Besok tidak akan ada lagi salju yang turun. Aku begitu takut. Takut jika aku tidak bisa bertemu Donghae lagi. Sedari tadi aku hanya menunduk menunggu kedatangan Donghae. Aku berdoa semoga kebersamaanku dengan Donghae tetap berlajut walaupun musim telah berganti.

Donghae datang sambil membawa dua gelas kopi. Sejak pertemuan kedua kami, dia selalu membawa dua gelas kopi saat menemuiku dan memberikan satu untukku.

“Terima kasih,” ucapku seraya mengambil kopi ditangan kanannya.

Donghae hanya tersenyum menanggapi. Sejak mengenal Donghae aku banyak berubah, aku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku lebih sering tersenyum dari pada bersikap cuek terhadap teman-temanku. Begitulah kata Yuri sahabatku. Aku menjadi lebih peduli terhadap sekelilingku.

Aku memang bukan tipe orang yang mudah bergaul. Aku merasa enggan bersikap sok kenal seperti tersenyum dengan orang yang tidak aku kenal. Aku bahkan kadang bersikap tidak peduli terhadap sekelilingku.

Donghae selalu menasihatiku setiap kali ada seseorang yang lewat di depan kami tapi aku tidak tersenyum padanya. Dan aku selalu menuruti apapun perintahnya. Entah sadar atau tidak.

Aku tersenyum saat ada anak kecil berjalan melewatiku.

“Bagus Yoong, kau harus selalu tersenyum seperti itu saat bertemu orang. Walaupun kau tidak mengenalnya tetapi dengan tersenyum seperti itu orang tersebut akan merasa senang. Apalagi mendapat senyuman manis dari seorang gadis cantik sepertimu,” ucap Donghae sambil tersenyum tipis.

Aku tersipu mendengar dia mengucapkan ‘Gadis cantik sepertimu’. Untuk menghilangkan kegugupanku, aku malah memukul bahunya.

Suasana malam ini sangat ramai. Salju yang turun hanya sedikit, tetapi orang yang datang ke taman ini bertambah banyak.

“Aku tidak menyangka musim semi akan segera datang. Apa kau juga menyukai musim semi?” ucap Donghae memecah keheningan.

“Tentu saja. Aku suka melihat bunga-bunga bermekaran.Kotaini akan jauh terlihat lebih indah dari biasanya,” jawabku bersemangat.

Donghae hanya tersenyum kemudian mengusap rambutku. Reaksiku masih sama. Pipiku akan merona merah saat Donghae mengusap rambutku seperti ini. Padahal sudah lebih dari seratus kali mungkin Donghae melakukannya. Kapan sih dia akan berhenti membuat pipiku tidak merona seperti ini?

“Aku tidak tahu apakah di musim semi nanti aku bisa menikmatinya bersamamu seperti ini”, dia berkata sambil menerawang jauh.

Jangan sekarang. Jangan katakana itu sekarang, batinku. Aku mulai merasakan firasat yang buruk. Aku mengerti. Sangat mengerti apa maksud perkataan Donghae. Dadaku sesak, aku merasa oksigen di sekitarku menipis. Aku ingin menangis tapi aku tidak bisa.

“Aku berharap musim dingin tahun depan dan seterusnya aku bisa menikmatinya bersamamu Yoong. Aku berjanji akan menemanimu bercerita sepanjang malam di musim dingin. Apakah kau mau menungguku? Menungguku di taman ini?” lanjutnya.

Aku hanya diam. Lidahku terasa kelu. Aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Aku ingin mengucapkan ‘Tetaplah disisiku Oppa’, tetapi itu adalah tindakan yang sangat egois. Aku tidak boleh mementingkan egoku. Mataku memanas. Air mata ini terus mendesak keluar.

“Apakah ini perpisahan?”, gumamku lirih.

Donghae kemudian memelukku dan membisikkan kata maaf. Aku tau dia juga sedih. Aku tau Donghae juga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Perasaan ingin selalu bersama. Perasaan saling menyayangi. Perasaan takut kehilangan. Walaupun tidak ada kata yang terucap, tapi aku dapat melihatnya dari mata Donghae. Air mataku tumpah di pelukannya. Aku menangis tanpa suara. Aku ingin berteriak dihadapannya. Jangan katakan maaf Oppa, aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh kau tetap disisiku.

***

The years come and go

but I’m still all alone

My tears like snow flakes

falling without a sound

I wish I was with you now

Aku melewati pergantian musim dengan terus menunggumu. Musim dingin pergi di gantikan musim semi. Musim semi pergi digantikan musim panas. Musim panas pergi digantikan musim gugur. Dan akhirnya musim dingin kembali datang.

Entah sudah berapa kali musim dingin berganti tapi aku tetap menunggumu. Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Aku tetap sendiri menikmati musim yang indah ini. Menunggumu sampai kau kembali ke sisiku. Menunggu sampai aku benar-benar sangat lelah dan menyerah untuk menunggumu.

“Entah kapan aku akan menyerah untuk menunggumu Oppa. Jika aku berhenti menunggumu, aku harap kau tidak akan marah padaku.”

**

Aku duduk di bangku taman tempat kita bertemu dulu. Menyaksikan anak kecil bermain bola salju bersama keluarganya. Sama seperti dua tahun yang lalu. Hanya saja aku sendiri duduk di bangku ini. Aku menepati janjiku, aku menunggumu di taman ini sesuai permintaanmu. Sama seperti tahu lalu.

Kau berjanji bahwa setiap musim dingin kau akan menemaniku duduk di bangku ini. Tapi apa kenyataannya? Musim dingin tahun lalu kau tidak datang. Aku terus menunggumu setiap malam sampai musim dingin berakhir. Waktu itu aku masih bisa memaafkanmu.

Aku memandang lurus ke depan. Air mata mengalir begitu saja di pipiku.

“Noona, kenapa kau duduk sendirian di taman ini? Dan kenapa kau menangis?”, seorang anak kecil berdiri di depanku.

Aku hanya tersenyum dan mengusap rambutnya. “Aku sedang menunggu seseorang. Maukah kau menemaniku disini?” tawarku.

Anak kecil itu mengulurkan setangkai mawar putih dan memberikannya padaku. “Maaf Noona tapi aku tidak bisa. Aku harus menemui temanku. Sebagai gantinya bunga ini yang akan menemani Noona, terimalah,” lanjutnya sambil berlalu pergi.

Mawar putih. Dulu Donghae pernah memberikan mawar putih pada seorang anak kecil yang menangis. Dan sekarang seorang anak kecil memberikan mawar putih saat aku sedang menangis. Mungkinkah dia Donghae yang sedang berubah wujud, eh?

Dan sekarang aku masih duduk sendirian di bangku ini. Apa kau mengerjaiku? Kenapa kau tidak datang membawakan segelas kopi untukku? Aku merindukanmu Lee Donghae. Sangat merindukanmu. Aku berharap aku bisa bersamamu sekarang. Bersandar di pundakmu seperti dulu. Menikmati aroma wangi tubuhmu.

Air mataku jatuh semakin deras bersamaan dengan turunnya salju. Aku menangis tanpa suara. Aku memeluk mawar putih dalam genggamanku. Berharap kau akan datang dan memelukku seperti terakhir kita bertemu. Tetapi sampai tengah malam aku menunggumu kau tak kunjung datang. Kau mengingkari janjimu lagi Lee Donghae.

Aku pulang dengan keadaan kacau balau. Untunglah aku tinggal di apartemen sendiri, sehingga aku tidak akan membuat orang khawatir. Lee Donghae, apakah kau berharap aku akan memaafkanmu? Tentu saja bodoh. Karena aku mencintaimu.

***

When it snows outside on this winter night

I’m looking for a trace of you

I’ll never forget the time tha we met

catching glances in the snow

Setiap musim dingin datang aku ingin sekali menghapus jejakmu. Menghapus semua tentang dirimu dari ingatanku maupun hatiku. Bahkan aku ingin pergi jauh saat musim ini datang. Aku tidak ingin menjumpai musim ini. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku terlalu mencintaimu dan musim ini. Musim yang membawaku padamu.

Tadi siang Yuri datang mengunjungiku. Dia membawakan bunga mawar putih untukku. Dia bilang kebun bunga di belakang rumahnya sedang panen. Dan dia ingin membagi bunga-bunga itu dengan sahabatnya.

Sebenarnya tujuan Yuri datang bukan itu. Aku sudah menduganya dari awal. Barulah saat dia akan pulang dia mengutarakan maksud kedatangannya itu. Dia melontarkan beberapa pertanyaan seperti ‘Apakah aku masih berharap padamu? Apakah aku tidak membencimu?’ Dan lucunya dia juga ingin mengucapkan terima kasih padamu jika kelak kau kembali. Dia bilang kau telah merubahku menjadi gadis yang luar biasa, begitukah?

“Aku masih berharap bisa bersamamu tentu saja. Apakah aku membencimu? Sedikit, aku sedikit membencimu karena kau meninggalkanku dan tidak memberiku kabar selamalimatahun ini. Kenapa harus ada jarak yang membentang diantara hubungan kita?”

Aku terus saja berbicara pada salju yang turun di luarsana. Berharap dengan seperti ini aku akan merasa lega. Berharap semua bebanku dapat hilang bersamaan dengan turunnya salju.

Apa kau tidak tahu bagaimana aku menjalani kehidupanku setelah kau pergi? Aku baik-baik saja. Aku terus berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Fisikku sangat kuat, bahkan seingatku hanya sekali dalam setahun aku sakit. Hebat bukan?

Semua orang percaya denganku. Dengan keadaanku. Tentu saja semua orang akan berpikir aku baik-baik saja. Tapi hatiku selalu menangis. Menangisi seorang lelaki kurang ajar sepertimu. Laki-laki yang entah sekarang masih mengingatku atau tidak.

**

Aku tidak akan menyerah untuk mencarinya. Jangan-jangan dia hanya mengerjaiku. Bagaimana jika sebenarnya dia melihatku tapi dia bersembunyi di daerah dekat sini? Pikiran-pikiran itu mulai muncul di kepalaku.

Musim dingin kali ini aku tidak hanya akan menunggunya. Aku akan mencarinya. Aku akan mengunjungi tempat-tempat Donghae berkumpul bersama teman-temannya. Aku masih ingat dia pernah menyebutkan suatu tempat yang sering di kunjunginya. Dan dia berjanji untuk membawaku kesana, mengenalkanku pada teman-temannya.

Dan disinilah aku sekarang. Di sebuah café di kawasan Insadong. Insadong adalah bagian dari permukiman dikotaSeoul. Insadong terkenal di antara para wisatawan sebagai tempat belanja dan menjual barang-barang seni tradisional khasKoreamaupun luar negeri. Donghae pernah bilang dia memiliki teman kuliah yang bekerja di sini. Aku berjalan ke dalam café tersebut.

“Permisi. Apakah kau mengenal laki-laki bernama Lee Donghae? Tingginya kira-kira sekitar 175 cm, dia putih dan memiliki mata yang teduh,” tanyaku sembari menjelaskan cirri-ciri Donghae.

Pemuda tersebut berpikir sejenak dan berusaha mengingat-ingat. “Ah! Iya, aku mengenalnya. Kenapa Nona?”

Aku sangat beruntung. Aku langsung menemukan teman Donghae itu.

“Tapi sudah tiga tahun dia tidak mengunjungi cafe ini lagi. Nona siapa?”, lanjutnya.

Tiga tahun? Sudah tiga tahun pula Donghae meninggalkanku dan tidak memberikan kabar apapun. “Aku temannya. Apakah kau tau kemana dia pergi?”, tanyaku lagi.

“Terakhir aku mendengar kabar dia pergi ke Jepang untuk melaksanakan tugasnya. Entahlah bagaimana kabar dia sekarang. Apa kau tau tentang pekerjaan Donghae?”, jawab dan tanya laki-laki tersebut.

Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum berlalu pergi.

Tentu saja aku tahu apa pekerjaan Donghae. Pekerjaan yang membuatnya harus pergi meninggalkanku. Dulu Donghae sangat enggan menceritakan tentang pekerjaannya. Sampai akhirnya setelah aku memaksanya, dia akhirnya menceritakan pekerjaannya itu. Pekerjaan yang mulia. Tetapi aku juga ingin sekali menyuruhnya untuk melepas pekerjaan itu, dan Donghae selalu membujukku untuk mempercayainya.

Pernah suatu ketika aku bertanya, “Oppa, kenapa kau memilih pekerjaan berbahaya seperti itu?”

Donghae malah tertawa dan berkata, “Berbahaya? Bukankah ini pekerjaan mulia? Aku hanya tidak ingin melihat anak kecil mati kelaparan lagi.”

Aku hanya mendengus kesal mendengar jawabannya itu.

***

Your name falls under my lips

Icicles peers my heart

Now I wait and send up my wish

to find wherever you are

Dalam setiap doaku selalu ada namamu. ‘Lindungilah Lee Donghae. Jagalah dia dimanapun dia berada Tuhan. Jika kau mengijinkan, kembalikanlah dia ke sisiku.’ Itulah doa-doa yang selalu aku panjatkan setiap hari. Dan asal kau tau saja aku bahkan menjadi rajin beribadah karena aku ingin selalu berdoa untukmu.

Banyak teman kantorku yang bertanya kemana pada hari minggu aku pergi? Kenapa aku tidak ikut jalan bersama mereka? Aku pergi berdoa. Berdoa untukmu dan untuk diriku sendiri. Semoga Tuhan memberi kekuatan padaku untuk menjalani setiap hari dihidupku.

Aku bukan gadis yang mudah berputus asa. Seingatku kau tidak tau rahasiaku inikan? Walaupun aku sangat sedih karena kehilangan orang yang aku cintai, tidak pernah terbersit dalam otakku untuk melakukan tindakan konyol seperti melompat dari Namsan Tower –bunuh diri maksudku- seperti kebanyakan yang di lakukan gadis yang patah hati.

Harapan itu tentu saja selalu ada. Aku selalu percaya itu karena aku memiliki Tuhan yang telah mengatur takdirku sedemikian rupa. Aku percaya jika suatu saat takdir akan mengembalikanmu padaku. Dan di saat itu, bolehkah aku bersikap egois? Bolehkan aku tidak membiarkanmu pergi?

**

Sudah keseribu kali aku mengucapkan nama Lee Donghae tapi dia tak kunjung datang.Parapejalan kaki banyak yang melihatku. Mungkin mereka berpikir aku gila. Ya, aku memang hampir gila. Gila mencemaskanmu. Gila menunggumu kembali.

Kali ini Yuri sahabatku memaksa menemaniku menunggumu di bangku taman ini. Dia bilang dia khawatir dengan kondisiku yang sedang flu saat ini.

“Kau benar-benar baik-baik saja Yoong?” Tanya Yuri.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya. Aku tidak pernah menunjukkan kesedihanku kepada siapapun. Tapi sebagai sahabatku aku yakin Yuri pasti tahu bagaimana perasaanku. Aku tidak perlu menceritakan padanya.

“Sudah empat tahun kau menunggunya, apa kau tidak lelah? Masih banyak laki-laki di luarsanayang ingin menempati hatimu Yoong.”

Terdengar desahan nafas Yuri. Lelah, tentu saja aku lelah. Tapi harapan itu masih ada.

“Cobalah pelan-pelan kau lupakan dia. Aku yakin kau pasti bisa. Aku tau kau susah jatuh cinta, tapi jika kau mau membuka hatimu untuk orang lain kau pasti bisa merasakan cinta itu lagi,” nasihat Yuri.

“Aku akan mencobanya. Tapi nanti…..”

Aku tau Yuri ingin melihatku bahagia. Hidup dengan bayang-bayang orang yang bahkan tidak kita ketahui keberadaannya seperti ini memang menyedihkan.

***

There’s nothing more that I want

then to feel the warm embrace of your love

but I have faith and the promise that you made

and in the frosted window I see your trace

Orang tuaku sudah mulai ikut campur dalam urusan pribadiku. Mereka selalu bertanya apakah aku punya kekasih? Kapan aku akan menikah? Aku bingung harus menjawab apa. Aku sudah berumur dua puluhlimatahun. Sudah saatnya aku memikirkan masa depan.

Aku sudah memiliki pekerjaan yang matang, sebagai sekretaris. Kehidupanku tentu saja sudah terjamin. Kedua orang tuaku bahkan telah membelikan sebuah rumah yang akan di berikannya padaku jika aku menikah nanti. Tetapi kebahagiaanku? Satu-satunya yang belum aku dapatkan.

Yuri juga terus menerus menasihatiku untuk melupakanmu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar lelah. Bagaimana jika aku menyerah?Limatahun bukanlah waktu yang singkat. Aku telah menunggumu selama itu.

Aku mendengar suara ketukan pintu.

“Masuklah!” teriakku dari dalam kamar. Aku masih memandang salju yang jatuh di luar melalui jendela kamarku.

“Yoongie, Appa ingin mengenalkanmu pada anak teman Appa. Kau sudah berumur dua puluhlimatahun Yoong, sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu. Untuk kali ini percayalah pada Appa, dia anak yang baik dan Appa yakin dia bisa menjagamu. Kau bisa berteman dahulu dengannya sebelum memutuskan. Bagaimana?” kata Appaku. Mengutarakan maksud baiknya itu.

Appa memang sudah sering mengenalkanku dengan anak teman bisnisnya dan aku selalu menolaknya. Aku datang menemui anak teman Appa tersebut untuk sekedar menghormati usaha Appa. Kemudian aku pulang dan mengatakan ‘Aku tidak tertarik Appa’. dan Appaku hanya tersenyum. Beliau memang sangat pengertian, tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku.

Tapi kali ini, aku melihat sorot mata Appa yang berbeda saat mengucapkan permintaanya itu. Sorot mata khawatir. Aku tau pasti Appa sangat khawatir denganku semenjak aku memutuskan untuk menetap di apartemen ini sendiri. Dulu aku hanya menempati apartemen ini saat musim dingin. Tapi semenjak aku bertemu denganmu, aku memutuskan untuk menetap di apartemen ini seterusnya karena letaknya yang dekat dengan taman favorit kita. Bagaimanapun juga aku seorang gadis, Appa pasti tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa putrinya.

Aku merasa sedih melihat Appaku begitu mengkhawatirkanku. Aku mulai memikirkan nasihat Yuri dan permintaan Appa. Aku harus memutuskan. Aku tidak ingin membuat orang disekelilingku menjadi khawatir.

Aku menghembuskan nafasku sebelum menjawab pertanyaan Appa. Aku tersenyum lembut padanya. “Baiklah Appa, aku akan mencoba lebih keras lagi.”

Aku telah memutuskan. Aku akan berhenti menunggumu. Biarlah takdir yang memutuskan apakah kita ditakdirkan untuk bersama atau tidak. Aku akan membuka hatiku, dan bukan berarti aku akan melupakanmu. Aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa melupakanmu. Aku akan menyimpan semua kenangan kita dengan baik dalam ingatanku. Mengingat setiap kata yang pernah kau ucapkan.

Appa memelukku dan membisikkan sesuatu yang menyentuh hatiku. Rasanya aku ingin menangis di pelukannya saat ini.

“Appa hanya ingin kau bahagia, Nak. Appa ingin melihatmu bahagia selama Appa masih berada di dunia ini. Jika kau tidak bahagia, Appa merasa telah gagal menjadi seorang Ayah.”

**

Tahun kelima aku menunggumu. Tidak ada hal lain yang aku inginkan selain dirimu. Aku masih mempercayai janji yang kau ucapkan padaku dulu. Tapi aku takut jika aku tidak bisa mempercayai janji itu lagi. Apakah kau akan marah?

Musim dingin kali ini mungkin akan menjadi musim dingin terakhir aku menunggumu. Jika kau tak datang maka bantulah aku supaya aku bisa membuka hatiku untuk orang lain.

“Mungkin tahun depan aku tidak akan duduk di bangku ini sendirian lagi. Kau memberikan banyak sekali kenangan untukku,” aku berbicara pada bangku taman itu, menganggap seolah-olah bangku taman itu dapat berbicara.

Aku melihat seorang anak kecil duduk menangis di bawah pohon di ujungsana. Aku berjalan mendekati anak itu dan memegang bahunya.

“Kenapa kau menangis? Dimana kedua orang tuamu?”, tanyaku.

Aku kecil itu mendongak. Sambil sesenggukan dia mulai membuka suaranya.

“Aku lapar,” gumamnya lirih.

Bagaimana bisa anak kecil ini kelaparan? Jika sekarang kau di sini, aku yakin wajahmu akan menampakkan sorot khawatir. Kau akan mengomel terhadap tindakan pemerintah yang mengabaikan anak kecil kelaparan seperti ini. Menyedihkan sekali memang. Dan kau akan membawa anak ini makan sepuasnya. Aku pun akan melukan hal yang sama.

Aku akhirnya mengerti bagaimana perasaanmu. Bagaimana inginnya kau mengubah keadaan seperti ini.

Aku berlalu pergi bersama anak itu dan menoleh ke arah bangku taman favorit kita untuk terakhir kalinya. Kosong.

***

Dua tahun kemudian

“Selamat pagi pemirsa. Kabar baik mengawali berita pagi ini. Negara kita tercinta, Korea Selatan dinobatkan sebagai Negara terbaik di dunia. Negara dengan tingkat keamanan yang paling ketat. Negara yang bersih dari korupsi. Negara yang berhasil mensejahterakan rakyatnya. Berikut laporan selengkapnya….”

Aku tersenyum sendiri menyaksikan berita pagi ini.

“Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu Yoong?” Tanya Yuri.

Saat ini kami sedang berada di ruang meeting untuk mempersiapkan meeting nanti dengan perusahaan dari Amerika. Perusahaan tempatku bekerja memang sama dengan Yuri. Hanya posisi kami yang berbeda.

“Tidak. Aku hanya bahagia jika Negara ini memang benar-benar menjadi Negara terbaik di dunia. Pengorbanannya memang tidak sia-sia,” jawabku. Ya, pengorbanan Donghae. Dia adalah seorang agen rahasia Negara ini.

Yuri mengerti apa maksud perkataanku, dia tersenyum lembut. “Kau masih mengingatnyakan? Apakah kau masih sed-?”

“Tidak. Aku memang masih mengingatnya, tapi aku sudah tidak menunggunya. Terserah takdir akan mempertemukanku dengannya lagi atau tidak. Kau juga taukanaku sudah berhasil membuka hatiku?” potongku cepat sebelum Yuri menyelesaikan ucapannya.

Yuri hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.

Dengan tergesa aku berjalan ke bangku paling ujung restoran ini. Siang ini aku ada janji makan siang bersama dengan Cho Kyuhyun, anak teman Appa yang dua tahun ini telah menjadi teman baikku.

“Maaf Kyuhyun Oppa aku terlambat. Tadi jalanan sedikit macet,” ucapku sembari duduk. Hari ini salju mulai turun sehingga sedikit mengganggu perjalanan.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti,” ucap Kyuhyun sambil tersenyum manis.

Kami menikmati makan siang dengan tenang. Hanya terdengar suara sendok yang bersentuhan dengan piring. Aku tau apa tujuan Kyuhyun mengajakku makan siang. Setelah beberapa tahun aku mengenalnya aku rasa dia akan mengutarakan perasaanya padaku. Appa bilang Kyuhyun besok akan pergi ke Aussie untuk mengurus bisnisnya selama beberapa hari. Mungkin inilah saat yang tepat menurutnya.

Cho Kyuhyun adalah pria yang sangat menarik. Dia tinggi, tampan, mapan dan baik hati. Dia memiliki pesona yang bisa membuat wanita bertekuk lutut padanya. Tapi aku selalu merasa pesona Lee Donghae jauh lebih memikat dari pada pesonanya.

Kyuhyun berdehem sebelum angkat bicara. “Yoong, setelah mengenalmu beberapa tahun ini aku merasa aku sudah mengenalmu dengan sangat baik. Aku ingin selalu berada disisimu dan melindungimu,” Kyuhyun berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku……..mencintaimu, apakah kau mau menjadi kekasihku?”

Walaupun aku sudah mengetahui tujuan Kyuhyun tapi aku merasa tidak siap dengan pernyataannya itu. Jujur aku merasa nyaman berada di dekat Kyuhyun. Aku senang bisa berteman dengannya.

Apakah aku mencintainya? Aku tidak tahu dan aku rasa….tidak. Aku memang sedikit tertarik padanya, tapi aku tidak pernah merasakan jantungku berdetak tak karuan saat aku bersamanya.

“Maafkan aku Kyuhyun Oppa, bisakah kau memberiku waktu untuk memikirkannya?” aku mencoba mengulur waktu untuk menjawabnya. Aku harus memikirkannya secara matang.

“Tentu saja. Apapun jawabanmu, aku akan menerimanya. Dan aku harap hubungan kita tetap terjalin baik seperti ini apapun jawabanmu nanti Yoona-ya,” ucap Kyuhyun sambil tersenyum.

Inilah salah satu sifat yang aku sukai dari Kyuhyun. Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya. Sama seperti sifat Appaku. Dan itulah yang membuatku tertarik padanya.

Sore ini aku mengantarkan Kyuhyun Oppa ke bandara. Dia akan pergi ke Aussie untuk mengurus bisnisnya disana. Aku lega karena Kyuhyun Oppa tidak meminta jawabanku saat di bandara tadi. Aku berencana akan memberikan jawabannya nanti malam. Aku akan benar-benar memikirkannya.

Aku berjalan ke arah taman yang dulu menjadi taman favoritku. Suasana malam ini masih sama seperti dulu. Banyak anak kecil bermain bola salju, banyak pasangan kekasih yang berjalan-jalan dengan tangan saling bertautan.

Terakhir aku mengunjungi taman ini dua tahun lalu, tepat di malam bersalju seperti ini. Aku melihat seorang laki-laki menggunakan jas sedang duduk disana. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memunggungiku.

Aku berjalan mendekat ke bangku taman itu. Jantungku berpacu dengan cepat. Dalam pikiranku tidak terbersit bahwa laki-laki itu adalah Donghae. Jika memang laki-laki itu Donghae, semoga ini bukan mimpi.

Aku berhenti saat berjarak sepuluh meter dari bangku itu. Laki-laki yang duduk di bangku taman itu menoleh ke arahku, mungkin dia mendengar adanya langkah kaki seseorang. Dia membuka kaca matanya. Dan….dunia serasa berhenti saat tatapan mata kami bertemu. Deg. Mata itu….aku sangat menyukai mata itu. Teduh. Aku seperti merasa jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, dengan orang yang sama. Lee Donghae.

Aku berlari kearahnya. Memeluknya dengan sangat erat seolah-olah aku tidak ingin melepasnya. Seolah-olah dia adalah barang paling berharga yang aku miliki. Tangisanku tumpah, kali ini tangisan dengan suara. Bukan tangisan tanpa suara seperti tujuh tahun lalu.

Aku ingin melepas pelukanku tapi dia malah menguatkan pelukannya. Aku mencoba mencari udara di sekitarku. Menghirup oksigen sebanyak mungkin. Aku takut ini mimpi.

“Ini bukan mimpi Yoong. Aku kembali,” ucap Donghae ditelingaku. Dia seperti bisa membaca apa yang aku pikirkan. “Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu begitu lama. Aku akan menebus semua kesalahanku seumur hidupku sampai kau memaafkanku,” lanjutnya.

Aku hanya diam. Aku masih berusaha mengumpulkan nyawaku yang sempat hilang karena bertemu laki-laki ini. Mengumpulkan oksigen dan menghirup sebanyak yang aku mampu.

“Aku pergi ke Jepang untuk melaksanakan misi rahasia. Bekerja sama dengan mereka untuk melawan musuh Negara ini. Aku tidak bisa menghubungi siapapun karena itu akan membahayakan keselamatan mereka. Tujuh tahun aku disana sampai akhirnya kami berhasil menjadikan Negara ini menjadi Negara seperti impianku dulu,”

“Aku selalu mengingatmu. Mengingat bahwa kau akan selalu mendukungku, mendoakanku. Itulah yang membuatku bersemangat. Dan sekarang aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tugasku sudah selesai. Aku akan mulai bekerja di perusahaan Ayahku,”

“Sekalipun aku tidak pernah melupakanmu, sungguh. Aku tidak meminta apapun darimu. Aku sudah cukup senang dengan reaksimu saat bertemu denganku,” ucap Donghae sambil tersenyum. Walaupun aku tidak bisa melihatnya tapi aku tahu Donghae tengah tersenyum, senyum terbaiknya.

Donghae melepaskan pelukannya. Kami duduk berhadapan. Aku ingin memandangi wajah Donghae sampai puas. Donghae masih sama seperti dulu, tampan. Bahkan aku rasa dia jauh terlihat lebih tampan dengan mengenakan jas seperti ini.

“Kau jahat Lee Donghae! Kau jahat!” teriakku sambil memukul dadanya. Dalam hati aku sangat bersyukur. Terima kasih Tuhan karena di musim dingin kali ini kau mengembalikannya padaku, batinku. Dia menahan tanganku. Memandangku dalam-dalam tepat di manik mataku, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di keningku.

Aku tersenyum. Donghae tersenyum. Dunia pun tersenyum.

Aku mengambil handphone di sakuku dan mengirimkan sebuah pesan.

To : Kyuhyun Oppa

Oppa, maafkan aku.

Aku tidak bisa menjadi kekasihmu.

Aku harap kita masih bisa berteman.

Semoga kau mendapat penggantiku :’)

“Kau mengirim pesan untuk siapa Yoong?” Tanya Donghae penasaran. Dia mengusap rambutku sepertu dulu. Pipiku merona merah. Aku tidak berani menatap wajahnya.

“Untuk mantan calon kekasihku”

*

PS: Ini adalah ff pertamaku. Jadi mohon sarannya. Terima kasih yang telah menyempatkan baca dan comment ^^


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * kyuli says:

    kyaa -.- so sweettttttttt .

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  2. * lya_yoonhae says:

    Bagus…

    Tapi endingnya kurang chingu…
    Dibikin dunkz sequelnya..
    heheheheheh

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  3. * SONELF says:

    Daebakkkkk !!!

    So sweet Yoona nya !!

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  4. * yonshae says:

    Kyaaaaa Jeany!!! Asdfghjkl!! Gue bacanya kejang-kejang (?) Keren! Keren banget serius!! Astaga gue bingung mau ngomong apa HAHA.
    Setuju banget sama kata-kata Yoong yang “Kau tidak taukanbagaimana aku
    sangat iri terhadap anak kecil itu?
    Berada di pelukanmu dan bisa
    mencium pipimu seenaknya.
    Menyebalkan!”
    Yasalam, sama Yoong, sama!! Itu anak, kecil-kecil udah mesum *eh /plak
    HAHA Cho Kyuhyun, pertama kali ditolak, eh? Tenang saja. Tingkat memikatnya dirimu tak berkurang, walau masih jauh dari pesona memikatnya Lee Donghae! /dilindeskyu/
    Kyahahahaha… Daebak Jen!! lol

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  5. * vina says:

    Bagus” thor..
    ☺нε··нε··нε☺…

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  6. * Indahnyaaja says:

    Keren chingu,,,,,,,,
    pas awal2 agk gmn gtu ,,,tp pas akhr2,,,,,,,,,bkin nngis,,,,,,

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  7. * fira says:

    wowwww,,,
    nice ff authorr,
    keren critanya,bkin terharu,#plak

    hahahaha,
    gomawo,,
    fighting!!!

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  8. * Yoo~~~ng says:

    endingnya agak kurang chingu. tapi bagus nih kalau dijadiin sequel.
    wuah chingu tuh haeppa kurang asem bgt yak. bikin cewek kayak yoong nunggu lama untung ngga keburu diambil kyu.

    Chingu, aku jg br nyoba nulis ff nih dibaca ya. hehehehe
    http://koreanfictionstory.blogspot.com/2012/01/time-has-gone-part-1.html.

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  9. * DeerYoongie says:

    Uwaaaa.. sukasuka sama jalan ceritanya
    Pas baca bagian awal-awal masih agak gak ngerti sama pekerjaannya Haeppa, eh..pas kebawah-bawah baru tau kalo Haeppa jadi agen rahasia.. woww gak nyangka😮 kerennn u,u

    Akhirnya ditaun ke 7, YoonHae ketemu lagi.. :* keke~
    Penantian Yoong terbalaskan :3

    Aaaa~ YoonHae jjang!
    keep writing!🙂

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  10. * anakingusan says:

    ini ff pertama? kok bagus? hehe..

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  11. * mochichi says:

    akhirnya kembali juga stlh skian lama!
    uhuyyyy…..
    tapi kelamaan ah bertaon2, tega bener, untung aja Yoong belom jadian ama Kyu.
    Kyu bwt gw aja *ketawa setan bareng Kyu*

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  12. * Cho Soo Kyo says:

    Ending’y kurang romantis chingu… Klo bs bkn sequel’y ya chingu…HWAITING…

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  13. * Lyka_BYVFEGS says:

    saya suka…saya suka…
    krna sya suka jdi hrus ada sequel’y, ending’y kurang *maksa.
    tp mga ja bneran da sequel’y *amin.
    keep writing,chingu!
    tk bntu dgn do’a.

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  14. * aiko says:

    so sweet

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  15. * tiya says:

    ceritanya sedih…..
    tapi endingnya bahagia…
    keren..

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  16. keren keren!!
    romantis^^

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  17. * yoondeer says:

    keren chingu!!!!
    bwt sequelx chingu….

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  18. * rina zhu says:

    wah,bgs.. Ayo bt ff yoonhae lg,thor

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  19. * meti says:

    sebenernya ini tuh so sweet..tapi menurut aku harusnya mereka sampe nikah jadi bener bener bahagia.
    Aaahhh lama banget nunggu sampe 7 tahun. 2 tahun nunggu oppadeul beres wamil aja lama banget. Apalagi ini. Daebak kalo beneran ada cewe kaya Yoona yg mau nunggu segitu lama😀

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  20. * iidonghae says:

    keren,

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  21. * Indy Nuha says:

    Thor endingnya kurang._.
    Tapi jujur nih ff seru banget! 🙂 Ђέђέђέђέђέ

    | Reply Posted 4 years, 11 months ago
  22. Ini first?? Bagus bgt .. Sumpah ..

    Aku kira ending nya bkalan sdih .. Haah .. Keren deh ..

    Akhir nya Hae oppa kembali .. Aku smpet nyesek loh,,pas Yoong eonni nyeritaiin klo dy msh ttp setia nggu Hae oppa ..

    Daebak deh pkk nya ..
    Feelnya berasa bgt ..

    Terus berkarya ..
    Hwaiting ..

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  23. * mimimi says:

    bagus ^^

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  24. * Elfishkhun0623 says:

    Wuah keren,😀
    keep writing thor🙂

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  25. * hanrara says:

    aaaaaaaaaa kak jeni akhirnya bikin ff juga:”)
    aku bingung mau ngomong apa, bagus banget serius
    tapi endingnya ngegantung dan gak ngena kak._.v
    terus kalo bisa dibikin sequelnya juga ya kak, sampe mereka nikah dan punya anak, wakakaka /plak
    kalo bisa juga nih kak, sequelnya berpart part /plak
    pokoknya ffnya bagus banget kak!
    *\m/*

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  26. * Putri says:

    Keren bgt >< author ^^
    Sumpah!kiraina Hae nya meninggal gara" pekerjaannya itu,ternyata? Huwaaa :')
    Kata" nya juga ngena kok thor,daebak lah ^^b

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  27. * purplechip says:

    DAEBAK!!!!!
    jen, seumur-umur gue jadi temen lo, baru kali ini gue baca ff lo. kenapa nggak pernah nyoba bikin ff dari dulu, kalo jadinya bagus gini?!!!
    bikin lagi pokoknya! jangan yang romantis doang kalo bisa, yang sadis-sadis aja *ditampar.
    gamau tau jen, pokoknya buat lagi!

    *psst, typo-nya kurangin ya! :p

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  28. keren .
    sampai terharu saya
    buat lagi lah thorr

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  29. * Diiah ELFish says:

    aahhh… soo Sweeeet..
    dan aku bener2 suka sama kata2nya yoona yang “Tapi aku selalu merasa
    pesona Lee Donghae jauh lebih
    memikat dari pada pesonanya.” im really agree w/ that.. kekekeke

    btw sequel dong. it ending nya kuran gmna gitu.. author.. sequelllll

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  30. * HaeNha~Elfishy says:

    So sweet..
    Awal.a sedih trbwa suasna hati yoong,smpet galau sma hae tega bgt.
    V akhr.a haeppa dteng jg nepatin janji.
    Kerenz bgt ff.a,syang.a hae dkit bgt d shoot.a.
    Sequel donk.!

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  31. * diana says:

    Penantian yg sangat panjaaaaang, tp alhmdulilah happy ending🙂
    Baguss ff-nya🙂
    Ditunggu krya slanjutnya..

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  32. * i am elf says:

    bgs chingu,,

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  33. * febrynovi says:

    FF-nya so sweet banget~~ walaupun FF pertama tapi bagus kok ^^
    Aku suka gaya bahasanya author~~ Good Job 

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  34. * BriGitta - Taeyeon♥, Seohyun♥ says:

    Ceritanya bagus banget.. :’)

    Terharu, senang semuanya dapet deh!
    Keep writting author!! Klo spring day ada lanjutanny bilang ya author!!

    Gomawo author!!😀

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  35. * desi handayani says:

    keren bnget
    w udh kra pasti sama donghae

    | Reply Posted 4 years, 4 months ago
  36. * diahjenatri says:

    daebakkkk:-)

    | Reply Posted 3 years, 8 months ago
  37. * ohsonnya says:

    entah udah berapa kali baca ini ff, tapi tetep aja gak bosen. bagus aih ceritanya.

    | Reply Posted 3 years, 7 months ago
  38. * jan says:

    Benar2 so sweet

    | Reply Posted 3 years, 5 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: