YoonHae Fanfics Library



[One-shot] Summer Sunset

Author : Jeany R.

Cast : Im Yoona, Lee Donghae

Other Cast : Tiffany Hwang, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun

Genre : Family, Friendship, Angst

Rating : PG-13

Title : Summer Sunset

Note : This is the third season. Happy Reading^^

Summer Sunset

Laki-laki paruh baya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra kebanggaannya itu. Secangkir kopi yang tersedia dihadapannya diabaikannya begitu saja, terlihat jelas tetes-tetes embun di cangkir itu yang menandakan bahwa kopi tersebut telah medingin.

Dia bangkit berdiri dan melipat koran yang beberapa menit lalu dibacanya. Melemparnya dengan sembarangan ke sofa yang didudukinya. Menatap tajam ke arah anak semata wayangnya yang tengah menggandeng beberapa wanita muda dengan dandanan yang tidak layak –terbuka maksudnya-. Membuatnya murka.

Jadi, ini wanita-wanita yang akan menjadi calon istrimu? Mereka tidak lebih baik dari pilihan Appa. Diamlah! Dan ikuti perkataan Appamu ini!” ucapnya tegas kepada pemuda yang berdiri dihadapannya.

**

Cold sweat runs down me

It’s hurts, it’s a dream of things I hate to even remember

I can’t do anything all day long

We’ll spend time together, right my love

Jangan pergi Oppa! Jangan tinggalkan aku!’

Mimpi! Lagi-lagi aku bermimpi Donghae meninggalkanku. Aku mengambil segelas air putih yang berada di atas meja. Meneguknya sampai tak tersisa. Keringat dingin membahasahi piyama yang aku kenakan. Entah untuk keberapa kalinya aku bermimpi seperti ini, mimpi yang nyaris sama. Aku berpisah denganmu, Lee Donghae…

*

Aku berjalan dengan malas mengikuti langkah kaki laki-laki di depanku. Aku terus melancarkan aksi ‘ngambekku’ sepanjang perjalanan tadi, tapi tidak ada pengaruhnya. Menyebalkan.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, ramai sekali. Maklum saja sekarang musim panas, pasti banyak wisatawan mancanegara yang ingin menghabiskan waktu liburannya di Korea.

Aku duduk dengan terpaksa di bangku tunggu Incheon International Airport sedangkan Donghae –laki-laki yang bersamanku- sedang mondar mandir menunggu seseorang keluar dari pesawat yang terbang dari Jepang pagi ini. Matanya fokus menjelajah ke satu titik saat pesawat dari Jepang mendarat. Dia mencari-cari penumpang yang tengah ditunggunya.

Nah itu dia. Ayo Yoong kita ke sana!” kata Donghae sambil menggandeng tanganku, setengah menyeretku. Aku hanya menurut dan berjalan malas mengikutinya.

Aku mengorbankan jam kerjaku dengan resiko Siwon akan mengomeliku habis-habisan karena membolos kerja tanpa pemberitahuan apapun. Ini semua karena Lee Donghae. Dia memaksaku untuk ikut menjemput mantan-calon-istrinya yang sekarang akan berganti status menjadi adiknya untuk sementara. Ngomong-ngomong, kalian masih ingat kan kalau aku adalah kekasih Donghae?

Donghae Oppa,” ucap seorang gadis cantik sambil berlari dan memeluk Donghae erat. Donghae pun balas memeluk gadis itu. Hatiku sedikit sesak, aku masih takut jika sewaktu-waktu gadis itu akan mengambil Donghae dariku. Lagi-lagi pemikiran bodoh itu datang lagi.

Untuk beberapa menit mereka saling berpelukan. Gadis cantik itu mendongak, tersenyum kepadaku kemudian melepaskan pelukannya dengan Donghae. Mungkin dia mulai sadar akan kehadiranku, sedangkan Donghae? Cih! Dia bahkan melupakanku.

Dia Im Yoona?” tanya gadis itu dengan matanya menunjuk ke arahku. Nada bicaranya terdengar begitu bersemangat, senyum masih tersungging di bibirnya. Dia memiliki mata yang sangat indah. Rambut hitam panjang dan bergelombang. Wajahnya cantik dan manis.

Donghae mendekat ke arahku dan tersenyum. “Iya, dia kekasihku,” jawab Donghae. Mendengar jawabannya, sontak membuatku mengulum senyum. Aku lega saat dia mengatakan itu. “Kenalkan Yoong, ini Tiffany,” lanjutnya memperkenalkan Tiffany.

Aku pernah mendengar nama gadis ini sekali. Dulu….Ayah Donghae yang mengucapkannya. Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku ke arah Tiffany.

Senang bertemu denganmu. Kau sangat cantik seperti kata Donghae Oppa,” kata Tiffany sambil menjabat uluran tanganku dan tersenyum.

Oke, sepertinya Tiffany bukanlah gadis yang menyebalkan seperti dugaanku. Hanya saja hatiku masih merasa resah dengan kehadirannya diantara hubunganku dengan Donghae. Kami pun melangkah menuju restoran terdekat dari Incheon. Kami berjalan beriringan dengan posisi Donghae di tengah, diantara aku dan Tiffany.

*

Donghae mengantarku pulang terlebih dahulu, tak lupa dia mencium keningku sebagai pengganti karena nanti malam dia tidak bisa memberiku kecupan selamat tidur. Jujur saja aku sedikit risih dengan perlakuannya ini, apalagi ada Tiffany yang melihatnya. Bagaimana tanggapannya? Aish…aku tidak habis pikir dengan ulah Donghae ini. Aku bisa melihat Tiffany tersenyum samar. Senyum yang menyiratkan sesuatu, tapi aku tidak dapat menangkap maknanya.

Mobil Donghae melaju dengan kencangnya. Aku pun memutuskan untuk masuk ke apartemen, mandi adalah solusi yang bagus di siang yang panas ini.

Aku mulai membuka berkas-berkas kantor yang belum aku selesaikan. Sedari tadi aku berusaha menyelesaikan tugas-tugas ini tapi pikiranku sedang tidak focus. Kenapa aku selalu berpikiran yang tidak-tidak tentang Donghae dan Tiffany? Apa yang membuatmu khawatir Yoona? Mereka hanya adik kakak. Donghae hanya mencintaimu. Camkan itu.

*

Aku terbangung dengan nafas terengah-engah. Ya Tuhan kenapa aku bermimpi hal ini lagi. Apa arti mimpiku ini? Semenjak Donghae menceritakan padaku bahwa Tiffany akan tinggal di rumahnya, aku selalu ketakutan. Bahkan mimpi yang datang saat aku tidur menjadi begitu menyeramkan.

Aku mengambil handphone yang berada di laci sampingku. Menekan beberapa digit angka yang sudah aku hafal di luar kepala kemudian menempelkannya ke telinga. Aku mendengar suara merdu dari seberang sana. Aku tidak bisa menahan bibirku untuk tidak tersenyum. Hanya dengan mendengar suaranya saja aku sangat bahagia.

Hari ini kita jadi pergi, Oppa?” tanyaku. Hari ini rencananya kami –Donghae dan aku- akan pergi ke pantai menikmati musim panas. Berenang mungkin.

Tiffany? Oh, oke,” kataku. Donghae ingin mengajak Tiffany jalan-jalan ke pantai bersama kami. Tak masalah, mungkin saja aku bisa mengenal Tiffany lebih baik lagi. Aku harus mulai menerima kehadiran Tiffany. Aku tidak boleh takut dengan mimpi buruk yang selalu mampir di setiap tidurku. Mungkin saja dengan belajar menerima Tiffany aku tidak akan terganggu dengan mimpi-mimpi aneh itu.

Setelah sambungan terputus aku segera mandi dan bersiap-siap. Walaupun aku tidak begitu menyukai musim panas, tapi aku begitu bersemangat karena ada Donghae disisiku. Hari-hariku menjadi sangat indah sejak bersamanya. Apalagi setelah aku mengetahui bahwa Donghae sangat mencintaiku.

**

When you laugh, I’m happy too

When you’re sad, my eyes tear up

There is only one of you in this world my friend

And the most important is, I believe in you

Semilir angin meniupkan anak rambutku, sejuk dan menyegarkan. Suasana bising terasa sekali di pantai ini. Banyak keluarga maupun pasangan kekasih yang berdatangan untuk berenang atau sekedar menikmati pemandangan di pantai ini.

Aku lihat Donghae Oppa sangat bahagia bersamamu Yoona-ssi. Aku senang dia mendapatkan gadis yang baik sepertimu,” ucapan Tiffany membuatku menoleh ke arahnya. Saat ini Donghae sedang membeli es kelapa muda atas permintaanku.

Tidak perlu terlalu formal. Kau bisa memanggilku Yoona atau Yoong,” ucapku seraya tersenyum.

Baiklah, kau bisa memanggilku Fany. Tapi kau tidak boleh memanggilku Pany,” balas Tiffany. Aku hanya tertawa mendengarnya. Donghae tadi sempat memanggil Tiffany dengan panggilan Pany, dan melihat reaksinya –menjambak rambut Donghae- aku tau pasti dia tidak suka dengan panggilan itu.

Aku menghabiskan waktu selama beberapa menit menunggu kedatangan Donghae dengan bercerita bersama Tiffany. Kami bercerita tentang Donghae, tentang kehidupannya di Jepang dan tentang rencana perjodohan Ayah Donghae –dulu- yang membuatku hatiku sedikit berdenyut-denyut. Pembicaraan kami pun diselingi dengan tawa saat Tiffany menceritakan keburukan-keburukan Donghae padaku.

Tiffany adalah gadis yang menyenangkan. Dia periang dan apa adanya. Gadis itu tahu banyak tentang Donghae. Bahkan dia mengetahui masa kecil Donghae. Terbersit dalam benakku sedikit rasa cemburu, tapi aku segera menepisnya.

*

Hubunganku dengan Tiffany menjadi sangat akrab. Aku bahkan sering menghabiskan makan siang bersamanya. Tiffany teman yang menyenangkan, dia juga seorang pendengar yang baik. Bercerita bersamanya tidak akan pernah membuatku jenuh atau pun bosan.

Seperti siang ini kami sedang menikmati makan siang di sebuah café. Aku bercerita banyak kepadanya. Aku mempercayainya seperti aku mempercayai Yuri dan Donghae. Bicara soal Yuri, musim panas kali ini dia pergi ke Taiwan untuk mengunjungi kekasihnya. Dia memang menjalani hubungan jarak jauh, dan aku sangat kagum padanya. Sampai sejauh ini hubungan mereka tetap baik-baik saja, hebat.

Jadi Donghae Oppa dulu pernah di tolak cintanya oleh senior kalian sewaktu SMP?” tanyaku pada Tiffany. Saat ini kami sedang membicarakan tentang masa-masa SMP Donghae. Kebetulan Tiffany dulu satu sekolah dengan Donghae.

Tiffany masih tertawa mengingat masa-masa SMP-nya dengan Donghae. Mungkin sangat menggelikan membayangkan ekspresi Donghae saat cintanya ditolak. Aku sendiri tidak habis pikir bagaimana gadis itu bisa menolak Donghae, apa gadis itu gila?

Begitulah Yoong. Besoknya dia tidak masuk sekolah, dia bilang dia malu,” Tiffany menjawab sambil tertawa kecil. Aku pun ikut tertawa. Membayangkan kehidupan Donghae dulu membuatku geli sendiri.

Siang ini kami menghabiskan makan siang dengan bercerita tentang masa-masa SMP Donghae dulu, tentang kisah cintanya. Aku sangat berterima kasih karena Tiffany mau menceritakan hal-hal ‘memalukan’ ini padaku. Aku menjadi lebih mengetahui sisi kehidupan Donghae saat dia remaja.

*

Aku hendak membuka pintu mobil saat tangan Donghae mencegahku. Seperti biasa malam ini kami makan malam bersama. Aku dan Donghae masih melakukan kegiatan ini secara rutin.

Apapun yang terjadi kau harus percaya padaku Yoong. Aku hanya mencintaimu. Tidak ada yang lain,” ucap Donghae sambil menatap mataku, tangannya masih menggenggam tanganku erat.

Aku tahu Oppa,” ucapku sambil tersenyum. Donghae balas tersenyum kemudian mengecup puncak kepalaku singkat. Seperti apa yang kalian pikirkan, wajahku masih sama memerahnya seperti biasa.

Aku senang kau bisa cepat akrab dengan Tiffany. Dia gadis yang kesepian Yoong,” kata Donghae saat aku membuka pintu mobilnya. Kali ini dia tidak mencegahku, dia membiarkanku pergi. Aku hanya mengangguk paham mendengar perkataannya tadi.

Aku pun masuk ke dalam setelah menyaksikan mobil Donghae berlalu. Senyum masih terus tersungging dibibirku.

Tak kusangka ternyata di dalam apartemen ada Ayahku. Segera saja aku menghampiri dan memeluknya. Sudah berapa bulan aku tidak bertemu dengannya? Hmm…terakhir musim dingin lalu. Ada apa dia menemuiku? Pasti ada masalah penting sampai dia datang ke apartemenku.

Ada apa, Appa? Mengapa datang tiba-tiba?” ucapku sambil mengerucutkan bibirku. Berpura-pura kesal karena tindakannya ini.

Ayah hanya tertawa melihat tingkahku. Dia mengacak rambutku dan kembali memelukku. “Memang kalau Appa ke sini harus ijin padamu dulu hmm…? Appa sangat merindukanmu Yoong.”

Aku juga merindukanmu Appa,”

Apa kau bahagia?”

Iya, Appa”

Baiklah kau mandilah dulu. Appa hanya ingin memastikan apakah kau hidup dengan baik di sini. Appa pulang dulu,” kata Appa kemudian berjalan keluar dari apartemenku. Aneh.

Aku mengantar kepergiannya sampai mobilnya menghilang dan tidak dapat aku lihat lagi. Tak lupa aku menitipkan salam untuk Ibuku. Omma, aku begitu merindukanmu…

*

Aku sedang memasukkan berkas-berkas ke dalam tas saat aku mendengar dering telepon dari handphoneku. ‘Nomor tak di kenal’, dari siapa ini? Aku pun segera mengangkatnya.

Hallo! Kau Tiff rupanya. Ada apa? Oh, baiklah.”

Sebuah percakapan singkat. Tiffany memintaku menemaninya berbelanja karena dia hanya membawa pakaian sedikit dari Jepang. Dengan senang hati aku menerima tawarannya. Aku segera keluar dan turun.

Aku melihat seorang gadis muda memakai kacamata hitam tengah berdiri di depan kantorku. Segera saja aku menghampirinya, aku tahu dia Tiffany. Mengenalnya selama beberapa Minggu ini sudah cukup untukku mengenal postur tubuhnya.

Mobil Tiffany melaju kencang memecah jalanan sunyi di siang ini. Tiffany membawaku ke pusat pertokoan di daerah Myeongdeong. Tiffany membeli beberapa pakaian santai. Aku sempat terheran-heran saat Tiffany melakukan tawar-menawar dengan penjual pakaian tadi. Tiffany adalah gadis yang unik dan cerdas.

Sementara Tiffany sedang memilih-milih pakaian yang dibutuhkannya, aku berjalan-jalan di sekitar sini. Aku melihat sesuatu yang menyita perhatianku. Sebuah jam tangan.

Setelah puas memilih baju, atas usulku akhirnya kami menuju ke restaurant dekat kawasan ini. Aku memang belum sempat menyantap makan siangku. Hari ini Tiffany mengajakku keluar di saat yang tepat karena sore ini aku diperbolehkan pulang terlebih dahulu. Alhasil, bukannya aku pulang untuk istirahat aku malah menghabiskan waktuku untuk berbelanja bersama Tiffany di sini.

Terima kasih Yoong. Ini pertama kalinya aku berbelanja bersama teman perempuanku. Kau mau menjadi temanku kan?” tanyanya setelah memasukkan makanan terakhirnya ke dalam mulut. Dia tersenyum manis memandangku, menunggu jawabanku.

Dia gadis yang kesepian Yoong,’ aku ingat perkataan Donghae beberapa hari yang lalu. Benarkah apa yang di katakannya? Gadis cantik dan menyenangkan sepertinya tidak mungkin tidak punya teman kan?

Sejak SD temanku hanya Donghae dan Hyukjae. Mereka berdualah yang mau berteman denganku dengan tulus, tanpa memperdulikan siapa aku. Aku tidak peduli walaupun mereka seorang laki-laki, aku merasa nyaman berteman dengan mereka,” sambungnya.

Aku berfikir sejenak sebelum mengangguk. “Tentu saja aku mau menjadi temanmu, Fany-ah.” Tentu saja aku bersedia menjadi temannya. Tiffany adalah gadis yang baik. Dan yang paling penting aku mempercayainya. Mengenalnya beberapa hari ini sudah cukup membuktikan bahwa dia adalah gadis yang baik dan menyenangkan.

Senyuman lebar tersungging dari bibirnya. “Terima kasih Yoong,” ucapnya. Dia berdiri dari duduknya, berjalan ke arahku. Tak ku sangka dia malah memelukku. Tapi aku merasa kaos bagian belakangku basah. Mungkinkah Tiffany menangis?

Aku sangat senang karena akhirnya aku mempunyai teman perempuan. Untuk itu, aku sangat berterima kasih karena kau mau menjadi temanku. Kau sahabat terbaikku, Im Yoona” bisiknya.

Hari ini, aku mengetahui sisi lain dari sosok periang yang selau melekat pada diri Tiffany. Hatinya begitu lembut. Hanya karena mendapatkan teman dia sampai menangis seperti ini. Aku tahu teman memang sangat berarti, begitu pun untukku. Tanpa Yuri mungkin dulu aku sudah putus asa atau mungkin memilih untuk bunuh diri karena lelah menunggu Donghae. Aku bisa merasakan kesedihan yang Tiffany rasakan karena kesepian selama bertahun-tahun. Aku bisa mengerti begitu besar luapan kegembiraan karena dia memperoleh seorang teman. Gadis baik sepertimu harus bahagia, Fany-ah…

**

It’s my mistake for not making you love me more

It’s my mistake for loving you more than you love me

It’s my mistake for not knowing you like you know me

It’s my mistake for not protecting you as you protect me

Aku menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah Donghae sudah datang. Hari ini kami bersama Tiffany akan mengunjungi sebuat pameran lukisan yang berlangsung di taman kota. Tidak biasanya Donghae telat seperti ini.

Tak berselang lama terdengar bunyi klakson dari seberang. Donghae membuka pintu mobil dan berjalan ke arahku. Huh! Aku pun segera berjalan ke arahnya, hendak memarahinya. Dia pun berjalan ke arahku. Senyum masih tersungging di sudut bibirnya. Aku tidak mempedulikannya. Yang ada dipikiranku sekarang hanyalah memarahinya.

Yoong awas!”

Yoona minggir!”

Aku mendengar teriakan itu, dari dua orang yang berbeda dan arah yang berlawanan. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Kepalaku terasa pening saat ada seseorang mendorong keras tubuhku ke belakang sehingga aku terjatuh dan kepalaku membentur aspal.

Oppa!!!”

Aku mendengar teriakan seorang gadis yang aku yakini adalah Tiffany sebelum aku tak sadarkan diri.

*

Aku membuka mataku perlahan. Dimana aku sekarang? tanyaku dalam hati. Aku memegang kepalaku. Rasanya sakit dan apa ini? Ada perban di kepalaku. Ya Tuhan.

Aku berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa jam lalu aku bersama Tiffany menunggu Donghae di depan kantorku. Saat aku akan menghampiri mobil Donghae aku mendengar teriakan. Lalu, ada seseorang yang mendorong tubuhku sampai aku terpental ke belakang. Di depanku aku melihat Donghae dengan kalut akan datang menghampiriku dan……aku mendengar teriakan Tiffany sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri. Apa yang terjadi pada Donghae Oppa?

Segera kusikap selimut yang menutupi tubuhku, mencabut selang infus yang terpasang di tanganku. Aku harus mencari tahu bagaimana keadaan Donghae. Tak terasa air mata menetes dari sudut mataku. Ini semua salahku! Kenapa aku harus bertindak bodoh seperti itu? Apa yang harus aku lakukan jika terjadi apa-apa pada Donghae Oppa? Tuhan…tolong lindungilah Donghae Oppa, doaku dalam hati.

Aku menyusuri rumah sakit ini dengan langkah terseok-seok dan air mata yang terus turun dari mataku. Beruntung aku dirawat di lantai satu sehingga mudah menemukan letak resepsionis. Mungkin karena memang kondisiku yang tidak cukup parah sehingga aku dirawat di lantai satu, aku memang baik-baik saja. Dan yang aku khawatirkan sekarang adalah keadaan Donghae.

Pasien…bernama Lee Donghae, dia…di kamar nomor berapa…suster?” ucapku terbata-terbata. Aku berusaha mengontrol pita suaraku.

Lantai empat nomor 456, Nona”

Aku segera melesat menuju lift setelah suster itu mengatakan dimana letak kamar Donghae. Setelah memasuki lift segera aku menekan angka empat.

Aku hendak masuk ke dalam saat tak sengaja aku mendengar pembicaraan dari dalam kamar. Dua orang itu sedang berbicara serius sambil menatap tubuh laki-laki yang terbaring di sana. Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Maafkan aku Donghae Oppa…

Terima kasih Fany-ah, aku tidak tahu apa yang dipikirkan anak ini. Hanya untuk melindungi gadis itu dia harus mengorbankan dirinya seperti ini. Kalau saja kau tidak segera menariknya mungkin sekarang….” Suara itu begitu lembut dan sarat dengan kekhawatiran. Ibu Donghae. Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung, hanya pernah melihat fotonya saja.

Jangan seperti itu Bibi. Donghae Oppa ingin melindungi kekasihnya, bukankah itu wajar? Donghae Oppa pasti kuat.”

Mereka berpelukan. Ibu Donghae mengusap rambut Tiffany. Ada sedikit rasa cemburu dan sedih dalam hatiku. Mungkinkah Ibu Donghae tidak menyukaiku? Dulu, Donghae pernah bilang kalau Ibunya-lah yang ngotot ingin menjodohkannya dengan Tiffany. Dan melihat mereka secara langsung seperti ini, aku dapat melihat pancaran kasih sayang yang begitu besar dari Ibu Donghae kepada Tiffany.

Aku menutup pintu kamar dan berlalu pergi. Mungkin saat ini belum saatnya aku muncul dihadapan Donghae. Akulah yang menyebabkan Donghae menjadi seperti ini. Bukannya aku takut bertemu Ibu Donghae, hanya saja jika dia benar-benar tidak menyukaiku akan menambah masalah saja jika aku muncul dihadapannya.

Aku memutar kenop pintu kamarku. Berjalan ke arah jendela. Aku menghembuskan nafas berat, menyeka air mata yang masih menetes di sudut mataku. Ini semua memang salahku! Aku membuat malaikatku menderita karenaku. Aku tidak mampu melindunginya seperti dia yang selalu melindungiku.

*

Kondisiku sudah membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan kemarin aku sudah memaksa supaya dokter mengijinkanku pulang. Aku belum menemui Donghae sejak kemarin. Aku mendengar kabar dari Tiffany jika Donghae sudah sadar. Untuk sekarang aku bisa bernafas lega, aku sudah berani bertemu dengan Ibu Donghae.

Aku memutuskan untuk membawa buah-buahan sebelum berkunjung ke rumah sakit. Aku melihat Ibu Donghae berjalan ke arah pintu keluar. Mungkin Donghae sedang sendirian sekarang. Aku harus meminta maaf padanya.

Aku segera masuk ke ruang rawat Donghae sambil terus tersenyum. “Selamat pagi,” sapaku.

Ternyata ada Tiffany di sana. Donghae dan Tiffany menoleh ke arahku. Tiffany segera meletakkan mangkuk yang dipegangnya ke atas meja kemudian menghampiriku. Mempersilahkanku duduk mendampingi Donghae. Tatapan matanya, membuat hatiku sedikit bergetar….

Aku akan pulang untuk mengambil bajumu Oppa. Aku bosan melihatmu memakai pakaian jelek itu,” katanya sambil terkikik. Dia mengambil tas kecilnya kemudian berlalu pergi. Tak lupa dia tersenyum sekilas ke arahku.

HEIII!!! Anak nakal!”

Teriakan Donghae tentu saja tidak ada gunanya karena Tiffany telah pergi. Kemudian dia menoleh ke arahku dan tersenyum singkat.

Kau baik-baik saja Yoong? Tidak terluka kan?”

Tidak Oppa. Justru Oppa-lah yang terluka begini karena kebodohanku,”

Kau gadis yang pintar Yoong, kau tidak bodoh,”

Maafkan aku Oppa,”

Kau tidak bersalah Yoong. Sudahlah, lupakan saja apa yang telah terjadi,”

Donghae menggenggam tanganku. Meremasnya pelan, membawanya ke arah meja. Apa yang dia lakukan?

Suapi aku! Tadi Tiffany membuatkan sup jagung kesukaanku. Untunglah dia mengerti kalau aku bosan makan bubur setiap hari,” katanya santai sambil tertawa kecil.

Aku merenungi perkataan Donghae. Rasanya ada yang salah. Dan benar! Aku bahkan tidak tahu apa makanan kesukaan Donghae. Bodoh! Aku tidak mengetahui apapun tentang Donghae, yang aku tahu hanyalah dia menyukai anak kecil sepertiku. Kekasih macam apa aku ini? Aku tidak mengetahui makanan kesukaan kekasihku sendiri. Sedangkan Donghae? Dia bahkan mengetahui ukuran sepatuku.

Aku baru sadar selama kami menjadi sepasang kekasih dialah yang selalu berusaha untuk membahagiakanku. Dia berusaha mengenalku dengan baik. Tetapi apa yang aku lakukan selama ini? Aku bahkan tidak tahu hal kecil seperti ini. Parahnya ada gadis lain yang lebih mengetahui kekasihku dari pada diriku sendiri.

Mataku mulai memanas. Begitu banyak kesalahan dan kebodohan yang aku buat selama ini.

Kau melamun?”

Donghae menarik tangaku, membuatku kembali menghadap ke arahnya.

Kau kenapa Yoong?”

Tanpa menunggu jawaban dariku, Donghae langsung menarikku ke dalam pelukannya. Membuatku merasa nyaman dan hangat. Aku sangat merindukan pelukannya. Maafkan aku tidak bisa mengenalmu seperti kau mengenalku, Oppa. Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi demi dirimu. Aku berjanji, batinku.

*

Hari ini aku kembali bekerja seperti biasa. Aku merasa telah melalaikan kewajibanku selama beberapa hari ini. Keadaan Donghae pun sudah mulai membaik. Dan aku tidak perlu merasa khawatir karena ada Tiffany yang akan menjaganya di rumah. Aku ingin sekali bisa menjaganya, tapi Donghae malah melarangku. Hmm…aku memang tidak merasa cemburu dengan Tiffany, tetapi aku ingin menjaganya. Bukankah sebagai kekasih yang sangat mencintainya aku harus selalu bersamanya dalam keadaan sehat maupun sakit?

Walaupun aku sudah mengetahui betapa berartinya diriku untuk Donghae, berapa besar cintanya untukku. Tetapi asal tahu saja, bahkan cintaku untuk Donghae sembilan kali lebih besar dari cinta Donghae untukku. Aku mencintainya lebih dari dia mencintaiku. Tapi, bukankah cinta tidak bisa diukur? Aku percaya kalau cinta Donghae tidak kalah besar dari cintaku untuknya. Dan cintanya hanyalah untukku.

*

Siang ini aku membuat janji untuk makan siang bersama dengan Tiffany. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya karena telah menolongku waktu itu.

Aku berjalan ke sudut café langganan kami –aku dan Tiffany-, berjalan ke sudut café ini. Tiffany melambaikan tangannya sambil tersenyum menyambut kedatanganku.

Kau sudah lama?”

Tidak. Aku baru saja tiba Yoong,”

Aku segera duduk dihadapannya dan memanggil pelayan. Aku menatap Tiffany, dia cantik sekali siang ini dengan mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah-hitam dan dipadukan celana softjeans warna hitam.

Terima kasih karena kau telah menolongku Tiff. Terima kasih juga karena kau telah menolong Donghae Oppa,” ucapku tulus.

Kau ini bicara apa? Memang sudah seharusnya aku menolong kalian. Sekarang, aku benar-benar mengerti sebesar apa cinta Donghae Oppa untukmu. Dan asal kau tahu saja, kalian membuatku iri.”

Saat itu, saat Tiffany mendorong tubuhku sehingga membuatku terjatuh, Donghae segera berlari ke arahku dengan keadaan kalut. Dia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Yang dipikirkannya hanyalah keselamatanku. Dia mempertaruhkan nyawanya hanya untuk memastikan apakah aku baik-baik saja atau tidak.

Tiffany, dengan cepat dia mendorong Donghae menjauh dan mengakibatkan benturan yang cukup keras di kepalanya. Jika saja Tiffany tidak mendorongnya, mungkin aku tidak akan bisa melihatnya lagi sekarang. Tidak bisa melihat senyumnya.

Justru akulah yang iri padamu Tiff. Kau bahkan lebih mengenal Donghae dari pada diriku. Dan juga kau telah menyelamatkannya.”

Tiffany tersenyum tipis mendengar penuturanku. Aku pun membalas senyumannya. Aku berhutang banyak padamu Tiffany. Kemudian kami melanjutkan makan siang sambil bercerita seperti biasa.

Esok, aku akan menjadi Im Yoona yang lebih baik lagi. Im Yoona yang tidak hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Im Yoona yang akan membuat kekasihnya bahagia. Im Yoona yang akan selalu mencintai Lee Donghae…

**

Kau, pergilah ke New York untuk mengurus bisnis Appa di sana. Sekarang!” kata seorang pria paruh baya itu dengan tegas. Sedangkan, pemuda tampan di depannya hanya bisa melotot, tidak yakin dengan ucapan Ayahnya tersebut,

Tapi Appa, aku-”

Appa tidak butuh alasanmu Cho! Segera kemasi barang-barangmu!” ucapnya cepat sebelum pemuda tampan itu menyelesaikan ucapannya. Membuat pemuda tampan itu hanya bisa mengumpat pelan.

**

Tuhan…kuatkanlah sahabatku. Janganlah kau beri dia cobaan yang begitu berat. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Sedih, tentu saja. Air mata tak henti mengalir dari pelupuk mataku. Aku melihat Tiffany duduk bersimpuh dengan air mata yang tak henti berderai dari pelupuk matanya.

Kedua orang tua Tiffany mengalami kecalakaan mobil dan dikabarkan telah meninggal di tempat kejadian. Aku masih syok dengan berita ini. Tiffany bahkan tidak berada disisi kedua orang tuanya saat mereka meninggal.

Tiffany menangis meraung-raung di depan pusara makam kedua orang tuanya. Aku tidak pernah tahu bagaimana sedihnya Tiffany, mungkin sama seperti perasaanku saat kehilangan Donghae –dulu- atau bahkan ini jauh lebih menyedihkan.

Aku mengingat kejadian beberapa jam lalu. Saat Tiffany berlutut di hadapan kedua orang tuanya yang telah pergi selama-lamanya, meninggalkannya. Tangisannya yang begitu kencang. Jeritannya yang begitu menyayat hati membuatku tak berdaya. Sebagai temannya oh tidak mungkin sahabatnya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mungkin membiarkannya menangis adalah jalan terbaik untuk saat itu. Maafkan aku Fany-ah.

Aku pun ikut menangis melihatnya. Tangan kiri Donghae menggenggam tangan kananku, sedangkan tangan kanannya memegang tubuh Tiffany. Dia menoleh ke arahku, bertanya apakah dia boleh memeluk Tiffany melalui isyarat matanya. Aku mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya. Tidak ada rasa cemburu sedikitpun dalam hatiku. Yang ada hanyalah, aku ingin membuat Tiffany kembali ceria seperti dulu. Walaupun aku baru mengenalnya sebulan yang lalu, tapi aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangi Yuri sahabatku. Aku tidak ingin keceriaan dari wajah cantiknya menghilang begitu saja.

Donghae menoleh ke arahku, tangannya masih merangkul bahu Tiffany yang gemetar. Kedua orang tua Donghae berdiri tak jauh darinya. Ibunya terus menangis menyaksikan sahabatnya pergi dengan begitu cepat. Aku membalas senyuman Donghae, mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.

*

Donghae menyuruhku pulang ke Korea terlebih dulu karena dia tidak ingin pekerjaanku menjadi terbengkalai. Sedangkan dia mungkin akan kembali ke Korea dua minggu ke depan. Dia akan mengurus segala peninggalan yang ditinggalkan kedua orang tua Tiffany.

Donghae dan aku adalah sahabat sejak kecil,” aku teringat ucapan Tiffany beberapa hari yang lalu. Donghae sudah menganggap kedua orang tua Tiffany seperti orang tuanya sendiri.

Aku duduk di atas sofa dengan mata menerawang. Aku bahkan tidak sadar ada seseorang yang memperhatikanku sejak tadi. Ayahku.

Appa…,” kataku. Sedikit terkejut mendapatinya tengah malam berada di sini.

Ayahku tersenyum dan berjalan ke arahku lalu duduk tepat disampingku. Tangannya menyentuh kepalaku dan mengusap rambutku sekilas. Hening untuk beberapa saat.

Kau menangis?” tanyanya memecah keheningan.

Aku hanya mengangguk sekilas sambil menghapus sisa air mata di pipiku.

Maafkan Appa harus mengatakan ini Yoong. Perusahaan Appa bangkrut,” ucapnya pelan, nyaris tidak terdengar.

Aku mengerjapkan mataku perlahan. Apakah sekarang sedang gempa? Kenapa mataku menjadi berkunang-kunang seperti ini? Tolong aku, Tuhan!

Baru saja kau memberikan cobaan, sekarang datang lagi cobaan lain. Apa rencanamu Tuhan? Aku segera memeluk Ayah dan membenamkan wajahku di dadanya. Aku tahu dia pasti sangat sedih. Perusahaan keluargaku sama seperti perusahaan keluarga Donghae, perusahaan turun temurun. Aku tidak membantu di perusahaan itu bukan berarti aku tidak peduli. Hanya saja aku tidak bisa bekerja di sana karena lokasinya yang terlalu jauh dari Seoul. Kalau aku bekerja di sana, akan sangat sulit untuk bertemu dengannya. Bertemu dengan Donghae.

Apa yang bisa aku lakukan Appa?” tanyaku lirih. Air mataku telah mengering.

Ayah menghembuskan nafas sejenak. Memelukku lebih erat lagi seolah membagi kekuatannya padaku.

Entahlah. Appa hanya ingin kau bahagia. Keluarga kita bahagia,”

Menikahlah dengan Cho Kyuhyun….?” sambungnya.

Dunia berhenti berputar. Jantungku berhenti berdetak. Apa tadi yang Appa katakan padaku? Menikah? Dengan Cho Kyuhyun? Ya Tuhan!

Air mata semakin deras keluar dari mataku. Aku tidak ingin melihat keluargaku hancur. Keluarga yang telah membesarkanku menjadi seperti ini. Aku tidak ingin melihat Ayah yang begitu aku sayangi menderita. Ayah adalah ayah terbaik yang pernah aku miliki.

**

Do you not know me yet? How much I love you?

You’re the only one for me, you’re enough for me

I don’t want to cry anymore, I don’t want to lose you

But I’m sorry, I’m saying the things that I hate to say the most

Udara siang ini terasa sangat panas. Bahkan café yang terpasang lebih dari enam AC ini masih tidak terlalu berpengaruh. Entah memang udara yang panas atau hatiku yang sedang panas saat ini sehingga mempengaruhi keadaan tubuhku.

Tiffany hanya diam di depanku, menungguku mengucapkan sesuatu. Aku sibuk menyusun kalimat yang akan aku katakan kali ini. Tujuh hari aku memikirkan hal ini dengan matang. Bahkan aku mengganggu liburan Yuri hanya untuk menanyakan solusi atas masalah ini.

Aku menghela nafas berat. Tiffany menatapku dan tersenyum sekilas. Masih terihat sedikit gurat kesedihan di mata hitamnya. Mungkin begitulah keadaanku selama beberapa hari ini. Seminggu ini aku menjalani hidup dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Tanpa melihatnya, tanpa mendengar suaranya…

Bisakah kau menjaga Donghae Oppa untukku, Fany-ah?” tanyaku tegas. Aku mengontrol pita suaraku sehingga terdengar aku sungguh-sungguh mengatakannya. Tanganku memegang meja café ini dengan erat, takut jika sewaktu-waktu aku akan terjatuh.

Tiffany mendongak, dahinya mengernyit bingung. “Aku rasa hubunganku dengannya harus berakhir di sini. Aku tahu kau mencintai Donghae Oppa,” lanjutku sambil tersenyum. Tatapan mata Tiffany, senyumannya untuk Donghae, aku bisa melihat jelas semua itu. Dia mencintai Donghae.

Terlihat jelas raut wajah kaget dari ekspresi Tiffany. Mulutnya membulat membentuk angka nol. Tapi tak berselang lama ekspresinya menjadi sendu. “Maafkan aku Yoong. Tapi…,” ucapnya.

Aku rasa kau lebih pantas untuk Donghae Oppa. Aku berpisah dengannya bukan karena aku kasihan padamu. Dan kau tidak perlu merasa bersalah,”

Ada masalah yang tidak bisa aku ceritakan. Dan aku rasa hubunganku dengan Donghae Oppa cukup sampai di sini. Aku yakin kau bisa melindungi dan menjaga Donghae Oppa. Kau pasti bisa membahagiakan Donghae Oppa.”

Aku memotong ucapan Tiffany. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum air mataku tumpah di café ini. “Berbahagialah. Aku percaya padamu Tiff. Terima kasih,” sambungku. Aku bangkit berdiri dan menepuk pundaknya pelan sebelum berlalu pergi. Tidak mungkin aku menghabiskan waktu lebih lama lagi di sana, atau aku mau mempermalukan diriku sendiri di sana.

Aku mengendarai mobilku ke arah bukit, tempat Donghae mengatakan dia mencintaiku secara langsung pertama kali. Setelah dua minggu ini aku tidak berhubungan dengannya, mungkin pertemuan kali ini akan begitu canggung. Aku tidak peduli. Aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.

Setibanya di bukit, aku segera berjalan menuju ke sebuah gubuk kecil ditengah kebun. Aku melihat sesosok bayangan laki-laki sedang memandang lurus ke depan. Aku berjalan mendekat ke arahnya. Mengambil nafas dalam-dalam dan menyeka sisa-sisa air mata di sudut mataku.

Apa kabar Donghae Oppa?” ucapku menyadarkannya.

Dia menoleh ke arahku seraya tersenyum dan mengisyaratkanku untuk duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti kami. Aku masih enggan untuk mengatakan sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin aku katakan. Aku masih ingin menikmati sisa waktuku bersamanya, hanya berdua seperti ini lebih lama.

Katakanlah Yoong!” katanya tiba-tiba.

Aku mengambil nafas kemudian menghembuskannya. Mengontrol pita suaraku agar tetap terdengar normal.

Aku rasa hubungan kita hanya bisa sampai di sini, Oppa. Jagalah Tiffany dengan baik, hanya kau satu-satunya yang bisa menjaganya. Dia jauh lebih membutuhkanmu dari pada diriku,”

Diam. Matanya masih menatap lurus ke depan. Air mata sudah mendesak keluar dari mataku.

Kau bisa pergi dari hidupku mulai detik ini,” lanjutku terbata-bata. Sial! Seberapa keras pun aku berusaha, air mata ini tetap mengalir. Aku segera mengusapnya dengan kasar.

Begitukah? Kau menginginkan aku pergi dari hidupmu?” ucap Donghae pelan. Nada suaranya….begitu menyiratkan kepedihan. Ya Tuhan! Apakah ini jalan terbaik untuk kami?

Aku menarik nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. Aku menoleh ke arahnya. Dan apa itu? ada genangan air di pipinya. Kau sangat jahat Im Yoona! Kau jahat! Bagaimana mungkin kau membuat orang yang kau cintai menangis? Aku belum pernah melihat Donghae menangis, bahkan ketika kedua orang tua Tiffany meninggal.

Lebih cepat kau pergi itu akan lebih baik!” ucapku pelan tapi tegas. Aku tidak bisa membiarkan keadaan seperti ini berlanjut. Aku tidak akan tahan melihatnya hancur seperti ini. Aku takut jika tidak bisa mengontrol diriku sendiri dan akhirnya aku malah memeluknya dan menarik semua perkataanku.

Tapi kenapa?” tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Aku hanya diam, menahan diriku agar tidak segera memeluknya.

Donghae bangkit berdiri, berjalan ke depanku. Dia tersenyum, senyuman paling indah yang dimilikinya. Tangannya menuntunku untuk ikut berdiri.

Sebelum pergi, bolehkah aku memelukmu?” pintanya. Belum sempat aku menjawab pun dia telah membawaku ke dalam pelukannya. Tubuhku gemetar menahan tangis. Ya Tuhan, kenapa rasanya begitu sakit? Beginikah rasanya saat malaikat akan mencabut nyawamu?

Air mataku telah membasahi kemeja biru yang dikenakannya. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Biarkanlah, ini akan menjadi air mata terakhir yang aku keluarkan. Kami berpelukan cukup lama, sampai Donghae melepas pelukannya. Aku hanya bisa menunduk, tidak berani menatap mata teduhnya itu.

Donghae mengangkat daguku, dan mau tak mau aku menatap matanya. Masih ada sedikit sisa air mata di sudut matanya. Jemarinya menyusuri pipiku, menghapus air mata yang tak kunjung kering di sana. Dia tersenyum hangat, sehangat matahari sore yang menyinari bumi ini.

Berbahagialah Yoong!” katanya sambil melepas tanganku dan berlari pergi. Aku menatap punggungnya yang kian menghilang di balik rimbunan pepohonan.

Terima kasih Oppa,” lirihku.

Tubuhku seketika tak bertenaga. Kepalaku seperti telah dipukul dengan batu yang beratnya berpuluh-puluh kilo. Dan hatiku…kosong. Aku tidak merasakan apa-apa.

Aku jatuh terduduk di tanah. Air mata mengalir deras dari sudut mataku. Aku tidak peduli jika ada orang lewat yang menyangka aku gila. Biarlah aku menangisinya dengan sepuasnya untuk kali ini saja. Biarlah aku meyakinkan diriku sendiri jika ini adalah yang terbaik. Biarlah aku merelakannya pergi dari hidupku. Biarlah aku berdoa semoga Tuhan menyatukanku dengannya di kehidupan lain nanti.

Langit sore ini akan menjadi saksi kepergiannya. Menjadi saksi betapa hancurnya seorang Im Yoona karena melepas Lee Donghae. Menertawai kebodohan Im Yoona karena membiarkan Lee Donghae pergi. Dan menjadi pelengkap kebencian Im Yoona pada Musim Panas…

**

Dua pria paruh baya itu tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti keduanya. Seorang pria menyeruput kopi dingin yang ada dihadapannya dan memulai percakapan.

Apakah Yoona sudah memiliki kekasih? Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Kyuhyun sebenarnya. Dia seperti bukan anakku,”

Pria dihadapannya hanya memandang sekilas kemudian mengambil segelas teh yang ada didepannya.

Dulu, saat dia bersama Yoona, dia menjadi lebih bersemangat dan bahagia. Aku sangat senang melihat perubahannya itu. Tapi semenjak beberapa bulan lalu, aku melihat dia mulai pergi ke club malam dan aku jadi merasa takut,”

Kedua pria paruh baya itu adalah Ayah Yoona dan Kyuhyun. Ya Cho Kyuhyun, masih ingatkah kalian? Laki-laki yang menemani Yoona saat dia mulai menyerah untuk menunggu Donghae.

Aku ingin Kyuhyun bahagia, Hyung. Yoona-lah yang aku yakini bisa membuatnya bahagia.”

Pria yang berstatus Ayah Yoona hanya bisa menghela nafas sejenak. “Aku juga ingin yang terbaik untuk Yoona.”

Dan dari percakapan singkat inilah yang merubah kisah indah YoonHae. Cho Woobin menawarkan bantuan untuk Im Yonghyun yang perusahaannya tengah mengalami kesulitan. Yonghyun sebagai sahabat baik Woobin pun ingin membantunya. Yonghyun pun akhirnya memberikan sebuah penawaran kepada putri kesayangannya untuk menikah dengan Cho Kyuhyun. Semata-mata bukan hanya ingin membantu Woobin atau untuk membalas budi, tetapi karena dia ingin anaknya bahagia. Dan dia sangat percaya jika laki-laki bernama Cho Kyuhyun itu bisa membuatnya bahagia, lebih dari Lee Donghae. Dan laki-laki itu sedikit tercengang saat putrinya langsung menyetujui penawarannya.

**

Aku tahu mungkin keputusanku bukanlah keputusan yang paling baik atau pun adil. Aku mementingkan diriku sendiri, lebih tepatnya mementingkan ragaku. Aku sama sekali tidak peduli dengan perasaanku. Yang aku pedulikan sekarang hanyalah Ayahku dan juga sahabatku.

Kau sahabat terbaikku, Im Yoona.”

Appa hanya ingin kau bahagia.”

Menikahlah dengan Cho Kyuhyun,”

Mengingat percakapanku dengan Tiffany dan dengan Ayahku membuatku kesulitan bernafas. Melihat Tiffany hancur….melihat Ayahku kecewa….aku tidak bisa, tepatnya aku tidak ingin. Maafkan aku Donghae Oppa. Aku bukan tidak lagi mencintaimu, kau tahu? Sekarang aku berusaha untuk tidak mencintaimu. Tapi nyatanya, aku tidak akan pernah bisa. Rasa itu selalu tumbuh dan berkembang, tidak pernah mati.

Aku egois? Memang. Tapi bisakah kau mengerti posisiku? Melihat sahabatmu sengsara, apa kau tega? Melihat Ayahmu menunjukkan raut wajah kecewa, apa kau sanggup? Seandainya kau ada diposisiku, apa yang akan kau lakukan?

Aku punya pilihan, tentu saja. Aku bisa saja tetap bersamamu dan kemungkinan besar membuat dua orang yang aku sayangi menderita. Kau pernah bilang jika Tiffany kesepian, dan sekarang saat kedua orang tuanya telah tiada, bagaimana kesepiannya dia? Bagaimana perasaannya? Dan bagaimana dengan Ayahku? Tegakah aku melihatnya kecewa? Melihat perusahaan kakekku hilang tak bersisa? Jawabannya adalah aku tidak bisa melihat itu semua.

Seperti dulu, aku percaya dengan takdir. Jika takdir memang benar-benar menyatukan kita, aku percaya kalau pun aku berpisah denganmu, aku akan kembali padamu. Aku harap kau bisa membaca dan mengerti isi kepalaku, Oppa.

Tanganku menggenggam erat sebuah jam tangan yang –dulu- aku beli saat pergi belanja bersama Tiffany. Jam tangan yang akan aku berikan kepada Donghae. Aku melemparkannya melalui jendela kamarku. Entah berada dimana benda itu sekarang.

**

Seorang pemuda tampan berjalan dengan tergesa-gesa menuju bandara yang akan membawanya kembali ke Negara kelahirannya. Telepon genggam masih terus menempel di telinganya. Tak dapat dihindari, sudah beberapa kali dia menabrak orang yang berada di bandara ini. Terdengar umpatan-umpatan kecil di sela-sela pembicaraan mereka melalui sambungan telepon itu. Dia adalah Lee Hyukjae.

Apa kau bodoh? Kenapa kau membiarkannya pergi?”

Oke, aku tahu. Kau berjanji jika dia memintamu untuk pergi maka kau akan pergi dari hidupnya. Dan itu sama saja artinya dengan kau menyiksa diri sendiri, begitu? Tiga tahun aku tidak bertemu denganmu kenapa kau jadi bodoh begini, Hae?”

Donghae, ya pemuda itu meluapkan kesedihannya dengan menghubungi sahabat baiknya. Cukup adil karena dia mengganggu pekerjaan Hyukjae dan mendapat imbalan ceramah pagi ini. Donghae tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Kebahagiaan terbesarnya telah pergi. Semangat hidupnya telah pergi.

Aku akan pulang hari ini. Jaga Tiffany baik-baik….untukku”

Hyukjae memasukkan handphonenya ke dalam saku dan segera mematikannya. Dia mungkin bodoh karena tidak segera kembali ke Korea beberapa hari yang lalu. Tidak bisa mendampingi Tiffany, menenangkannya dan menghiburnya.

**

Aku menatap bangunan kecil yang telah aku tinggali selama tujuh tahun setengah ini. Tempat yang memberiku banyak kenangan indah maupun sedih. Tempat yang menjadi saksi betapa putus asanya aku menunggunya dulu. Tempat yang menjadi saksi saat dia memelukku dari belakang dan memujaku dengan sejuta kata indahnya. Tempat yang menjadi saksi tumpahnya air mataku untuknya. Tempat yang menjadi saksi keputusan entah terbaik atau terbodoh dalam hidupku.

Tidak ada air mata lagi yang keluar dari sudut mataku. Aku hanya tersenyum sekilas sebelum masuk ke dalam taxi yang akan membawaku ke dunia baru. Ke kehidupan yang aku harap lebih baik lagi. Kehidupan yang bisa membuatku serta membuatmu bahagia.

Aku menoleh ke belakang sebelum masuk menuju pesawat yang akan membawaku pergi jauh dari Negara yang indah ini. Selamat tinggal Korea….

**

Pemuda itu mengumpat pelan sesaat setelah memutuskan sambungan telepon. Dia tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan Ayahnya. Dalam hati ada sedikit rasa senang, tetapi mengingat raut sedih orang yang disayanginya dulu kembali menyadarkannya. Mungkinkah ini kesempatan kedua untuknya? Batinnya.

Segera dia bergegas mengemasi barang-barangnya, pulang menemui gadis itu adalah solusi terbaik saat ini. Jika gadis itu bisa membuka hatinya, mungkin dia akan tetap mempertahankannya. Tapi, jika gadis itu telah memagari hatinya, mungkin memang dia harus benar-benar merelakannya. Membuat gadis itu bahagia dan tidak membiarkan seorang pun membuatnya menderita, termasuk Ayahnya. Dulu, dia tidak benar-benar merelakannya.

Maafkan aku, Yoona,” gumamnya.

**

Donghae memandang gadis cantik didepannya dengan tersenyum. Mengingat percakapannya dengan sahabat baiknya beberapa jam lalu. Dia memang tidak peka, bagaimana perasaan sahabat baiknya pun dia tidak tahu.

Sebagai seorang laki-laki dia tidak akan pernah menarik kata-kata yang pernah diucapkannya. Dan sebagai seorang sahabat, dia tidak akan sekejam itu membiarkan Tiffany menderita sendirian. Itulah alasan kenapa dia –setengah hati- mau menerima keputusan Yoona. Tetapi, kurang lebih beberapa jam lalu sebuah percakapan singkat telah merubah semuanya.

Kau tidak apa-apa Donghae Oppa? Maafkan aku,” ucap gadis cantik itu memecah keheningan.

Tidak. Aku rasa aku sudah menemukan orang yang tepat untuk mendampingimu Fany-ah,” balasnya.

Siapa?” dahi Tiffany sedikit mengernyit mendapati jawaban dari Donghae.

Lee Hyukjae,” ucap Donghae lantang.

Tiffany hanya tersenyum simpul. Ya, mungkin Donghae akan melanggar prinsipnya dan bersikap egois kali ini. Untuk sekali saja atau dia tidak akan bisa hidup.

***

Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Bersatu atau benar-benar berpisah? HEHE

Ada yang tahu nama mertuaku (red: Ayah Kyuhyun) nggak? Seingatku Cho Younghwam, tapi karena takut salah jad disini namanya diganti.-. Ehm..ini ada seri terakhirnya di musim gugur yang (mungkin) bakal lebih jelas. Ini ada bagian Author POV dan flashbacknya, semoga pada paham ya. Thanks buat yang udah baca dan comment^^


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * Indahnyaaja says:

    Pnsaran??????
    tlong buat yoonhae brsatu:)
    Cpetan bkin part sljut.a chingu jgn lma2…….
    Fighting

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  2. Ih gantung ==”
    author bikin sesek nih ><

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  3. Aah .. Mengapa part ini sedih banget chingu? Aku ampe’ nangis pas baca perpisahan Yoong eonni dan Hae oppa .. Gak rela mereka berpisah ..

    (_ _’) .. Nangis di pojokan ..

    Chingu ,, part berikutnya jangen pisah kan mereka lg yagh .. Cukup lah ,, cobaan hubn mereka ..
    Ntar akunya nangis lagi nie mereka pisah .. Hikzz ..

    Author DAEBAK !!
    Keep Writing ..
    HWAITING ..
    \(‘_’)/

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  4. nikahkan yoonhae pas autumn *demo ke author, gregetan sumpah..

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  5. * Rifqa Shafira says:

    Lanjut thor……..DAEBAK!!!!!^^

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  6. * sylvia.monica22 says:

    satuin author.
    Aku gk sanguuuuuuppppppp T.T

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  7. * yoong fishy says:

    gantung….bgd,
    cpet d’publish yh msim ggur’a cngu
    tp agk bgung,,yoona ma kyu udh slng knal y??
    g sbarrr

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  8. * tata says:

    kalo yoonhae bersatu
    dan hyuk ama fanny bersatu
    terus kyu ama sapa??

    lanjut ya author….apapun endingnya akan ku terima.hahaha

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  9. * DeerFishy says:

    Lanjutt … !!

    Jangan pisahh dongg …, Donghae dan Yoona harus bersatu🙂

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  10. * rere says:

    biasanya kalo di novel atau pun cerita biasanya pas musim gugur, itu sad ending😦
    semoga akhirnya gak sad ending, gak rela kalo sampe pisah >,<

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  11. * mochichi says:

    Ceritanya bagus n bikin penasaran!
    Ini mah tbc chingu!
    Hehehehe
    Yasudah ditunggu lanjutannya.
    Tp emang ada bbrp bagian yg bikin bingung.
    Keep writing! Fighting!

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  12. * aiko says:

    mata panas baca season ini,nahan tangis,hiks..season berikutnya harus bahagia ^_^v

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  13. * ginaddictyoong says:

    nangis aku baca.a
    deg”an ntar yoona ama siapa
    thor jangan lama” ya publish part selanjutnya . .

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  14. * mimimi says:

    Yoonhae, hyukfany pokoknya! Tambahin seo, terus pertemukan dengan kyu dan akhirnya jadilah seokyu! Yoonhae, hyukfany, seokyu. Horeee😀 *readergila

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  15. * ijhul says:

    kereennn,,,,,lanjutannya jangan lama”,,,,ok ok ok

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  16. * salma says:

    pokoknya yoona ma donghae g boleh pisah!
    chinggu please buat mereka bersatu aja..
    kyuhyun sama seohyun aja ya.. (maap saya wires)
    g bakal rela yoonhae d pisahin!!
    tapi yg aku suka d sini ada hyukfany-nya..
    next part d tunjukin hyukfany momentnya ya..

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  17. * Marzha says:

    Aduh-aduh…
    Cobaan buat Yoong unnie sama donghae oppa lagi… Cepetan di update ya thor.. Penasaran sama kisah selanjutnya…

    Yoonhae harus tetap bersatu..^^
    author fighting…^^

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  18. * diana says:

    Yoonhae hrus brsatu ƪäǥȉ !
    Ktanya one-shot ? Kok msih ada lanjutannya ?
    Hhm..btw ff-nya bgus chingu, sedih.. T.T

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  19. * wulan ELFishy says:

    sumpeh , penasaran .
    lanjut .
    yoonhae is the best🙂

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  20. * lina says:

    hiks hiks, sdh bgt
    g tgu lnjtny y
    author hwaiting

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  21. * devisonelf says:

    nie crtanya nyentuh bnget ……

    trusin dong ….

    | Reply Posted 4 years, 9 months ago
  22. * Adel13 says:

    Author satuin YOONHAE! Harus😀

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  23. * febrynovi says:

    AUTHOR FF-NYA KEREN BANGET HUAAAAA~~
    Aku salut sama author. Bahasanya keren aku suka..
    GOOD JOB!

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  24. * Elsa says:

    ini continued? lanjut klo gitu!! penasaran aku sama YoonHae! Keep Writing~

    | Reply Posted 4 years, 1 month ago
  25. * jan says:

    Ini ff yg paling bikin sy nyeseeeeeek

    | Reply Posted 3 years, 5 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: