YoonHae Fanfics Library



[Oneshot] Be My Wife

Author : SparkFishy

Cast : Im Yoona x Lee Donghae

Genre : Romance, Sad (?)

Title : Be My Wife

Note : Special for pyros, hope u like it guyz and don’t forget for comment!^^

Be My Wife

Berapa banyak perempuan dalam hidupmu, Hwae oppa? Berapa yang kau butuhkan?

Sebut saja aku naïf, tapi itu dulu sekali, selain ibumu, kukira hanya aku. Bisa dibayangkan betapa harapanku melambung hingga menyentuh bintang, ketika suatu hari dengan mata penuh cinta, kau berkata, “Be my wife!”

Cukup lama aku terdiam. Bukan karena memikirkan bagaimana merespon kalimatmu, namun karena aku memerlukan waktu untuk mengusir rasa terkejut. Sungguhkah yang kudengar?

Dibandingkan dirimu, aku bukan siapa-siapa. Kau dengan selangit prestasi. Kau yang begitu populer  di kalangan yeoja seisi kampus. Kau yang mantan ketua senat. Kau yang berasal dari keluarga mapan.

Sedang aku hanyalah gadis sederhana, yang tidak populer, tidak pernah memenangkan satu piala pun dalam hidup, dan harus hengkang dari kuliah karena ketiadaan biaya.

Matamu yang tajam tampak panik beberapa kejap, menyadari tak satu kata pun kuucapkan, meski menit-menit berlalu.

“Be my wife,” ulangmu dengan penuh kesungguhan.

Tuhan, ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan, batinku sambil menatap rambutmu yang hitam berombak.

Ingatkah oppa, berapa lama kita mematung kala itu. Hanya terdengar helaan nafas masing-masing. Kau yang bingung akan diamku, dan aku yang harus menata keyakinan diri.

Maafkan aku. Sebab membiarkanmu mengulangi kalimat indah itu, sebelum aku yakin, aku tidak sedang bermimpi.

 

Berapa banyak perempuan dalam hidupmu, Hwae oppa?

Dulu kukira hanya aku. Hingga resahmu memecahkan batu kediaman. Tiga hari menjelang pernikahan kita. Pengakuan yang mengagetkan, dan rasanya akan sulit dipercayai siapa pun yang mengenalmu.

“Aku….pernah menikah sebelumnya, Yoong,” ujarmu dengan kalimat putus-putus.

Kali ini aku berharap sedang tidur dan bermimpi. Nyatanya tidak. Kepalaku yang menunduk, masih dapat menekuri kerikil-kerikil kecil yang berserakan di halaman belakang rumah. Beberapa saat kita hanya berdiam diri, menikmati deburan hati satu sama lain. Kau dengan perasaan bersalahmu, dan aku dengan sebersit rasa kecewa. Ternyata bukan aku yang pertama.

“Tapi itu sebuah kesalahan,” lanjutmu berusaha meyakinkan, dan mengusir embun yang memberat di mataku.

“Kami masih muda, Yoong. Dan ketika itu aku tidak seperti sekarang. Terlalu sering kami berdua hingga melakukan kesalahan itu. Mianhae,” ucapmu dengan nada penyesalan.

“Belakangan kami sama-sama sadar, Yoong. Tidak ada cinta, yang ada hanya gejolak anak muda. Kami bercerai setelah tiga bulan pernikahan dengan kehangatan yang lama-lama meredup.”

Aku masih diam. Dalam imajinasiku, tanah tempat kaki kita menapak seakan rekah dan meninggalkan jurang yang lebar, memisahkan kau dan aku.

Tapi,  layakkah menghukum seseorang berdasarkan masa lalu?

“Mianhae,” sesalmu lagi, dengan mata yang tampak memerah, ketika sekilas tadi tatapanku melintasi wajahmu.

Betapapun, perasaan beruntung dan mendapatkan anugerah itu jauh lebih besar dibandingkan badai yang kau bawa di hatiku hari ini.

***

Kubuang airmata yang sempat memberati kelopakku. Kutengadahkan wajah. Kulihat wajahmu bercahaya dan senyum lebar menghiasi di sana, kala pernikahan kita terlaksana. Walaupun ego sebagai perempuan, kadang sulit menghilangkan keingintahuan itu. Sebahagia ini jugakah kau dulu, oppa?

“Gomawo Yoong. Gomawo telah melengkapiku dengan cinta.”

Kata cinta yang kau ucapkan, tak lama setelah ikrar itu terucapkan dan ciuman lembut darimu yang menyentuh bibirku, mengantarkan kita pada status baru. Kau suamiku dan aku istrimu.

Setelah itu adalah hari-hari indah yang kita lewati bersama. Berdua kita menelusuri dunia yang memberi bahagia tanpa batas. Tak ada kata-kata yang bisa kutemukan untuk menjelaskan perasaanku saat itu, ketika aku menjadi perempuan satu-satunya dalam hidupmu.

 

Hari membuahkan minggu dan minggu melahirkan bulan. Begitu cepat bilangan bulan berganti tahun. Waktu telah memberi kita bahagia yang lain. Gadis kecil kita. Yeppeuda. Matanya mewarisi matamu dan bibirnya mewarisi bibir mungil bibirku. Setidaknya itulah komentar pertama yang keluar darimu ketika melihat Yoonhae.

Hidup tak lagi menjadi milik berdua. Tapi aku tak pernah marah pada makhluk ketiga yang hadir dalam hari-hari kita. Yoonhae yang begitu cepat tumbuh dan semakin menggemaskan.

“Gomawo telah memberiku kebahagiaan ini, Yoong.”

Berulang-ulang kalimat itu kau tujukan padaku, dengan mata yang semakin dilekati cinta. Cinta yang bergulir dan kulihat semakin besar di matamu.

Masih ingatkah Hwae oppa, saat kita duduk di teras rumah dengan satu sosok mungil di pangkuanmu. Mengenalkannya kepada bulan, bintang, langit, dan benda-benda angkasa lainnya.

“Appa akan bekerja lebih keras.” Katamu sambil memandang wajah imut Yoonhae yang mulai terkantuk-kantuk dalam pangkuanmu.

“Tapi beri Yoonhae waktu, terutama ommanya,” bisikku yang kau balas dengan mendekatkan wajahmu, lalu mengecup bibirku kemudian dahiku dengan penuh cinta, seperti biasa.

***

Hari-hari kita tetap indah, betapapun kesibukan menjeratmu. Sebagai istri, aku hanya bisa mendukung sebisaku. Menyiapkan kebutuhanmu sehari-hari, sebelum pergi ke kantor dan menyambutmu ketika pulang.

Di mataku kau tak pernah berubah. Masih laki-laki yang sama yang selalu jujur dalam setiap langkah. Laki-laki yang mengangkatku pada kedudukan para ratu. Begitu tinggi aku memandangmu, Hwae oppa. Sosok kukuh bertanggung jawab yang tak pernah sedikit pun kehilangan pesona di mataku.

Seperti petir yang memekakan telinga, ketika suatu hari seseorang memberitahu kabar itu. Kau diam-diam menjalin hubungan dengan perempuan lain. Kupeluk Yoonhae dalam tangis yang tak bisa kutahan.

“Omma kenapa?” tanya Yoonhae yang memasuki usia empat tahun. Jarinya yang kecil menghapus airmata yang turun di pipiku.

Semua kebahagiaan yang kurasa lebih dari sempurna, tak cukupkah bagimu? Dimana salahku?

“Sabar, Yoona. Ini memang cobaan perempuan.”

Suara ibu mertuaku parau, saat memelukku. Belakangan, perempuan berusia empat puluhan itu menangis makin keras. Barangkali seperti aku, ibu bisa melihat kebahagiaan kita yang pecah, seperti benda langit yang terbanting ke bumi. Kepingan-kepingannya melukai begitu banyak hati.

 

“Mianhae, Yoong. Jeongmal mianhae. Ini semua salahku.”

Malam itu kau memelukku. Sementara aku hanya termangu, tanpa bisa bicara. Meski cairan hangat yang berasal dari matamu, membasahi dress yang kukenakan.

Permintaan maafmu tak mengubah keadaan. Berbulan aku larut dalam kediaman yang membuat otak seakan berhenti berfungsi. Wajahku kuyu dengan mata bengkak karena setiap malam menangis. Kepercayaan diriku drop. Aku merasa seperti bunga yang dipangkas dari tangkainya dan layu sebelum waktunya.

Aku benar-benar kehilangan semangat untuk melakukan apapun. Hingga setahun berlalu, aku bahkan belum berani bercermin dan menatap tubuhku disana. Tubuh yang tak lagi menarik. Pasti itulah alasan kenapa suamiku jatuh cinta pada perempuan lain. Cantik, sudah kulihat foto mesra mereka berdua.

Kemana sikapmu yang dulu? Kenapa kini begitu mudah menyentuh bahkan memeluk mesra perempuan yang belum menjadi istrimu?

Tapi kalimat itu tak pernah kusampaikan padamu. Hanya menari-nari dalam pikiran yang kian kusut dari waktu ke waktu. Waktu yang kerap membawa anganku berpindah-pindah. Di hadapanmu, aku masih larut dalam diam. Teringat satu hal yang kutelan mentah-mentah pada hari di malam pertama yang memabukkan.

“Pegang kata-kataku, Yoong. Selamanya, aku hanya akan memberimu kebahagiaan. Bukan yang lain.”

Kebahagiaan? Kata itu telah melayang jauh di antara bintang-bintang, bulan, dan langit yang dulu kita kenalkan pada Yoonhae. Saat duduk bersama di beranda rumah. Ketika cinta masih bisa kupercaya.

***

Selama dua tahun kemudian, aku hidup dengan perasaan kosong. Berulang kali berusaha bangkit, untuk permata kecilku, Yoonhae yang kini memasuki usia sekolah. Tapi lebih sering gagal.

“Omma harus tersenyum lagi.”

Begitu kalimat Yoonhae sambil tangannya menarik ujung bibirku ke atas.

Hidup memang tak pernah mudah. Salahku melupakan cobaan.

Tertatih kucoba bangun dari hampa. Semua menyambut baik dan mendukung. Tidak kupusingkan lagi hubungan Hwae oppa dengan perempuan itu. Sampai suatu hari ibu mertuaku datang dan membawa kabar.

“Mereka sudah putus, Yoona. Sudah putus. Syukurlah!”

Bibirku yang kering bergerak-gerak.Adaairmata yang jatuh disana.

“Kau tidak usah cemas, Yoona,” nasihat ibu mertuaku lagi, “waktu akan menyembuhkan kesedihan.”

 

Pagi ini, untuk pertama kali aku berani menatap tubuhku di cermin. Entah bagaimana, sepertinya kesedihan juga telah menghilangkan sebagian berat badanku. Tentu saja mustahil mengharapkan tubuhku kembali dalam kondisi terbaik seperti dulu.

Sementara omma yang sejak peristiwa itu seperti ingin menjaga jarak dengan masalah pribadiku, kali ini datang dan memberiku nasihat.

Begitulah, kututup lembar kesedihanku dan berusaha bangkit. Bibirku yang kering mulai kusapu lipbalm. Aku semakin sering tersenyum. Seiring waktu, jendela-jendela kamar mulai kubuka dan kubiarkan terkena cahaya matahari. Aku keluar dari sunyi.

***

Hwae oppa memperlakukanku lebih hati-hati. Masih ada cinta yang berpendar di matanya. Kami mulai sering duduk berdua lagi. Aku memang bukan siapa-siapa, bukan seperti perempuan cantik dan populer yang merebut Hwae oppa dari sisiku. Tapi bahkan seorang perempuan sederhana berhak merasa terluka. Walau demikian, kukayuh sebisaku bahagia untuk mengembalikan senyum pada kami. Hwae oppa mendorongku untuk belajar lagi.

“Biar kau punya kesibukan. Kenapa tidak kuliah lagi?” usul Hwae oppa suatu hari.

Bayangan cantik yang tersenyum renyah dalam pelukan Hwae oppa, menyedot ingatanku. Perempuan cantik yang terlihat elegan dan berpendidikan tinggi. Bayangan itu membangkitkan rasa cemburu dan semangat kompetisiku. Maka kuanggukkan kepala menyetujui usulnya untuk melanjutkan kuliah, bahasa Inggris menjadi pilihanku.

Untuk membantu menangani Yoonhae di rumah, Hwae oppa memintaku mempekerjakan seorang baby sitter. Aku setuju. Hwae oppa sendiri yang mengurus semuanya karena aku sibuk menyiapkan berbagai kelengkapan pendaftaran sebagai mahasiswa baru.

Aktivitas baru mengembalikan rasa percaya diriku. Kembali belajar, bergaul dengan teman-teman yang berusia jauh lebih muda, membawa kesegaran dalam hidupku. Ah….terkadang aku lupa usiaku yang tak lagi remaja.

 

“Yoonhae..coba lihat ini, ommamu pintarkan?”

Pertanyaan Hwae oppa yang dilemparkan pada buah hati kami membuat perasaanku membuncah. Indeks prestasiku memang cukup membanggakan. Diam-diam aku berterima kasih pada sosok cantik yang tampak pintar, namun tak pernah kukenal namanya. Sosok yang membuat suamiku beralih dariku, namun menyadarkanku untuk kembali memiliki cita-cita.

Aku ingin cerdas, ingin pintar. Ingin bisa menjawab pertanyaan apa saja yang Hwae oppa tanyakan. Aku ingin bisa melayani kebutuhan intelektualitasnya sehari-hari. Keinginan itu sungguh menjadi bahan bakar dalam menjalani hari-hari kuliahku. Juga dalam mempercantik dandananku yang cenderung monoton.

“Duh, ommamu semakin terlihat cantik ya, Yoonhae?”

Begitu komentar Hwae oppa kerap kali, yang disambut acungan jempol dari Yoonhae.

Kebahagiaan seolah kembali dalam genggaman. Hwae oppa yang pengertian dan tidak pernah marah, bahkan meskipun tak jarang tugas-tugas kuliah membuatku pulang terlambat. Baby sitter yang baru telah mengurus Yoonhae dengan terampil. Aku sungguh berterima kasih padanya.

Perlahan pula perasaan cintaku yang sempat menguap kepada Hwae oppa telah kembali. Dari situ aku tahu, bahwa perasaan itu tak pernah benar-benar hilang. Saranghae, Hwae oppa.

 

Seperti semua orang, hidup akan dijalani sambil membawa masa lalu yang sebagian pasti berupa gambar buruk atau luka. Meski bentuknya berlainan, semua itu akan terus ada, memberi warna masa kini, sampai saatnya usai.

END


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * SONELF says:

    Aduhh , dapet banget Feel’a !!

    Kasian si Yoong digituin sama si Hwae !!

    Tetap berkarya thorr , buat yg banyak lagii ^^

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  2. * jeanitnut says:

    Keren! Keren!
    Meskipun aku sedikit bingung dengan jalan ceritanya, tapi ceritanya sangat menarik.
    Donghae tega…..banget. Yoona terlalu baik untuk disakiti. Untung aja mereka gak sampai cerai.
    Buat lagi chingu^^

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  3. * mochichi says:

    Baca lg ff ini,
    Critanya keren
    Sgt menyentuh n bermakna…
    Kasian Yoona dsni,jd pengen ikutan nangis!

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  4. * Yosep says:

    kya~ daebak!!🙂

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  5. * mimimi says:

    Bagus thor^^

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  6. * wulan ELFishy says:

    like this🙂

    | Reply Posted 4 years, 10 months ago
  7. * HaeNha~Elfishy says:

    Hiks..hiks..
    So sad story..
    Gx stju bgt haeppa sm karakter.a yg kjam g2 ngehianatin yoona.

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  8. * yo0nnie says:

    bgz. . Tp kok yoona diam aja suami.a selingkuh. . Tp yoona baik bgd, pengen kyk yoona tp gk mw y diam aja gk mlakukan sswtu saat suami.a slgkh. . Hehehe ngayal

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  9. * lilipopo says:

    kyaaaaa
    daebaaak

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  10. * aniya1004 says:

    Hae knp selingkuh?? kurang apadeh yoona.. U.U

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  11. * febrynovi says:

    Satu kata yang bisa menggambarkan FF ini. “COMPLICATED”
    Ceritanya seru, Yoona hebat masih mau mempertahankan pernikahannya sama Donghae yah padahal dia udah selingkuh. Kalo aku jadi Yoona mah mending cerai aja .-. #eh
    Banyak pelajaran juga yang bisa dipetik di FF ini. Author daebak!!

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  12. * BriGitta - Taeyeon♥, Seohyun♥ says:

    Yahh.. Kok pendek authorr??😦

    Padahal aku semngat banget baca FF ini.. Tau2 ehh habis..😦

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  13. * dillatiffa says:

    kasihaan bangeet…😥 *ketahuan penggemar happy story*
    tapi,, seneng sama endingnya… semangaat… \^_^/

    | Reply Posted 4 years ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: