YoonHae Fanfics Library



[One-shot] Di Dirimu, Kutemukan Cinta

Author  : Lyka_BYVFEGS 

Main Cast : Lee Donghae x Im Yoona

Genre : One-shot, Romance

Title : Di Dirimu, Kutemukan Cintaku

Notes :

Aku kembali lagi…

Tapi sebelum aku bercuap-cuap, ijinkan aku untuk tertawa terlebih dahulu. Kenapa? Karena lagi-lagi judul FF ini membuatku tertawa. Aku sendiri juga bingung. Padahal yang ngasih judul itu kan aku sendiri, tapi aku juga yang ketawa. Ya sudahlah, ga usah dipikirkan.

Kali ini aku datang dengan FF oneshot yang gaje, jauh dari pemikiranku saat pertama kali menulis FF ini. Huft!

 

Mianhe kalau ceritanya kurang memuaskan, terlalu panjang dan membosankan.

Mianhe juga kalau typo, gaje dan kata-katanya berantakan.

 

Ya sudah,langsung saja baca FF gajeku yang satu ini….

Oh iya, sedikit pemberitahuan, kalau di blogq FF ini pakai cast Seokyu, tapi karena aku post disini juga jadinya aku ganti YoonHae. Sekian pemberitahuan dariku, terimakasih.

 

HAPPY  READING!!!

 

Di Dirimu, Kutemukan Cinta

Sakit. Itulah yang aku rasakan. Mendengar seseorang yang telah aku cintai selama 5 tahun memutuskan untuk menikah dengan gadis lain. Padahal baru satu bulan yang lalu kami bertemu dan dia memintaku untuk kembali padanya. Tapi secara tiba-tiba, di suatu pagi yang cerah ini dia memberitahukan kabar itu. Menghancurkan semangat kerjaku hari ini.

 

Semula aku tidak percaya. Aku pikir dia bercanda, karena itulah kebiasaannya. Tapi dia mengatakan kalau dia serius. Dan saat aku tanya kepada adiknya ternyata kabar itu benar. Seketika ku rasakan dua buah tembok besar menghimpit dadaku hingga membuatku sulit bernafas. Seiring dengan rasa sakit yang aku rasakan, keluarlah air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir melewati kedua pipiku.

 

Rasa sakit ini. Aku benar-benar tidak bisa menggambarkan bagaimana sakitnya. Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya seseorang yang aku harapkan menjadi suamiku akan menjadi milik orang lain. Hah! Mungkin inilah jawaban Tuhan dari rasa penasaranku. Aku suka sekali membaca FF, apapun itu. Dan setiap aku membaca cerita yang berakhir dimana dua tokoh utama harus terpisah karena salah satunya menikah dengan orang lain aku selalu penasaran dengan apa yang dirasakan oleh orang yang dtinggalkan itu. Tapi sungguh aku tidak pernah mengira jika Tuhan benar-benar mendengar permintaanku atau lebih tepatnya menjawab rasa penasaranku.

 

Dan sekarang aku tahu bagaimana rasanya. Rasa sakit yang tidak akan bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan untuk tersenyum saja aku merasa sulit melakukannya. Janji yang kami buat 5 tahun yang lalu dia ingkari begitu saja. Padahal dialah yang berjanji akan menjadikanku satu-satunya baginya. Berjanji akan menikahiku ketika kami dewasa nanti. Tapi pada kenyataannya dialah yang melanggar janji itu sendiri. Dengan seenaknya dia memutuskan untuk menikah dengan gadis lain setelah aku menolaknya.

 

Ya. Aku akui aku menolaknya saat dia memintaku kembali. Tidak. Aku bukan tidak mencintainya hanya saja aku sadar bahwa kami tidak akan mungkin bersama. Sekuat apapun dan sekeras apapun aku mencoba, kenyataan itu tidak bisa diubah. Aku tahu dan aku sangat sadar meskipun aku menghancurkan pernikahan mereka sekalipun, tidak akan membuatnya kembali kepadaku. Tidak. Jika saja kenyataan ini tidak pernah ada dan kami bisa bersama, mungkin saat ini kami telah hidup bahagia bersama. Meskipun belum sampai ke jenjang pernikahan tapi setidaknya kami bisa menghabiskan waktu berdua hingga tiba saatnya kami untuk menikah nanti.

 

Tapi takdir berkata lain. Takdir mengatakan bahwa dia bukanlah jodohku. Mungkin memang benar jika dia bukanlah jodohku. Sejak perpisahan kami 3 tahun yang lalu aku selalu berdoa semoga aku mendapat jodoh yang terbaik. Seseorang yang benar-benar bisa melengkapi segala kekuranganku dan seseorang yang bisa menerimaku apa adanya. Dan mungkin saja bagi Tuhan dia bukanlah orang yang tepat untukku.

 

Aku berusaha menerima semua ini, menerima kenyataan pahit bahwa aku tidak akan bisa memilikinya lagi. My first love, my first boyfriend, and my first kiss. Tidak akan mungkin aku bisa melupakannya begitu saja. Karena selama 5 tahun ini hanya dialah yang aku lihat. Hatiku seakan tertutup untuk laki-laki lain dan hanya terisi olehnya. Meskipun setelah berpisah darinya aku menjalin hubungan dengan yang lain tapi tetap saja perasaan ini tetap sepenuhnya untuk dirinya.

 

Mengingat itu semua membuat air mataku semakin mengalir dengan deras. Aku tidak bisa menghentikannya begitu saja. Air mata ini mengalir dengan sendirinya. Mungkin hanya air matalah yang bisa aku gunakan untuk mengungkapan kesedihan yang aku rasakan saat ini.

 

“Yoona-ah, apakah kau belum selesai bersiap-siap? Ini sudah terlalu siang. Eomma tidak ingin kau terlambat bekerja.” kata eomma dari depan pintu kamarku. Segera saja ku hapus air mata dan sedikit mengoleskan bedak disekitar wajahku agar tidak terlihat jika aku baru saja menangis.

 

“Ne, eomma.” kataku setelah membukakan pintu untuk eomma.

 

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya eomma penasaran.

 

“Tidak, eomma.” jawabku sambil tersenyum, yang kuyakini pasti terlihat hambar sekarang ini.

 

“Benarkah? Tapi raut wajahmu mengatakan bahwa kau tidak baik-baik saja.” kata eomma mengintimidasi.

 

Aigo! Aku lupa jika naluri seorang ibu sangatlah kuat. Huh! Mungkin memang sebaiknya aku ceritakan saja pada eomma. Lagipula selama ini eomma lah yang aku jadikan tempat berkeluh kesah selain Seohyun tentu saja.

 

“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepada eomma.” kataku akhirnya.

 

“Apa itu, sayang?” tanya eomma membelai puncak kepalaku.

 

“Kibum oppa akan menikah.” kataku lirih.

 

“MWO?! Benarkah? Eomma pikir Kibum akan menikah denganmu.” kata eomma terkejut.

 

“Aish! Jangan berbicara seperti itu, eomma. Kami tidak mungkin menikah. Eomma tahu itu kan?” kataku cemberut.

 

“Ne, eomma tahu. Kalau begitu, bersemangatlah! Ingat! Masih banyak laki-laki diluar sana yang lebih baik dibanding Kibum. Ara?” nasihat eomma yang hanya aku balas dengan anggukan kepala.

 

Aku tahu pasti eomma khawatir kepadaku. Tentu saja. Eomma tahu betul bagaimana hubunganku dengan Kibum oppa. Dan eomma juga tahu betul seperti apa perasaanku terhadap Kibum oppa dan juga betapa besar keinginanku untuk selalu bersama Kibum oppa. Dan tentu saja eomma setuju jika seandainya kami berdua menikah. Tapi sepertinya keinginan eomma itu tidak akan terwujud.

 

Tiba-tiba aku teringat dengan pekerjaanku. Ku lihat jam yang melingkar manis di tanganku. Pukul 7.30. OMO! 30 menit lagi aku harus sudah ada di kantor. Sebaiknya aku segera berangkat, aku tidak mau kalau sampai terlambat masuk kerja. Segera saja ku langkahkan kakiku memasuki kamarku untuk mengambil tas kerjaku. Setelah itu aku sedikit berlari menuruni anak tangga untuk menuju ke arah dapur tempat eomma dan appa berkumpul.

 

“Eomma, appa, aku berangkat.” pamitku pada eomma dan appa sambil mencium pipi mereka.

 

“Benar kau tidak apa-apa, Yoona-ah?” tanya eomma dengan raut wajah khawatir.

 

“Tenang saja, eomma. Aku tidak apa-apa.” jawabku -berusaha tersenyum manis.

 

“Memangnya apa yang terjadi dengan Yoona?” tanya appa bingung.

 

“Kibum akan menikah, eomma takut jika Yoona melakukan hal-hal yang aneh.” jawab eomma.

 

“Ya! Eomma! Aku tidak akan mencelakai diriku sendiri hanya karena seorang laki-laki.” kataku tidak terima.

 

“Kapan dia menikah?” tanya appa.

 

“Bulan 6 tahun  ini.” jawabku lirih.

 

“Ya, sudahlah! Kau harus tetap semangat. Kalau kau tidak laku juga, nanti akan appa carikan jodoh untukmu.” kata appa yang membuatku cemberut. Aish! Apa dikiranya aku ini jelek sampai tidak laku segala? Appa benar-benar…

 

“Ne, appa.” jawabku akhirnya.

 

“Ya sudah. Cepat berangkat. Hati-hati dijalan.” kata eomma.

 

“Ne, eomma.” jawabku melangkahkan kaki keluar dari dapur yang bersebelahan dengan ruang makan. Baru beberapa langkah terdengar panggilan dari eomma. “Yoona-ah!”

 

“Ne, eomma.” kataku sambil berbalik menghadap eomma.

 

“Semangat!” kata eomma sambil mengepalkan kedua tangannya di udara dan tersenyum manis ke arahku. Aku tersenyum sekaligus terharu dengan perhatian yang eomma berikan. Setidaknya masih ada orang yang sampai kapanpun akan terus menyayangi dan tidak akan pernah meninggalkanku, yaitu appa dan eomma.

 

Dengan langkah ringan aku berangkat menuju tempatku bekerja. Entahlah. Tiba-tiba rasa sakit yang aku rasakan tadi lenyap tak bersisa. Mungkin itulah yang dinamakan kasih sayang seorang ibu yang tidak ada tandingannya. Hanya dengan satu kata dan sebuah senyuman sanggup menghilangkan rasa sakit yang aku pikir akan sulit untuk aku lupakan.

 

**********

 

Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit dengan menggunakan bus, akhirnya aku sampai di tempat kerjaku. Ku lihat beberapa teman kerjaku tengah berkumpul. Sepertinya mereka membahas sesuatu. Aku ingin bergabung, mencari tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan di pagi hari seperti ini. Tapi ku urungkan niat itu ketika ku lihat seorang yeoja yang sangat aku kenal duduk di pojok ruangan seorang diri. Menggeluti pekerjaan yang tentunya sama dengan pekerjaanku. Yaitu editor salah satu majalah ternama di Seoul. Segera saja ku hampiri yeoja itu yang sudah sangat sibuk padahal hari masih pagi.

 

“Seohyun-ah!” sapaku pada yeoja yang ada dihadapanku.

 

“Oh! Kau, Eonni.” kata Seohyun singkat, mendongak menatapku setelah itu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Membuatku yang merasa diabaikan merengut kesal.

 

“Seohyun-ah!” panggilku.

 

“Waeyo?” tanya Seohyun yang sepertinya mengetahui kalau aku sedang kesal karena dia acuhkan. Tentu saja Seohyun tahu tanpa aku mengatakannya. Seohyun sudah mengenalku luar dalam. Pertemanan kami yang hampir 7 tahun membuat kami saling mengenal satu sama lain dengan baik.

 

“Seohyun-ah, mereka sedang membicarakan apa?” tunjukku pada sekumpulan yeoja yang aku yakini tengah membicarakan gosip panas hari ini. Karena tidak akan mungkin mereka berkumpul sepagi ini jika tidak ada berita menghebohkan.

 

“Entahlah. Tapi sepertinya mereka membicarakan kedatangan putra direktur, eonni.” jawab Seohyun.

 

“Benarkah? Jadi Lee Sajangnim akan segera pensiun?” tanyaku bingung.

 

“Sepertinya tidak. Dari yang aku dengar dia akan ditugaskan bersama dengan kita. Menggantikan posisi Kyuhyun oppa yang telah diangkat jadi manager.”

 

“Jadi dia akan menjadi atasan kita disini?” tanyaku terkejut.

 

“Ne.” jawab Seohyun singkat.

 

“Lalu kenapa mereka heboh membicarakannya seperti itu?” tanyaku heran.

 

“Mungkin karena dia tampan, baik, sopan dan kaya tentunya..” jawab Seohyun sambil berpikir, sepertinya dia berusaha mengingat informasi apa yang didapatnya tentang namja itu.

 

“Benarkah itu, Seohyun-ah?”

 

“Aku tidak tahu. Aku hanya mendengarnya dari pembicaraan orang-orang kemarin saat aku menunggu Kyuhyun oppa untuk pulang bersama.”

 

“Oh! Arasseo.” jawabku singkat.
“Eonni?”

 

“Ne?”

 

“Kenapa mata eonni merah dan sembab seperti itu?” tanya Seohyun sambil mengerutkan kedua alisnya.

 

“Tidak apa-apa, Seo. Eonni hanya kurang tidur saja.” jawabku berdusta.

 

“Bohong! Eonni pasti habis menangis, iya kan?” tanya Seohyun menyelidik.

 

“Tidak.” jawabku mengelak.

 

“Eonni, jangan berbohong! Aku tahu kapan saat eonni berbohong dan kapan saat eonni berkata jujur. Jadi katakan, eonni kenapa?” desak Seohyun.

 

“Kibum oppa…”

 

“Ada apa dengan Kibum oppa? Dia meminta eonni menikah dengannya?” tanya Seohyun antusias.

 

“Tidak, Seohyun-ah. Kibum oppa memang akan menikah, tapi bukan denganku.” jawabku lesu. Tak terasa air mata menggenang di pelupuk mataku.

 

“MWO?! Benarkah?” teriak Seohyun tidak percaya.

 

“Ne. Kibum oppa sendiri yang mengatakannya kepada eonni.” jawabku sambil tertunduk.

 

“Aish! Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Kibum oppa? Kenapa dia tega meninggalkan eonni seperti ini?” kata Seohyun geram.

 

“Sudahlah, Seohyun-ah! Ini bukan sepenuhnya salah Kibum oppa. Meskipun dia tidak menikah, kami juga tidak akan bisa bersama. Kau tahu itu kan?”

 

“Tapi aku tahu betul seperti apa eonni berharap untuk bisa menikah dengan Kibum oppa.”

 

“Tidak apa-apa, Seohyun-ah. Mungkin inilah yang terbaik untuk eonni. Eonni yakin Tuhan telah memilihkan jodoh yang terbaik untuk eonni. Eonni akan baik-baik saja selama ada appa, eomma, eonni dan juga Kyuhyun oppa yang menyayangi eonni. Eonni tetap bisa tersenyum jika kalian selalu ada disamping eonni.” kataku sambil tersenyum. Kali ini bukan senyum hambar seperti yang aku tunjukkan kepada eomma tadi, tapi senyum yang tulus dari hatiku.

 

“Eonni…” gumam Seohyun sambil memelukku. “Eonni harus kuat, arasseo?”

 

“Ne, Seohyun-ah. Gomawo.” kataku membalas pelukan Seohyun.

 

Akhirnya aku menyadari, jika hidup ini tidak selamanya berjalan seperti apa yang kau harapkan. Ada kalanya kau akan jatuh terpuruk dan merasa tidak mampu hidup lagi. Tapi yakinlah bahwa Tuhan tidak akan memberi manusia cobaan diluar kemampuan manusia itu sendiri. Dan aku yakin Tuhan juga masih menyayangiku karena membiarkan orang-orang yang aku sayangi tetap berada disisiku.

 

Hanya keyakinan itulah yang bisa menguatkan hatiku. Aku bersyukur karena masih memiliki mereka disaat aku kehilangan Kibum oppa. Mulai saat ini aku berjanji akan menata hidupku kembali. Menatap masa depan cerah yang terbentang luas dihadapanku. Tentunya dengan beberapa cobaan yang akan aku lalui. Tapi aku tidak akan pernah menyerah selama ada orang-orang yang aku sayangi berdiri disampingku dan senantiasa mendukungku.

 

**********

 

“Annyeonghaseyo, Lee Donghae imnida. Senang berkenalan dengan kalian. Mohon kerjasamanya.” kata seorang laki-laki yang baru saja dikenalkan oleh Kyuhyun oppa sebagai ketua editor baru. Aku heran dia adalah putra direktur pemilik majalah ini. Tapi kenapa dia tidak menggantikan posisi Lee sajangnim? Kenapa justru bekerja sebagai editor? Ah! Entahlah. Itu semua bukan urusanku.

 

Tapi benar juga apa yang dikatakan Seohyun, namja ini tampan, sopan dan sepertinya dia juga orang yang baik dan supel. Buktinya setelah acara perkenalan singkat itu dia cepat berbaur dengan yang lainnya. Aku mengaguminya. Ingat! Hanya sebatas mengagumi karena dihatiku masih ada Kibum oppa. Tidak mungkin aku bisa menyukai seseorang yang baru aku kenal bahkan belum berbicara satu patah katapun denganku.

 

“Baiklah, silahkan kembali bekerja. Saya permisi.” kata Kyuhyun oppa yang merupakan mantan ketua editor kami sekaligus seseorang yang sudah aku anggap sebagai oppaku sendiri sambil berlalu pergi. Tapi sebelum itu bisa kulihat bahwa Kyuhyun oppa tersenyum ke arah Seohyun yang berdiri disampingku.

 

“Ehem….”

 

“Waeyo, eonni?” tanya Seohyun terkejut mendengar suaraku yang membuyarkan konsentrasinya melihat kepergian Kyuhyun oppa.

 

“Kalau rindu kenapa tidak saling menyapa atau berkencan mungkin.” kataku tersenyum jahil.

 

“Aish! Eonni! Sebaiknya eonni segera selesaikan pekerjaan eonni itu.” kata Seohyun berusaha menghindar.

 

“Ah! Kau malu ya?” tanyaku terus menggoda.

 

“Eonni!” teriak Seohyun kesal. Aku yang melihatnya hanya terkekeh geli. Aku senang sekali jika berhasil menggoda Seohyun hingga kesal seperti sekarang ini. Membuatku tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi kesalnya itu yang menurutku sangat lucu.

 

“Permisi, apakah kau yang bernama Seohyun?” tanya sebuah suara yang sukses menghentikan tawaku.

 

Aku alihkan pandanganku ke sumber suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah Lee Donghae. Dia tepat berdiri di hadapan Seohyun. Tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas karena meja kerjaku tepat disebelah Seohyun.

 

“Ne, waeyo?” tanya Seohyun bingung.

 

“Perkenalkan, aku Lee Donghae.” kata namja itu sambil mengulurkan tangannya.

 

“Aku sudah tahu itu. Kau sudah menyebutnya tadi.” kata Seohyun terkekeh, aku yang melihatnya pun ikut tersenyum geli membuat namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

 

“Seo Joo Hyun imnida. Kau bisa memanggilku Seohyun. Tapi darimana kau tahu namaku?” tanya Seohyun yang menerima uluran tangan Donghae.

 

“Kyuhyun.” jawab namja itu sambil tersenyum manis.

 

“Kyuhyun oppa? Kau mengenalnya?” tanya Seohyun bingung.

 

“Tentu saja. Dia adalah sepupuku.”

 

“Benarkah? Aku benar-benar tidak tahu. Kalau begitu senang berkenalan denganmu, Donghae-ssi. Semoga kita bisa menjadi teman baik.” kata Seohyun sopan.

 

“Ne. Aku harap juga begitu. Dan aku harap Kyuhyun tidak marah kepadaku karena mengajak kekasihnya berkenalan. Oh iya, kau bisa memanggilku oppa.” kata namja itu.

 

“Ne, Donghae oppa. Tapi darimana oppa tahu aku adalah kekasih Kyuhyun oppa?”

 

“Kau harus tahu satu hal, bahwa setiap detik, setiap menit, setiap jam bahkan setiap hari hanya kaulah yang diceritakan olehnya saat menghubungiku sewaktu aku masih tinggal di London.” kata namja itu yang membuatku dan Seohyun terkejut.

 

“Benarkah?” tanya Seohyun tidak percaya.

 

“Ne.” jawab Donghae sambil menganggukan kepalanya.

 

“Wah! Seohyun-ah, kau benar-benar beruntung bisa memiliki Kyuhyun oppa.” celutukku.

 

“Ne. kau benar, Yoona-ssi. Gadis yang dicintai Kyuhyun pastilah beruntung.” jawab Donghae. Eh? Tapi tunggu dulu! Kalau tidak salah tadi dia menyebut namaku? Apa itu benar? Seingatku kami belum berkenalan tadi, darimana dia tahu namaku. Lagipula hari ini aku lupa membawa ID Card yang biasanya ku gantungkan dileher, jadi dari mana dia mengetahuinya. Ah! Lebih baik aku tanyakan saja.

 

“Donghae-ssi, apa kau menyebut namaku tadi?” tanyaku ragu-ragu. Ya, bagaimana tidak? Mana ada orang yang menanyakan pertanyaan seperti itu kepada orang yang baru dikenalnya. Baru aku yang dengan bodohnya melakukan hal itu.

 

“Ne, waeyo?” tanyanya bingung.

 

“Tapi darimana kau tahu namaku?”

 

“Kyuhyun. Kalau begitu aku permisi dulu, ada sedikit urusan. Annyeong.” jawabnya santai.

 

“Ne, annyeong.” jawab Seohyun. Sedangkan aku masih belum sadar dari keterkejutanku mendengar jawabannya. Sebenarnya apa saja yang diceritakan Kyuhyun oppa tentang kami kepada Donghae-ssi?

 

“Seohyun-ah, apakah kau akan makan siang dengan Kyuhyun oppa?” tanyaku setelah berhasil tersadar dari keterkejutanku.

 

“Ne, waeyo?”

 

“Bolehkah eonni ikut?”

 

“Tentu.” jawab Seohyun sambil tersenyum manis. Setelah itu kami melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.

 

**********

 

“Kyuhyun oppa, bagaimana Donghae-ssi bisa tahu nama kami?” tanyaku saat makan siang di cafe dekat kantor bersama dengan Seohyun dan Kyuhyun oppa.

 

“Oppa yang memberitahunya.” jawab Kyuhyun oppa.

 

“Kenapa oppa memberitahunya?” tanyaku bingung.

 

“Waktu itu dia melihat foto kita bertiga lantas dia bertanya siapa kalian. Yah, oppa jawab saja apa adanya.” jawab Kyuhyun oppa.

 

“Pantas saja dia langsung tahu nama kami saat pertama kali bertemu.” kata Seohyun.

 

“Sepertinya Donghae hyung menyukaimu.” kata Kyuhyun oppa sambil menatapku.

 

“Mwo? Itu tidak mungkin oppa. Kami kan baru saja bertemu.” kataku mengelak.

 

“Mungkin saja, perasaan seseorang siapa yang tahu.” jawab Kyuhyun oppa.

 

“Aish! Terserah apa kata oppa.” kataku sambil menikmati makan siangku.

 

Setelah itu hanya keheningan yang terjadi di antara kami. Masing-masing dari kami sibuk menikmati makan siang yang tersaji di hadapan kami.

 

“Yoona-ah.” panggilan Kyuhyun oppa memecah keheningan di antara kami.

 

“Ne, oppa?”

 

“Apakah terjadi sesuatu? Oppa lihat hari ini kau lain dari biasanya. Sedikit pendiam.” kata Kyuhyun oppa curiga.

 

“Mungkin karena eonni sedang sakit hati.” jawab Seohyun.

 

“Mwo? Apa maksudmu, Seohyun-ah?” tanya Kyuhyun oppa bingung.

 

“Kibum oppa akan menikah dengan gadis lain.” jawab Seohyun yang membuatku merasakan sakit -lagi meskipun tidak sesakit tadi pagi. Tapi tetap saja rasa sakit itu ada. Karena orang itu adalah seseorang yang kau cintai selama 5 tahun.

 

“Benarkah?” tanya Kyuhyun oppa terkejut.

 

“Ne.” jawab Seohyun.

 

“Baguslah! Aku juga tidak begitu setuju jika kau menikah dengan Kibum hyung.”

 

“Memang kenapa, oppa?” tanyaku bingung.

 

“Entahlah! Hanya kurang setuju saja.” jawab Kyuhyun oppa yang membuatku semakin bingung.

 

“Bolehkah aku ikut bergabung? Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang menarik.” kata sebuah suara mengalihkan perhatian kami.

 

“Oh! Kau hyung. Duduklah.” suruh Kyuhyun oppa.

 

“Gomawo.” kata Donghae tersenyum. “Annyeong.” sapa Donghae sambil membungkuk ke arahku dan Seohyun bergantian yang hanya kami jawab dengan senyuman.

 

“Apakah aku mengganggu kalian?” tanya Donghae setelah mengambil posisi duduk disebelahku.

 

“Tentu saja tidak.” jawab Seohyun tersenyum manis.

 

“Kau pesan apa, hyung?” tanya Kyuhyun oppa.

 

“Tidak perlu, Kyuhyun-ah. Aku tidak lapar.” tolak Donghae halus.

 

“Kalau begitu kami pergi dulu, ada urusan sebentar. Donghae oppa, tolong kau temani Yoona eonni.” kata Seohyun sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku bengong seketika. Apa coba maksudnya? Apa jangan-jangan mereka berdua berniat mendekatkanku dengan Donghae. Aish! Bagaimana ini? Aku akui aku memang mengaguminya tapi jika untuk berduaan seperti ini aku malu sekali.

 

“Tapi…”

 

“Kami pergi. Jaga Yoona baik-baik, hyung.” kata Kyuhyun oppa memotong ucapanku.

 

“Aish!” gerutuku kesal. Bagaimana mungkin mereka meninggalkanku sendirian dengan seseorang yang baru aku kenal. Ah! Awas saja kalian berdua!

 

“Yoona-ssi.” panggil Donghae.

 

“Ne?”

 

“Apa kau merasa terganggu dengan kehadiranku?” tanya Donghae penasaran.

 

“Ah! Tidak. Aku hanya merasa sedikit canggung. Mungkin. Kita baru berkenalan tadi pagi, Donghae-ssi.” jawabku sambil tersenyum. Baiklah. Akan aku coba untuk membiarkan diriku mengenalnya lebih jauh.

 

“Tidak perlu seformal itu kepadaku. Panggil oppa saja, seperti Seohyun. Aku merasa ada jarak diantara kita jika kau memanggilku dengan embel-embel ‘ssi’. Kau adalah sahabat Kyuhyun yang berarti sahabatku juga. Bagaimana? Kau tidak keberatan, kan?” tanyanya mengulurkan sebelah tangannya. Sedangkan aku hanya memandang tangannya dengan tatapan bingung.

 

“Ne?”

 

“Teman?” tanyanya dengan tersenyum manis. Seketika ku rasakan wajahku memerah melihat senyumnya. Aigo! Aku tidak menyangka jika dia mempunyai senyum semanis itu. Membuat wajah tampannya menjadi semakin tampan. OMO! Im Yoona! Apa yang kau pikirkan?

 

“Yoona-ah?” panggilnya yang terlalu lama melihatku terdiam

 

“Oh, ne. Tentu saja. Semoga kita bisa menjadi teman baik.” jawabku sambil tersenyum manis dan menyambut uluran tangannya.

 

**********

 

“Yoona-ah, buka mulutmu!” pinta Donghae oppa sambil menyodorkan sesendok cake yang dipesannya kepadaku.

 

“Aku tidak mau.” tolakku.

 

“Ayolah…” bujuk Donghae oppa.

 

“Baiklah.” kataku yang kemudian membuka mulutku.

 

“Bagaimana? Enak bukan?” tanya Donghae oppa setelah aku menelan cake yang disuapkannya kepadaku.

 

“Ne.” kataku semangat. “Kalau begitu kita tukar cake ya, oppa?” kataku memelas. Biasanya dia akan menurutiku jika aku sudah memasang wajah memelas seperti ini.

 

“Baiklah.” kata Donghae oppa sambil tersenyum dan menukar pesanan kami. Tuh kan! Benar tebakanku. “Makanlah!” tambah Donghae oppa.

 

“Gomawo.” kataku semangat.

 

Saat ini kami tengah menikmati makan siang kami. Sejak satu bulan yang lalu saat kami resmi menjadi teman hubungan kami semakin akrab. Bahkan rekan kerja yang lain mengira kami berpacaran. Dan tentu saja aku membantahnya dengan tegas. Sedangkan Donghae oppa hanya menanggapinya dengan senyuman. Aish! Dia ini seperti tidak punya beban saja. Tersenyum setiap saat. Tapi itulah yang aku suka darinya. Senyum yang mampu membuatku salah tingkah didepannya. Apakah mungkin aku sudah mulai menyukainya? Entahlah. Aku sendiri pun tidak tahu dengan apa yang aku rasakan.

 

“Yoona-ah.” panggil Donghae oppa.

 

“Hmm?”

 

“Apakah nanti malam kita bisa pergi bersama?” tanyanya.

 

“Kemana?” tanyaku penasaran.

 

“Jalan-jalan.” jawabnya singkat

 

“Hmm… baiklah.” kataku akhirnya.

 

“Nanti malam aku jemput pukul 7.”

 

**********

 

“Hari ini oppa akan mengajakmu jalan-jalan disekitar sungai Han. Sudah 5 tahun oppa tidak mengunjungi tempat itu. Kau mau kan menemani oppa?” tanya Donghae oppa dalam perjalanan.

 

“Ne. Terserah oppa saja.” jawabku tersenyum manis.

 

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya kami sampai di sungai Han. Donghae oppa langsung menarikku keluar dari mobil begitu kami sampai. Kami berjalan disekitar sungai Han, menikmati pemandangan malam yang indah dari tempat ini. Sepanjang perjalanan Donghae oppa sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari tanganku membuat wajahku memerah. Tapi aku akui aku merasakan kehangatan dan kenyamanan saat dia menggenggam tanganku. Dan satu lagi yang membuatku terkejut, yaitu jantungku. Jantungku berdetak lebih cepat ketika Donghae oppa menggenggam tanganku. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Tapi itu tidak mungkin. Tidak mungkin aku bisa jatuh cinta dengan orang yang baru aku kenal selama 1 bulan. Bisa saja jantungku berdetak cepat karena aku kedinginan. Aku pernah merasakan saat aku kedinginan jantungku berdetak lebih cepat. Mungkin saja itu terjadi lagi saat ini mengingat bulan ini adalah musim dingin. Tapi apakah benar karena aku kedinginan? Atau memang benar aku mempunyai perasaan lebih terhadap Donghae oppa?  Tidak mungkin secepat itu aku bisa jatuh cinta kepada seseorang. Tapi aku tidak bisa memungkiri perasaan ini. Perasaan nyaman dan hangat saat didekatnya.

 

“Kau kedinginan, Yoona-ah?” kata Donghae oppa membuyarkan lamunanku dan menghentikan langkahnya. Membuatku yang berjalan beriringan dengannya ikut berhenti.

 

“Tidak, oppa.” jawabku sambil menggelengkan kepala.

 

“Jangan berbohong! Lihatlah, bibirmu sudah membiru seperti itu.” kata Donghae oppa. Dan sebelum aku sempat protes, Donghae oppa memakaikan syal yang tadi dikenakannya kepadaku. Kami sudah sama-sama menggunakan jaket, jadi tidak mungkin Donghae oppa menyuruhku menggunakan jaketnya. Setelah memakaikan syal, Donghae oppa merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sepasang sarung tangan. Sebelah kiri digunakan olehnya dan sebelah kanan dia pakaikan ditangan kananku. Setelah itu dia kembali menggenggam tangan kiriku dan dimasukkannya ke dalam saku jaketnya. Jadi sekarang tangan kami berada dalam saku jaket Donghae oppa.

 

“Begini lebih baik. Apakah masih dingin?” tanya Donghae oppa sedikit menunduk untuk melihat wajahku yang tepat berada dihadapannya.

 

“Ah! Ti…tidak. Go… gomawo, oppa.” jawabku gugup. Aigo! Yoona bodoh. Kenapa kau jadi gugup seperti ini?

 

“Ne. kajja!” ajak Donghae oppa meneruskan perjalanan kami yang terhenti.

 

**********

 

Setelah berjalan selama 30 menit, kami memutuskan untuk duduk disebuah bangku di tepi sungai Han.

 

“Apakah kau ingin makan sesuatu?” tanya Donghae oppa.

 

“Tidak. Aku sedang tidak ingin makan apapun.” tolakku halus.

 

“Benarkah?”

 

“Ne.”

 

Kembali tidak ada pembicaraan di antara kami. Aku tidak tahu harus berbicara apa dengannya. Padahal biasanya kami membicarakan banyak hal. Tapi sekarang aku tidak tahu topik apa yang pantas dibahas disaat seperti ini. Mungkin ini semua karena pengaruh perasaanku. Perasaan yang aku sendiri tidak tahu apa namanya. Ah! Bukan tidak tahu tapi belum yakin dengan perasaan itu sendiri.

 

“Yoona-ah.” panggil Donghae oppa menoleh ke arahku.

 

“Hmm?” gumamku menatapnya. Mata itu. Entah sejak kapan aku menyukainya.

 

“Oppa sering mendengar Seohyun menyebut nama Kibum. Kalau oppa boleh tahu dia siapa? Kekasihmu?” tanya Donghae oppa yang membuatku terkejut. Seketika wajahku berubah menjadi muram. Entah kenapa. Memang benar aku telah merelakannya tapi setiap kali diingatkan tentangnya membuat sebuah tempat disudut hatiku merasakan sakit.

 

“Itu….” ucapanku terhenti. Aku bingung harus menceritakannya kepada Donghae oppa atau tidak.

 

“Jika kau tidak ingin menceritakannya, tidak perlu memaksakan dirimu.” kata Donghae oppa.

 

“Bukan begitu…”

 

“Sudahlah! Lupakan saja!” kata Donghae oppa memotong ucapanku.

 

Setelah itu hening -lagi. Sepertinya jika bukan karena Donghae oppa yang memulai pembicaraan kami akan terus berdiam diri seperti ini. Huft!

 

“Dia adalah mantan kekasihku.” kataku tiba-tiba.

 

“Mwo?” tanya Donghae oppa terkejut.

 

“Kibum oppa adalah mantan kekasihku. Kami kenal 5 tahun yang lalu. Dan selama 5 tahun itu pula aku mencintainya. Kami sempat menjalin hubungan tapi hanya selama 1,5 tahun. Setelah itu kami berteman baik meskipun kami sama-sama tahu bahwa masing-masing dari kami saling mencintai. Kami memutuskan untuk berteman karena keadaan yang tidak memungkinkan kami untuk bisa bersama. Satu bulan yang lalu dia memberiku kabar bahwa dia akan menikah dengan gadis pilihannya….” aku menghela nafas sejenak. “Aku benar-benar merasa sakit hati saat itu. Meskipun aku menyadari betul bagaimana status hubungan kami, tapi tetap saja aku merasakan sakit mendengar orang yang aku cintai selama 5 tahun akan menjadi milik orang lain untuk selamanya. Membuang kesempatan bagiku untuk memilikinya lagi. Tapi kemudian aku tersadar jika kami memang tidak berjodoh. Mungkin bagi Tuhan dia bukanlah jodoh yang tepat untukku. Dan aku yakin Tuhan telah memilihkan jodoh terbaik-Nya untukku.” tanpa aku sadari air mata menetes dari kedua mataku. Aku berharap ini adalah air mata terakhir yang aku keluarkan untuknya.

 

“Maaf, aku tidak sengaja membuatmu teringat kepadanya.” kata Donghae oppa menarikku ke dalam pelukannya.

 

“Tidak apa-apa.” jawabku terisak didalam pelukannya. Hangat.

 

“Menangislah sepuasmu! Setelah itu berjanjilah pada oppa untuk tidak menangisinya lagi. Ara?”

 

“Ne.” jawabku sambil menggangguk dalam pelukannya.

 

**********

 

“Kenapa eonni lesu seperti itu?” tanya Seohyun yang melihatku lesu begitu kembali dari tempat Han Sajangnim untuk menyerahkan tugas yang diberikan olehnya kepadaku.

 

“Eonni harus mengerjakan ulang tugas ini.” jawabku lesu.

 

“Waeyo? Eonni melakukan kesalahan?” tanya Seohyun bingung.

 

“Sepertinya begitu. Eonni harus merevisinya dari awal. Huft! Padahal eonni sampai tengah malam hanya untuk mengerjakan ini. Tapi tetap saja hasilnya kurang memuaskan. Menyebalkan!” umpatku.

 

“Sabar, eonni. Aku akan membantu eonni.” tawar Seohyun.

 

“Tidak perlu. Eonni tahu kau juga banyak pekerjaan, eonni tidak mau pekerjaanmu jadi terbengkalai karena eonni.” tolakku

 

“Tapi….”

 

“Tidak apa-apa, Seohyun-ah.”

 

“Benar itu, Seohyun-ah. Biar oppa saja yang membantunya, kau selesaikanlah pekerjaanmu.” kata sebuah suara dari arah belakangku. Ku lihat Seohyun tersenyum penuh arti ke arah sumber suara itu. Aku kenal dengan suara ini. Pasti….

 

“Donghae oppa?”

 

“Hai! Jadi bolehkan jika oppa membantumu?” giliran Donghae oppa yang menawarkan bantuannya kepadaku.

 

“Apakah tidak merepotkan oppa?”

 

“Tentu saja tidak.” jawab Donghae oppa sambil tersenyum manis.

 

“Baiklah. Gomawo, Donghae oppa.” kataku tersenyum manis.

 

**********

 

“Apa tidak sebaiknya oppa pulang saja? Ini sudah lebih dari pukul 9 malam. Aku tidak ingin oppa kurang istirahat hanya karena membantuku.” kataku kepada Donghae oppa yang sejak jam pulang tadi membantuku mengerjakan tugas. Aku tahu dia lelah, terlihat sekali dari wajahnya. Tapi ketika aku menyuruhnya pulang dia selalu menolak. Dan ini sudah kesekian kalinya aku menyuruhnya pulang.

 

“Tidak apa-apa. Oppa tadi sudah berjanji untuk membantumu jadi oppa akan bantu sampai selesai.” kata Donghae oppa yang sudah bisa ku tebak akan menolak lagi.

 

“Tapi…”

 

“Lebih baik kita segera menyelesaikannya agar bisa cepat pulang. Lagipula telinga oppa sudah gatal mendengar kau mengusir oppa terus sedari tadi.” kata Donghae oppa dengan nada menyindir.

 

“Aish! Ini kan bukan rumahku. Mana bisa dibilang mengusir?” gumamku sambil cemberut kemudian kembali berkutat dengan kertas-kertas menyebalkan ini. Donghae oppa yang melihatnya hanya terkekeh geli.

 

“Oppa ke toilet dulu.” kata Donghae oppa memecah keheningan.

 

“Ne.” jawabku singkat. Setelah itu dapat ku lihat Donghae oppa keluar dari ruangan. Sedangkan aku kembali melanjutkan pekerjaanku.

 

Sekitar 15 menit kemudian terdengar suara pintu dibuka. Ku dongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Donghae oppa yang membawa 2 buah gelas plastik ditangannya. Aku tidak tahu apa isinya.

 

Donghae oppa berjalan mendekatiku sambil tersenyum. Setelah sampai dihadapanku dia menyerahkan salah satu gelas yang dibawanya tadi kepadaku. Aku hanya mengernyitkan alis, bingung.

 

“Minummlah. Untuk menghangatkan tubuh.” kata Donghae oppa seakan mengerti kebingunganku.

 

“Gomawo.” ucapku yang kemudian menyesap segelas kopi hangat pemberian Donghae oppa.

 

“Ne.” jawab Donghae oppa sambil mengacak halus rambutku.

 

DEG!

 

OMO! OMO! Apa ini? Kenapa dengan jantungku? Kenapa tiba-tiba berhenti berdetak? Aigo! Apakah sekarang aku punya penyakit jantung atau ini karena perlakuan Donghae oppa? Ah! Pasti sekarang wajahku bersemu merah. Aish! Donghae oppa paling bisa membuatku salah tingkah.

 

Huft! Aku beruntung Donghae oppa tidak menyadari perubahan warna wajahku. Bisa-bisa dia menertawaiku dan menggodaku habis-habisan. Ku lihat Donghae oppa berjalan ke tempatnya semula dan kembali berkutat dengan pekerjaan yang tadi ditinggalkannya.

 

**********

 

“Ah! Akhirnya selesai juga.” kataku sambil merentangkan kedua tanganku.

 

“Ne, oppa lelah sekali.” kata Donghae oppa. Jelas saja sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan kami belum istirahat sama sekali sejak pagi tadi.

 

“Mianhe, oppa.” kataku bersalah.

 

“Aish! Jangan meminta maaf, oppa senang bisa membantumu. Dengan begini oppa bisa berduaan denganmu.” jawab Donghae oppa enteng.

 

“Mwo?” tanyaku bingung.

 

“Tidak. Lupakan! Kajja! Oppa antar kau pulang.” ajak Donghae oppa sambil menggenggam tanganku.

 

“Ne.” jawabku mengikuti langkah kaki Donghae oppa.

 

Sepanjang perjalanan dari ruangan kami sampai tempat parkir, Donghae oppa sama sekali tidak melepas genggaman tangannya. Membuat jantungku tidak berdetak dengan normal. OMO! Benarkah aku telah jatuh cinta kepada namja ini? Namja yang membuatku nyaman dan hangat.

 

**********

 

“Gomawo, sudah mengantarku pulang.” kataku saat kami telah sampai di depan pintu rumahku.

 

“Ne, cheonmaneyo.” balas Donghae oppa sambil tersenyum.

 

“Aku masuk dulu.” kataku meraih gagang pintu. Tapi Donghae oppa mencegahnya dan memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Belum hilang keterkejutanku, tiba-tiba Donghae oppa mencium keningku singkat.

 

“Selamat tidur.” ucap Donghae oppa setelah menciumku dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang.

 

Sedangkan aku masih tetap bertahan dengan keterkejutanku. Aku masih belum bisa mencerna apa yang Donghae oppa lakukan barusan. Hingga saat aku tersadar, mobil Donghae oppa telah berlalu dari hadapanku.

 

Omo! Bisa kurasakan pipiku memerah sekarang. Ah! Bukan hanya pipi tapi seluruh wajahku pasti sudah merah. Aigo! Donghae oppa! Kau membuatku terkena serangan jantung. Eomma! Tolong anakmu ini. Sembuhkanlah aku dari penyakit yang disebabkan oleh Donghae oppa. Tapi sedetik kemudian senyuman tersungging di wajahku. Aku merasa malu dan senang dalam waktu yang bersamaan. Ah! Aku rasa aku akan mimpi indah malam ini.

 

**********

 

“Yoona-ah! Cepatlah keluar. Donghae mencarimu.” kata eomma dari luar pintu kamarku.

 

“Ne, eomma.” kataku sambi membuka pintu.

 

“Temui dia. Eomma harus pergi dengan appa. Ada acara di rumah Kang ahjussi.” kata eomma sebelum berlalu dari hadapanku.

 

“Ne.” jawabku singkat. Setelah itu aku kembali masuk ke dalam untuk berganti pakaian. Karena tadi aku masih mengenakan piyamaku.

 

**********

 

“Donghae oppa.” sapaku saat sampai dihadapannya.

 

“Annyeong.” balas Donghae oppa ramah.

 

“Ada apa oppa kemari?” tanyaku bingung. Tidak seperti biasanya dia berkunjung ke rumah tanpa memberitahuku.

 

“Apakah harus ada alasan untuk oppa agar bisa datang kemari?” tanya Donghae oppa menyindir.

 

“Tidak, bukan begitu. Maksudku….”

 

“Hahaha… sudahlah. Lebih baik kau segera ganti baju. Oppa akan mengajakmu jalan-jalan.” kata Donghae oppa memotong ucapanku.

 

“Jalan-jalan?” tanyaku bingung.

 

“Ne. hari ini cerah sekali. Akan sia-sia jika kita tidak memanfaatkannya untuk menikmati keindahan kota Seoul.” jawab Donghae oppa.

 

“Baiklah. Tunggu sebentar.” kataku segera berlari menuju kamarku yang terletak di lantai atas.

 

**********

 

“Aku senang sekali oppa mengajakku kemari.” kataku semangat.

 

“Benarkah?” tanya Donghae oppa tidak percaya.

 

“Ne. Sudah lama aku tidak datang kesini. Dulu aku pasti kemari bersama dengan Seohyun dan Kyuhyun oppa. Tapi sejak mereka berdua menjalin hubungan aku jadi merasa tidak enak jika harus ikut mereka pergi.” jawabku panjang lebar.

 

“Arasseo. Mulai sekarang kau bisa pergi dengan oppa kemanapun kau mau. Oppa siap menjadi sopir pribadimu.”

 

“Benarkah?”

 

“Tentu saja.”

 

“Gomawo.” kataku terlalu senang hingga tidak menyadari bahwa aku memeluk Donghae oppa sekarang ini.

 

“Eh! Maaf, oppa. Aku tidak sengaja.” ujarku malu sambil menundukkan kepala.

 

“Tidak apa-apa. Kajja! Kita masuk.” ajak Donghae oppa.

 

“Ne.”

 

**********

 

 

“Kau ingin naik apa?” tanya Donghae oppa begitu kami sudah memasuki taman bermain ini.

 

“Terserah oppa saja.” jawabku.

 

“Baiklah. Kalau begitu kita naik itu saja.” kata oppa menunjuk salah satu permainan yang tidak jauh dari kami.

 

“Ne.” anggukku setuju.

 

Seharian ini kami bermain hingga puas. Donghae oppa benar-benar seperti anak kecil saat ini. Tapi aku senang sekali pergi dengannya hari ini dan menghabiskan waktu berdua di tempat ini. Donghae oppa sangat perhatian kepadaku. Dia memberiku boneka yang didapatnya dari memenangkan sebuah permainan. Dia juga menggenggam tanganku erat ketika aku ketakutan menaiki sebuah permainan. Ah! Aku senang sekali. Aku merasa kami ini seperti sepasang kekasih. YA! Yoona! Apa yang kau pikirkan? Hilangkan pikiran tidak berdasar itu dari kepalamu, Im Yoona.

 

“Yoona-ah. Apa kau lapar?” tanya Donghae oppa membuyarkan lamunanku.

 

“Ne.” jawabku malu-malu.

 

“Kita cari makan sekarang.” ajak Donghae oppa.

 

“Ne.”

 

Donghae oppa mengajakku ke sebuah cafe yang tidak jauh dari taman bermain ini. Kami mencari tempat yang berada di pojok ruangan. Kami lebih banyak terdiam ketika menunggu pesanan datang. Entah kenapa tiba-tiba suasana diantara kami menjadi sedikit canggung. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya pesanan kami tiba.

 

“Kau tidak makan, oppa?” tanyaku karena Donghae oppa tidak memesan makanan. Hanya secangkir cappucino late yang dipesannya tadi.

 

“Tidak. Kau saja yang makan.” tolak Donghae oppa.

 

“Oppa mau aku suapai?” tanyaku menawarkan.

 

“Ne?” tanya Donghae oppa bingung.

 

“Buka mulut oppa! Kita makan berdua.” kataku menyodorkan sepotong daging ke mulutnya. Donghae oppa tampak enggan menerimanya tapi sedetik kemudian dia membuka mulutnya juga. Dan begitulah acara makan siang kami.

 

**********

 

“Oppa! Apakah oppa tidak lelah?” tanyaku pada Donghae oppa yang saat ini tengah menikmati sunset dari tepi sungai Han. Entah kenapa Donghae oppa suka sekali mengajakku ke tempat ini.

 

“Tidak. Asalkan ada kau disamping oppa, oppa tidak akan pernah merasa lelah meskipun harus berkeliling kota Seoul hingga malam.” jawab Donghae oppa yang membuatku terkejut sekaligus malu.

 

“Oppa…”

 

“Yoona-ah?”

 

“Ne?”

 

“Bolehkah oppa bertanya sesuatu?” tanya Donghae oppa menatap mataku dalam. Membuatku salah tingkah dan lebih memilih untuk menghindari tatapan Donghae oppa.

 

“Apa?” tanyaku.

 

“Bisakah oppa menggantikan posisi Kibum dihatimu?” tanya Donghae oppa.

 

“Ne?” tanyaku terkejut dan langsung mendongakkan kepalaku. Menatap kedua matanya, mencari kebohongan tapi tidak kutemukan. Yang ada hanyalah keseriusan yang terlihat dari mata indahnya.

 

“Aku…”

 

“Oppa tidak memaksamu untuk mencintai oppa sekarang. Oppa hanya ingin kau memberi kesempatan kepada oppa untuk menjaga dan melindungimu selamanya, sampai oppa tidak berada di dunia ini lagi. Oppa ingin memberikan kasih sayang dan perhatian oppa kepadamu. Kepada orang yang oppa cintai sejak pertama kali oppa melihatnya walaupun hanya dari selembar foto.”

 

“Foto?” tanyaku bingung.

 

“Ne, Saat oppa liburan di Seoul oppa menemukan foto kalian bertiga tertata rapi di meja kamar Kyuhyun. Oppa penasaran dengan foto itu lantas oppa ambil foto itu. Dan oppa langsung jatuh cinta dengan seorang gadis berambut panjang berwajah cantik dengan senyum yang manis yang terdapat dalam foto itu. Gadis itu adalah kau. Dan oppa mencari tahu tentangmu dari Kyuhyun. Tapi Kyuhyun mengatakan bahwa kau sudah mempunyai seseorang yang kau cintai. Ya. Sebenarnya oppa sudah tahu tentang Kibum sebelum oppa bertanya kepadamu. Tapi oppa pikir oppa masih punya kesempatan karena oppa tahu bahwa kalian tidak akan mungkin bisa bersama. Dari situlah oppa bertekad untuk mendekatimu dan menjadikanmu milik oppa. Oppa meminta kepada appa untuk memindahkan Kyuhyun ke bagian lain dan menggantikan posisinya yang kosong sehingga oppa bisa kenal dan dekat denganmu. Apa kau tidak menyadarinya sejak pertama kali kita bertemu? Bukankah saat itu oppa secara terang-terangan ingin mengenalmu dengan menjadikanmu teman oppa. Tapi oppa tidak yakin jika kau mempunyai perasaan yang sama dengan oppa. Oppa dengar kau sangat mencintai Kibum. Oppa tidak berharap lebih agar kau bisa membalas perasaan oppa. Tapi ijinkan oppa untuk mencobanya. Mencoba untuk membuatmu mencintai oppa. Mencoba untuk menjadi seseorang yang akan menjaga dan melindungimu. Mencoba menjadi seseorang yang akan selalu ada disat kau butuh. Mencoba menjadi seseorang yang akan menemanimu ke taman bermain jika kau ingin pergi kesana. Mencoba menjadi seseorang yang berhak memeluk dan menciummu. Yoona-ah, bolehkah oppa melakukannya? Bolehkah oppa mencintaimu dan berusaha agar bisa membuatmu mencintai oppa juga?” kata Donghae oppa panjang lebar yang berhasil membuatku meneteskan air mata. Dengan lembut Donghae oppa menghapus air mata itu.

 

“Tidak perlu. Oppa tidak perlu berusaha untuk membuatku mencintai oppa karena aku tidak membutuhkan itu.” kataku sambil menahan tangis.

 

“Mwo?” tanya Donghae oppa bingung.

 

“Mungkin terlalu cepat, tapi inilah yang aku rasakan. Aku mencintai oppa. Aku tidak menyangka bahwa aku bisa mencintai oppa dalam waktu satu bulan. Tapi aku mempunyai perasaan seperti itu. Perasaan ini tumbuh dengan sendirinya dihatiku tanpa bisa ku kendalikan.” jawabku sambil sesenggukan.

 

“Benarkah? Apa kau tidak bercanda, Yoona-ah?” tanya Donghae oppa tidak percaya.

 

“Apa sekarang aku kelihatan seperti bercanda?” tanyaku disela-sela tangisanku yang sudah mulai berhenti.

 

“Gomawo. Aku mencintaimu.” kata Donghae oppa menarikku ke dalam pelukannya.

 

“Ne. Aku juga mencintaimu, oppa.” kataku tersenyum dalam pelukan Donghae oppa. Dapat ku rasakan Donghae oppa mencium kepalaku. Membuatku senyumku semakin lebar. Sesaat kemudian Donghae oppa melepaskan pelukannya dan menatap kedua mataku dalam. Sedetik kemudian wajah Donghae oppa mendekat ke wajahku. Ku pejamkan kedua mataku. Dan kurasakan bibir Donghae oppa mendarat dibibir mungilku. Melumatnya lembut seakan memberitahukan kepadaku bahwa rasa cintanya kepadaku adalah sebuah ketulusan.

 

“Wajahmu memerah.” kata Donghae oppa begitu melepas ciuman kami.

 

“Ah! Tidak.” elakku berusaha menyembunyikan wajahku yang memang bersemu merah.

 

“Kalau tidak kenapa kau menunduk seperti itu dan tidak berani melihat oppa?” tanya Donghae oppa menggodaku.

 

“Aku malu.” jawabku jujur.

 

“Kenapa harus malu? Aigo! Oppa ini kekasihmu, kenapa harus malu dengan kekasihmu sendiri?” tanya Donghae oppa heran.

 

“Aku tidak mau oppa menggodaku terus.”

 

Donghae oppa yang mendengar jawabanku hanya terkekeh geli dan kembali menarikku ke dalam pelukannya.

 

“Saranghae, Yoona-ah.” Donghae oppa mengeratkan pelukannya.

 

“Nado saranghae, Donghae oppa.” kataku membalas pelukannya.

 

“Ehem…” sebuah suara mengangetkan kami berdua.

 

“Seohyun! Kyuhyun oppa!” teriakku terkejut melihat Seohyun dan Kyuhyun oppa berada dihadapan kami dan tersenyum penuh arti ke arah kami.

 

“Sedang apa kalian disini?” tanya Donghae oppa. Sedangkan aku hanya tertunduk malu.

 

“Yang pasti kita baru saja melihat film romantis secara gratis, benarkan Seohyun-ah?” kata Kyuhyun oppa tersenyum evil.

 

“Ne, oppa. Ah! Aku tidak menyangka jika kalian benar-benar romantis. Oppa aku ingin seperti mereka.” rengek Seohyun kepada Kyuhyun yang aku yakin ditujukannya untuk menggoda kami.

 

“Aish! Kalian ini mengganggu saja.” gerutu Donghae oppa.

 

“Tenang saja, hyung! Jika kau masih belum puas dengan moment romantis kalian, kau bisa melihatnya lagi lain kali.” kata Kyuhyun oppa sambil tersenyum penuh arti ke arah kami. Sedangkan Seohyun tampak terkekeh geli mendengar perkataan kekasihnya itu.

 

“Maksudmu?” tanya Donghae oppa bingung.

 

“Kami merekam semuanya disini.” kata Kyuhyun oppa menunjukkan handycam yang sedari tadi dipegangnya. “Tadi saat dijalan kami tidak sengaja melihat kalian. Karena penasaran kami mengikuti kalian. Dan karena kami baik hati jadi kami mengabaikan moment romantis kalian disini.” lanjut Kyuhyun oppa.

 

“Eonni! Jika eonni ingin melihatnya, kami akan meminjamkannya kepada eonni dengan senang hati. Tapi jangan lupa untuk mengajak kami saat eonni melihatnya nanti.” kata Seohyun yang membuatku bengong. Aigo! Sejak kapan Seohyun menjadi jahil seperti ini?

 

“Ya! Cho Kyuhyun! Cepat hapus video itu.” teriak Donghae oppa tidak terima.

 

“Tidak mau! Aku sudah susah payah merekamnya, jadi tidak akan aku hapus begitu saja.” tolak Kyuhyun oppa.

 

“Ya! Kyuhyun! Akan kubunuh kau!” teriak Donghae oppa berusaha mengambil handycam itu dari Kyuhyun oppa yang telah melarikan diri.

 

Sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Tidak berani menatap ke arah Seohyun yang aku yakini tengah tersenyum sumingrah ke arahku. Ah! Kenapa bisa jadi seperti ini?

 

 

END

 

**********

 

Gimana? Gaje kan???

Sebenarnya mau bikin FF yang sad tapi nggak bisa. Ujung-ujungnya selalu comedy romance. Huft! Sepertinya aku tidak bakat membuat FF sad.

 

Oh iya, untuk monolog awal itu adalah kenyataan. Itu benar-benar kisah cintaku. Pertengahan januari lalu ‘dia’ memberitahuku kalau ‘dia’ akan menikah. Yah… kalian bisa tahu kan perasaanku. Bukankah sudah aku gambarkan dengan jelas dalam monolog diatas? Dan jika kalian ingin tahu alasan sebenarnya kami tidak bisa bersama adalah karena ADAT JAWA. Kalian yang berdomisili di Jawa pasti tahu. Jika tidak tahu kalian bisa cari di google. Mungkin ada. Dalam Adat Jawa itu terdapat banyak sekali ketentuan dalam melangsungkan pernikahan. Dan menurut Adat Jawa itu sendiri pernikahan kami tidak diperbolehkan. Itulah yang terjadi padaku. Aduh! Kenapa aku jadi curhat gini? Maaf ya semuanya? Kebawa suasana….hihihi…

 

Baiklah…

Yang terakhir, tidak lupa aku ingatkan untuk selalu comment disetiap FF-ku, jika tidak sempat like-nya juga boleh.

Aku tunggu comment kalian…

Dan sampai ketemu di kesempatan yang akan datang…

 

Dadah…. *meluk readers satu persatu.


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * Indahnyaaja says:

    Awl.a sediih,,tp akhr.a romantice tp seokyun ganggu aj,,,,:D

    sabar ya chingu,,,mngkin dia bkan yg trbaik buatmu,,,,,klu tntang adat emang susah,,,,,

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  2. * nana says:

    bagus ^^ aku sukaaa , buat sekuel ff ini doong hehehe

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  3. * Nadia says:

    Aaa sosweet …

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  4. * Lyka_BYVFEGS says:

    ah! aq mrsa FF inilah yg pling sukses bgiku….
    hihihi…
    bnyak yg ska, pdhl mnurutq biasa aja.
    wkwkwkwk

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  5. * Yoonaddict^^ says:

    Annyeong aku reader baru di sini ^^
    Aku juga yoonhae shipper~
    Bagus banget ff-nya, aku suka banget whehe😀
    Bikin squel-nya dong keke >o<

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  6. aaaaaaaaa… bagus😀

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  7. * cayyoanis says:

    bagus, bagus, ditunggu ff yoonhae selanjutnya,…..

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  8. * mochichi says:

    So sweet bener
    Ternyata Hae pindah krn ada udang d balik batu toh!
    Kkkkk
    Nice ff

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  9. * Narsha_vanya says:

    Eonnnn..
    ditunggu SEQ nya yahh!!
    #ngarep, plak
    kan aku udh baca yg ver SeoKyu tapi aku minta SEQUELnya yahh Eoni..
    kekek!! aku wires + pyro..
    ^^

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  10. * mimipyros says:

    Aku udah baca seokyu versionnya ^^
    nice ff eon..
    Oh iya, sabar ya eon, tetap semangat dan tetap bikin ff YH atau SeoKyu ya^^

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  11. * trya001 says:

    bagus🙂

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  12. sequel ya?
    aduh…aku ga ada rencana nich, yg jelas sich bingung ide…
    tapi tunggu aja FF terbaruq yg lain.
    aku kasih sedikit bocoran, judulnya ‘Mengenangmu Bersama Cucu Kita’
    tunggu aja…
    udh dapat setengah lebih, tinggal namatin aja….

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  13. * ddyllah_YH says:

    wah.. kerenn
    nice FF, buat lagi.. hihi FIGHTING thor!!!

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  14. * Yoondeer says:

    bagus chingu…
    aq tunggu kryamu yg lain…🙂

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  15. * devisonelf YoonHae Pyrotecnis says:

    critanyya bagus …

    lanjut trus dengan ff yang lainnya ..

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  16. * mary elfishy says:

    Waaahh debaak chingu ^^
    Buat sequel dong😀

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  17. * rianhae says:

    Ooowww so sweet, jadi pengen minta sekuel.. ada yoonhae ma seokyu
    wooow romantis gimana gitu, jd mau..

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  18. * tiya says:

    keren banget….
    yoonhae romantis…..

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  19. * jeanitnut says:

    koreksi dikit ada typo disini “dan karena kami baik hati jadi kami mengabaikan moment romantis kalian disini” mengabadikan kan harusnya?hehe
    yang bagian monolognya itu bener-bener dapet feelnya, aku ikut ngerasain sedihnya:”
    aku cuma berharap semoga akhir cerita onnie berakhir seperti ini *sok kenal*
    ceritanya romantis, cuma ada beberapa part aja yang sedikit rumit /halah

    btw, aku juga tinggal di jawa tapi nggak ngerti tentang adat-adat yang dimaksud deh-_- mungkin di jogja atau jateng ya? soalnya di daerahku gak pernah ada kayak gitu (kayaknya) /abaikan

    ditunggu next ff-nya, mau baca yang satunya. semangat^^

    | Reply Posted 4 years, 8 months ago
  20. * febrynovi says:

    Annyeong author~~ aku suka FF-nya, dalem banget awalnya tapi akhirnya malah happy ending, kukira sad ending #plakk.
    Keseluruhan FF-nya bagus kok cuma banyak suka kurang/kelebihan huruf #eh
    Hehehe sorry ya thor aku new reader tapi banyak bacot hehehe ._.

    | Reply Posted 4 years, 6 months ago
  21. * MaeRi says:

    seneng bs baca ff yg ‘rapih’ dr segi redaksionalnya🙂 alurnya jg jls. fun bgt, deh bacanya. tq, ya author! ^^ smgt trs utk nulis ff yg apik!

    | Reply Posted 4 years, 5 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: