YoonHae Fanfics Library



[One-shot] The Reason

Title : The Reason

Author : Jeany R.

Cast : Im Yoona, Lee Donghae

Rating : PG-13

Genre : Romance, Angst

Note : Recommend song SHINee-The Reason. Happy Reading^^

The Reason

Aku berjalan sendiri menyusuri jalanan yang gelap

Aku bahkan tidak tahu jika aku menangis

Kau datang padaku seperti cahaya yang bersinar dan menyinariku

Tanganmu menghapus air mataku

Sekarang aku menyadarinya

Menyusuri jalanan seorang diri, hanya beralaskan sepatu serta hoodie yang menyelimutinya tak membuat gadis itu gentar. Sayup-sayup suara burung malam yang melantunkan suara menyeramkan diabaikannya begitu saja. Seolah suara itu hanyalah angin lalu.

Lampu temaram yang terpasang apik di teras-teras rumah para penduduklah yang menerangi langkahnya, dibantu cahaya bulan dari atas sana. Jalanan mulai sepi. Orang-orang sudah terlelap dalam mimpi indah yang menenangkan.

Lagi-lagi, helaan nafas berat keluar dari hidung gadis itu. Sejenak, dia berhenti. Hanya untuk sekedar membenahi letak syal yang melorot di lehernya. Udara musim gugur yang berubah menjadi sedingin musim salju dirasakannya. Hanya dirinya atau entah seluruh orang di penjuru Korea. Dia tak peduli.

Bukan untuk kali pertama dia merasakan seperti ini. Bukan untuk kali pertama pula dia seperti ini. Sejak dua tahun silam. Dimana sebuah kejadian tragis, takdir yang tak pernah diinginkannya ternyata justru menghampirinya.

Pemuda tampan itu. Pemuda dengan senyum menawan yang selalu membuat jantungnya bertalu-talu saat bersamanya. Lee Hyukjae.

Tak terasa air mata telah menganak sungai di pipinya, tanpa dia sadari. Mulanya hanya satu tetes saja yang jatuh, lalu disusul setetes demi setetes lainnya yang kini mulai membuatnya kesulitan bernafas.

Sekuat tenaga dia membendungnya. Tidak cukupkah dua tahun dia menangisinya? Butuh berapa tahun lagi dia harus menangisi sosoknya? Lima tahun? Sepuluh tahun? Atau bahkan mungkin seumur hidupnya?

“Kau baik-baik saja?” suara lembut milik seorang pemuda tampan di sampingnya, membuatnya tersadar. Melirik sekilas dan tetap berjalan mengikuti kemana langkah kakinya akan membawanya.

Bukan untuk pertama kalinya dia mendengar suara merdu milik pemuda itu. Sudah berpuluh-puluh kali, ah tidak. Sepertinya sudah ribuan kali.

Tanpa persetujuan, tangan pemuda itu kini mulai menyusuri pipinya. Menghapus sisa-sisa air mata yang masih terus mengalir di pipi gadis itu. Dengan memberikan sebuah senyuman tipis yang diharapkannya dapat memberikan ketenangan untuk gadis itu.

“Seorang gadis menangis di tengah malam seperti ini tidak baik. Rumornya gadis yang menangis tengah malam seperti ini adalah seorang gumiho yang kelaparan,” candanya.

Berhasil. Niat awal pemuda itu yang berusaha untuk menghiburnya akhirnya membuahkan hasil. Yoona kini mendongak menatap pemuda tampan itu. Tatapan mata teduh milik pemuda itu berhasil membuatnya tenang. Sedikit perasaan sedih yang menghimpitnya hilang terganti sebuah cahaya yang diberikan oleh pemuda itu.

Pemuda itu bukan pemuda yang Yoona kenal. Tapi bukan tidak mungkin jika pemuda itu mengenal Yoona. Dia bukan pemuda pemabuk yang berkeliaran di tengah malam dengan bau soju yang tercium dari hembusan nafasnya. Bukan pula pemuda hidung belang yang mengganggu gadis-gadis untuk menuruti nafsunya.

Dia pemuda baik-baik. Mengerti sopan santun yang diajarkan selama dirinya bersekolah dulu. Pemuda itu dengan caranya sendiri selalu berhasil menenangkan Im Yoona. Tanpa membuat gadis itu takut atau merasa risih dengan kehadirannya. Alasan kenapa dia tidak memeluk gadis itu.

Kini, keduanya berjalan secara berdampingan menyusuri jalanan yang bertambah sunyi. Bintang-bintang mulai menghilang satu persatu. Kurang dari tiga jam lagi matahari akan muncul dari peraduannya.

“Suara burung-burung begitu menyeramkan, apa kau tidak takut?” tanya pemuda itu.

Tak ada jawaban yang terdengar. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Gadis itu masih bungkam. Tidak berniat mengutarakan apapun. Mengabaikan perkataan pemuda itu, seolah bukan masalah untuknya.

Pemuda itu tidak merasa kesal sedikitpun karena diabaikan. Sudah mulai terbiasa merasakan perasaan itu. Hampir dua tahun dia mengalaminya, bukan waktu yang singkat bukan? Kini, dia pun sudah cukup senang mendapati gadis itu tidak mengeluarkan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya.

“Seorang gadis menangis untuk menarik perhatian. Ya, aku mengerti hal seperti itu,” ucap pemuda itu lagi.

Reaksi Yoona kali ini berbeda. Diam bukan berarti dia tidak mendengar. Suara jangkrik pun dia mendengarnya dengan sangat jelas. Segera, dia menghentikan langkahnya sesaat. Menatap pemuda disampingnya selama beberapa detik. Dengan dahi berkerut serta mata tajam menatapnya.

“Maksudmu?”

Sebuah senyuman melengkung sempurna dari bibir pemuda itu. Kata pertama yang didengarnya secara langsung keluar dari mulut gadis yang selalu dibuntutinya. Gadis yang diam-diam selalu dijaganya.

“Ah, maksudku gadis-gadis di seberang sana. Lihatlah,” kata pemuda itu, jari telunjuknya mengarah ke satu titik dimana di sana terdapat seorang gadis dengan lutut ditekuk dan tampak menangis tersedu-sedu.

Yoona segera mengarahkan pandangan matanya mengikuti jari telunjuk pemuda itu. Gadis dengan pakaian yang sedikit terbuka—dan sangat tidak cocok untuk dipertontonkan—yang awalnya sedang menangis tampak bergelayut manja pada seorang pria tua. Kalian mengerti maksudku kan?

“Mereka menangis karena ada alasannya,” sahut Yoona lagi. Merasa dirinya perlu membela kaumnya. Tidak ingin dirinya di cap seperti gadis-gadis di sana.

Pemuda di sampingnya tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Kehadirannya bahkan tidak pernah disadarinya. Entah darimana dia berasal, apa tujuannya dia pun tak tahu.

“Aku tahu. Ngomong-ngomong sepertinya burung di belakang kita itu menyukaimu. Sedari tadi dia terus berkicau menyebut namamu,” kata pemuda itu seraya menolehkan kepalanya ke belakang.

Pemuda itu tak menyadari jika kini sebuah senyuman tipis mulai menghiasi wajah Yoona. Senyuman langka yang sudah sekian lama tidak ditunjukannya pada siapapun. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu apakah bentuk perubahan garis bibirnya itu dapat disebut sebuah senyuman atau tidak. Karena dia sendiri pun lupa bagaimana cara tersenyum yang benar.

“Apa perlu aku mengusirnya?” tanya pemuda itu pada Yoona. Dia mulai merasa risih sendiri karena diikuti oleh burung dengan mata tajam dan menakutkan itu.

Yoona menggeleng pelan, secara samar. “Biarkan saja,” kata Yoona pelan.

Setelah itu, tak ada percakapan diantara keduanya. Kembali, keduanya berjalan beriringan dengan langkah-langkah teratur ditemani suara burung berkicau di belakang mereka. Sesekali, keduanya membenarkan hoodie yang mereka kenakan.

Sebuah rumah sederhana dengan bermacam bunga-bunga yang terdapat di halaman mulai terlihat. Menandakan jika jarak mereka dengan rumah itu tidak jauh lagi. Samar, hal itu membuat pemuda yang berdiri di samping Yoona menghembuskan nafas berat. Menyayangkan jika kebersamaannya dengan gadis itu harus berakhir tidak sampai lima menit lagi.

“Bunga matahari itu sudah jatuh, padahal seminggu yang lalu masih mekar sempurna,” gumam pemuda itu. Matanya menatap sebuah bunga matahari cantik yang kini tergeletak tak berdaya di tanah.

Yoona tertegun mendengar gumaman pemuda itu. Sebuah kesadaran kini menghantamnya. Pemuda yang menemaninya berjalan ditengah malam berbintang, ditengah malam bersalju adalah pemuda yang sama. Pemuda yang selalu diabaikannya. Pemuda itu adalah pemuda yang kini berdiri di sampingnya.

“Ya Tuhan! Apa-apan dia.”

Umpatan pelan itu berasal dari pemuda yang kini tengah memegang sebuah handphone ditangannya. Entah apa isi pesan itu sehingga membuatnya mengumpat pelan.

Keduanya berhenti di depan sebuah gerbang berwarna putih setingga kurang lebih satu setengah meter di hadapannya. Yoona melirik sekilas pemuda disampingnya. Pemuda itu berhenti disana, menyisakan jarak dirinya dengan Yoona yang kini mulai melangkahkan kakinya. Membuka gerbang rumahnya dalam satu tarikan.

Saat hendak masuk ke dalam dia berhenti sejenak. Berbalik menatap pemuda didepannya yang kini malah menampilkan raut wajah bingung. Untuk pertama kalinya Yoona menatap pemuda itu secara menyeluruh, dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

“Terima kasih Donghae-ya,” ujarnya pelan.

*

Bahkan jika aku tidak memberitahumu untuk waktu yang lama

Bagaimana mungkin kau tahu semua perasaanku?

Maaf, aku hanya bersandar padamu

Sekarang aku akan mengulurkan tanganku dan memelukmu

Dapatkah kau memahami perasaanku?

Sebuah rahasia yang tersimpan rapi dalam hati tak mungkin dengan mudah tersebar begitu saja. Apalagi, tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia itu. Seolah hanya Tuhan dan dirinya sendirilah yang mengetahuinya.

Perasaan kehilangan yang mendalam itu dirasakan oleh tidak kurang dari sepuluh orang. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring bergantinya musim mereka telah berhasil menyembuhkan luka hatinya. Berbeda dengan gadis itu, waktu tak dapat menyembuhkan lukanya.

Semakin dalam dia merasakan, semakin sakit pula yang didapatkannya. Dia bukan tidak berusaha untuk menyembuhkannya. Dia berusaha, tapi dia tidak bisa. Mungkin belum bisa.

Kini, duduk dua orang itu berhadapan di sebuah café yang dilengkapi dengan sebuah pemandangan taman yang memukau. Dua cangkir teh hijau yang tersaji dihadapan tampak diabaikan begitu saja.

“Siapa kau sebenarnya?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Yoona. Suaranya masih lirih dan pelan.

“Donghae. Lee Donghae.”

Jawab pemuda itu antusias. Suasana hatinya yang begitu baik membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya sehingga kini suara yang keluar dari mulutnya menjadi begitu bersemangat.

Dua hari yang lalu. Setelah sekian tahun dia menunggu, akhirnya gadis itu menyadari kehadiran dirinya. Sebuah hadiah yang tak ternilai harganya. Dia pun mulai berani maju melangkah. Menemui gadis itu dan mengajaknya berjalan-jalan hanya sekedar untuk menikmati kesegaran teh hijau di pagi hari.

“Kita satu kampus dulu.”

Kelanjutan ucapan pemuda itu kini memberikan setitik petunjuk untuk Yoona. Pemuda itu mengenalnya. Teman sekampusnya. Otaknya berpikir keras mengingat apakah dia pernah mengenal atau mungkin berjumpa dengan sosok Lee Donghae. Matanya pun kini menatap pemuda itu. Ah, mata teduh yang selalu membuatnya tenang itu kembali bersinar.

“Mungkin kau tidak mengenalku. Tapi, Hyukjae…dia…mengenalku.”

Donghae tampak ragu-ragu saat menyebutkan nama pemuda itu. Pemuda yang selalu ditangisi Im Yoona. Takut-takut jika gadis itu kini akan melakukan yang sama dihadapannya. Demi Tuhan dia tidak akan sanggup menanggungnya.

“Kau sahabatnya?”

Satu persatu teka-teki yang memenuhi pikirannya mulai menguak. Alasan kenapa pemuda itu selalu menghampirinya. Bagaimana pemuda itu tahu, seolah dia mengetahui apa yang dirasakannya walau dia sendiri tak pernah memberitahunya.

“Aku cukup lama mengenalnya. Dia bahkan sering menceritakan tentangmu.”

Sahabat baiknya, sahabat yang disayanginya. Lee Hyukjae. Dari pemuda itulah Donghae mengetahui segala hal tentang Im Yoona.

Gadis cantik asal Korea Selatan yang mendapatkan beasiswa dan melanjutkan pendidikan di Jepang. Gadis ceria yang selalu tersenyum dalam keadaan suka maupun duka. Hidup mandiri tanpa kedua orang tuanya dengan sebuah rumah peninggalan neneknya di Korea.

“Kenapa dia tidak mengenalkanmu padaku?”

Pertanyaan itu kini melintas begitu saja di otak Yoona. Sangat aneh bukan jika pemuda yang duduk didepannya ini adalah sahabat (mantan) kekasihnya, kenapa dia tidak mengenalnya? Seketika perasaan ragu untuk mempercayai perkataan Donghae merayapinya.

“Belum. Ya, dia tidak sempat.”

Tidak sempat. Karena pemuda itu telah pergi sebelum mengenalkan Yoona pada Donghae.

“Malam itu, dia memintaku untuk menjagamu.”

Yoona nampak tidak kaget mendengar penuturan Donghae. Ah, tentu saja kenapa pemuda itu selalu menemaninya, menghapus air matanya bukan tanpa alasan yang jelas. Tapi kenapa justru kenyataan yang didapatinya itu kini membuatnya sakit? Apa yang membuatnya kecewa?

“Awalnya seperti itu. Tapi setelah waktu yang terlewat, semuanya berubah begitu saja.”

Perkataan pemuda itu kini kembali mengaduk emosi Yoona. Sebuah perasaan kecewa itu mulai terangkat sedikit demi sedikit. Membuatnya tak bisa lagi menghindari takdir. Membuatnya kini menunjukkan sebuah garis lengkung itu untuk pemuda yang tengah tersenyum menatapnya.

“Aku mohon, jangan menangis lagi Yoona. Bersandarlah padaku jika kau merasa sedih.”

Dimana Im Yoona yang ceria? Menghilang kemanakah sosok gadis itu? Satu tetes air mata itu jatuh menuruni pipinya. Bukan tangis sedih seperti beberapa tahun ini. Tapi tangis bahagia, untuk orang yang berbeda.

Sebelum Donghae sempat menghapus air mata itu, Yoona sudah menghapusnya lebih dulu. Seperti permintaan pemuda itu, dia tidak akan menangis lagi.

“Jangan menangis Yoona. Aku tidak menyukainya.”

Perkataan Hyukjae kala itu teringat olehnya. Hyukjae tidak menyukainya menangis. Dan kini, dia tidak akan menangis lagi. Tidak ingin membuat orang disayanginya menjadi sedih karenanya.

“Aku mencintaimu Im Yoona.”

Kedua mata mereka bertemu. Mata teduh Donghae yang memancarkan ketulusan, setulus perkataan yang baru saja diucapkannya. Satu lagi adalah mata indah milik Yoona yang berusaha menggali ketulusan dari tatapan mata teduh milik pemuda dihadapannya.

Tidak ada satu kata pun yang sanggup Yoona ucapkan. Dia sendiri pun tak dapat menyelami perasaannya sendiri. Bagaimana perasaan pada pemuda itu? Rasa nyaman yang dirasakannya selama kehadiran pemuda itu tidak dapat dia tafsirkan dengan sebuah perasaan sayang begitu saja. Bahkan butuh waktu lama untuk dia menyadari dari mana asal perasaan nyaman itu.

“Aku akan berlutut dihadapan Hyukjae karena aku telah mencintaimu. Maafkan aku.”

Yoona menggelengkan kepalanya. Cepat. Terlalu cepat bahkan. Pemuda itu tidak perlu meminta maaf karena mencintainya. Harusnya dialah yang harus meminta maaf karena tidak pernah menyadari kehadiran pemuda itu. Karena telah membuat pemuda itu harus mencintainya.

Disisi lain hatinya, dia merasa amat senang. Karena dicintai oleh pemuda itu.

“Kau tidak bersalah Donghae-ya.”

Ucap Yoona lirih. Dan penuh ketulusan. Selamilah lubuk hatinya jika kalian masih tidak percaya jika gadis itu tulus mengatakannya.

“Aku tetap harus meminta maaf pada Hyukjae. Dia memintaku untuk menjagamu, bukan untuk mencintaimu.”

Ya Tuhan betapa baiknya pemuda yang kini berdiri dihadapannya. Malaikat kirimanmu kah? Yoona menatap pemuda didepannya dengan sebuah senyuman. Kini, dia sudah mulai terbiasa untuk membuat garis melengkung di sudut bibirnya. Segalanya terasa mudah jika pemuda itu ada bersamanya.

Mata Yoona mulai memanas lagi. Segala upaya untuk membendung air mata itu begitu sulit. Kini, kedua tangannya telurur ke depan. Membuat Donghae hanya bisa menatapnya bingung.

“Bisakah kau memelukku?”

Perasaan lega dirasakannya saat kini sebuah permintaan itu terucap dari bibirnya. Pemuda yang semula duduk itupun kini beranjak melangkahkah kakinya menuju Yoona. Merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Mengabaikan berpasang mata yang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.

Yoona merasakan sensasi damai dan menenangkan dalam pelukan pemuda itu. Matanya tertutup rapat. Sebuah air mata jatuh menuruni pipinya, hanya satu tetes saja tanpa diikuti tetesan berikutnya.

Sudah dua tahun lamanya dia tak merasakan nyamannya berada dalam pelukan. Saat rambutnya dielus oleh tangan seseorang. Sekelebatan bayangan Lee Hyukjae menyeruak dalam ingatannya. Berikutnya bayangan itu mulai memudar dan tergantikan dengan senyum menawan pemuda yang kini memeluknya.

Ingatan akan malam-malam bersalju dimana dirinya yang selalu berjalan di dalam kesunyian ditemani oleh seseorang. Dimana setiap pulang air mata yang jatuh menuruni pipinya tak berbekas karena telah dihapus oleh tangan seseorang.

“Berjanjilah untuk tidak menangis lagi. Demi Lee Hyukjae.”

Bisikan itu terdengar begitu jelas di telinganya. Membuatnya benar-benar mengingat perkataan itu. Memantapkan hatinya untuk memenuhi permintaan pemuda yang mengerti dirinya.

*

Saat kita bersama

Bahagia saat aku telah menghabiskan waktu tanpa menyadarinya

Jalan yang ku tempuh sejauh ini

Jalan yang ku tempuh dalam kesepian saat aku menangis

Kau mengubah semuanya

Aku datang untuk mengetahuinya sekarang

Itu adalah alasan mengapa

Jalanan di depanku begitu indah

Segalanya tidak bisa berubah secara cepat. Segalanya butuh proses. Untuk mencintai seseorang pun butuh proses. Tidak semuanya dapat berubah, masih ada sisa-sisa yang tertinggal dan melekat di sana.

Suasana sepi, udara dingin, lampu temaram yang menemani menjadi sesuatu yang sudah sangat melekat diingatan Yoona. Satu lagi, sesosok pemuda yang selalu menemaninya, berdiri disampingnya pun sudah bukan hal baru untuknya.

Kejadian dimana selalu dirasakannya setiap satu minggu sekali. Yang membuatnya dapat merasakan sebuah rasa nyaman ditengah-tengah kesedihan yang meliputinya. Yang tanpa sadar membuatnya merasakan secercah kebahagiaan itu. Alasan kenapa dia mengulang kejadian yang sama selama berbulan-bulan.

Kini dia menyadari, semua karena pemuda itu. Lee Donghae.

“Kau tidak takut berjalan sendirian di malam selarut ini?”

Pertanyaan yang selalu melintas dalam benak Donghae pun kini berhasil diutarakannya. Berharap gadis disampingnya itu akan menjawabnya.

“Tidak.”

Tangan keduanya saling bertautan. Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya. Malam ini pun tak ada air mata yang menetes dari pelupuk mata Yoona. Hanya ada senyuman.

“Benarkah?”

Yoona tersenyum. Sesuai janjinya, kini dia pun akan selalu tersenyum. Membiasakan hal itu mulai dari sekarang. Bukan demi Lee Hyukjae, tapi demi pemuda yang berdiri disampingnya.

“Karena ada seseorang yang selalu melindungiku.”

Keduanya tersenyum. Bintang-bintang yang tersisa di langit pun ikut tersenyum menyaksikan kedua anak manusia yang memiliki takdir manis di bawah sana.

Jalanan yang mereka lewati sudah sangat dihapalnya. Melewati sebuah bar dimana saat-saat yang lalu mereka selalu melihat seorang gadis seusia Yoona tengah menggandeng pria paruh baya. Melewati sebuah kafe tempat mereka menghabiskan waktu menikmati secangkir teh hijau di pagi hari.

Percayalah jalanan itu cukup jauh. Hampir satu jam kau melewatinya. Tapi berjalan dengan orang yang kita cintai akan membuat kita tidak merasakan betapa jauhnya jalan itu. Tidak merasakan efek lelah yang menderamu. Yang ada hanya rasa senang karena telah menghabiskan beberapa jam waktumu untuk bersama dengannya.

Itulah yang dirasakan Donghae selama ini.

“Malam ini aku tidak menangis.”

Gumaman Yoona itu berhasil membuat Donghae menoleh ke arahnya. Sepanjang jalan yang mereka lewati, gadis itu tidak meneteskan air mata setetes pun. Membuat Donghae lega tak terkira. Sebuah senyuman manis yang tersungging di bibir gadis itu mampu membiusnya.

“Baguslah!”

Yoona tersenyum mendapati respon dari pemuda disampingnya. Pemuda itu memang benar-benar hebat. Dengan segala cara dia berhasil merubah seorang Im Yoona. Menariknya dari jurang yang selama ini ditempatinya. Membawanya ke taman penuh bintang yang begitu indah.

“Kau tahu kenapa?”

Donghae mengernyitkan dahinya mendapati pertanyaan yang dilontarkan gadis disampingnya. Tidak mengerti kemana arah pembicaraan gadis itu kini. Tapi setidaknya gadis itu tidak mengabaikannya. Tidak sependiam minggu lalu. Fakta itu sudah cukup membuatnya bahagia.

“Karena kau.”

Karena tak mendengar jawaban apapun dari Donghae akhirnya Yoona pun melanjutkan perkataannya. Karena pemuda itu telah mengubahnya. Jalanan panjang yang dilaluinya terasa begitu dekat. Segala kesedihan dan tangis air mata yang selalu dirasakannya kini tergantikan sebuah senyuman.

Ah, sepertinya sekarang keadaan menjadi berbanding terbalik. Jika dulu Yoona hanya diam membisu sedang Donghae yang berceloteh, rupanya kini Donghae yang membisu. Yoona menggenggam erat tangan pemuda disampingnya. Seolah tak ingin kehilangan tangan itu.

Donhae yang sadar pun kini mulai menggenggam erat tangan Yoona. Meremasnya dengan pelan sehingga memberikan sebuah kehangatan untuk keduanya. Udara musim gugur bertambah dingin seiring berganti hari mendekati musim salju.

“Aku sudah mengetahuinya sekarang.”

Masih asyik berceloteh ria. Mengabaikan pemuda disampingnya yang tengah menatapnya intens. Terheran-heran dengan perubahan sikap gadis disampingnya yang begitu dahsyat. Tak pernah menyangka jika gadis itu akan kembali menjadi dirinya semula. Im Yoona yang ceria.

“Apa?”

Tanya Donghae penasaran. Rupanya gadis itu pandai bermain teka-teki. Kenapa Hyukjae tidak pernah mengatakan hal itu padanya?

“Kau tidak perlu tahu.”

Ada kalanya memang Donghae harus mengetahui sosok Yoona sendiri. Dengan mata kepalanya. Bukan dari sebuah cerita yang hanya bisa digambarkannya dalam sosok bayangan semu. Dia harus melihat sosok gadis yang telah berhasil memikatnya sejak awal—bahkan sebelum mereka bertemu—sampai akhirnya gadis itu berhasil membuat Donghae rela meneruskan kuliahnya di Jepang untuk bertemu dengannya secara langsung.

Semua rahasia itu tersimpan rapi dalam hatinya. Sekalipun Hyukjae, dia yakin jika sahabatnya itu tidak pernah mengetahuinya.

“Hyukjae pernah bilang padaku jika sahabatnya menyukaiku.”

Sontak perkataan itu membuat Donghae terkejut. Menatap gadis disampingnya, seolah matanya menyiratkan sebuah pertanyaan: apa kau serius?

Pertanyaan tersirat itu hanya dibalas oleh sebuah senyuman manis Yoona. Matanya menerawang, kembali ke masa-masa dua tahun silam. Saat dia masih bersama pemuda itu.

“Kau tahu, aku memiliki sahabat baik yang sangat mencintaimu. Jika kelak aku pergi, dialah yang akan menjagamu.”

Yoona masih mengingatnya. Kala itu, Yoona hanya merengut kesal mendengar omong kosong Hyukjae. Tapi siapa sangka, ternyata perkataan pemuda itu memang benar. Yoona tersenyum menatap Donghae yang kini masih tampak terkejut. Tidak berusaha menutupi ekspresi keterkejutannya sedikitpun.

“Pemuda itu kau kan?”

Donghae tak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yoona. Dia sibuk memutar-mutar memorinya. Memikirkan bagaimana sahabatnya itu bisa tahu jika Donghae menyukai kekasihnya. Dia merasa menjadi pemuda paling bodoh.

“Bagaimana dia bisa tahu?”

Yoona hanya tersenyum mendengar gumaman Donghae. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu selain Lee Hyukjae. Dia sendiri pun tidak tahu apa-apa.

Dulu, dia hanya menganggap perkataan Hyukjae itu hanyalah sebuah angin lalu. Tidak penting dan tidak berarti apa-apa. Tak pernah terpikirkan olehnya jika pemuda itu telah menyusun rencana sedemikian rupa untuk membuatnya bahagia. Melalui orang lain. Yaitu sahabatnya Lee Donghae.

“Entahlah. Tapi sekarang aku bahagia.”

Sahut Yoona ceria. Setulus hati, dia mengucapkan beribu terima kasih pada Lee Hyukjae. Atas kebahagian yang diberikan pemuda itu untuknya. Selamanya, Yoona tak akan melupakannya. Namanya akan terpantri kuat diingatannya.

“Terima kasih Oppa.”

Belum tersadar dari keterkejutannya, kini Donghae kembali dikejutkan dengan perkataan gadis disampingnya. Ya Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi? Donghae hanya bisa mengernyitkan dahinya menatap Yoona.

“Sekarang aku tahu kenapa jalanan didepanku begitu indah.”

Senyuman manis yang ditujukan Yoona hanya untuk orang-orang yang disayanginya itu mampu membuat Donghae membeku ditempatnya. Setengah sadar dia ikut berlari saat Yoona menarik tangannya. Tapi sedetik kemudian senyum pun mulai tersungging di suduh bibirnya.

“Kau memang hebat Hyuk-ah.”

*

Kenangan buruk dalam hatiku

Perlahan-lahan berubah menjadi hal yang terang sepertimu

Tolong bantu aku untuk tidak mematikan cahaya ini

Sehingga aku bisa menerangimu sepanjang waktu

Perlahan-lahan kehadiran sosok pendukung itu mulai menghapus segala kenangan mengerikan. Dengan cahaya-cahaya yang menerangi ruangan gelap itu mulai menyatu disana. Menyisakan ruangan gelap gulita itu menjadi terang bengerang.

Yoona mulai bangkit berdiri. Kembali seperti dirinya dua tahun lalu. Senyum ceria yang selalu menghiasi sudut bibirnya. Sikap periang yang akan membuat siapapun merasa nyaman saat bersamanya. Semua itu kembali didapatkannya.

“Bisakah kau menungguku Oppa?”

Tanya Yoona memecah keheningan. Saat ini keduanya tengah berada di rumah Yoona. Gadis itu secara khusus meminta Donghae mampir ke rumahnya setelah pagi tadi keduanya selesai berkunjung ke makam Hyukjae.

Seperti ucapan Donghae waktu itu, dia benar-benar membuktikannya. Disaksikan Yoona dengan raut wajah penuh haru, Donghae meminta ijin pada Hyukjae untuk menjaga gadis itu. Meminta maaf karena telah mencintai kekasihnya. Bernjanji untuk terus berada di samping Yoona apapun yang terjadi.

“Hmmm tergantung berapa lama aku harus menunggumu.”

Jawaban Donghae itu sontak membuat Yoona merengut kesal. Berharap kali ini Donghae hanya bercanda seperti yang sering dilakukannya. Tapi nyatanya tidak. Pemuda itu tak kunjung meralat ucapannya.

Yoona hanya bisa menghela nafas. Bingung. Bimbang. Dia sendiri tak dapat memastikan perasaannya. Perasakan yang dirasakannya untuk pemuda itu, dia takut jika dia salah menafsirkannya. Bayangan Hyukjae masih terus membayanginya, walalu kini mulai memudar.

“Bersediakah kau untuk tetap menjadi cahaya untukku?”

Donghae tertegun mendengar permintaan gadis dihadapannya. Yang benar saja, gadis itu menganggap perkataannya sungguhan. Dia tentu saja bersedia untuk menunggu gadis itu. Bukankah dia sudah berjanji untuk berada disampingnya Yoona sampai kapanpun? Jadi apa yang ditakutkan gadis itu kini? Donghae telah berjanji di depan makam Hyukjae. Dia tidak mungkin mengingkarinya.

“Aku akan menunggumu, sampai tua sekalipun.”

Jawaban penuh keyakinan dari Donghae itu mampu membuat Yoona tenang. Dia tidak perlu takut akan kehilangan cahaya yang meneranginya. Karena pemuda itu akan selalu berada disisinya.

“Aku pun akan berusaha untuk tetap mempertahankan cahaya itu.”

Balas Yoona, tak kalah yakin dengan jawaban Donghae. Samar-samar kenangan pahit kehilangan sosok Lee Hyukjae mulai hilang bersama terbangnya dandelion-dandelion di luar sana. Tergantikan oleh sosok pemuda dihadapannya yang memenuhi rongga hatinya.

Lee Hyukjae tetap tak akan terlupakan. Akan selalu menjadi seseorang yang istimewa di hati keduanya. Yoona dan Donghae.

Bayangan menakutkan saat dimana Yoona melihat dengan mata kepalanya sendiri Hyukjae—yang saat itu adalah kekasihnya—meregang nyawa saat sebuah bus kota menabraknya. Saat itu Hyukjae tengah menyeberang jalan. Yoona yang menunggunya diseberang jalan pun melambai tersenyum ke arahnya.

Entah apa yang dipikirkan pemuda itu sehingga dia tak menyadari jika ada sebuah bus yang sedang melaju kencang ke arahnya. Dengan nekatnya Hyukjae menyeberang dengan senyum yang masih tersungging di sudut bibirnya. Seperti yang selalu ditunjukannya saat bertemu Yoona.

“Oppa awas!”

Teriakan Yoona tak berguna sama sekali. Karena tepat saat itulah bus itu menabrak tubuh pemuda itu. Membuat kotak berisi kue yang telah dipersiapkan Yoona untuk sang kekasih hancur tak berbentuk.

Berlari seperti orang kesetanan tanpa memperdulikan jalanan yang saat itu sedang sangat ramai. Yoona mendekat ke arah Hyukjae. Kedua tangannya menangkup wajah pemuda itu yang bersimbah darah.

“Oppa.”

Satu tetes air mata yang turun pada hari itulah yang mengawali jatuhnya tetes-tetes itu selama bertahun-tahun ini.

“Jangan menangis Yoona. Aku mencintaimu. Ingat semua kata-kataku.”

Perkataan itulah yang terakhir didengarnya keluar dari mulut Hyukjae. Bersamaan dengan menutupnya mata pemuda itu, tangis histeris terdengar. Tangisan yang menyayat hati dari seorang Im Yoona.

“Kau kenapa?”

Tanya Donghae setelah beberapa saat melihat Yoona yang nampaknya sedang melamun. Takut-takut jika gadis itu akan kembali merasa sedih.

“Kejadian waktu itu, aku mengingatnya.”

Jawab Yoona sambil tersenyum. Setelah bertahun-tahun dia tidak berani mengingat kejadian pahit itu, akhirnya kini dia berhasil.

“Semuanya menjadi terang.”

Donghae paham sekali dengan maksud gadis itu, tanpa perlu dia menceritakan detailnya. Kejadian dua tahun lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa sahabat terbaiknya.

Untuk pertama kalinya dia melihat Im Yoona adalah ketika gadis itu menangis histeris sambil memeluk Lee Hyukjae yang bersimbah darah. Membuatnya ikut merasakan kesakitan itu. Hari selanjutnya pun dia hanya mendapati Im Yoona dalam keadaan melamun dengan pandangan kosong. Sampai setahun yang lalu mereka—Yoona dan Donghae—lulus pun gadis itu masih sama.

“Kau harus tetap seperti ini Yoona.”

*

Saat kita bersama

Jalan yang aku tempuh telah sejauh ini

Aku berjanji padamu bahwa sekarang kita hidup dalam waktu yang sama

Semua ini darimu

Ini adalah alasan mengapa jalanan di depanku begitu indah

Matahari mulai merangkak ke peraduannya. Sebentar lagi, bulan yang selalu menerangi malam akan mulai muncul. Menggantikan matahari yang lelah menemani selama kurang lebih dua belas jam di bumi.

Duduk dua orang itu di atas hamparan pasir putih sambil menikmati keindahan pesona alam yang ditampilkan. Gradasi warna yang begitu sempurna membuat mereka terpukau.

Yoona nampak menyandarkan kepalanya dipundak Donghae secara tiba-tiba. Membuat Donghae hanya bisa tersenyum tipis. Tangannya terangkat, menyikap poni gadis itu yang sedikit berantakan karena tertiup angin pantai.

“Aku mencintaimu Lee Donghae.”

Suara angin yang begitu damai dipecahkan oleh sebuah suara merdu Yoona. Perkataan manis yang keluar dari mulutnya mampu membuat jantung pemuda disampingnya behenti berdetak. Tidak menyangka jika dia akan mendapatkan kenyataan itu di tempat ini. Tempat favoritnya. Pantai.

Sudah cukup bagi Yoona untuk merenungkan semuanya. Keragu-raguan akan perasaannya sendiri sudah hilang tergantikan sebuah keyakinan yang terus menghampirinya. Keyakinan akan kebahagiaan yang menantinya.

“Kita akan selalu bersama. Hidup dengan perasaan yang sama pula.”

Donghae masih diam. Belum berniat untuk membalas ucapan gadis disampingnya. menunggu sampai gadis itu menyelesaikan kalimatnya sampai tuntas.

Tangannya masih mengusap rambut Yoona pelan. Memberikan sebuah kenyamanan tersendiri untuk gadis itu. Dengan sebuah senyuman yang masih senantiasa tersungging dari sudut bibir keduanya.

“Seseorang pernah bilang padaku, jika seseorang yang kau sayangi itu pergi percayalah jika Tuhan akan mengirimkan seseorang yang menyanyangimu. Rasa sayang yang kau terima akan lebih banyak daripada rasa sayang yang kau berikan.”

Perkataan itu berasal dari nenek Yoona. Sebuah perkataan yang selalu diingatnya. Jika kelak akan ada orang yang menyayanginya. Seseorang yang dipilih Tuhan untuk hadir menemaninya. Memberikan sebuah kebahagiaan untuknya.

“Kau sudah mendapatkannya.”

Yoona hanya tersenyum mendengar tanggapan pemuda disampingnya. Kini dia telah menemukan alasan dari segala hal yang menimpanya. Kesalahan terbesarnya adalah tidak menyadari kehadiran Donghae sejak awal. Sehingga dia harus terus larut dalam kesedihannya dan menganggap orang-orang yang menyayanginya pergi begitu saja. Menganggap jika di dunia ini tidak ada orang yang menyayanginya.

Yoona bangkit dari posisinya dan mulai bangkit berdiri. Tanpa beralas kaki dia mulai berjalan ke depan. Kakinya bersentuhan langsung dengan pasir sehingga kini dia dapat merasakan betapa lembutnya pasir putih yang dilewatinya.

Kedua tangannya terentang sempurna seolah menikmati angin pantai yang menyejukkan. Rambut hitam panjangnya nampak berkibar-kibar tertiup angin. Matanya terpejam rapat dengan senyum manis menghiasi sudut bibirnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Teriakan itu membuatnya menolehkan kepala ke belakang. Dimana disana duduk pemuda itu yang terlihat begitu berkilau karena pantulan cahaya matahari. Pemuda itu memang benar-benar bercahaya.

“Cepatlah kesini Hae!”

Balasnya tak kalah berteriak. Suaranya ikut terbang bersama angin sehingga dia harus berteriak agar pemuda itu mendengarnya.

Dengan segera pemuda itu pun mulai bangkit berdiri. Berjalan ke arah dimana gadis yang begitu disayanginya itu berada. Berjalan hingga kini dia telah berdiri tepat disampingnya. Tapi tampaknya Yoona tak menyadarinya. Gadis itu masih terlarut menikmati semilir angin yang menenangkan.

Donghae menatap gadis itu yang dalam keadaan apapun terlihat begitu menawan. Tidak peduli bagaimana kondisinya, gadis itu selalu terlihat cantik. Entah saat sedang menangis, tertawa atau bahkan bangun tidur sekalipun.

“Alasan kenapa semuanya begitu terang seolah segalanya begitu bercahaya. Aku mengetahuinya.”

Masih dengan mata terpejam Yoona mengucapkannya. Hatinya mengatakan jika kini tengah berdiri pemuda itu, tepat disampingnya. perlahan dia pun mulai membuka matanya. Menoleh ke samping dan pemandangan pertama yang didapatkannya adalah pemuda itu. Lee Donghae.

“Terima kasih karena kau telah menjadi cahaya itu Oppa.”

Keduanya saling bertatapan. Keduanya tersenyum. Mata mereka pun ikut tersenyum.

“Terima kasih karena kau telah melawan kegelapan itu Yoona.”

Dipenghujung senja itu terlihat awan yang begitu indah. Dimana di angkasa terdapat burung-burung yang saling berterbangan menuju sangkarnya. Daun-daun kelapa nampak berkibar-kibar memberikan kesejukan.

Tangan Donghae terulur ke depan, menyikap poni yang menutupi dahi indah gadis itu. Beberapa detik berikutnya Donghae telah mendaratkan sebuah kecupan di dahi gadis itu. Bersamaan dengan kejadian itulah matahari masuk ke peraduannya. Menyisakan langit yang mulai gelap.

**


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * mimimi says:

    Keren bgt unn ffnya, sukaaa xD

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  2. * ddyllah_YH says:

    omo… ffnya bagus banget
    pilihan katanya hebat deh.. hehe
    good job author (y)
    lanjutkan buat ffnya, fighting!!!

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  3. * Narsha_vanya says:

    Huahh Eonni.. FF eonni jeongmal daebak!!
    asikk romance… eonni bikin lagi yahhb yg one shoot, jdi g nungguin kalo chapter.. hehe #reader nego
    ya udh eonni KEEP WRITING aku tunggu FF kreasi Eonni yahh ><

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  4. * yenny_yoonhaelovers says:

    so sweet bgt FF’n chingu..
    donghae oppa begitu tulus slama 2 thn nemenin yoona T__T

    YoonHae….. pasti sllu indah! seperti kembang api ^^

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  5. * Indahnyaaja says:

    Keren chingu,,,,
    so sweet bgt,,,bruntung.a drimu yoona unnie mndptkn org sprt haeppa,,,,,,;)

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  6. * rianhae says:

    Omooo…. bahasanya keren banget..
    So sweet,, daebak thor!!!
    ditunggu ff selanjutnya, FIGHTING!!!

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  7. * aniya1004 says:

    Aku suka ceritanya.. Bagus! Cinta yg tulus.. :’)

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  8. * mochichi says:

    wahhh, awalnya bingung ama ceritanya, tapi lama2 dah nangkep maksudnya
    hehehe…
    ceritanya bagus.
    padahal awalnya kukira Nyuk mati krn sakit, ternyata kecelakaan toh.
    nice ff

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  9. * gieyoonaddict says:

    puitis banget kata”a T.O.P
    kerenn awal ceritanya sedih benget sampe” nangis aku bacanya …
    tapi critanya happy ending ….
    author bikin fanfic YoonHae lagi yyadi tunggu ff YoonHae selanjutnya ..

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  10. * Nadya says:

    So sweet thor FFnya

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  11. * i am elf says:

    keren chingu,, bhsnya dalam bgt,, hehe

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  12. * SweetYoonHae says:

    bahasanya keren banget unn….
    FF-nya daebakk deh!!!!

    YoonHae urineun no. 1

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  13. * nana says:

    ffnya baaguuuus ^^ aku suka, romantis banget ^^

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  14. * @BellaBilu says:

    ff apa ini ?
    astagaaa , speechless bacanya ..
    jeany , ditunggu ff yang lain

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  15. * aiko says:

    so sweet,suka bgt..

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  16. Keren chingu……. Daebak ^^

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  17. * diana says:

    Wooaaaaahh keren keren keren !!
    Keren banget ffnya, kata² yg dipakenya itu lhoo sukkaaa banget..🙂
    Keep writing Ƴª chingu, semangat!! ( •ِ̀•́ )ง

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  18. * I'mBieberSwift13 says:

    hwaaa… romantis banget😀 i like it! banyakin FF yoonhae ya🙂

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  19. * devi SONELF says:

    FFnya bagus banget

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  20. * Haenha~Elfishy says:

    Daebak.. I like it..❤ yoonhae is real

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  21. * YOONHAE says:

    Kata-katanya gak nahan alis keren abiss >< omgg ntar bikin yang kata-katanya paling paling paling romantis! Jjang thor😀

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  22. * febrynovi says:

    AUTHOR AKU CINTA BANGET SAMA FF BUATANMU KYAAA #capskeinjek
    Aku suka banget sama gaya bahasanya author, ditambah kata-katanya yang puitis banget <333
    GOOD JOB AUTHOR 

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: