YoonHae Fanfics Library



[Chapter] You’re The One, Which I Loved (Part 1)

Author: Hilda Claudiani Safi’i
Cast:
1.       Lee Dong Hae
2.       Im Yoon Ah
3.       Soo Ae as Jung Jin Ji
4.       Bae Yong Joon as Im Ahjussi
5.       Ryu Jin as Direktur Kim *NB:Anggap aja disini Ryu Jin-nya umur 50+.
Genre: General, Romance, Family, Friendship
Hallo Readers semuanya! Ini FF pertama yg aku kirim ke sini. Sebelumnya, terima kasih banget buat Admin yg udah nge-post FFku ini :) senang. Juga terimakasih buat kalian yg udah mau baca FF ini. Langsung aja deh..
You’re the one, Which I loved
Part 1
Langit senja merah jambu mengayom terbentang diatas permukaan bumi yg luasnya tak terkira. Bersamaan dengan burung camar yg terbang teratur menghiasi langit diatas sana. Gadis itu melajukan kakinya dibawah naungan payung yg melindunginya dari rintikan air hujan. Melangkah dengan pelan dan sangat berhati-hati, agar air noda itu tak mengenai celana putih panjangnya. Ia terus berjalan sambil berusaha merapatkan syal merah yg kini melingkar dileher panjangnya.
Drrt.. Drrtt..
Sebuah getaran disaku celananya, menghentikan langkahnya.
“Aku akan menemuimu.” Pesan singkat itu cukup membuatnya tersenyum, lalu kembali memasukan ponsel putih itu ke dalam sakunya.
Gadis itu kembali melaju. Sesekali ia terhenti, guna membetulkan letak syalnya. Lalu kembali melaju saat dirasanya sudah nyaman.
Sebuah tangan kekar terasa berat dibahunya.
Pria: (merangkul bahu sang gadis) “Yoong!”
Wanita: (mendongakan kepala ke asal suara) “Oppa.”
Pria: “Ya, kenapa sepertinya terkejut? Bukankah tadi aku sudah mengirimu pesan. Kulihat dari jauh tadi kau sudah membacanya bukan?” (sambil terus merapatkan dirinya agar 1 payung dengan YoonA)
Wanita: “Ish!” (Mendorong pria itu agar menjauh dari tubuhnya) “Jangan terlalu dekat!”
Pria: (Kembali merapatkan tubuhnya dengan YoonA) “Kenapa? Aku tak ingin kebasahan, jadi aku berlindung di payungmu. Kau itu pelit sekali sih?!” (mendelik dengan sinis ke arah YoonA)
YoonA: (Mendorong lagi tubuh sang pria untuk menjauh darinya) “Hwae Oppa! Kau itu mengenakan jas hujan! Jika kau terlalu rapat denganku, maka bajuku akan basah, kau mengerti?!”
Dong Hae: (menutup telinga) “Aish, kenapa suaramu cempreng sekali sih?!”
YoonA: (Kesal lalu berlalu dari pria itu)
Dong Hae: (berjalan cepat mengejar YoonA) “Baiklah, baiklah.”
YoonA: (berjalan dengan wajah kesal)
Dong Hae: (tertawa kecil, mencolek dagu YoonA) “Yoong, jika seperti itu kau terlihat lebih manis.”
Merasa semakin geram, YoonA menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah pria yg dipanggilnya Hwae oppa itu.
YoonA: “Jika hanya ingin menggangguku lebih baik kau pergi Oppa!” (Menendang kaki pria dihadapannya lalu berjalan cepat)
Dong Hae: (Meringis lalu menatap punggung YoonA) “Meski kau marah, matamu selalu membawa kebahagiaan untukku.”(mengejar YonnA) “Yoong, tunggu! Aku ingin berbicara denganmu!”
Seorang gadis keluar dari sebuah kamar dengan setelan baju tidur lengan panjangnya. Rambutnya yg panjang dibiarkan tergerai dan menutupi sebagian bahunya. Kaki-kakinya berjalan menuju ke ruang tamu guna bertemu dengan sosok pria yg sedari tadi menunggunya.
YoonA: (duduk disalah satu sofa) “Sekarang apa lagi?” tanyanya tampak tak bergairah. Belum sampai si pemuda menjawab, sang gadis bertanya lagi. (Meraih gelas dihadapannya dengan terkejut) “Siapa yg membuatkanmu cokelat hangat?”
Dong Hae: “Im Ahjussi.”
YoonA: (Melatakkan gelas kembali) “Serius? Tunggu sebentar!” gadis itu bangkit lalu berjalan tergesa menuju ke dapur. Nihil, orang yg dicarinya tak ada disana. Ia berjalan lagi menuju balkon belakang, sama tak ada juga. Ia kembali berjalan menuju ke sebuah kamar. Membuka pintunya perlahan, dan tersungging senyum cantik itu diwajah natural miliknya. Mata indahnya berkaca-kaca. Dengan serta merta ia berlari menghampiri orang yg sangat dirindukannya lalu memeluknya.
YoonA: “Appa.” Gadis itu dengan lirihnya berucap. Sebutir krystal membuncah dari lingkup matanya dan turun sempurna menuruni tulang pipinya.
Im Ahjussi: (membalas pelukan) “YoonA, gadis appa.”
YoonA: (melepas pelukan dan menghapus air matanya) “Apa kau baru tiba? Tadi saat sampai, aku tak melihatmu.”
Im Ahjussi: (mengangguk dan tersenyum)
YoonA: (memeluk sesaat lalu dilepasnya lagi) “Aku sangat rindu Appa.” Rajuknya dengan manja.
Im Ahjussi: (mengelus kepala sang putri) “Appa juga. setelah ini, kau bisa berlama-lama dengan Appa.”
YoonA: (tersenyum)
Im Ahjussi: “Sana, temui Dong Hae. Appa rasa, ia sudah lama menunggumu.” (tersenyum)
YoonA: (mengangguk lalu pergi)
Gadis itu kembali melangkahkan kakinya ke ruang tamu, dan terkadang senyum cerah terlukis diwajah cantiknya. Gadis itu kembali terduduk masih dengan senyum diwajahnya.
Dong Hae: “Tampaknya kau habis melepas rindu ya?”
YoonA: (tersenyum) “Benar. Sudah 2 minggu aku tak bertemu Appa. Aku sangat rindu padanya.”
Dong Hae: (menghela nafas panjang) “Ah, andai aku punya Appa.”
YoonA: “Setidaknya Oppa memiliki Eomma yg tak aku miliki bukan?”
Dong Hae: (tersenyum ketir)
YoonA: “O,iya. Untuk apa Oppa menemuiku?”
Dong Hae: (menggeser posisi menjadi dekat dengan YoonA) “Sebetulnya ada yg ingin kubicarakan di halaman belakang, tapi karena sekarang hujan jadi aku akan menundanya.”
YoonA: “Kenapa tidak bicara disini saja?”
Dong Hae: “Ini privasiku. Bagaimana jika Appamu tau?”
YoonA: “Kau ini, Oppa! Merepotkan sekali.” ( meninju bahu Dong Hae)
Dong Hae: (Mengusap-usap tengkuk belakang)
YoonA: “Lalu, apa lagi? Kau tidak pergi?”
Dong Hae: “Jadi kau mengusirku?”
YoonA: (tertawa renyah) “Bukan begitu. Bukankah menjadi kebiasaanmu, kau akan pergi jika tak ada lagi hal yg kau bicarakan.”
Dong Hae: “Lalu apa kau akan membiarkanku pergi, sementara diluar sana hujan lebat?”
YoonA: “Kau terlalu berlebihan. Itu hanya gerimis kecil. Lagipula, bukankah Oppa ada jas hujan?”
Dong Hae: “Ah, iya. Tapi, aku ingin disini dulu ah.” (bangkit dari kursi) “Im Ahjussi dimana?”
YoonA: “Ada dikamarnya. Jika ingin kesana, jangan lupa..”
Dong Hae: “Ketuk pintu dahulu.”
YoonA: (Terkekeh) “Ku pikir kau lupa Oppa.”
Dong Hae: “Peringatan itu, sudah terpatri jelas di ingatanku, jadi aku tak mungkin lupa. Sama dengan aku mengingat namaku. Kau mengerti kan?” (berlalu)
YoonA: (menggelengkan kepala) “Bahkan dalam hal apapun, dia selalu saja berlebihan.”
Pria itu terduduk diatas tempat tidurnya. Matanya yg bulat besar itu menatap layar monitor laptop yg kini dihadadapannya. Tergambar jelas beberapa foto yg sengaja ia edit menjadi sebuh video, sedang terputar. Matanya tak pernah berhenti menatap. Terkadang ia tersenyum, memandang foto dirinya dan juga YoonA saat masa sekolah ataupun kuliah. Juga ada beberapa foto saat ia dan YoonA berlibur bersama. Senyum tak henti-hentinya lepas dari wajahnya yg tampan namun manis itu. Lagu From This Moment dari Shania Twain menjadi pengiring di dalam video yg sengaja ia buat itu.
Drrt.. Drrtt…
Layar ponselnya terlihat menyala. Segera ia pause lalu berhenti sejenak dari aktivitasnya semula.
Dong Hae: “Ada apa?”
YoonA: “YA! LEE DONG HAE! APA KAU MAU MATI HAH?!” reflex, teriakan seorang wanita berhasil membuat telinga pria itu sedikit mendengung.
Dong Hae: “YA! IM YOON AH! KAU MAU MEMBUATKU TULI HAH?!” Balasnya tak kalah berteriak.
YoonA: “Aish! Apa maksudmu?”
Dong Hae: “Maksudmu apa?” Dong Hae kini kembali bertanya.
YoonA: “Aish! Ya! Apa maksudmu mengatakan kalau kita ini berhubungan?”
Dong Hae: “Memangnya kenapa? Apa aku salah? Kita memang berhubungan kan? Hubungan sebagai seorang Oppa dan dongsaeng.”
YoonA: “Tapi, Appa salah menyimpulkan. Dia mengira kita benar-benar menjalin hubungan diluar batas itu. Memangnya kau tadi bicara apa pada Appa?”
Dong Hae: “Aku hanya bilang. Kami berhubungan sangat baik, itu saja.”
YoonA: “Lalu apa lagi?”
Dong Hae: “Emm, semua tau jika kami berhubungan. Hanya itu.”
YoonA: “Aish! Bodohnya! Ucapanmu itu membuat Appa salah paham. Oppa, kau ini!”
Dong Hae: “Ah, maafkan  aku kalau begitu. Aku sungguh tak mengerti jika masalahnya akan seperti ini. Maafkan aku yah. “
YoonA: “OPPA! KAU PIKIR MASALAHNYA SEMUDAH ITU?! Pergi temui Appa dan jelaskan padanya.”
Dong Hae: “Tapi, Yoong..”
YoonA: “Tak ada tapi-tapian, pergi temui Appa dan jelaskan.”
Bip.
Sambungan terputus. Dong Hae menatap ponselnya bingung.
Dong Hae: “Sebetulnya, apa ia menganggapku benar-benar Oppanya? Kenapa nada bicaranya kasar sekali. Ckckck!”
Mentari kini tepat berada di puncak kepala. Panas yg menyengat begitu terasa. Beberapa orang memilih payung sebagai perlindungan mereka. Pukul 12.23 KST. Jam yg tepat untuk para pekerja makan siang.
Seorang gadis tinggi berkulit putih itu terduduk di pojok kantin dan duduk menyendiri. Dihidungnya bertengger kaca mata minus yg sengaja ia gunakan. Matanya memuat pandang seakan mencari sesuatu. Sesekali ia lirik jam tangan yg terpasang sempurna di pergelangan lengan kirinya.
YoonA: “Selalu saja. Paling benci menunggu, tapi paling sering membuat orang lain menunggu.” Gadis itu melipatkan tangannya dengan kesal diatas meja. Kemudian menelungkupkan wajahnya disana.
Huft.
Penat yg ia rasa. Begitu lelah memang. Pekerjaan duniawi yg begitu menguras fisik dan otaknya. Saat sampai klimaksnya, terkadang ia ingin berhenti. Angkat kaki dari pekerjaan ini, dan memilih santai di rumah. Tapi hidup menuntutnya seperti ini. Bekerja keras juga berjuang demi kesuksessan dan kemapanan hidupnya di masa depan nanti.
Memejamkan mata sambil berusaha mencari ketenangan. Dalam kelam pandangnya, tersemat bayangan seorang wanita, yg amat sangat teringin dilihatnya. Sosok ibunda yg meninggalkannya sejak kecil umurnya. Tiba-tiba sosok semu seperti Dong Hae terlihat tersenyum ke arahnya.
Kenapa dia yg kulihat?
Gadis itu masih terus menelungkupkan kepalanya. Sementara bayangan Dong Hae masih saja terlihat di pejamannya. Semu memang, tapi terasa nyata. Bayangan Dong Hae semakin tampak jelas di pandangan kelamnya.
YoonA: (mendongakkan kepala sambil mengacak rambut frustasi) “Aish! Kenapa ikan itu yg kulihat!” gumamnya frustasi. Tanpa disadarinya, orang yg ia maksud kini tengah duduk dengan senyum sumringah di wajahnya.
Dong Hae:  “Apa kau sedang memikirkan Oppamu yg tampan ini?”
YoonA: “Aish! Jangan sok tau! Seperti tak ada hal lain saja yg perlu aku pikirkan.” (mendengus kesal, lalu mengerucutkan  bibir)
Dong Hae: (menunjuk wajah YoonA) “Ah, kau tak bisa mengelak lagi. Sudahlah akui saja.” Kekehan kecil pria itu berhenti karena YoonA yg menatapnya garang. “Sebetulnya, apa kau memperlakukanku sebagai Oppa dengan benar? Kenapa, rasanya kau kasar sekali.” Mendengar itu YoonA hanya tersenyum tipis.
YoonA: “Sudahlah. Sekarang dengan cepat jelaskan, kenapa Oppa ingin menemuiku?  Waktuku tak banyak.”
Dong Hae: “Sebetulnya ini tentang..”
YoonA: “Hati lagi? Apa hubunganmu terganggu lagi? Siapa yg mengganggu?”
Dong Hae: “Bukan itu. Aku merasa hubungan kami agak sedikit longgar. Aku ingin mengeratkannya kembali. Tapi, aku masih belum mengerti bagaimana caranya.”
YoonA: “Kau ajak saja Eonni jalan-jalan. Semacam kencan begitu. Siapa tau, dengan begitu hubungan kalian akan semakin erat.”
Dong Hae: “Itu ide yg bagus. Tapi..”
YoonA: “Tapi apa Oppa?”
Dong Hae: “Aku merasa canggung jika kita hanya pergi berdua. Untuk menghindari hal yg tidak ku duga, emm,,, kau mengerti maksudku kan?”
YoonA: “Oppa! Kau ini! Aish! Aku tak mengerti bagaimana jalan pikiranmu. Apa betul kau ini pria?”
Dong Hae: “Ya! Aku ini benar-benar pria.”
YoonA: “Ah, kau memang pria tapi tak jantan.”
Dong Hae: “Aku tak jantan kau bilang? Apa kau masih meragukan otot-ototku ini hah?” (Menunjukan otot ditangannya)
YoonA: “Apa ototmu itu menjamin kejantananmu hah? Aish! pria sepertimu tak berani mengajak kekasihnya berkencan? Apa itu layak disebut jantan?”
Dong Hae: “Aku bukannya tak berani, hanya saja masih sedikit canggung. Ini kencan pertamaku dengannya, jadi aku merasa sedikit kikuk.”
YoonA: “Aish, kau ini benar-benar!”
Dong Hae: “Yoong, jadi bagaimana?”
YoonA: “Bagaimana apanya?”
Dong Hae: “Kau mau ikut kami kan?”
YoonA: “Heh!”
Dong Hae: “Ayolah Yoong, kumohon. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.”
YoonA: “Selalu itu yg kau ucapkan saat meminta bantuan dariku.”
Dong Hae: “Ayolah, Yoong..”
YoonA: “Jangan pikir ini semua gratis.”
Dong Hae: “Kau mengharapkan imbalan hah?”
YoonA: (Menggebrak meja pelan) “Oppa mau atau tidak?”
Dong Hae: “Aish, baiklah.”
YoonA: “Jadi, kapan?”
Dong Hae: “Emm,, 2 hari lagi.”
YoonA: “Okelah.”
Tubuh tinggi nan kurus gadis itu kini terduduk disebuah bangku panjang halte. Ia berdiri. Lalu melongok ke jalan raya seakan menunggu kendaraan. Dengan t-shirt polos bewarna biru, dipadukan celana jeans putih panjang, juga tas jinjing berukuran sedang berwarna hitam yg kini menggandul dibahunya. Ditambah sepatu bermerek Alexander Wang dengan high heels setinggi 3 cm dan juga jam tangan putih milik Alexander Cristie, smembuat tampilannya terlihat sederhana namun begitu anggun.
YoonA: “Jika saja aku tak memandangnya sebagai Oppaku, aku tak mau seperti ini!” (Menghentakan kaki ke lantai halte)
YoonA: “YoonA, tunggu saja!”
YoonA: “Tapi, dia benar-benar kelewatan! Ini sudah 1 jam aku menunggu.” Gadis itu memilih untuk duduk kembali lalu mengeluarkan ponsel  miliknya dari dalam tas jinjingnya.
YoonA: “Oppa, kau dimana sekarang?! Ini jam berapa? Kau bilang akan datang jam 9. Oppa, kau akan habis setelah ini! Ingat itu!”
Ia kembali memasukkan ponselnya, dan merengut malas. Ia tak akan pernah lupa itu. Lee Dong Hae. Selalu saja membuatnya menunggu. Oppa paling menyebalkan yg pernah ia punya, juga Oppa paling perhatian yg dimilikinya. Mereka memang bersama semenjak Sekolah Menengah Pertama. Dong Hae di kelas 8 dan YoonA dikelas 7. Memang usia mereka terpaut 4 tahun. Ketika Dong Hae duduk di kelas 8, Ayahnya meninggal. Ia yg merasa sangat terpukul, menolak bicara dan selalu mengurung diri didalam kamarnya selama 2 tahun berturut-turut. Tak ada yg bisa dilakukan keluarganya, hanya menuruti apa yg ia inginkan tapi tetap memantau perkembangan psikis maupun psikologisnya. Buah, meski akan matang dengan sendirinya, masih harus tetap di pantau untuk mendapatkan kematangan yg sempurna. Setelah memutuskan untuk vakum dari dunia pendidikan selama 3 tahun, akhirnya Dong Hae kembali mengenyam pendidikannya di tahun 2003, sebagai seorang siswa baru di lain sekolah. Dan sekolah itulah, yg menakdirkan untuk mereka bertemu.
Citt!
Decitan ban mobil yg di rem mendadak terdengar. Seseorang membuka kaca mobilnya lalu melongokkan kepalanya. YoonA yg mengenal orang itu, langsung bangkit dan menghampirinya, memberikan tatapan menerkamnya yg hanya dibalas dengan seringaian tanpa dosa dari sang empunya mobil.
Dong Hae: “Ayo Yoong masuk!” YoonA memasuki bagian pintu belakang mobil buatan Jerman itu dengan tatapan dongkolnya. Ia tutup pintu itu dengan keras tanpa berkata-kata lagi.
Dong Hae: “Ya! Jangan terlalu kasar menutupnya, jika itu rusak bagaimana?”
YoonA: “YA! Oppa! KAU TAU BETAPA MENYEBALKANNYA DIRIMU HARI INI?!” Suara gertakan gadis itu berhasil membuat sang empunya mobil menutup kuping.
Dia tak pernah berubah. Suaranya benar-benar dahsyat. Berbeda sekali jika sedang bermanja.
YoonA: “Cepat jalankan mobilnya!” Perntah gadis itu dengan jutek
Dong Hae: “Apa dia pikir aku ini supirnya?” pria itu bergumam pelan sambil mulai melajukan mobilnya.
YoonA: “YA! Oppa! Aku dengar itu!”
Dong Hae: “Ehm. Pasang safety belt-mu.”
Dua manusia itu kini terduduk manis di dalam mobil dengan saling mengunci mulut. Masih betah dengan suasana hening yg sedari tadi menghiasi perjalanan mereka. Dong Hae yg duduk dibalik kursi kemudi, sesekali melirik ke arah spion tengah guna melihat gadis yg duduk di jok belakang mobilnya. Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu melalui kaca spion tengah itu.
YoonA: “Tunggu apa lagi? Sana Oppa jemput Eonni!”
Dong Hae: (Menolehkan kepala kebelakang) “Kaki ini serasa lemas Yoong.” (menyeringai)
YoonA: “Aish!” (menepuk jidat) “Sekarang aku tambah yakin kalau Oppa benar-benar tidak jantan. Ya! Oppa, kau pacaran dengannya sudah 2 bulan kenapa masih saja canggung?”
Dong Hae: “Selama 2 bulan pacaran, kita kan jarang bertemu, berkomunikasipun hanya berbalas pesan atau telpon. Kau tau kan dia sibuk?”
YoonA: “Tapi, apa itu menjadi masalah untuk kau menjadi canggung?”
Dong Hae: (Membalikan badan kembali) “Huft! Kenapa pacaran dengannya menjadi seperti ini.” Gerutunya. Untuk beberapa saat suasana hening. Hingga Dong Hae mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai menghubungi seseorang.
Dong Hae: “Jin Ji-ya! Kau keluar saja. aku sudah menunggumu.” Dong Hae kembali memasukan ponsel ke sakunya. Tak lama kemudian seorang wanita dengan style-nya yg terlihat mewah namun sederhana menampakan dirinya dan mulai berjalan memasuki mobil Dong Hae.
Jin Ji: “Maaf membuatmu menunggu” (memasang safety belt)
Dong Hae: “Tak apa.” Ucap Dong Hae lalu mulai melajukan kembali mobilnya. Wanita itu tampaknya tak menyadari keberadaan YoonA dibelakang kursinya.
Jin Ji: “Dong Hae-ya!”
Dong Hae: “Hmm?” (tetap focus pada kemudi)
Jin Ji: (menyenderkan kepala dibahu Dong Hae) “Ini First Date kita, apa kau akan menunjukan sesuatu yg menarik untuk kita kenang?” dengan suaranya yg manja gadis itu bertanya. Sementara dibelakang, YoonA memandang mereka agak sedikit risih. Ada sesuatu yg berbeda yg ia rasa. Entah kenapa, perasaan yg sangat tidak suka, tiba-tiba merasuki jiwanya. Ada sedikit perasaan dongkol, melihat oppanya itu hanya berdiam diri, dengan pasrah menerima layutan manja lengan Jin Ji yg melingkar di lengannya.
Dong Hae: “Soal itu aku belum tau.” (melepaskan lengannya dari layutan lengan Jin Ji) (Melihat ke arah spion tengah) “Ehm, Yoong! Apa kau bisa memberi kami saran tempat yg cocok untuk kami kunjungi?” Jin Ji kini sadar akan keberadaan YoonA.
Jin Ji: (Menoleh ke belakang) “Ah, YoonA-ya. Kenapa aku tak menyadari jika kau disini?”
YoonA: “Ah, Eonni terlalu focus pada Oppa ikanku itu.” (mengerucutkan bibir)
Jin Ji: (tertawa) “Maafkan aku. Sungguh tadi aku tak melihatmu.”
YoonA: (tersenyum) “Tak apa Eonni.”
Jin Ji: “Lalu YoonA-ya, apa kau punya rekomendasi yg bagus untuk kita pergi bersama?”
YoonA: “Emm,, mungkin sungai Han?”
Dong Hae: “Ah! Itu terlalu biasa!”
YoonA: “Namsan tower!”
Dong Hae: “Sudah umum!”
YoonA: “Pantai GyeongPo! Kudengar pasir disana sangat putih.”
Dong Hae: “Kau ingin menyarankan kita pergi atau berlibur?!”
YoonA: “Aku kan hanya memberi saran. Jika tak mau, ya sudah.”
Jin Ji: “Bagaimana jika ke Busan? Pemandangan disana sangat bagus kan?”
Dong Hae: “Baiklah. Let’s Go!”
Dibalik dua punggung itu, seorang gadis berjalan menyendiri. Mata bulatnya terlihat malas menatap 2 orang yg sedang berjalan mesra di depannya. Ia sendiri tak mengerti, perasaan seperti apa ini. Selama bertahun-tahun ia mengenal pria yg sudah dianggap Oppanya itu, baru masa ini, ia merasa begitu risih. Padahal, gadis banyak yg mendekati Dong Hae. Juga ini bukanlah kali pertama Dong Hae berkencan dengan seorang gadis, hanya saja ini terasa berbeda. Saat Dong Hae berada disisinya, meski hanya untuk membuatnya kesal, tapi ia merasa senang. Juga otaknya yg beberapa bulan belakangan ini sering memikirkan Dong Hae. Tidak, tepatnya, ia mulai merasakan perasaan aneh ini saat Dong Hae memberikan kejutannya di ulang tahunnya ke-20. Ini aneh. Perasaan ini membuatnya ling lung sendiri. Perasaan yg bahkan YoonA tak inginkan.
“Yoong! Kau temani Jin Ji dulu sebentar. Aku akan membeli beberapa makanan.” YoonA mengangguk menyetujui. Ia dan Jin Ji pun duduk bersebelahan di sebuah kursi kayu panjang di pinggir jalan itu.
Jin Ji: “Udara disini sangat nyaman ya.” Jin Ji membuka pembicaraan.
YoonA: “Em! Benar Eon. Disini memang sangat baik udaranya.” (Tersenyum)
Jin Ji: “Hhh… Sayangnya udara diantara kita tak sebaik udara disini.”
YoonA: “Apa yg Eonni maksud?”
Jin Ji: “Meski tidak secara terbuka, tapi aku bisa mengetahuinya.” Ekor mata Jin Ji melirik YoonA. Sementara YoonA hanya bisa menundukan kepalanya. “Dong Hae itu orang yg menyebalkan ya?”
YoonA: “Emm. Benar sekali Eon! Dia Oppa paling menyebalkan! Dari sekian banyak Oppa yg ku punya, hanya dia yg sering mengangguku.” Celoteh YoonA. Wanita disampingnya hanya tersenyum. “Eonni, apa kau merasa nyaman berhubungan dengan Dong Hae Oppa?”
Jin Ji: “Hmmm.. Entahlah. Terkadang aku merasa nyaman, terkadang juga tidak. Kadang kala aku merasa aku bukan dihatinya. Seorang wanita yg kurasa menjadi orang ketiga diantara kita. Setiap kami sedang berkomunikasi, ia selalu menyebut nama wanita itu. Menjelaskan padaku bagaimana sikap wanita itu padanya. Jika ia sedang kesal pada wanita itu, ia selalu mengadu padaku. Kadang aku pikir, aku bukanlah kekasihnya, tapi sahabatnya. Sejak pertama kami berpacaran, tak pernah sekalipun ia menyatakan cinta padaku.”
YoonA: “Yg benar Eon?”
Jin Ji: “Hmm.. ada saat dimana aku merasa,,, ia terima cintaku karena suatu alasan yg lain.”
YoonA: “Maksud Eonni ia menerimanya karena suatu keterpaksaan?” Tanya YoonA. Jin Ji hendak membuka mulutnya, merespon perkataan YoonA. Tapi, pandangannya melihat Dong Hae yg kini berjalan mendekat ke arah mereka.
Dong Hae: “Nih!” Dong Hae memberikan minuman itu untuk Jin Ji dan YoonA.
Jin Ji & YoonA: “Terima kasih” Tanpa sengaja mereka mengucapkannya bersama.
Dong Hae: “Mari bangun! Ayo kita lanjutkan jalan-jalan kita lagi.”
Udara terasa semakin gerah. Begitu juga sinar mentari yg terlihat semakin terik. Kabut yg saat tadi mereka datang masih terlihat, kini tergantikan oleh debu jalanan. YoonA masih berjalan menyendiri dibelakang pasangan kekasih itu. 4 jam yg mereka lalui bersama, tak menyimpan arti khusus bagi sang pasangan kekasih. Hanya YoonA yg merasa lain. Ada sesuatu di dalam dirinya yg terasa meledak-ledak melihat 2 makhluk ini berjalan berdampingan dengan suasana yg terlihat memanjakan mata dan membuat iri yg melihatnya. Sesekali Dong Hae menengok ke belakang untuk mencek YoonA masih setia di belakangnya atau tidak. Bahkan tak jarang juga baik Dong Hae maupun Jin Ji saling mengajak YoonA berbicara dan bergurau.
Merasa lelah, mereka memutuskan untuk singgah sesaat di sebuah kedai minuman. Memesan beberapa gelas jus buah dan kembali berceloteh saling bertukar cerita.
Jin Ji: “Em, Dong Hae-ya, ada sesuatu yg ingin aku bicarakan padamu.”
Dong Hae: (menyeruput jusnya lalu memasang telinga) “Apa?”
Jin Ji: (Menghadap YoonA) “Em, YoonA-ya, bisakah kau tinggalkan kami berdua? Aku ingin berbicara empat mata dengan Oppa-mu. Tak apa?”
YoonA: “It’s Okey Eonni. No problem.” YoonA pun meninggalkan tempat itu dan berjalan keluar.
Dong Hae: “Apa yg ingin kau bicarakan? Sepertinya sangat pribadi.”
Jin Ji: “Emm, Dong Hae-ya. Ada sesuatu yg ingin ku tau. Ini menyangkut hubungan dan kebahagiaan kita.”
Dong Hae: “Hubungan?”
Jin Ji: “Aku hanya tak ingin salah satu dari kita menjalankan hubungan ini karena alasan selain cinta. Jika saja itu benar, baik kau maupun aku akan merasa saling menyakiti dan tersakiti.”
Dong Hae: “Lalu?”
Jin Ji: “Jika botol dipasangkan dengan tutup yg cocok. Maka si botol dan tutupnya akan sama-sama merasa nyaman. Tapi, jika itu yg lain, baik si botol, tutupnya ataupun kita orang yg melihatnya, akan merasa risih.”
Dong Hae: “Kemana arah pembicaraanmu ini Nona Jung?”
Jin Ji: “Mulai sekarang, berhenti membohongi diri sendiri. Aku tak ingin jika kau berpura-pura dihadapanku. Hentikan sandiwaramu. Setelah cukup lama aku berpikir, ada satu hal yg membuatku yakin kau tak mencintaiku.”
Dong Hae: “Apa maksudmu?”
Jin Ji: “Apa kau mencintai gadis lain?”
Dong Hae: “Jung Jin,,”
Jin Ji: “Apa kau mencintai Im Yoon Ah?”
Dong Hae: (Terdiam)
Jin Ji: “Bahkan tanpa kau menjawabnya, aku bisa mengetahui.” (tersenyum ketir)
Dong Hae: “Ah, Jin Ji-ya, lebih baik kita pulang. Ini sudah hampir jam 3 sore. Aku tak mau jika nanti keluargamu mencemaskanmu. Ayo!” (Bangkit lalu meraih tangan Jin Ji) Jin Ji tak menolaknya dan hanya mengikutinya.
YoonA: “Sudah selesai? Kenapa cepat sekali?”
Dong Hae: “Ini sudah hampir sore. Ayo kembali ke mobil.”
Cciittt.
Dong Hae memberhentikan mobilnya di depan pagar sebuah rumah mewah yg berpadukan design Asia-Eropa itu.
Jin Ji: (melepaskan safety belt) “Sudah, aku pulang dulu.”  Jin Ji dan Dong Hae melakukan salam pipinya lalu keluar.
YoonA: “Pacaran macam apa kalian ini? Kenapa hanya salam pipi? Banyak mereka yg bilang kau romantis, tapi, saat kencan tadi kau terlihat biasa saja.”
Dong Hae: “Yg ini beda. Yg pacaran kan aku, kenapa kau yg tampak sewot?”
YoonA: “Siapa yg sewot? Aku tidak sewot.”
Dong Hae: “Sudah terjebak, masih saja mengelak. Atau mungkin kau cemburu pada..”
YoonA: “STOP!” (menutup telinga) “Sesuai janjimu, bawa aku ke café strawberry.”
Dong Hae: “Jika tentang strawberry, kau tak pernah lupa.”
YoonA: “Itu harus!”
Dong Hae: “Bagaimana jika denganku?”
YoonA: “Apa maksudmu?”
Jam menunjukan pukul  4 lewat. Mentari sudah mencodongkan dirinya sekitar 45° ke arah barat. Lokasi yg berposisi di dekat pantai di sebuah menara tower dilantai 5, membuat mata kedua orang itu asik menatap kemilau langit senja dihadapannya dengan terpesona.
YoonA: “Sunset memang sangat indah.”
Dong Hae: (mengalihkan padangan dan memperhatikan YoonA) “Sunrise juga.”
YoonA: “Tapi, aku lebih menyukai sunset ketimbang sunrise.”
Dong Hae: “Kenapa? Sunrise, membuat hatiku merasa sejuk.”
YoonA: “Hatimu atau kulitmu?”
Dong Hae: (terkekeh)
YoonA: “Saat kulihat sunset, yg kulihat hanya sosok seorang wanita. Aku merasa seperti melihat Eomma-ku, tapi tak jelas warna mukanya seperti apa.”
Dong Hae: “Kau sangat ingin melihat wajah Eomma-mu?”
YoonA: “Tentu saja. Jika saja kebakaran itu tak terjadi, mungkin aku akan paham bagaimana rupa Eomma-ku sesungguhnya. Appa hanya memberikan gambaran.” Terhenti sebentar. Pelayan itu menyerahkan 2 cake strawberry beserta jus yg sama dan memberikan bon hasil permintaan.
Dong Hae: (tersenyum) “Terima kasih”
Pelayan: (Tersenyum) “Silahkan dinikmati hidangannya. Semoga suka.” Pelayan itupun berlalu dan YoonA melanjutkan kembali ucapannya yg tadi tertunda.
YoonA: “Sosok Eomma yg tinggi, berkulit kuning langsat, bermata besar..” terhenti. Matanya seolah menimang-nimang, menahan air  mata yg ingin keluar.  “Hidungnya yg menurut Appa seperti menara. Keningnya yg selalu memubuat Appa ingin menciumnya. Juga tulang selangka yg sangat Appa sukai.”
Dong Hae: “Tunggu. Itu tampak seperti dirimu. Dan sosok Appanya, seolah seperti aku.”
YoonA: (meraih pisau kue di dekatnya lalu menghantamkannya dengan pelan ke kening Dong Hae) “Aish!”
Dong Hae: “Ya! Sakit tau! Apa yg kubicarakan itu salah? Kau bilang Appamu beranggapan jika hidung Eomma-mu bagai menara, bukankah aku juga berpendapat seperti itu?”
YoonA: “Oppa mengatakannya mirip seperti tower bukan menara.”
Dong Hae: “Ah, aku mengerti. Lalu, kau tau kan aku pernah katakan, jika aku sangat menyukai tulang selangkamu. Kau tau, alasan kenapa aku mencium keningmu saat ulang tahunmu ke-20, adalah karena aku sangat menyukai keningmu. Aku pernah bilang kan jika kau mempunyai kening yg indah? Ku rasa itu cocok. Kau persis seperti Eomma-mu dan aku seperti Appa-mu. Dengan kata lain kau Eommanya dan aku..”
YoonA: “Jika Oppa lanjutkan, maka aku akan meludahi cake mu. Kau tak mau kan kejadian 2 tahun lalu kembali terulang?”
Dong Hae: “Aish! Ini namanya intimidasi. Kau ini benar-benar! Hey! Aku ini Oppamu! Apa tak bisa saja kau memperlakukanku layaknya Orang yg sepatutnya kau hormati?!”
YoonA: (Terkekeh) “Cukup! Ayo kita santap!” tangannya dengan sigap meraih garpu dan pisau kue yg terletak dihadapannya. Dengan cekatan ia mulai memotong kue dan menjejalkan ke dalam mulutnya. Terus seperti itu hingga suapan terakhir.
YoonA: “Setelah ini, aku masih boleh memilih beberapa bingkisan lagi untuk dibawa ke rumah kan?”
Dong Hae: “Apa ini semua kau belum puas?”
YoonA: (menggeleng)
Dong Hae: “Aish! Biaya pergi denganmu saja melebihi biaya kencanku dengan Jin Ji. Jika terus seperti ini,,”
YoonA: “Eit! Oppa tak boleh menolak. Bukankah ini sudah menjadi perjanjian. Aku ikut kalian dan kau mentraktir aku cake strawberry sepuasnya.”
Dong Hae: “Baiklah-baiklah. Cepat pergi ambil! Ah, jangan lupa untuk Im Ahjussi juga.”
Langit kini semakin kelam. Mobil audi A5 itu melaju ditengah sepinya malam. Suara yg menggema, juga terpadu oleh suara jangkrik dan burung hantu yg membuatnya terdengar seakan kelam.
Dong Hae: “Yoong, aku senang sekali hari ini!” Dong Hae membuka pembicaraan dengan senyum sumringahnya. Sementara wanita yg diajaknya berbicara, hanya diam tak merespon. Tetap focus pada jalan disampingnya. Ia sengaja tak menjawab, karena ia sudah pasti tau apa yg membuat Dong Hae gembira. Ia tak ingin mendengarnya. Sudah cukup hatinya sesak melihat Dong Hae bermesraan dengan Jin Ji tadi siang. Meski ia sendiri tak mengerti, dan tak tau dikategorikan kemana perasaanya ini.
Dong Hae: “Yoong. Setelah ini kita tak langsung pulang tak apa?”
YoonA: “Memangnya Oppa mau kemana lagi?”
Dong Hae: “Suatu tempat. Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin kesana.”
YoonA: “Bagaimana jika nanti Appa mengkhawatirkanku?”
Dong Hae: “Itu, tenang saja. Im Ahjussi percaya padaku. Tadi aku sudah menghubungi Appa-mu. Jadi tenang saja.”
YoonA: “Aish! Bagaimana Appa bisa percaya pada maniak sepertimu. Yg benar saja!”
Dong Hae: “Ya! Aku ini Oppamu! Aku bukan maniak!”
YoonA: (terkekeh) “Baiklah-baiklah. Kau memang Oppaku… Yg paling menyebalkan yg aku punya.”
Dong Hae: “Biarpun menyebalkan, tapi kau sering memikirkanku kan?”
YoonA: “Heh! Tau darimana kau? Hhh.. setelah menjadi Oppa yg menyebalkan, kini kau belajar menjadi Oppa yg sok tau.”
Dong Hae: (Terkekeh)
Setelah Dong Hae menutup pembicaraan itu dengan tawanya, terjadi keheningan diantara mereka. Baik gadis maupun pria, tak ada yg salilng membuka suara.
Kenapa jadi diam? Biasanya kan dia sering mengoceh.
YoonA sibuk menatap jalan yg dilewati disampingnya. Merasa suasana menjadi sangat tak nyaman, akhirnya ia putuskan untuk membuka pembicaraan.
YoonA: “Emm, Oppa! Memangnya kau ingin membawaku kemana?”
Dong Hae: “Perhatikan saja nanti.”
YoonA: “Tak bisakah kau mengatakannya sekarang?”
Dong Hae: (menggeleng)
YoonA: “Emm, Oppa,,, jika kau, em, maksudku,, saat jatuh cinta, hal apa yg biasa dirasakan?”
Dong Hae: “Hahahaha!”
YoonA: (mencubit lengan Dong Hae) “Ish, kau ini Oppa!”
Dong Hae: “Ya, sakit Yoong! Lepaskan, aku sedang menyetir.” (berusaha meliukan lengan kanannya yg dicubit oleh YoonA)
YoonA: (Melepaskan cubitannya) “Oppa!”
Dong Hae: “Sorry, sorry. Abisnya, kau ini aneh sekali sih. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”
YoonA: “Jika, kau keberatan. Lebih baik tak usah menjawabnya.” (menatap jengkel ke arah luar jendela)
Dong Hae: “Tidak, bukan seperti itu. Lebih baik, aku beri tahu nanti saja. Saat kita sudah sampai di tempat tujuan.”
YoonA: “Kenapa seperti itu?”
Dong Hae: “Kau mau tau atau tidak?!” (menggertak)
YoonA: “Ah, jangan seperti itulah.” (mengelus lengan Dong Hae) “Oppa jangan marah.” (merajuk)
Dong Hae: “Aish! Im Yoon Ah! Jangan mengangguku. Aku sedang menyetir.”
YoonA: (terkekeh lalu mencolek dagu Dong Hae)
Dong Hae: “Ya! Im Yoon Ah! Jangan lakukan itu. Itu hanya patut dilakukan oleh kami para pria.”
YoonA: (mengelus pipi Dong Hae) “Kenapa Oppa? Kau tak menyukainya?”
Dong Hae: “Ya! IM YOON AH! BERHENTI MENGANGGUKU! DEMI APAPUN, BAGAIMANA BISA KAU BERTINGKAH BEGINI?!”
YoonA: (tertawa terbahak-bahak) “Hahaha! Kau ini Oppa!” gumam YoonA sambil terus tertawa. Pria disampingnya hanya sesekali meliriknya aneh, tapi tak lama kemudian ia ikut tertawa bersama.
Kedua manusia itu terduduk di atas bangku panjang yg menghadap ke sebuah danau air yg tampak seperti perak yg terhampar luas. Saling duduk berdampingan dan masing-masing terdiam tak saling bercakap. Masih tetap menikmati hembusan angin malam yg terasa hangat tak begitu dingin seperti malam kemarin.
Dong Hae: “Yoong..”
YoonA: “Hmm?”
Dong Hae: “Tidak. Hanya ingin memanggilmu saja.”
YoonA: “Ish! Ah, Oppa, ingat janjimu saat di mobil tadi?”
Dong Hae: (berpikir) “Em…”
YoonA: “Kau lupa?”
Dong Hae: “Ah, aku ingat sekarang.”
YoonA: “Baiklah. Cepat sebutkan.”
Dong Hae: “Tapi kau harus jawab pertanyaanku nanti dengan jujur.”
YoonA: “Kenapa? Pertanyaan apa itu?”
Dong Hae: “Ini lebih bersifat privasi. Kau mau berjanji?”
YoonA: “Baiklah. Jadi cepat beri tahu aku.”
Dong Hae: “Hhhh.. yg ku tau, saat kau jatuh cinta. Kau tak bisa melihatnya dekat dengan sesama jenismu, saat itu terjadi,, maka suatu akan terasa sesak,, disini..” (menunjuk dada)
YoonA: “Hanya itu?”
Dong Hae: “Ya! Aku belum selesai. Kau jangan bicara dulu.”
YoonA: (menggerutu)
Dong Hae: “Lalu, kau akan merasa senang jika kau berada di dekatnya. Saat ia tersenyum padamu, ada suatu rasa yg bisa dibilang membuncah di hatimu, maksudku, kau seperti sangat senang. Lalu,,” (berpikir)
 Batin YoonA: Ternyata dia juga tak banyak tau
Dong Hae: “Ah, jika memandang wajahnya, tidak! Maksudku saat berada di dekatnya dadamu akan berdebar. Dam! Dam! Seperti itu.” Dong Hae berhenti atas ocehannya. Dan gadis disampingnya, kini terdiam, berusaha mencerna dan menyocokan dengan dirinya. Hanya ingin meyakini, apa yg ia rasakan itu cinta atau hanya sekedar  perasaan biasa.
Batin YoonA: Melihatnya bersama wanita lain, itu memang menyakitkan. Senang saat ia tersenyum padaku? Dia malah lebih sering menggangguku. Berdebar saat di dekatnya? Itu tidak kurasakan. Jadi, yg kurasakan bukan cinta?
Dong Hae: “Yoong!”
YoonA: “Hmm?”
Dong Hae: “Lalu, jawab pertanyaanku. Jadi siapa orang yg kau cinta itu?”
YoonA: “Hhh.. entahlah Oppa. Aku masih bingung. Tak kutemukan sesuatu didalam dirinya yg kurasa dapat menarik diriku. Dia malah sering menggangguku, terkadang aku merasa jengkel padanya. Tak kupungkiri, saat ia tak mengangguku aku merasa hampa. Saat aku melihatnya bersama wanita lain, aku merasa tidak enak. Risih. Jengkel sendiri, seperti itu. Lalu, apa yg kurasakan ini disebut cinta?”
Dong Hae: “Itu memang belum sepenuhnya disebut cinta. Hanya, kau belum menyadarinya. Kau belum berhasil membuat cinta itu tumbuh sempurna di hatimu. Mungkin kau baru menyadari jika kau mulai merasa menyukainya. Memangnya itu siapa?”
YoonA: “Seorang Oppaku.” Tanpa sadar ia menyebutkan itu.
Batin YoonA: Ya! Im Yoon Ah! Kau bodoh! Kau bodoh!
Dong Hae: “Seorang Oppamu? Apa itu aku?” (menunjuk dirinya sendiri)
YoonA: “Ya! Oppaku bukan hanya kau. Aku memiliki banyak pria yg kupanggil Oppa.”
Dong Hae: “Benarkah?”
YoonA: (mengangguk mantap)
Dong Hae: “Lalu, ada berapa Oppa yg sering mengganggumu?”
YoonA: “Eh?”
Dong Hae: “Ah, kau tak bisa bicara kan sekarang? Sudah mengaku saja. Aku tau kau menyukaiku.” (tersenyum sendiri)
YoonA: “Ya! Siapa bilang aku menyukaimu. Seperti tak ada yg lebih berkualitas saja. lagi pula, tak mungkin aku  merebutmu dari Jin Ji Eonni.” Ucap YoonA dengan ketus.
Dong Hae: “Lalu, jika aku dan Jin Ji tidak bersama, kau akan memilihku?”
YoonA: “Hah? Aish! Sepertinya pikiranmu ini sedang kacau.” (menyentil kening Dong Hae)  “Jangan bicara macam-macam dan jelaskan apa maksudmu membawaku kemari Oppa?”
Dong Hae: “Hehehe. Wanita, jika sudah tersekak, selalu mengalihkan topic pembicaraan.” Gumam Dong Hae yg berhasil membuat YoonA semakin kesal.
YoonA: “Ya! Hwae Oppa!” (Bangkit) “Jika kau mengajakku ke tempat ini hanya untuk membuatku frustasi, lebih baik aku pulang dan menikmati cake strawberry itu bersama Appa.” YoonA berbalik dan hendak berjalan, namun langkahnya terhenti saat suara khas seorang Oppanya bergumam menyebut namanya.
Dong Hae: “Yoong..”
YoonA: (berbalik dan menatap Dong Hae)
Dong Hae: “Apa kau tau alasanku membawamu ke tempat ini?”
YoonA: (terdiam)
Dong Hae: (Bangkit dan menghampiri YoonA) “Aku butuh seseorang untuk membantuku menghibur diri. Aku terlalu penat dengan banyak hal dalam hidupku yg harus dilakukan. Aku butuh penenang.” Lirih Dong Hae. Fisiknya memang terlihat lebih kurus, dibanding 3 hari lalu saat Dong Hae memintanya menjadi teman saat kencannya. Mata yg besar itu pula, tampak sedikit lingkaran hitam dibawah mata itu. YoonA yg tadi menatapnya kesal kini malah menatapnya iba. Dengan perlahan YoonA duduk kembali di kursi itu dan diikuti Dong Hae yg duduk disampingnya. “Aku terlalu lelah. Polemik keluargaku yg tak pernah kunjung selesai. Aku butuh penenang.” Suaranya terdengar lirih namun penuh tekanan.
YoonA: “Lalu, jika Oppa butuh penenang,,” (melirik Dong Hae)
Dong Hae: (Menatap YoonA)
YoonA: “Kenapa tidak coba mengkonsumsi obat-obatan?”
Dong Hae: “Eh?”
YoonA: “Hm! Yg ku tau narkotika dan sejenisnya dapat membuatmu rileks. Kau ingin mencobanya? Biar nanti aku bantu carikan.” Ucap YoonA asal.
Dong Hae: (Menjewer telinga YoonA) “Hmm! Dan kau akan kujadikan pelampiasan saat aku kehilangkan kesadaran  diri nanti. Apa kau mau?!”
YoonA: (Memegang telinga) “Hehehe. Aku hanya bercanda. Lagipula, aku tak yakin Oppaku yg tak jantan ini berani mencoba sesuatu yg lumayan beresiko itu.” YoonA menyeringai dan memberikan senyuman mengejeknya.
Dong Hae: “Heh! Apa yg kau tau?!!”
YoonA: (menyeringai)
Dong Hae: “ Tak perlu. Aku tak perlu itu untuk membuat diriku tenang.” Berkata dengan lembut
YoonA: “Hah?”
Dong Hae: “Dengan adanya kau disini, atmosfer di tubuhku mulai membaik. Aku juga merasa cukup terhibur.”
YoonA: (terkekeh)
Dong Hae: “Jika kau disini, meski itu hanya untuk mencaciku dan mengoceh panjang lebar maka aku akan menerimanya.”
DEG! Hatinya kini berpacu cepat. YoonA merasakan hatinya berdebar. Cepat dan lebih cepat. Sekelebat ucapan Oppanya tadi terlintas. ‘saat berada di dekatnya, dadamu akan berdebar’. YoonA hanya bisa terdiam, dan masih tak percaya dengan yg dirasakannya kini.
Dong Hae: “Setidaknya, setelah itu aku bisa mengerjaimu dan mengejekmu!”
YoonA: “Ya!” (Memukul lengan Dong Hae) “Kau memang Oppa yg menyebalkan!”
Dong Hae: (Terkekeh)
YoonA: “Tapi, kenapa kau memilih untuk ku temani? Kenapa bukan Jin Ji Eonni?”
Dong Hae: “Kau jangan merasa percaya diri dulu. Entah kenapa saat aku berada disampingmu serasa berbeda saat aku berada di dekat Jin Ji. Aura yg kalian miliki, sungguh berbeda.”
YoonA: “Tentu saja. Ini jelas berbeda. Aku adalah diriku. Dan Jin Ji Eonni adalah orang lain. Jelas jika kami memiliki aura berbeda.”
Dong Hae: “Tidak, maksudku. Jin Ji memiliki aura berwarna biru, sedangkan kau berwarna kuning, lebih terkesan menyilaukan mata.”
YoonA: (memukul kepala Dong Hae)
Dong Hae: “Aish! Kau ini kasar sekali sih? Tadi kening, lalu kepala, setelah itu apa?”
YoonA: “Entahlah, mungkin aku akan mencoba melayangkan tinjuku ke perutmu Oppa.”
Dong Hae: “Kau ini! Mengerikan!”
YoonA: “Ya! Siapa suruh Oppa berkata seperti itu? Oppa pikir itu lelucon? Apa Oppa punya indra ke-6 sehingga dapat membaca auraku? Atau Oppa seorang psikolog, HAH?!”
Dong Hae: “Hehehe. Maaf.”
YoonA: “Aish! Benar-benar! Lama-lama disini, hanya bisa membuat tekanan darahku naik.”
Dong Hae: “Kau punya hipertensi  Yoong?”
YoonA: “Aish! HWAE OPPA!”
Dong Hae: “Hehehe. Siapa suruh tadi dimobil menganggguku? Itu balasannya.”
YoonA: “Hah?”
 Gadis bertubuh tinggi itu, terlihat sibuk dengan berbagai berkas dan setumpuk file yg tergeletak di atas meja dihadapannya. Dengan bolpoin di tangan kanan, dan jari tangan kiri yg berada diatas keyboard. Sesekali menulis dan lalu mengetik, tampaknya ia benar-benar sibuk saat ini.
Seorang pria tinggi dengan jasnya yg mencolok, berjalan menghampiri YoonA. Gadis itu buru-buru terbangun lalu membungkukan badannya singkat, memberi penghormatan.
YoonA: “Direktur..”
Pria itu menatap YoonA.
Direktur: “Kau ingat setelah ini kan?”
YoonA: “Ah, iya direktur. Saya mengingatnya.”
Direktur: “Setelah pulang kerja nanti, kau tak usah pulang. Tunggu saja di Loby biar Ki Jung yg menjemputmu.”
YoonA: “A,, apa aku tak diizinkan pulang dulu? Maksudku, untuk berganti baju dan merias diri.”
Direktur: “Tak perlu. Kau gunakan saja pakaian itu. Untuk merias diri, kau bisa lakukan seperlunya di toilet.”
YoonA: “Baik Direktur.” Gadis itu hanya bisa menundukan kepalanya. Tak berani menatap lawan bicaranya yg memegang kekuasaan di tempatnya bekerja.
Direktur: “Emm, YoonA-ssi. Apa kau tak keberatan dengan ini semua? Meski ini menyangkut kebahagiaan putraku, tapi aku harus tetap memikirkan karyawanku.”
YoonA: (terdiam)
Direktur: “Aku tak ingin kau lakukan ini dengan terpaksa. Jangan bohongi dirimu sendiri. Jika kau tak inginkan ini, kau bisa mengatakkannya langsung pada Ki Jung nanti.”
YoonA: (terdiam)
Direktur: “Hhh. Baiklah, kalau begitu, aku permisi.” YoonA membungkukkan badannya lalu menatap punggung Direktur dengan tatapan sendunya.
YoonA: “Tak semudah itu.” Ia kembali duduk dan terjun lagi dengan berbagai kerjaan yg menjadi rutinitasnya sehari-hari.
                                                                                To Be Continued…
Aku harap kalian dengan senang hati dan tanpa keterpaksaan mau meninggalkan beberapa patah kata sebagai kritik, atau apapun yg menyangkut tentang tulisan ini. Terima Kasih, :) senang. Ah, maaf juga ya kalo ceritanya kepanjangan dan belum ada konfliknya. :) senang

Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * tya nengsih says:

    keren ni ff bkn penasaran …kelanjutanya……jgn lama ya…..

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  2. * cuykay says:

    mudh2an,,,,happy ending YH nya..

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  3. Lanjut part 2
    jangan lama”
    semoga happy end😀

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  4. * inasaragi says:

    Lanjut thor
    Skandalnya jgn berat-berat ya
    Yoonhae harus bersatu
    Terus happy end
    Hehe mian kebanyakan minta
    Keep writing, fighting!!

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  5. bagus ceritanya aku sukaaa ..
    haeppa kepedean banget, tapi kenyataan kalo yoong suka sama haeppa ..
    lanjuuut chingu, jangan lama2 yaa ,,

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  6. * nurhafizah says:

    q juga ikut sdih eonni T.T
    eonni n oppa bgtu brrti,sma2 galak. .
    oy,yoong eonni it mau d jdohin y?

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  7. * lya_yoonhae says:

    Lanjut

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  8. * devy says:

    lanjut”..
    jangan lama” ya..🙂

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  9. * narshavanya says:

    daebak FFnya..
    haeppa tingkat kepedeannya tinggi banget, lagian dua-duanya suka banget ngejek..
    hahaha lucu ceritanya..
    ditunggu lanjutannya ^^

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  10. * ijhul says:

    Membacanya perlu konsentrasi tinggi,,,,
    Tapi ceritanya aq suka,,,
    Ditunggu next chapternya,,,,,

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  11. * ney iney ney says:

    bgus thor ffnya..
    di tnggu part slnjtnya..

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  12. * meyoon says:

    lnjuut thor,,,bkin yg hap end z,heheh

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  13. * Muslimah says:

    Bgus critanyaaa. .

    Ditnggu lnjtnnya🙂

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  14. lanjut.. lanjut.. cepet dipost yaa🙂

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  15. * mochichi says:

    Penasaran ama lanjutannya
    Itu Yoong mau dijodohkan ama anak direktur?
    Hae kok lola sih?
    Sbnrnya dy tau ga kalo dia suka ama Yoong?
    Next part ditunggu yah🙂

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  16. * KimcHi eQ says:

    sy bca dr! awal blog ne
    cr!ta”.y bagus”
    ❤ YoonHae❤

    Lanjutkan🙂

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  17. * fatmala says:

    ki jung itu siapa thor? ank direktur?

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  18. * My Twins Yoongie2 says:

    Daebak thor….
    Ditunggu chapter 2nya
    panjang ceritanya…..
    Belum terlalu kelihatan konfliknya…
    Jangan lama2 y ngepublish chapter 2nya…

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  19. kereeeennn…. ciyus dehh… lanjutan nya jangan lama2 thooor

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  20. * ney is pyro says:

    lnjutannya di tnggu..

    | Reply Posted 4 years, 3 months ago
  21. * regina says:

    ceritanya bagus thor aku suka, trus kl aku blh ksh saran antara paragraf yg satu dgn yg lain tlg di ksh jarak penulisannya, jd ga terlalu bingung bacanya, kyk wktu donghae ama yoona pergi ke danau, shrsnya wktu yoona lg di kntor itu ada jeda 1 paragraf, jd kt tau kl ternyata ceritanya dah ganti hari yoona dah ga ama hae lg di danau. Itu sih cm saran aja overall ceritanya bgs, maaf kl kepanjangan, di tggu lanjutan part 2 nya ya thor. Gomawo🙂

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  22. * clarissa says:

    hmm..sejauh ini ceritax bgus🙂

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  23. * KyuHae says:

    Haha unyu2 banget hubungan yoona & donghae..
    Keren, ditunggu next partnya🙂

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  24. * myyh says:

    bagus, tapi bagian ahirnya aku ga ngerti maksudnya apa ? Keberatan apa ? -.-
    Udah ada part 2 nya belum ?

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  25. * Deery00ng says:

    Lanjut unN🙂

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  26. * hyuna says:

    Bgus aku sukaa, cepet di lanjut thor!^^
    Happy end yaa

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  27. * syifa nadya says:

    moga end YH bersatu
    #harus#

    | Reply Posted 4 years, 2 months ago
  28. * Elsa says:

    lanjut part 2 yaa.. jgn lama semoga makin seru! YoonHae pacaran🙂

    | Reply Posted 4 years, 1 month ago
  29. * windaaa says:

    Aku suka nih ffnya. lanjut thor!

    | Reply Posted 4 years, 1 month ago
  30. * sai says:

    lanjut thor. keren ffnya.

    | Reply Posted 4 years, 1 month ago
  31. * yoonhae says:

    Aku sukaaaaaaa!!!!!!!!!!!!
    Cepet dipost ya part 2-nya..

    | Reply Posted 4 years, 1 month ago
  32. * pyrossoneff says:

    sedikit bingung.. dengan alurnya.. tapi bagus kok thor..lanjut ff YoonHae nya.
    Fighting!

    | Reply Posted 4 years, 1 month ago
  33. * haznia says:

    aku suka aku suka thor ff nya,ko hae ngga nembak” yoong sih lanjut thor

    | Reply Posted 3 years, 7 months ago
  34. * najmah says:

    mainstream banget ceritanya .. tp ini baru part awal..moga dibikin ga mainstrean yah

    | Reply Posted 3 years, 3 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: