YoonHae Fanfics Library



[One-shot] I Knew It (Do You Still Love Me?)

Author           :  Lyka_BYVFEGS

Main Cast     :  Lee Donghae x Im Yoona

Genre            :  One-shot, Romance

Title               :  I Knew It (Do You Still Love Me?)

Notes            :

Lagi dan lagi, FF ini terinspirasi dari lagunya Beast. Mungkin karena mereka baru saja merilis digital single terbaru dan aku terbuai oleh suara mereka yang sangat menonjol dalam lagu itu, jadinya aku kepikiran untuk membuat FF ini.

Mianhe kalau typo, gaje dan ada beberapa bahasa yang semrawut (?)

Silahkan dinikmati FF gajeku yang satu ini.

 

Setelah baca jangan lupa comment. Like-nya juga boleh…:D

 

HAPPYREADING!!!

 

I Knew It (Do You Still Love Me?)

Tidak bertemu denganmu selama 1 bulan karena kesibukanku membuatku tidak menyadari beberapa perubahan dalam dirimu. Sekarang kau lebih senang merias wajahmu dengan make up. Semula aku menyangka kau berubah untukku, untuk menyambut kepulanganku dari luar negeri. Tapi ternyata aku salah. Aku baru menyadari kalau kau berubah bukan karena aku. Bukan untuk menyambut kedatanganku.

 

Aku pikir setelah aku kembali kau akan menyambutku dengan senyum manismu yang selalu kau tujukan untukku, tapi ternyata kau menanggapi kepulanganku dengan ekspresi datar yang membuatku takut untuk melihat wajah cantikmu. Aku tidak pernah melihatmu dengan ekspressi seperti itu sebelumnya. Karena selama ini yang ku lihat darimu hanya wajah yang selalu tersenyum dan ekspresi bahagia sekaligus terharumu saat aku melamarmu 2 bulan yang lalu.

 

Tapi kini aku melihat ekspresi itu, ekspresi yang membuatku mencemaskan satu hal, yaitu kebencianmu terhadapku. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi itulah yang aku takutkan. Jika orang yang kau cintai tidak senang melihat sosokmu dihadapannya kau pasti berpikir bahwa kau telah melakukan kesalahan atau dia mulai membencimu. Aku merasa aku tidak melakukan kesalahan apapun, jadi pasti dia mulai membenciku. Tapi semudah itukah dia membenciku? Membenci orang yang 3 tahun ini menjadi kekasihnya dan sejak 2 bulan yang lalu menyandang status sebagai tunangannya.

 

Aku baru menyadari setelah hari dimana aku melamarmu kita menjadi jarang bertemu bahkan berkomunikasi. Mungkin itulah yang membuatmu membenciku. Membenci aku yang tidak memperhatikanmu, membenci aku yang lebih mementingkan pekerjaan dibanding tunanganku sendiri. Jika memang karena itu, aku mohon maafkan aku.

 

Satu hal yang paling tidak aku duga adalah sekarang kau mempunyai kebiasaan baru, yaitu pergi ke club malam. Sejak kapan kau melakukan kegiatan yang menurutku lebih banyak membawa dampak negatif daripada positif itu? Pada awalnya aku menertawakanmu yang sekarang sering menyambangi sebuah club mengingat kau adalah gadis polos dan lugu. Tapi kau justru menganggap bahwa perkataanku itu seperti mencemooh dan merendahkanmu. Hei! Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu.

 

Kenapa kau menjadi aneh seperti ini? Apakah kau sedang mempermainkanku? Bagaimana bisa kau melakukan semua ini kepadaku? Tapi tidak peduli apapun yang kau lakukan padaku. Aku akan berpura-pura tidak mengetahuinya dan tetap mencintaimu.

 

Aku tetap pada pendirianku, membiarkanmu menghabiskan masa muda sebelum aku menikahimu bulan depan. Meskipun sedikit demi sedikit kau mulai menjauh dariku. Hingga suatu hari kau datang kerumah dan meminta ijin kepadaku untuk menemui teman lamamu. Saat itu aku ingin melarangmu, tapi aku tidak mau kau semakin membenciku karena sifat over protektifku. Dan dengan berat hati aku mengijinkanmu untuk pergi dengan laki-laki itu. Melihatmu berada satu mobil dengan seorang laki-laki membuatku mengkhawatirkan satu hal, bahwa aku bisa saja kehilanganmu suatu saat nanti.

 

* * * * *

 

Seminggu setelah kejadian itu, kita benar-benar tidak berhubungan sama sekali. Ingin rasanya aku menghubungimu tapi aku merasakan takut yang amat sangat. Meski aku tidak mengerti apa yang membuatku takut untuk menghubungimu terlebih dahulu. Hingga hari ini rasa rindu dalam hatiku tak bisa ku bendung lagi. Aku memutuskan untuk singgah di apartementmu, sekedar untuk menghilangkan rasa rinduku barang sejenak, karena aku harus kembali ke kantor secepatnya.

 

Kau menyambutku dengan senyum manismu, meskipun senyum itu bukanlah senyuman yang selalu kau tujukan untukku. Tapi aku sudah cukup senang karena pada akhirnya kau tersenyum lagi kepadaku setelah beberapa hari terakhir ini senyum itu seperti lenyap tertelan bumi. Ah! Tidak ada didunia ini yang bisa membuatku bahagia selain melihat senyumanmu itu.

 

Aku membalas senyumanmu dengan senyum terbaik yang aku miliki, senyum yang selalu tersungging di wajahku setiap kali melihat wajahmu. Kau mempersilahkanku masuk, menawariku segelas minuman dingin. Dan dengan senang hati aku menerimanya. Sedetik kemudian kau menuju dapur untuk membuatkanku minuman yang tadi kau tawarkan kepadaku.

 

Saat mengamati apartementmu yang sudah lama tidak aku kunjungi, pandanganku tertuju pada sebuah benda elektronik yang terletak di atas meja tidak terlalu jauh dari tempatku duduk saat ini. Dengan perasaan bimbang dan juga penasaran aku mengambil benda itu. Ponsel milikmu. Dan aku tercengang begitu melihat banyak panggilan masuk maupun tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal, beserta beberapa pesan singkat yang pengirimnya adalah nomor yang sama. Meskipun pesan itu hanya sebatas menanyakan kabar, tapi cukup untuk membuat kepalaku mendidih.

 

Rasa sakit tiba-tiba kurasakan di dadaku. Ku cengkeram kuat dadaku untuk sedikit menghilangkan rasa sakit yang aku rasakan. Walaupun pada akhirnya rasa itu tetap ada dan semakin bertambah parah saat ku lihat pesan masukmu penuh oleh nomor yang sama. Nomor yang tidak ku kenal, nomor yang membuatku merasakan sakit seperti yang aku rasakan sekarang ini, nomor yang membuatku merasakan bagaimana rasanya cemburu untuk pertama kalinya. Kuhela nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak yang ku rasakan. Sebelum kau selesai dengan urusanmu di dapur, aku segera mengembalikan ponselmu ke tempat semula. Aku tidak ingin kau mengetahui bahwa aku telah lancang mengotak-atik ponselmu dan membuat kita bertengkar hebat. Karena sampai saat ini aku masih mempercayaimu dan akan terus memegang kepercayaan itu sampai kapanpun.

 

* * * * *

 

Hari ini aku berniat mengajakmu ke tempat favorite kita. Tempat dimana aku melamarmu dan juga tempat pertama kali kita bertemu. Aku menghentikan mobilku di depan rumah orangtuamu, karena sudah menjadi kebiasaanmu jika akhir pekan kau akan pulang kerumah. Aku melihat mobil terparkir di depanku lebih tepatnya di depan rumahmu. Sesaat kemudian ku lihat kau keluar dari mobil itu dengan tersenyum manis, senyum yang biasanya kau tujukan kepadaku. Aku bertanya-tanya dalam hati. Dengan siapa kau pergi? Kenapa kau tersenyum seperti itu kepadanya? Apakah dia seseorang yang akan menggantikan kedudukanku dihatimu? Atau dia hanyalah sebatas temanmu? Saat aku bergelut dengan berbagai pertanyaan yang berdesakan di kepalaku. Ku lihat seorang laki-laki keluar dari mobil itu. Memberikan sebuah tas kepadamu yang bisa ku simpulkan bahwa kalian baru saja pergi berbelanja. Laki-laki itu adalah orang yang sama dengan laki-laki yang ku ketahui adalah teman lamamu.

 

Aku mencoba berpikir positif. Mungkin saja kalian memang sedang melepas rindu satu sama lain karena lama tidak bertemu. Ya, aku akan selalu berpikiran seperti itu. Karena menurutku kau tidak akan mungkin membagi cintamu dengan orang lain. Aku sangat tahu bahwa hanya aku yang kau cintai begitupun aku.

 

Setelah mobil itu melaju menjauh dari rumahmu, aku segera keluar dari mobil dan memanggilmu sebelum kau benar-benar masuk ke dalam rumah. Kau tampak terkejut melihat kedatanganku, tapi sedetik kemudian kau hanya tersenyum tipis melihat kehadiranku. Ya Tuhan! Kenapa sekarang aku benar-benar merasa sangat takut? Apa yang sebenarnya membuatku seperti ini?

 

Dengan nada datar kau menyuruhku masuk kerumah, tapi aku menolaknya. Tentu saja aku melakukannya, karena tujuanku datang kemari bukanlah untuk berkunjung kerumahmu tapi untuk mengajakmu jalan-jalan atau lebih tepatnya kencan. Aku sangat merindukan saat-saat dimana aku menggandeng tanganmu dan berjalan beriringan mengelilingi jalananSeoul. Menggoda remaja yang sedang berpacaran di taman yang sering kita kunjungi, atau bermain dengan anak-anak yang sudah kita kenal karena terlalu seringnya kita pergi ke taman itu. Terakhir kali kita melakukan semua itu adalah saat aku melamarmu.

 

Apakah kau tahu tidak ada satu kata pun yang bisa mengekspresikan kebahagiaanku ketika melihatmu menggangguk malu sebagai jawaban atas lamaranku? Aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung didunia ini, karena bisa memiliki seorang gadis sepertimu. Cantik, baik, penyayang, lembut, menyukai anak kecil, dan yang paling penting kau mempunyai senyum yang indah bagiku. Mungkin kata sempurna tidak cukup untuk menggambarkan seperti apa dirimu dimataku. Yang bisa aku lakukan hanyalah bersyukur pada Tuhan karena Dia telah menciptakan seseorang sepertimu dan menjadikan orang itu milikku.

 

Kau tampak berpikir sejenak sebelum menerima ajakan kencan dariku. Aku sangat senang ternyata kau tidak menolak ajakanku, tapi ada satu hal yang membuat dadaku sesak, bahwa hanya aku yang merasakan kebahagiaan itu. Sedangkan kau lebih terlihat murung dan jarang sekali menatap mataku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah semua ini ada hubungannya dengan laki-laki itu? Laki-laki yang kau kenalkan sebagai teman lamamu.

 

Dengan sangat terpaksa, aku memutuskan untuk mengantarmu pulang di tengah-tengah kencan kita. Aku tidak akan bisa melihatmu yang terus menerus bersikap dingin seperti ini. Jadi lebih baik kita akhiri kencan kita hari ini. Karena memang pada kenyataannya akulah yang mengingikannya bukan kau.

 

Setelah sampai didepan rumahmu pun kau sama sekali tidak tersenyum kepadaku, hanya mengucapkan terimakasih dengan nada datar. Keluar dari mobil dan segera memasuki rumahmu tanpa menoleh kepadaku. Hah! Aku hanya bisa menghela nafas berat. Kenapa jadi seperti ini? Dengan air mata yang menggenang dipelupuk mataku akibat menahan sakit yang aku rasakan akhir-akhir ini, aku melajukan mobil menembus jalananSeoul. Mungkin dengan berkeliling-keliling sebentar bisa mengurangi beban pikiran yang sedang aku pikul seorang diri ini.

 

* * * * *

 

Sudah lebih dari 3 hari ponselmu tidak aktif. Padahal aku sangat ingin mendengar suaramu, walau pada akhirnya hanya nada ketus yang kau lontarkan tapi sudah cukup membuatku merasa sedikit senang. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu atau lebih tepatnya dengan hubungan kita. Semakin aku memikirkannya semakin aku tidak mengerti akan perubahan sikapmu.

 

Semua pekerjaan yang aku kerjaan tidak ada yang beres sama sekali, hingga aku harus meminta bantuan Kyuhyun untuk menyelesaikannnya. Aku rasa aku butuh cuti selama beberapa hari. Tidak mungkin aku bekerja dalam keadaan seperti ini. Semua yang ada dalam otak, pikiran bahkan hatiku hanyalah dirimu. Sepertinya kau telah mengendalikan seluruh hidupku baik jiwa maupun raga. Aku tidak mengerti kenapa kau bisa membuatku seperti ini. Dan mungkin sebentar lagi aku akan seperti mayat hidup atau lebih parahnya aku akan menjadi gila jika terus seperti ini.

 

Tapi apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Segala cara telah aku lakukan untuk meminta penjelasan darimu. Tapi sampai saat ini aku tidak juga mendapat jawaban dari pertanyaan yang aku lontarkan kepadamu. Ah! Kau membuatku gila, Im Yoona!

 

Apa kau sedang mempermainkanku sekarang? Jika memang benar, aku akui aktingmu sangatlah bagus untuk orang awam sepertimu. Aku harap semua ini hanya mimpi buruk bagiku dan semoga aku segera terbangun dari tidurku. Ya, semoga.

 

Cring!!!

 

Suara dari arah pintu membuyarkan lamunanku. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa pengunjung yang baru datang itu. Ternyata orang itu adalah Kyuhyun. Dia melambaikan tangannya kepadaku dan aku hanya bisa tersenyum hambar. Aku bisa melihat ekspresi iba dimatanya saat menatapku.

 

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku ketus.

 

“Kau sungguh menyedihkan, hyung.” jawab Kyuhyun cuek sambil melambaikan tangannya memanggil pelayan untuk memesan secangkir cappuccino latte seperti yang aku pesan.

 

“Ne, aku memang menyedihkan.” jawabku setelah pelayan itu berlalu.

 

“Apa hyung akan terus seperti ini? Diam saja dan tidak berbuat apa-apa.”

 

“Lalu apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa.”

 

“Apakah hyung akan tetap diam kalau seandainya dia meninggalkan hyung?” tanya Kyuhyun dengan nada mengejek.

 

“Maksudmu?”

 

“Kemarin aku melihatnya di sebuah pusat perbelanjaan dengan seorang laki-laki. Mereka terlihat akrab sekali.” Jawab Kyuhyun santai.

 

“Benarkah?” Tanyaku putus asa.

 

“Ya! Donghae hyung! Kau benar-benar sangat menyedihkan. Aku sarankan lebih baik hyung datang kerumahnya dan meminta maaf atas semuanya. Entah kesalahan yang hyung sengaja atau pun tidak dan juga kesalahan yang tidak hyung sadari.” jawab Kyuhyun sambil beranjak dari duduk.

 

“Kau mau kemana?”

 

“Aku ada urusan. Lagipula aku tidak mau melihat laki-laki menyedihkan dihadapanku ini terlalu lama. Membuatku kesal saja.” jawab Kyuhyun cuek.

 

“Ya! Cho Kyuhyun! Akan ku potong gajimu.” teriakku tidak terima. Aku tidak peduli jika pengunjung lain melihat kea rah kami.

 

“Terserah.” jawab Kyuhyun singkat kemudian berlalu dari hadapanku.

 

“ARGHHH!!!” teriakku frustasi yang mendapat tatapan aneh dari beberapa pasang mata yang sedari tadi melihat ke arahku.

 

* * * * *

 

Hari ini aku berniat untuk jalan-jalan disekitar Sungai Han. Aku tidak menyangka bahwa Sungai Han yang biasanya ramai pengunjung menjadi seperti sekarang ini, hanya beberapa orang yang tampak. Mungkin karena cuaca malam ini lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Aku memutuskan untuk duduk disebuah bangku yang terletak disekitar sungai. Ku edarkan pandanganku menikmati apa saja yang masih bisa dijangkau oleh kedua bola mataku.

 

Tiba-tiba mataku terbelalak lebar, nafasku tercekat, dan saat itu juga kurasakan sebuah tangan mencengkeram kuat jantungku hingga aku merasakan sakit yang teramat sangat. Kau! Ya, untuk kesekian kalinya aku melihatmu dan dia jalan bersama dan terlihat mesra. Persis seperti apa yang dikatakan Kyuhyun beberapa hari yang lalu.

 

aku memutuskan untuk menghampirimu. Aku benar-benar butuh penjelasan sekarang. Kenapa kau melakukan ini padaku? Tidak ada satu orang pun yang rela jika orang yang dicintainya pergi dengan laki-laki lain dan terlihat mesra seperti itu. Dengan menahan emosi dan sakit yang ku rasakan, aku berjalan mendekati kalian berdua.

 

“Kita harus bicara.” ucapku tanpa basa-basi sambil menarik tanganmu. Kau terlihat kaget dengan kehadiranku tapi sedetik kemudian ekspresimu berubah menjadi sulit aku mengerti.

 

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” katamu menepis tanganku.

 

“Mian, sepertinya Yoona sedang tidak mau diganggu olehmu. Jadi bisakah kau meninggalkan kami?” laki-laki yang dengan beraninya jalan berdua dengan seorang gadis yang telah mempunyai tunangan itupun angkat bicara.

 

“Lebih baik kau diam. Ini tidak ada urusannya denganmu.” jawabku ketus. “Oppa tidak peduli jika kau tidak ingin bicara dengan oppa karena oppalah yang ingin bicara denganmu, lebih tepatnya meminta penjelasanmu.” lanjutku menarik tanganmu –lagi dan segera membawamu pergi darisana.

 

* * * * *

 

“Apa yang ingin kau katakan?” tanyamu ketus.

 

“Apakah sekarang tidak ada panggilan oppa lagi untukku?” tanyaku miris mendengar dia menyebutku dengan ‘kau’ bukan ‘oppa’ seperti biasanya.

 

“Itu hanya masalah sepele, kenapa dipermasalahkan?”

 

“Mungkin bagimu sebutan itu tidak berarti apa-apa, tapi bagi oppa itu sangat penting. Meskipun tidak ada yang lebih penting bagi oppa selain kau.” kataku sambil menatap kedua matanya, tapi kau segera memalingkan wajahmu begitu menyadari aku sedang menatapmu. Sebegitu bencikah kau terhadapku hingga menatapku saja kau tidak sudi?

 

”Benarkah? Bukankah pekerjaanmu lebih penting dariku?” tanyamu sarkatis. Tersirat nada kecewa, terluka dan amarah disetiap kata yang kau ucapkan.

 

“Jadi selama ini kau berpikir seperti itu?”

 

“Ne. Aku berpikir seperti itu setiap hari hingga rasanya membuat dadaku sesak. Aku pikir setelah hari itu, hubungan kita akan baik-baik saja atau mungkin akan penuh dengan kebahagiaan. Tapi ternyata aku salah.” katamu dengan air mata yang mulai mengalir.

 

“Jangan menangis, Yoona-ah.” kataku menghapus air mata dipipimu dengan kedua tanganku. Tapi kau malah menepisnya. Membiarkan dirimu menghapus air matamu dengan tanganmu sendiri. Hal kecil yang membuatku merasa gagal menjadi seorang tunangan yang baik untukmu. Tunangan macam apa aku ini yang membiarkan orang yang dicintai menghapus air matanya sendiri?

 

Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku menggenggam kedua tanganmu yang kau taruh di atas pahamu. Semula kau mencoba melepaskannya tapi aku semakin erat menggenggam tanganmu hingga kau pasrah dengan apa yang aku lakukan.

 

“Maaf, oppa…”

 

“Aku harus pergi.” katamu memotong ucapanku dan berusaha melepaskan genggaman tanganku dari tanganmu. Tapi aku menahannya, menggenggam tanganmu semakin erat dan menarikmu ke dalam pelukanku. Kau tidak berusaha memberontak dalam pelukanku, yang kau lakukan hanyalah menangis terisak.

 

“Maafkan oppa, Yoona-ah. Oppa tahu aku terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan oppa dan oppa juga tahu bahwa kita jarang bertemu. Tapi oppa melakukan ini semua untukmu. Oppa berniat untuk memberimu kejutan dengan mengajakmu menikah bulan ini. Setelah itu kita bisa berbulan madu ke tempat yang kau inginkan tanpa diganggu oleh pekerjaan oppa. Itulah sebabnya oppa berniat menyelesaikan pekerjaan oppa secepatnya termasuk proyek baru di luar negeri. Dan alasan oppa tidak menghubungimu selama di luar negeri adalah karena oppa sangat merindukanmu. Oppa takut tidak bisa menahan rasa rindu oppa jika oppa mendengar suaramu. Oleh karena itu, oppa selalu berusaha untuk menahan rasa rindu oppa meski oppa harus tersiksa. Tapi ternyata setelah oppa pulang dan berharap bisa melihat senyum manismu kau justru menyambut oppa dengan sikap dinginmu.” kataku sambil mengeratkan pelukanku. Melepas rasa rindu yang lebih dari 2 bulan ini menyiksaku.

 

“Oppa tidak tahu jika apa yang oppa lakukan ini menyakitimu. Oppa juga tidak pernah menduga kalau kejutan yang akan oppa berikan berujung kebencianmu terhadap oppa. Oppa tidak keberatan jika kau marah kepada oppa, tapi jangan bersikap seperti ini. Katakanlah secara langsung apa yang mengganjal dihatimu. Oppa akan berusaha untuk mengerti dan meminta maaf jika memang itu kesalahan oppa.” lanjutku melepas pelukanku darimu. Kau mendongak menatap kedua mataku. Dapat kulihat air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahmu. Dengan lembut aku menghapus air mata itu dari pipimu.

 

“Maafkan aku, Donghae oppa.” katamu sambil menunduk. “Maafkan aku karena sikapku yang kekanakan. Aku hanya kesal karena oppa tidak memperhatikanku lagi seperti dulu setelah oppa melamarku. Aku pikir oppa tidak mencintaiku lagi. Jadi aku meminta bantuan Kibum oppa untuk sedikit membalas dendam kepada oppa. Maafkan aku.”

 

“Bodoh! Kau benar-benar bodoh jika berpikir seperti itu. Jangan mengambil kesimpulan dari sudut pandangmu sendiri. Kau harus mengerti situasi dan kondisi yang sebenarnya jika ingin mengambil sebuah kesimpulan ataupun keputusan.” kataku sambil mengacak-acak rambutmu.

 

“Ne! Ne! Aku tahu. Berhenti mengataiku bodoh!” katamu sambil cemberut. Sepertinya Yoona-ku telah kembali.

 

“Aigo! Kau semakin cantik jika cemberut seperti itu.” kataku mencolek dagumu.

 

“Ya! Oppa!”

 

“Maaf…” kataku sambil menggenggam tanganmu.”Berjanjilah satu hal pada oppa, jangan pernah menyembunyikan apapun dari oppa. Oppa tidak rela jika kau sampai pergi ke club dan berdandan cantik di depan laki-laki lain selain oppa.”

 

“Ne, aku janji.” katamu tersenyum manis. Senyum yang aku rindukan.

 

“Tapi apa yang kau lakukan di club? Tidak mungkin gadis polos sepertimu tahan dengan kehebohan didalam club.” tanyaku penasaran.

 

“Aku mengerjakan beberapa pekerjaan kantor disana. Kebetulan teman Kibum oppa adalah pemilik club itu jadi aku diperbolehkan menggunakan kantornya untuk menyelesaikan pekerjaanku.” Jawabmu tersenyum hambar.

 

“Ah! Oppa pikir kau mabuk-mabukan dengan lelaki hidung belang.”

 

“Ya! Oppa! Aku bukan gadis seperti itu.” katamu tidak terima.

 

“Ya, ya. Oppa mengerti. Aku mencintaimu.” kataku menarikmu kedalam pelukanku.

 

“Aku juga mencintaimu, Donghae oppa.” katamu melingkarkan tanganmu di pinggangku.

 

“Oppa?”

 

“Hmm?”

 

“Apakah benar bulan ini oppa akan mengajakku menikah?” tanyamu melepaskan pelukan kita.

 

“Hmm…bagaimana ya? Sepertinya tidak jadi, karena kau menghancurkan kejutan yang ingin oppa berikan.” jawabku sambil tersenyum evil yang kupelajari dari Kyuhyun.

 

“YA! OPPA! SEKARANG AKU BENAR-BENAR MARAH KEPADAMU!”

 

* * * * *

 

ARGHH!!! *teriak frustasi

 

FF apa ini??? Hancur lah semua FF yang aku buat.

Hiks..hiks…hiks… *nangis dipojokin ditemenin oppadeul SuJu.

 

Tapi baiklah, meskipun hancur dan gajenya nggak ketulungan aku tetap bersyukur karena bisa menyelesaikan FF ini dengan cepat.

 

Commentnya aku tunggu lho…

Karena comment kalian sangat berarti untukku seperti Yoona eonni yang sangat berarti untuk Donghae oppa *author lebay.

Oh iya, kalau suka jangan lupa di-like.

 

Gomawo semuanya…

Sampai jumpa di lain kesempatan.

 

Dadah…. *meluk readers satu persatu


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * Dinda Winda says:

    Keren thor…
    Aku pikir bakalan sad ending karna awalnya begitu…
    Tapi syukurlah… hehe

    Keep writing chingu !!!

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  2. * DeerFishy says:

    Keren .. (y)

    Donghae oppa knapa lebih mnting pekerjaan dri yoong Onnie?

    Daebakk FF’a !!😀

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  3. * DeerFishy says:

    Keren .. (y)

    Donghae oppa knapa lebih mnting pekerjaan dripada yoong Onnie?

    Daebakk FF’a !!😀

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
    • * Indahnyaaja says:

      Keren chingu…….
      Aq pkir jga sad ending….
      Tp sneng akhr.a YoonHe brsatu;)yoona unnie brutung dptin laki2 kya haeppa.

      | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  4. * DeerYoongie says:

    Woaah.. nice storyyy \m/
    Dikira Hae sama Yoong bakal pisahh *Ya!Andwae!DeerHanyaUntukFishy *abaikan -_- xp
    Omo~ sampe segitunya Hae nahan rindunya ke Yoong u,u
    Aaa~ aku suka konfliknya ._.

    Daebak fanficnya!!

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  5. * mochichi says:

    ternyata cuma dikasi pelajaran ama Yoona yah.
    endingnya gantung,
    minta sekuel donk chingu.
    kekeke

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  6. * aiko says:

    untung ga pisah…cuma bohongan aja… luv yoonhae

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  7. * Lyka_BYVFEGS says:

    semuanya….
    terimakasih udah baca+comment…
    *bow breng yoonhae…

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  8. * jeanitnut says:

    Wow ini pake Donghae POV ya? Agak aneh baca awalnya (gak biasa), tapi feelnya tetep dapet kok. Seneng banget lihat Donghae nangis karena dicuekin Yoona. Eat food lol
    Ditunggu ff lainnya chingu^^

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  9. * mimimi says:

    Daebak ffnya^^

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  10. * yo0nnie says:

    bgz. . Daebak. . Like this y0w. . *gak nyambung*

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  11. * Marzha says:

    Aduh aduh hwae oppa, makanya jangn mentingin pekerjaan dibandingin yoong unnie.. Kan eonnienya jadi marah.. Tapi tetap deh pasti happy ending.. Yoonhae mesti happy ending… Amin.. Ahahaha

    Fanficnya daebak thor..
    Lanjut nulis fanfic Yoonhae lagi ya thor..
    fighting^^

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  12. * rere says:

    Awalnya nyesek yah , kasian donghae *pelukdonghae*
    Hehe untungnya balikan lagi :p

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  13. * tiya says:

    keren….
    kirain sad ending… ternyata happy ending,….syukur deh….

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  14. * sylvia.monica22 says:

    huft, lega akhirnya baca ending ceritanya.
    Untung yoona udah berubah..
    😀
    donghae oppa..jangan ulangi itu lagi. Ok
    bagus thor. Gue suka😀

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  15. * vina says:

    Keren kq thor..
    Daebak dh >.<

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  16. * yoonadonghaelfpyro says:

    keren!!! bikin ff lain lg ya thor

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  17. * Haenha~Elfishy says:

    Koq gx smpe nkah yoonhae.a.? Aq kra bkal smpe nkah.

    Jhaha..kimbum sm kyuppa cman numpng lwat ajj.
    Over all krenz.

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  18. * yenny_yoonhaelovers says:

    agak bingung awal baca’n.. tp untung ajj yoonhae happy ending ^^

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  19. * SeoKyu4ever says:

    Kereeennn … yeah, happy ending..🙂

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  20. * mochichi says:

    Ayo buat sekuelnya…
    Kekeke

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  21. * Putri Lee sarangHaeppa says:

    Wah!! Krain bkal sad ending… Hmpir aja guling di ats btu bara(?) gra” haeppa dgtuin ma yoong eonni… Hehehe
    4 author, DAEBAK!! #tebar boxer haeXD
    Keep writing

    | Reply Posted 4 years, 7 months ago
  22. * febrynovi says:

    FF-nya KEREN! DAEBAK! DAEBAK! DAEBAK! 
    Kisah cintanya pelik banget, kata-katanya pas, & feelnya dapet.
    AUTHOR JJANG~~

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  23. * SweetYoong says:

    Nice! Good! Awesome!! Daebak!! keren FF nyaa!! Keep writing🙂

    | Reply Posted 4 years ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: